
catatan penulis:
hehe, hi my readers.... seneng banget karena antusias kalian dalam novel Magic You ini.... thank you very much... ❤️
Karena banyak yang merekomendasikan untuk melanjutkan kelanjutan dari novel ini, maka buat hari ini aku akan lanjutkan ceritanya..
thanks banget untuk para readers yang setia...
and this chapter is for you.... happy reading 🤗❤️❤️....
_______________________________________________
Aku menatap buku di hadapanku dengan kesal.
Yup, kami lagi ada di perpus. Ya beginilah kalau punya cowok yang kutu buku. Hem, menyebalkan.
Baru aja seneng karena ada keajaiban yang membuatnya kembali ke dunia ini. Dan sekarang malah kesel karena di bawa ke tempat sunyi senyap ini. Ck.
Ish...
Aku membuka lembaran buku selembar tiap selembar tanpa m membacanya. Ntah kapan kamu akan pulang dari tempat ini.
Ctak.
Sebuah pulpen tepat menepuk di jidat ku dengan dengan sempurna.
"Aduh." Kataku sambil memegangi jidad.
"Kau kenapa?" Tanyanya.
"Bosan. Baca mulu." Cetusku.
Dia menatapku datar sambil menumpu kan tangannya di atas meja. "Terus?"
"Kita pergi ke mana kek, tangan penting jangan di sini lah. Bosan." Rengekku.
Jessen berdiri dari bangkunya yang berada di hadapanku kemudian duduk di sebelahku. Dia kembali menatapku datar.
"Lemesin napa sih mukamu Jes. Ketet amat." Hina ku.
"Kau mau ke mana?"
Huh?... Serius? Jarang jarang dia ngajak pergi.
"Aku mau ke... Ke.." Kemana ya...
"Ah..." Pekik Jessen pelan. Jessen memegangi kepalanya.
Aku membolangkan mataku panik. "Kau kenapa Jes?"
"Kita pulang aja ya." Sambungku.
__ADS_1
Dia mengangguk.
Kami pun segera ke rumah Jessen mengantarnya pulang.
Setelah sampai di depan apartemen Jessen. Aku menepuk pundaknya pelan. "Kau istirahatlah. Jangan lakukan hal yang melelahkan, dan kalau ada apa apa telpon aja aku ya...".
Saat aku mau berbalik, Jessen memegang tanganku. "Jangan pulang. Kau harus menjagaku."
Ehm. Aku memegangi tengkuku. Gimana ya? Biasanya kan aku bakalan nginap di sini karena terpaksa. Kalau ngak karena buku ajaib itu yang sembarang menteleportasikan aku ke sini, aku mah ngak akan pernah nginap di sini. "Em. Tapi Jes.."
"Kau harus menjagaku malam ini." Katanya dengan wajah seperti merengek.
Wait... Jessen kenapa jadi manja.
"Hm. Oke. Untuk malam ini aja."
Dia tersenyum kecil.
Aku dan Jessen pun masuk ke dalam. Seperti biasa, apartemen ini sangat bersih. Kok bisa? Bukannya selama ini Jessen di luar negeri?
"Kok rapi?" Tanyaku.
"Aku menyewa asisten rumah tangga untuk membersihkan ini selama aku pergi."
Aku ber-oh ria tanpa berbicara.
Jessen duduk terkulai di kursi ruang tamu. "Aku lapar." Rengeknya.
"Ya... Udah. Makan lah." Kataku sedikit bingung melihat Jessen yang tak biasanya merengek.
"Eh. Jes. Telpon aja kek asisten rumah tangga mu. Atau pesan aja kali makanan. Masakan ku kan ngak enak." Bantahku.
"Ngak mau... Maunya kau yang masak."
"Jes.. masakan ku itu ngak enak.."
"Emm... Ngak mau. Aku mau kau yang masak."
Wait a minute... Di di dia.. kenapa jadi kayak bocil begini sih?..
Tunggu, kalau di ingat ingat. Jessen Pernah kayak bocil begini kayaknya, tapi kapan ya?...
Ah.. waktu dia lagi sakit. Dia pagi sakit memang kayak bocil.
Aku berjalan ke arahnya dan duduk di sebelahnya. Aku memegang jidatnya, huh? Ngak panas kok.
Trus?
Dia menatapku datar. "Kenapa?"
"Kau ngak sakit." Kataku. Tunggu, aku baru menyadari satu hal. "Kau bohong ya!"
__ADS_1
Dia terkekeh singkat. "Menurut mu?"
Kemudian dia memelukku.
Kami saling berpandangan. Wajahnya semakin dekat ke wajahku. "Waktu aku ngak di sini, kau ngak nakal kan?"
"Nakal? Maksudnya?"
Dia mengerucutkan bibirnya. "Itu siapa yang ada di rumah sakit tadi. Cowok itu deket banget kayaknya samamu." Katanya dengan nada sedikit kesal.
"Siapa?" Aku mencoba mengingat sesuatu. "Oh. Itu. Dia senior aku di rumah sakit. Namanya Tian."
"Kau kok tau tentang kak Tian? Kan kau koma?"
Jessen mendengus kesal. "Tau lah. Kalau orang koma itu, raganya aja yang tidur. Tapi nyawanya enggak."
"Oh.. gitu ya."
"Hem." Katanya kesal. "Nah sekarang jawab aku, dia ada hubungan apa samamu."
"Ngak ada. Cuma sebatas senior."
"Ngak lebih?" Jessen memastikan.
"Ngak."
"Serius?" Tanyanya dengan penuh penekanan.
"Iya... Serius." Jawabku enteng.
Jessen kembali tersenyum kecil sambil mengangguk.
"Tapi tetap aja aku ngak mau masak. Masakan ku ngak enak." Alias aku sebenarnya malas. Memasak, bukan hobiku.
Jessen kembali merenggut. "Ck. Kok gitu."
"Iya loh Jes.. aku ngak bisa masak."
Dia menunjuk nunjuk bibirnya pelan sambil tersenyum miring.
"Apa?"
"Cium."
Huh?
"Cium.."
Aku jadi kaku seketika. "A aku masak aja deh. I iya aku masak." Aku langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Gila...
__ADS_1
Bayangin aja, kami lagi ada di apartemen berduaan. Dan... Ngak ngak!!! Imanku ngak boleh goyah!!
Aku mempercepat gerakan ku ke dapur.