
Aku berjalan pulang bersama Cya. Aku hanya menatap depan kosong, rasanya sangat malas, moodku sangat rendah sekarang.
Dengusan nafas berat beberapa kali keluar dari hidungku. Benar-benar malas.
Ctek
Cya melentikkan jarinya di hadapanku, membuatku menoleh ke arahnya.
"Val. Kusam banget dari tadi pagi."
"Hm.. males banget aku Cy. Ntah lah, ngak ngerti."
Cya merangkulku. "Jessen?"
Aku terkejut mendengar kalimat Cya. Jadi selama ini Cya juga merasa bahwa aku menyukai Jessen?
"Tenang aja Val. Aku nggak bakal ember kok. Aku mengerti perasaanmu."
Aku mengerucutkan bibirku. "Hm. Aku sangat tak bersemangat Cy."
Cya memelukku. "Udahlah Val. Kalau dia memang jodohmu. Pasti kalian bakal ketemu lagi kok."
Aku mengangguk dalam dekapan Cya.
Cletak
"Aduh." Pekik Cya pelan.
"Hei gila. Ngapain kau nyentil jidatku. Kurang ajar kau ya!"
Cya tampak memaki seseorang di belakangku sambil memegangi jidatnya.
"Ngapain kau sok sok-an nasehatin cewekku. Udah jadi Mario teduh kau?" Hina orang itu.
Aku menegakkan badanku dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ini nih sifat sifat pengemis cinta. Udah di tolak, malah maksa. Cemen kau." Maki Cya tak kalah pedas dari Ken.
"Siapa yang kau sebut pengemis cinta huh?!"
"Ya kau lah."
"Eh. Denger ya Cya. Kau pikir kau siapa bisa memakiku?!"
Cya terkekeh singkat merendahkan. "Sebegitu fans-nya kau padaku, huh? Sampe tau namaku segala." Cya membuang wajahnya datar ke semi arah.
"Cih. Fans? Sama mu?" Ken menunjuk jijik Cya.
"Emang iya kan? Fans."
Ken tampak sangat marah dan kesal melihat Cya. Sedangkan Cya sangat tenang dan datar menjawab setiap kalimat Ken.
"Aku tau namamu juga karena Valen manggil namamu." Kata Ken.
"Cih. Aku itu ngak budeg. Valen tadi manggil aku Cy, bukan Cya. Jadi kau pasti cari tau tentang namaku. Kau pikir aku bodoh sepertimu."
"Dasar ni anak ya. Ngak ada sopannya sama senior."
"Kenapa? Sama sama makan nasi kan? Kenapa harus takut?... Kecuali kalau kau makan beling. Baru agak aneh."
Ken membuang wajahnya kasar ke kanan. Dia sangat marah.
Wkwk. Rasain kau. Permata kelas kami malah di lawan.
"Val. Ngak perlu berteman sama orang yang beginian." Ken melihat ke arahku. "Dia merusak moral."
"Heh? Apa? Moral?... Bukankah kau yang tak ada moral dan etika? Kau menyentil orang seenakmu. Cih. Ngak ngaca."
Ken menggeserkan badanku sedikit agar tak menghalanginya berdebat dengan Cya. Ken menatapku. "Val. Kau geser dulu. Aku punya urusan sama cewek judes yang selalu jadi benalu di hubungan kita."
Aku menyerngitkan dahiku. "Benalu? Emangnya kita punya hubungan ap.."
"Stt Val. Cowok ngak jelas seperti ini aku aja yang lawanin. Menyingkirkannya sangat mudah." Tambahkan Cya sambil terus memandang rendah Ken."
"Cih. Aku cowok ngak jelas?"
"Iya. Kenapa memang?"
Ken tampak berfikir sejenak menelaah pikiran Cya yang sulit di tebak. "Ah.." Ken tampak memahami sesuatu. "Kau. Suka kan samaku makanya kau selalu cari masalah samaku?"
Ken menyisir rambutnya ke belakang dengan salah satu tangannya. "Memang aku sangat mempesona. Siapa yang tak terpikat? Bahkan cewek sepertimu pasti sangat menggilaiku."
Pede banget ni orang
"Suka? Samamu? Cih." Cya menatapnya terkekeh singkat. "Apa ngak ada kentang lain yang lebih bagus dari pada kentang berulat yang sama seperti orang yang di hadapanku sekarang, huh? Memuakkan."
Suasana semakin memanas. Dan sekarang kami jadi pusat perhatian.
Aku jadi sedikit panik.
Tapi karena Cya membelaku. Aku akan bantu Cya. "Iya, bener tu Cy."
Aku mengalihkan pandanganku ke Ken. "Ken. Kau pergi ajalah. Kami mau lanjut jalan."
Ken menatapku amarah. "Val. Diem. Ini urusanku dengan si bekicot ini." Ken menunjuk Cya geram.
"Baguslah aku bekicot, mengandung protein dan kalsium yang tinggi, asam amino, phospor, serta kandungan gizi lainnya. Lah kau..." Cya menunjuk Ken dari atas sampai bawah. "Kentang, cih. Kentang... Lebih rendah protein dari pada bekicot. Dasar lemah dasar payah."
Ken ternganga sambil menggeleng kesal. Tak dapat di percaya, dia kalah berdebat dengan Cya.
Whuahaha...
Aku merangkul Cya. Ku acungkan jempol ke arah Cya. "Mantul beibeh... Kuy kita pergi."
Kami meninggalkan Ken yang merasa kesal tak ketulungan.
Kami berjalan mendahuluinya sambil tertawa dan kemudian melakukan tos kemenangan.
Rasain kau Ken.
Kami bersama naik bis.
"Kau lihat tadi wajahnya... Haha, merah banget dianya..." Cya tertawa terbahak bahak.
Aku pun ikut tertawa. "Kenak banget tuh dia."
"Haha."
Kami puas menertawakan Ken selama perjalanan.
"Oh iya. Btw Val. Yakin kita langsung pulang? Kita pergi kemana gitu... Bosan kalau di rumah."
"Hm... Bisa sih kita pergi pergi. Tapi, kita lagi banyak tugas Cy."
Cya mengibas-ngibaskan tangannya di udara. "Ah.. itu mudah. Nanti habis main di mall, kita kerjakan tugas di rumahku aja. Ngak sampai 1 jam pasti siap."
Aku menggaruk tengkukku tak yakin. Karena kau tau, aku ngak pernah menyelesaikan tugas dengan cepat. Terutama tugas Anatomi fisiologi.
__ADS_1
"Tenang. Aku akan bantu selesaikan. Percaya deh sama aku." Cya meyakinkan.
Aku pun mengangguk. Aku percaya deh sama Cya.
"Nah gitu dong." Sabung Cya senang.
***
Kami bersenang senang di mall, menonton bioskop, makan makan dan main game di sana.
Setelah puas main kami pun berangkat ke rumah Cya. Sekali lagi kami menggunakan Bis.
Crit. Bush...
Bis kami berhenti di suatu halte. Menyambungnya menggenakan taxi ke rumah Cya.
Aku ternganga melihat apa yang di hadapanku sekarang.
Iini istana apa.. apa?
"Berhenti pak." Kata Cya.
"Val. Kuy turun."
"Ah. Iya."
Kami pun turun. Cya membayar uang taxi kami.
Kami berjalan ke pagar halaman Cya yang... Astaga... Ini pagar apa pohon jati sih... Tinggi amat...
Pintu pagar terbuka.
Segerombolan orang dengan pakaian yang sama dan rapi datang menyambut kami.
Mereka berbaris di kedua tepi jalan lurus yang ada di hadapan kami sambil menunduk hormat.
Damn...
Cya mengerakkan tangannya seperti memanggil sesuatu.
Salah satu dari mereka datang dan kembali menunduk. "Iya nona."
"Siapkan makanan yang enak. Tamuku spesial." Ucap Cya.
Dia mengangguk dan bergerak dengan beberapa anggota menyisakan beberapa anggota lain yang masih tetap menunduk hormat.
"Kalian kembalilah. Terimakasih."
Sambung Cya.
Mereka mengangguk dan berjalan dengan teratur kembali ke tempat mereka.
Aku menatap Cya. Walaupun ni orang kaya. Dia tetap bersifat sopan ya sama bawahannya. Salut aku.
Cya kembali menatapku. Dan tersenyum. "Heh. Ngapa lihatin aku."
"Ngak apa." Aku membalas senyumannya.
Dia menggandengku dan kami berjalan memasuki rumahnya.
Buset... Menuju halaman teras depan rumahnya ada harus melewati hamparan taman sebesar ini.
Kami berjalan di lapisan beraspal hitam pekat yang membentang dari pagar depan sampai halaman teras rumah Cya. Di tengah tengah jalan lurus beraspal ini di buat membundar, tempat air mancur indah. Air mancur yang sangat megah, terbuat dari batu indah berwarna hitam pekat dengan ornamen candi ala Bali dengan beberapa kristal yang menghiasi pinggiran lingkar air mancur.
Dia sisi lain terdapat berbagai tanaman indah yang membuat setiap mata memandang akan kesemsem dengan daya tariknya.
Shit... Ini hotel apa rumah sih. Mewah bener.
Rumahnya sangat besar dan megah. Aku tak dapat bayangkan betapa gilanya kekayaan Cya.
Dan kenapa dia mau berteman denganku?
Kami pun masuk ke dalam rumah.
Damn. Bahkan di rumahnya ada lift.
"Val. Kamar aku di atas. Kita naik lift aja. Capek kalau naik tangga."
"Hm. Ya Cy."
Kami pun menaiki lift dan tiba di kamar Cya.
Oh iya... Aku belum telfon bibi di rumah. Bibi pasti lagi nyariin aku.
Aku langsung menelpon bibi.
"Bi."
"Non... Astaga non... Non kemana aja. Bibi jadi takut sendiri non kenapa kenapa..."
"Tenang aja bi. Valen lagi ngerjai tugas di rumah teman."
"Lah dalah non... Ini udah jam 7 non... Nanti non pulangnya jadi kemalaman. Ntar non di begal lagi sama penjahat."
Eh iya ya.
Cya menyikutku. "Aku aja yang ngomong Val sama bibi."
Aku mengangguk dan memberikan ponselku.
"Halo bi, ini Cya teman sekelas Valen. Bi, Valen ngak bakal kena begal kok bi. Kalaupun nanti udah sangat larut menyelesaikan tugasnya, Cya yang antar Valen sampai di rumah. Cya tanggung jawab."
"Jaga non Valen baik baik ya non Cya. Bibi takut terjadi apa-apa sama Non Valen."
"Iya bi. Pasti ngak akan terjadi apa-apa. Cya janji"
"Iya non. Cepat pulang ya non."
"Iya bi."
Cya pun mematikan ponselku dan memberikannya padaku. "Aman kan."
Aku mengangguk. "Aman dong."
Kami pun lanjut untuk mengerjakan tugas.
***
Bener kata Cya. Ngak sampai 1 jam kami selesai mengerjakan tugas. Cya memang the best...
"Val. Aku antar pulang ya."
"Eh. Ngak usah Cy. Kan belum larut juga. Aku bisa pulang sendiri kok."
Cya mengerucutkan bibirnya. "Hm.. Maksudku, kau agak lamaan dong di sini. Aku ngak ada teman."
"Gimana ya Cy. Aku kasihan juga sama bibi kalau di tinggal sendiri."
__ADS_1
Wajah Cya jadi semakin sedih.
"Ah aku tau." Kataku riang sesaat seketika aku punya ide. "Hari ini kau nginap aja di tempatku."
Aku mengusap tengkukku. "Ya.. walaupun rumahku ngak senyaman rumahmu tapi.."
"Iya aku mau. Aku siap siap baju tidur aku dulu ya Val." Cya melonjak kegirangan. "Sabar.." Katanya dengan wajah yang berseri-seri.
Cy cy...
Setelah Cya menyiapkan bajunya kami pun berangkat ke rumahku.
***
Di perjalanan terbesit satu pertanyaan besar yang terlintas di benakku. "Cy."
"Iya?"
"Kau kenapa mau sih berteman samaku? Aku kan bukan levelmu. Bahkan aku juga ngak pinter." Tanyaku.
"Kenapa? Karena kau itu orangnya apa adanya. Ngak neko neko dan yang terpenting kau orangnya sangat terbuka."
"Hm. Benarkah? Sepertinya aku biasa aja tuh... Sama kayak teman sekelas kita yang lain."
"Beda lah Val. Pokonya kau sangat cocok di jadikan teman." Dia memelukku.
"Hehe."
"Oh iya... Satu lagi jadi pertanyaanku."
Sambungku.
"Apa Val?"
"Kenapa kau ngak pernah pakai kendaraan pribadi ke kampus?"
"Aku?... Karna kalau aku bawa Lamborghini ke kampus. Aku bakalan punya banyak teman... Tapi fake semua. Wkwk. Sedangkan kalau seperti ini. Aku bakalan nemuin teman yang sungguh sungguh sepertimu."
"Owh... Co cuitttt."
"Owh... Iya dong."
"Hahaha."
"Hahaha... Alay banget ya aku."
"Wkwk. Ya emang... Baru sadar..."
"Ngak sih... Udah lama... Hahaha."
Kami pun terus bercanda gurau selama perjalanan sampai rumahku.
***
Di kampus.
Aku dan Cya duduk di kantin berdua. Kami terus membahas mengenai tugas yang di berikan dosen tadi. Untungnya kami satu kelompok. Jadi enak kerja samanya.
Tak
Meja kami di hentak oleh seseorang.
Ken duduk di hadapan kami. "Eh bekicot. Ngak capek capeknya yah mengaggu Valen." Ken menatap Cya datar.
Aku menatap sinis Ken. "Ken. Dia itu temanku. Dia ngak pernah tuh ganggu aku. Malahan kau yang selalu menggangguku."
"By. Jangan dekat dekatlah sama si bekicot... Nanti kau terkontaminasi sama sifat bejatnya."
Cya tersenyum miring datar. "Oh jadi namanya Ken? Ken ken...tang. hedeh.. menyebutkan namamu aja aku sangat malas." Cya menatap Ken. "Julukan kentang memang sangat pas untukmu ya. Haha." Tawa Cya hambar.
"Heh bekicot. Julukanmu juga sangat pantas. Bekicot, cot, cot, bacot! Whuahaha." Tawa Ken menghina.
Cya memutar mata malas. "Hm. Rendah protein aja banyak gaya."
"Heh. Setidaknya kaya karbohidrat!"
"Cih. Dasar sekilo Rp. 10.000." Hina Cya menghargai Ken-tang dengan harga pasaran.
Ken melotot emosi. "Dari pada kau. Cari di sawah juga jumpa. Di lumpur lagi!"
"Setidaknya kalau di jual di kota. Lebih mahal dari pada hargamu yang ngak naik naik."
Ken mendengus kesal kemudian membuang wajah kesal ke sembarang arah. Lagi-lagi dia kalah debat dengan wanita jenius di hadapannya.
Ken menetralkan dirinya. Dan menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya. "Udahlah. Malas ngomong sama cewek aneh kayak bekicot."
"Aku juga malas ngomong sama kentang yang ngak pernah simetris bentukannya kayak kau." Kata Cya datar.
Tunggu tunggu... Kenapa jadi beneran bahas kentang dan bekicot sih?
"Kau bisa ngak sih ngak cari gara gara? Baru tiga kali jumpa samamu. Darahku naik terus."
"Sengaja. Biar kau stroke sekalian."
"Kau memang ngak ada sopannya ya?!"
"Bodo."
"Heh. Cepat minta maaf ke aku sekarang!"
"Ini belum hari raya."
"Ih ni bocah." Ken menggertakkan giginya.
"Ih ni buyut." Sambung Cya datar.
Ken menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.
Cya menatapku. "Val. Aku jadi ngak selera makan lagi. Kita balik ke kelas ajalah." Cya bangkit berdiri.
Aku juga ikut bangkit berdiri.
Ken menarik tanganku. "Ngapain sih ikuti dia?"
"Ya aku juga mau ke kelas." Jawabku singkat.
"Eh. Bekicot. Ini semua karenamu."
"Dasar kentang ngak jelas." Sambung Cya datar.
Aku menarik tanganku. Aku menggandeng Cya. Aku dan Cya pun membalikkan badan dan pergi.
Kami pun pergi ke kelas meninggalkan Ken.
Sekali lagi aku dapat lolos dari Ken karena Cya. Aku seneng banget... Akhirnya...
Kami berjalan ke kelas dengan melewati koridor.
__ADS_1
Catatan penulis:
Guys... Jangan lupa like, comment dan kalau bisa di vote yawww... Thanks, I lop yu.... Hehe