
...Ken Prov...
"Huaamm." Aku menguap sambil merengangkan badanku sambil merentangkan tanganku di ranjang.
Puas sekali tidurku kemarin.
Masih dengan posisi terlentang, aku meraba raba ranjangku mencari ponsel yang bergetar terus.
Masih pagi juga, ngapain sih nelpon nelpon. Aku berdecak kesal sebelum aku melihat layar ponselku.
Mama?
Mama kan di rumah. Ngapain harus sampe nelpon?
Aku mengangkat ponselku. "Iya ma?"
"Halo Ken. Mama lagi di luar kota nyusul papa kamu yang berangkat kemarin ya Ken. Maaf baru beri tau kamu sekarang. Tadi mama repot beresin barang."
"Hm. Iya ma."
"Jaga diri baik-baik ya. Mama masih banyak kerjaan ini. Love you sayang." Mama memberikan kecupan pada akhir kalimatnya.
"Iya ma."
Mama pun mematikan ponselnya.
Aku pun berjalan keluar kamar dengan menggunakan kaos kutang dan bokser. "Huamm." Sekali lagi aku menguap. Tak lupa aku membawa ponselku.
Aku membuka pintu dan berjalan ke arah meja makan yang berdekatan dengan dapur.
Aku masih mengusap usap wajahku yang masih mengantuk.
Setelah aku sampai di meja makan aku langsung mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas itu.
Sembari aku minum aku melihat jam yang ada di ponselku.
7:30.
Ck.
Sebentar lagi masuk.
Aku mendengus kesal dengan air masih di dalam mulutku.
Aku memutar mataku malas ke kanan. Di saat itulah aku baru menyadari ada seseorang yang tengah berdiri dan melipat kedua tangannya sambil menggeleng melihatku datar di dapur.
Byurrr
Air yang ada di mulutku tersebut kaget bukan main.
Drett
Ponselku bergetar.
Mama?
Dengan cepat aku mengankat teleponnya.
"Halo Ken. Mama cuma mau info, Cya tinggal sama kamu sementara sampai mama pulang, biar jagain kamu. Oke. Bye. Eh... Jangan sampai lecet menantu mama ya. Bye." Mama mematikan ponselnya.
Aku menlap bibirku yang basah karena menyembur air tadi.
Senyuman kecil ku lukiskan sembari menlap bibirku.
Ngapain ada yang perlu jagain aku ma? Biasanya juga aku sendiri. Aku terkekeh singkat. Aku tau tujuan mama, pasti biar aku dan bekicot semakin dekat.
Aku suka gaya mama. Mwehehehe.
Kemudian aku menatapnya datar dan menaikkan satu alisku.
Dia memutar mata malas. "Cih."
Kemudian dia melihatku sangat tajam. "Aku di sini karena orangtuamu lagi ada proyek dengan orangtuaku di luar kota. Dan mamaku nyuruh aku tinggal di sini sampai mereka datang, agar bisa menjagamu. Cih, udah tua kok masih perlu di jagain." Hinanya.
Aku melipat kedua tanganku. "Kalau kau ngak suka kenapa ngak menolak?" Kataku tak mau kalah.
"Karena orang tua ku maksa aku tinggal di sini sambil memohon. Mana tega aku." Katanya dengan nada marah.
Hehe. Jadi begitu toh... Ternyata udah kerja sama dari awal.
Tak ku sangka perjodohan ini sangat menyenangkan.
Aku duduk di meja makan.
"Buatkan aku makanan." Ucapku berlagak bos. Rasain kau.
__ADS_1
Dia membuang wajah acuh dengan ekspresi kesal.
Dia membawa makanan dan berjalan ke arahku.
Di letakkannya makanan di hadapanku. Kemudian duduk di hadapanku.
"Kok cepat siapnya?"
"Aku udah masak dari tadi."
Se perhatian itu kah dia padaku? Hem..
"Kenapa kau?" Tanyanya.
"Emang kenapa?" Aku bingung.
Dia menunjuk ku dengan ekspresi datar. "Ngapain kau senyum. Setres ya."
Serius... Malu maluin banget.
"Mana ada." Sangkalku.
Dia membuang wajah acuh. "Malaslah berdebat dengan kentang."
Cih. Bisa bisanya menghina ku yang padahal udah menjadi tunangannya.
"Aku ngak mau makan." Kataku sambil mendorong menjauhkan makanannya.
Berharap dia bakalan bilang "Di makan dong." Lalu aku bilang. "Suapin." Dan akhirnya dia menyuapi ku. Hehe...
Dia menatapku datar. Dia mengambil makanan ku.
Dia mau langsung nyulangin aku gitu? Hehe.
"Baguslah. Biar kau sakit ma'ag dan cepat mati. Akhirnya aku pun bisa bebas."
Lah...
Aku langsung menarik tangannya yang hendak berdiri dan membawa makanan ku pergi.
"Kok itu sih jawabannya bekicot." Aku sedikit kesal dengan jawaban itu.
"Jadi apa?"
Apakah kodeku ini udah jelas? Aku rasa sudah.
"Hem." Dia menatapku, mengambil makanan ku dan menyantapnya.
"Lah.. kok di makan." Pekikku.
"Tadi kau ngak mau dan kau meminta menjawabmu lebih lembut... Jawaban lembutnya ya memakan ini biar kau ngak perlu makan." Katanya datar.
Aku mengusap wajahku gusar.
Euh... Mengesalkan sekali.
"Suapin kek." Cetusku.
Kok malah aku yang keceplosan ngomongnya...
Dia menatapku datar. Kemudian berdiri dan membawa makanan tadi ke dapur.
Lagi lagi aku mengusap wajahku prustasi.
Ken Ken... Kau ini kenapa sih? Udah tau kalau tu bocah berhati batu, masih juga berusaha ngasih kode biar romantis. Mana mempan. Ck.
Srett
Aku menoleh ke sebelahku karena mendengar suara kursi yang bergeser.
Dia duduk dan meletakkan makanan baru di hadapanku, mengambil sesuap sendok dan menyodorkannya ke arahku.
Aku terdiam.
Dia... Mau nyuapi?
"Ya udah kalau ngak mau." Dia hendak menaruh sendok kembali ke piring makanan tadi tapi aku langsung memegang tangannya.
"Aiya iya... Aku mau." Kataku. Aku membuka mulutku.
Dia menyuapi ku tetap dengan wajah datar.
Walau begitu, kenapa serasa sangat sweet banget ya?
Aku memakannya sambil tersenyum kecil berusaha menyembunyikan rasa senangku yang menggebu gebu.
__ADS_1
Aku menghabiskan nasi di mulutku. Meminum air putih.
Dia mengambil sesuap nasi lagi kemudian menyodorkannya ke arahku.
Bukan malah memakan sesendok itu, aku langsung mencium bibirnya. Memeluk pinggangnya perlahan dengan masih terus menciumnya.
Pletak.
Sebuah geplakkan mendarat tepat di kepalaku. Aku berhenti menciumnya dan memegangi kepalaku dengan salah satu tanganku, sedang tangan yang lain masih merangkulnya. "Aduh."
"ITU FIRST KISS-KU!! KENAPA KAU REBUT!! GILA YA!!" Jeritnya.
Kalimatnya membuatku terkekeh. Baru kali ini dia sangat marah dengan wajah sangat merah seperti tomat.
Aku kembali menciumnya.
Dia yang masih shock tak membalas ciumanku dan menutup mulutnya erat.
Aku sedikit menjauhkan bibirku namun jarak wajah kami masih sangat dekat, terbukti dari hidungku yang masih menempel pada hidungnya. Aku menatap matanya. "Bekicot nyebelin." Ledekku.
Dia menatapku dengan penuh amarah. "Kau..mm"
Berhasil. Aku membuat dia membuka mulutnya dan menciumnya lebih dalam.
Aku... Ken Dwigantara... Dengan ini menyatakan bahwa aku adalah first kiss dari cewek ter-jutek plus keras kepala yang paling ku cintai. Hehe.
"Arh.." Dia menjewerku keras.
Membuat seketika ciuman kami berhenti.
Ck.
Dia menarik nafas denah terengah-engah. "Kau... Gila ya!"
"Kenapa?" Kataku dengan nada polos.
Dia menlap bibirnya yang basah karena liurku tadi.
Astaga... Bibirnya sangat merona. Ingin sekali aku menerkamnya lagi.
"Akan Ku Beri Tau Ke Mama Kalau Kau Menciumku!" Bentaknya.
"Bilang aja. Aku juga mau kita cepat nikah." Kataku datar.
"Heh!" Dia memukuli dadaku. Kemudian dia menatapku tajam. "Ish.."
"Cya sayang. Nikah muda itu enak loh." Godaku.
"Aku ngak sayang samamu!" Bantahnya keras dengan wajah masih dengan merah tomat karena ciuman tadi.
"Ngak apa." Aku kembali mendekati wajahku ke kupingnya. "Ntar nanti kalau udah satu ranjang juga bakalan suka kok." Bisikku.
Kupingnya langsung memerah mendengar bisikanku.
Semalu itukah dia?
Aku menatap wajahnya lekat lekat.
Dia membuang wajahnya datar.
Wajahnya memerah tapi tatapan masih datar... Gimana sih... Aku terkekeh.
Dia mendorongku tapi tanganku lebih kuat memeluknya.
"Apa sih!" Katanya.
"Panggil aku kamu dong." Pintaku.
"Cih. Ogah." Dia menatapku. "Kau Menjijikan." Sambungnya singkat.
"Kok gitu."
"Iya... Karena kau kentang berulat!"
Aku menahan tawaku.
"Cepatlah mandi sana. Biar langsung ke kampus." Suruhnya.
"Hem." Aku mengangguk dan kemudian berdiri.
Cup
Dengan cepat aku mencium pipinya dan langsung cabut ke kamar mengambil baju ku untuk mandi. Hehe...
"KENTANG!!!!" Jeritnya.
__ADS_1