
Catatan penulis:
Jangan lupa di like komen dan vote ya... Kalau vote lagi habis, bisa di beri hadiah juga ya... Hehe...
Happy reading guys 🤗❤️
______________________________________
Untung aku pulang dengan selamat hari ini. Jessen membuat ku gila dengan tingkah nya tadi.
Dasar setress!!!
Udah 5 jam aku tidur. Kepalaku masih saja terasa berat.
Baru aja sehari pacaran dengannya, dia udah membuat otakku sangat kacau.
Aku menatap langit langit kamarku. Kemudian aku melihat ke sisi lain ranjang ku.
Mataku terbelalak saat melihat Jessen di sana. Dia mengedipkan sebelah matanya singkat dan tersenyum nakal.
"Aa... Pergi!!!" Aku melemparkan bantal ku ke arah itu.
Syup... Bayangan nya menghilang.
Itu hanya ilusi ku.
Aku memegangi kepalaku. "Astagahhh dia toksik banget!"
Aku menggeleng kan kepala ku berusaha menenangkan diri. "Ngak Val... Kau harus tenang. Jangan baperan dan melayang tinggi... Ntar kalau jatuh, sakit ***... Sakit..."
"Tarik nafas..." Aku menarik nafas. "Fuh..." Aku membuang nya.
"Tarik..." Aku kembali menarik nafas.
"Fuh..." Membuangnya.
"Tarik..." Aku kembali menarik nafas. Aku mengarahkan pandangan ku ke sebelah ku.
Mataku terbelalak melihat Jessen ada di sebelahku, menarikku dan mendekatkan wajahnya dan ingin menciumku.
"Aaaa...." Aku teriak dan memukul mukulnya dengan menutup mata.
Aku terus memukul. Tapi tak mengenai apapun.
Aku membuka mataku. Dia ngak ada...
Ilusi lagi...
"Oke Val. Kau udah keterlaluan. Otakmu udah sengklek sepertinya.
Aku bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar ku. Aku berjalan pergi ke dapur dan meminum segelas air.
Ahh... Sudah agak mendingan sekarang.
Aku kembali menegukkan minuman air putih lagi.
Aku menurunkan gelasku sedangkan air masih dalam mulutku.
Mataku terbelalak saat. Melihat Jessen tengah duduk di meja tamu sedang menatap ku.
Sprruusss... Aku menyemburkan air yang ada di dalam mulutku.
Aku menlap bibirku. Dan kembali melihat nya yang menatapku datar.
Aku terkekeh seperti orang gila. "Hahaha... Hahaha... Waduh... Jes Jes.. dimana mana ada kau ya... Dasar sarap!"
Aku tak menggubris halusinasi gila ini dan kembali minum.
Sesaat kemudian Bibi datang dan berjalan ke arahku. "Eh non."
Aku mengangguk. "Iya bi."
"Itu temen non udah dateng. Tadi bibi baru mau bangunin non."
Mataku membulat sempurna. Kemudian aku melihat ke arah Jessen dan melihat ke bibi lagi. "Haha... Bibi jangan bercanda bi."
Aku menunjuk Jessen dan melihat bibi. "Itu bi. Hanya halusinasi Valen doang. Ngak asli."
Bibi hanya menatapku bingung. "Kalau halusinasi non, bibi ngak bisa liat dong non."
Jleb.
Bener juga.
Aku kembali melihat ke arah Jessen.
__ADS_1
Bibi menepuk pundak ku pelan. "Bibi lanjut kerja lagi ya non." Bibi pun pergi sedang aku masih ternganga.
Jessen berjalan ke arah ku dan berdiri di sebelahku.
Dia menatapku dengan senyuman miring. "Kau. Memikirkan ku huh?"
Aku memicingkan mata ku sebelah dengan reflek berkedut. "Huh?"
Dia mendekatkan wajahnya ke arah ku. "Kau bayangin aku dari tadi. Rindu banget ya?" Godanya.
Aku menolaknya. "Apaan. Ngak ada. Kepedean kau."
Dia kembali menegakkan badannya. "Ikut aku. Kita ke carnaval."
"Huh... Serius!" Ucapku bersemangat. Baru kali ini Jessen ngajak ke tempat seru.
"Hm." Ucap nya datar. Kemudian berbalik badan berjalan deluan.
"Eh. Tunggu. Aku belum ganti baju."
Dia menoleh dan memutar matanya. "Hm. Cepat."
"Siapp." Kataku sambil mengarahkan tanganku ke pelipis mataku tanda hormat.
Aku langsung cap cus ganti baju.
***
Aku menggunakan baju kemeja batik lengan panjang dan celana jeans panjang. Kenapa aku pakai serba panjang? Karena aku tau di sana pasti banyak nyamuk dan terutama karena malam pasti bakalan dingin. So... Untuk amannya pakai ini aja.
Aku berjalan ke arah duduk Jessen.
"Dorr." Kejutku padanya.
Dia tak terkejut.
"Udah?"
"Hm. Udah..." Kataku. "Kok ngak kaget?"
"Kau jalan ke sini aja aku udah tau. Bego."
Ish... Dah lah.
Dia berdiri dan berjalan berdiri di hadapan ku. "Kau pakai ini?"
Dia menatapku datar. Kemudian dia mengangguk dan berjalan deluan.
Aku mengikuti nya.
***
Kami ada di depan rumahku. Dia membawa mobil.
Jessen masuk ke dalam.
Lah... Dia ngak bukain pintu aku. Ish... Ngak so sweet banget sih!
Aku menunggu.
Dia pun keluar. "Cepet. Sebelum aku berubah pikiran."
"Ih Jes. Ngak peka banget sih. Bukain pintu aku kek." Omelku.
"Punya tangan kan. Ngak bersyukur banget di kasih anugrah tangan."
Aku berdecak kesal. Mau ngak mau aku pun membuka sendiri pintu mobil.
Aku duduk di sebelah nya dan kemudian menutup pintu.
Aku melihat ke arah Jessen, kemudian aku melihat diriku dari pantulan kaca depan mobil yang sedikit samar karena tembus dengan pandangan jalan.
Apa... Karena aku pakai baju tertutup ya si Jessen begitu?
Jadi Jessen lebih suka cewek feminim ya?
Hm... Mungkin kali.
***
Di karnaval aku jadi nggak terlalu bersemangat.
Aku melihat memang banyak pasangan dengan pasangan wanitanya pakai baju feminim. Yup, dengan rok dan baju lengan pendek.
Aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku mau naik biang lala aja deh." Ucapku lemas.
Jessen melihatku datar dan mengagguk.
Kami pun mengantri dan akhirnya bisa naik juga.
Biang lala mulai naik. Ku senderkan diriku di kursi lemas.
"Ngak senang naik ini? Kalau gitu kenapa kita naik?" Tanya Jessen.
Aku melihat nya. "Aku... Aku mau nanya. Aku aneh ya?"
Dia menatapku datar. "Kenapa?"
Aku melihat ke arah depan lagi, menunjuk ke sembarang arah. "Itu banyak pasangan yang cewenya pakai baju yang manis dan cute. Kalau aku mah lebih kaya adik cowo. Ya kan?"
"Val." Panggil nya membuat aku menoleh ke arah nya.
Mataku terbuka lebar saat dia mencium bibirku. Jantungku berdegup sangat kencang.
Dia melemahkan ciumannya menatapku dengan senyuman kecil. "Gimanapun kamu aku suka. Hem."
Deg deg..
Dia kembali menciumku.
Dia menarik pinggangku dan melingkarkan tangannya di sana, sedang dia masih menciumku.
Treterjrengg...
Biang lala berhenti tiba tiba
Seketika aku menjauhkan wajahku darinya sedang dia menatapku kecewa.
"Mesin nya rusak. Kita ngak bisa turun." Ucapku panik.
Dia tersenyum miring. "Palingan sebentar lagi nyala."
Dia kembali memiringkan kepalanya dan semakin mendekat lagi.
Deg deg...
Ini ngak sehat untuk jantung!
Aku mendorong tubuhnya dan menghadap ke lain dan memposisikan dudukku tidak menghadap samping menatapnya melainkan menghadap depan.
"Ah. Begitu ya. Kkita tinggal tunggu nyala." Kataku kaku.
Deg deg...
Aku memegang dadaku.
Aduh... Jantung ku ingin meledak rasanya.
Deb. Dia memeluk ku.
"Kalau udah nyala. Bisa di lanjut kan?" Bisik Jessen di telingaku sangat dekat.
Deg!
"Bubukan gigitu... Apaan sih!" Aku menolak badannya.
Jerejeng... Tempat kami bergoyang karena pergerakan ku.
Damn!
Aku sontak menoleh dan memeluknya.
Cup!
Aku malah menciumnya. Aku langsung menjauh kan kepalaku. "Ttadi bukan gitu... Maksudnya... Ttadi Tempat ini bergoyang.."
Dia terus mengangguk dan menutup matanya sambil tersenyum kecil.
"Jjangan salah paham." Sambung ku kaku.
"Kkau juga... Kkenapa tiba tiba ccium! Aih!!!" Aku mengaruk kepalaku. Kenapa aku jadi gagap dan tambah bego sih!
"Hmm. Iya Valentresia. Maaf ya." Dia tersenyum kecil menatapku dekat sambil mengangguk.
Dia kembali memeluk ku.
Aku mau mendorong nya.
"Jangan di dorong. Ntar kita jatoh loh." Ucap nya santai.
__ADS_1
Deg deg...
Bakalan kena serangan jantung aku!!!