Magic You

Magic You
chapter 28


__ADS_3

Masih dengan dalam diam aku melihat Jessen tak percaya. Tangan wanita itu merangkulnya membuat wajah Jessen berpaling padanya.


Aku membalikkan badan dan pergi menjauh sambil menahan rasa sesak di dada.


***


Aku cengo sendiri di dalam toilet berdiri di depan cermin. Apa yang terjadi tadi luar biasa di luar dugaan.


Aku coba menelepon Jessen.


Dia mengangkat panggilanku. "Hm."


"Kau. Kau tunangan?!"


"Hm."


Dia kok ngomong kayak ngak bersalah sih. "Kau kan pacarku!"


"Jadi?"


"Kau gila ya... Masa ngak ngerti sih?!"


Terdengar hembusan berat darinya. "Ck. Dengar, sekalipun kita pacaran bukan berarti apapun bagiku. Tugasmu hanyalah berusaha menyelesaikan misi, bukan mencampuri urusan pribadi percintaanku. Kau paham."


Apa-apaan sih dia!


Aku mematikan telepon sepihak.


"Maksudnya apa coba? Dia mempermainkanku?" Aku memukul wastafel. "Ah."


Tiba-tiba ada cahaya yang melingkupi ruangan ini sesaat, aku menutup wajahku kesilauan kemudian membukanya perlahan.


Aku melihat sosok nenek peri di hadapanku. "Nenek."


Dia menatapku dan tersenyum. Dia mengayunkan tangannya lembut, terlihat buku mistis yang entah dari mana munculnya melayang ke arahku dan mendarat tepat di tanganku yang membuka menampung buku itu.


Warnanya tampak berubah menjadi kelabu, aku heran melihat buku ini. Aku mendongak. "Nek ini kenap..." Kalimatku terhenti melihat kehilangan sosoknya. "Hah pergi lagi?" Aku berdecak kesal.


Aku berjalan ke luar toilet sambil terus berpikir. "Mungkin memang benar Jessen takkan pernah mencintaiku, bahkan sekecil apapun itu." Pandanganku lurus ke depan kosong. "Huff. Seharusnya kubentengi diri agar tak terjerumus ke dalam rasa cinta yang lebih dalam, itu mematahkanku."


"Apa yang selama ini kupikirkan jauh dari kenyataan yang ada."


"Aku tak perlu marah padanya karna ini adalah pilihannya. Buat apa marah?" Aku memandangi buku mistis dan membukanya. Terlihat angkanya 5/15 berwarna abu-abu, terlihat sangat kelam.


"Ya sudahlah." Kataku lirih. "Tugasku hanyalah untuk membahagiakan saja, tidak lebih. Aku harus ingat itu." Aku meyakinkan diriku untuk tetap bersemangat.


Aku berjalan kembali ke ruangan acara dan memasang topeng bahagia.


***


Aku membaringkan badan di tempat tidurku. Terus meyakinkan diri agar terus hidup dengan atau tanpa perasaanku terhadap Jessen. Aku berusaha untuk menguatkan diri agar tak terlalu terlibat dalam rasa cintaku padanya. "Semua akan berakhir saat misi ini selesai."


***


Aku berjalan di koridor sekolah dan masuki kelas. Duduk dengan beribu keheningan dalam alam pikiranku.

__ADS_1


"Val."


Aku meminum air putih yang kubawa dari rumah, masih dengan pandangan lurus.


"Val."


Sudah beberapa kali meneguk air ini, tapi tak mampu menyegarkan pikiranku.


"VAL."


Suara kencang itu membuatku menutup telinga. "Apaan sih Tes?" Pekikku.


"Nih anak dari tadi udah di panggilin juga. Tuli ya!"


"Kapan kau panggil?"


Tessa menjewerku. "Dari tadi PEA."


Aku memegangi tangan Tessa yang menjewerku. "Iya iya iya... Lepasin dong." Tesa pun melepaskan jewerannya kesal.


"Kenapa tu mukamu. Lesu banget." Kata Tessa.


"Kenapa emang?" Aku memegangi wajahku. "Biasa aja perasaan."


"Biasa aja gimana?! Wajahmu lemes banget, kaya kaus kaki kedodoran tau ngak."


Aku mengibas-ngibaskan tangan tak peduli. "Udahlah. Ngak ada yang perlu di kuatirkan."


Aku membuka buku dan membacanya.


"Ck, terserah akulah."


Tessa menggeleng kagum melihatku. "Ada gunanya juga kau pacaran sama Jessen."


Aku menghentakkan meja gusar yang membuat setiap murid melihat ke arahku. Aku menatap Tessa tajam. "Jangan sebutin nama dia."


Tessa yang baru pertama kali melihatku semarah ini mengangguk takut.


Aku kembali duduk dan menatap tajam sekelilingku yang masih memandangiku. Mereka mengalihkan pandangannya dari padaku dan kembali melakukan aktivitas mereka sebelumnya.


Aku kembali membaca buku dan fokus belajar.


***


Di jam istirahat ini aku pergi ke belakang sekolah yang sepi. Duduk di di tanah yang berlapiskan rumput tipis dan kembali membaca buku.


Tak berapa lama aku membaca terdengar suara mengerang dari sesuatu di antara semak-semak.


Aku berjalan mendekati sumber suara dengan perlahan.


Aku menutup mulut menahan jeritanku.


Kak Rio berciuman dengan seorang wanita!


Aku berjalan mundur perlahan agar tak ketahuan dan pergi menjauh dari tempat itu. Pergi sejauh-jauhnya.

__ADS_1


Brukk.


Aku menabarak seseorang saat sudah jauh berlari dari sana. "Ahh." Aku yang masih shock dengan kejadian tadi menjerit sambil memegangi wajahku.


Dia memegang bahuku. "Kau kenapa?"


Aku membuka mataku. "Tessa." Aku memeluk Tessa dengan erat sambil menangis.


"E eh Val, kau kenapa?"


"Tes hu hu, begini amat sih perjalanan cintaku Tess... Hu hu." Kataku sambil terus menangis.


Tessa mengelus punggungku menenagkanku. "Udah udah... Keluarin aja semuanya Val. Aku akan tetap bersamamu."


Aku kembali terus menangis dan menangis. Jessen yang jelas-jelas pacarku menghianatiku dengan bertunangan dengan orang lain tanpa merasa bersalah padaku, dan kak Rio... Kak Rio yang sudah kuanggap sebagai seseorang lelaki yang sangat kupercayai dan mampu membuatku merasa lebih baik ketika jatuh, malah melakukan tindakan tak terpuji di hadapan mataku.


"Tess... Aku mau pulang sekarang." Kataku memelas sambil masih menangis.


"Iya iya, aku antar pulang ya... Wajahmu juga sangat pucat Val. Kau harus istirahat."


Kami meminta izin untuk pulang lebih awal. Dengan alibi kondisi badan yang tak sehat.


***


Di kamar aku terus memeluki gulingku dengan selimut yang membungkus tubuhku.


Aku terus menangis sampai mataku terasa sakit. Aku sangat kelelahan, membuat mataku terasa berat. Aku tertidur dengan lelap.


***


Esok harinya aku melihat kak Rio yang tersenyum lebar padaku. "Hi." Sapanya.


Rasa jijik melihatnya mengalir dalam darahku yang mendidih. Tapi aku masih berusaha tersenyum.


"Kok kecut banget sih." Dia menyentuh pipiku dengan ujung jari telunjuknya.


Aku menyingkirkan diriku menjauh darinya. "Maaf kak, jangan samakan aku dengan wanita yang bersama kakak kemarin di belakang sekolah."


Dia terkejut, mimik wajahnya berubah drastis. "Gi gimana maksudnya?"


Aku memutar mata malas. "Ngak usah pura-pura ngak tau deh kak. Aku udah lihat." Aku berjalan melewatinya acuh.


Dia menahanku dengan memegang tanganku. Aku spontan melepaskannya geram dan menatapnya dengan sorotan tajam.


"Dengerin aku dulu Val." Katanya pasrah. "Dia yang nyium aku deluan."


"Heh, aku tak peduli." Kataku lirih.


Aku kembali berjalan. Namun kak Rio tetap mengejar dan kembali menarik tanganku. "Please Val... Kamu salah paham."


Tessa melepaskan tangan kak Rio dariku. "Kau dengar ngak sih apa yang di bilang Valen... Dia, ngak, peduli, sama, mu." Dia menekan kata-kata akhir sambil mendorong kak Rio dengan jari telunjuknya geram.


"Yuk kita masuk." Tessa merangkulku dan kami pun masuk ke kelas.


Aku mendukung setiap tindakan yang di lakukan Tessa tadi... You are the best Tess.

__ADS_1


__ADS_2