
...Jessen POV...
ku memandang sekitar. Mama tengah menyiapkan makan. Huh? Bisanya juga ngak pernah.
"Jessen!!" Panggil mama sambil tersenyum menyadari aku telah pulang.
Aku menoleh tanpa menjawab.
Ini ada yang tak beres.
Mama mengarahkan aku ke meja makan. Memberikan aku se-porsi spygetti keju. "Makanlah. Mama membuatnya susah payah loh.."
"Makasih ma." Ucapku dengan mimik wajah bingung. Sambil menelaah maksud dan tujuan mama.
Mama tersenyum lebar.
"Mama kenapa? Mau apa?" Aku langsung to the point aja.
"Jessen... Mama mohon sama kamu... Sekali ini saja..." Ucap mama lirih.
"Tolong Jessen..." Mama menangis dengan penuh kesedihan.
Aku membuang wajahku. Dengan sekian kalinya dia bersandiwara dan memasang topeng kemunafikan aku takkan pernah bisa percaya padanya.
"Jessen... Hu hu... Mama mohon... Kamu mau ya mama jodohkan dengan wanita pilihan Mama." Dia mulai menangis.
Benarkan. Jika dia memohon seperti ini pasti karena ada maunya.
Cih...
Dia menarik tanganku. "Mama mohon Jes.."
Aku menggeleng. Membenci semua perbuatannya dan ku tepis tangan nya. Ku tatap dia dengan tajam. "Ma. Jessen tak pernah sekalipun membantah mama."
Mama terdiam dan terkejut.
"Terkejut?" Ucap ku datar.
"Selama ini Jessen diam bukan berarti Jessen senang. Jessen menurut bukan berarti Jessen setuju. Apakah nama mengerti." Aku mengepalkan tanganku menahan emosi.
__ADS_1
"Dan sekarang mama bahkan akan memaksaku untuk suatu yang aku benci dengan menangis seperti ini." Aku membuang wajahku dan kembali memandang Mama. "Tidak bisakah kalian membiarkan kali ini Jessen yang memilih dan menentukan."
"Nak... Mama hanya ingin kamu dapat yang terbaik." Mama memohon.
"Jessen tidak mau dan tidak akan pernah mau."
Mimik wajah mama berubah tajam padaku. "Jessen. Mama tau apa yang kamu butuhkan. Wanita pilihan Mama itu adalah yang terbaik. Lagipula kamu takkan menikahinya sekarang. Tapi setelah tamat kuliah nanti Jes... Mama cuma mengenalkan kamu dengannya sejak dini agar kalian saling mengenal. Itu aja"
Mama selalu saja memaksa kehendak. Dia tak perduli bagaimana perasaan ku setiap kali dia memerintahkan ku suatu hal yang ku benci.
"Jessen ngak mau ma. Jessen bisa memilih sendiri."
Mama menegakkan badannya. Menatap ku dengan tatapan marah yang berapi-api. "Baik kalau begitu. Mama arahkan kamu pada 2 pilihan. Ikut cara mama, atau kamu cari sendiri pasangan kamu dengan satu syarat."
Mama melipat kedua tangannya di dada. "Kamu harus bawa dia ke sini. Bulan depan kamu harus menikah dengan nya."
Mataku membesar dengan kedua alisku saling bertautan. "Apa sih ma? Itu ngak mungkin."
"Itu pilihan nya. Jika kamu masih tetap membantah. Lebih baik kamu keluar dari rumah ini." Ucap mama angkuh.
Aku mengenggam tanganku marah.
Aku bangkit berdiri dari dudukku. Dan pergi masuk ke kamar ku.
Aku mengusap wajahku gusar. Kenapa aku terlahir di keluarga seperti ini!
Kenapa dunia ini sangat kejam!
Aku kembali mengusap wajahku.
Aku berfikir secara realistis... Gimanapun aku takkan mungkin pergi dari rumah. Aku tau betapa lebih usahnya jika hidup di luar sana.
Dan... Arh... Masa aku baru pacaran udah ngajak Valen menikah?
Memang nya dia mau?!
Belum lagi... Kami menikah nya masih dalam keadaan sekolah lagi!
Sial!!!
__ADS_1
Aku mengangguk kepalaku prustasi...
Mama sangat picik dalam menyudutkanku! Sangat tidak adil!
...***...
...Valen POV...
Hari ini aku ke perpus. Bukan untuk belajar, tapi untuk ngadem.
Hehe... Well, aku udah sangat capek belajar tadi. Jadi otakku butuh istirahatlah.
Aku telungkup kan wajah ku di dalam lipatan tanganku yang terlipat di atas meja.
Whuam... Nguantuk...
Ku pejamkan mata ku beberapa saat. Rasanya sangat tenang.
Srestt
Terdengar bangku panjang perpustakaan ini merdecit karena di duduk oleh seseorang selain aku.
Ku dongakkan sedikit wajahku penasaran siapa yang duduk di sebelahku.
Oh. Jessen.
Ku senderkan kepalaku di tanganku yang terlipat di meja tadi menyamping menatapnya.
Dia membaca buku di sebelahku.
Aku terus menatapnya. Dia seperti jadi sangat cangung.
Hm.. mungkin karena kejadian semalam.
Tapi kan seharusnya aku yang kaku sekarang? Bukannya dia.
Lagipun, kenapa canggung nya baru sekarang? Kenapa ngak kemarin aja waktu pulang dari carnaval?
Kalau di ingat ingat. Waktu pulang juga dia masih sempat sempatnya mengodaku untuk mengulangi ngomong sayang ke dia... Lah kenapa dia yang jadi grogi?
__ADS_1
Apa sih?
Kenapa?