Magic You

Magic You
chapter 44


__ADS_3

Aku belajar di dalam kelas dengan fokus.


Drett


Ponselku bergetar. Aku melihat layar ponselku dan tertera ada chat masuk dari... Ken?


Aku tak ingin membukanya.


Ponselku kembali bergetar. Kali ini dia menelponku.


Aku mematikannya.


Ck. Sibuk amat sih ni orang, lagi belajar juga.


Beberapa saat kemudian pintu kelas terbuka kencang, seluruh mata melihat ke arah sumber suara.


"Maaf pak mengaggu waktunya." Ken datang!


"Iya. Ada apa Ken?" Tanya pak Sudarsono.


"Saya mencari Valentresia pak. Di panggil oleh pihak TU kampus pak." Jelasnya.


Heh? Emang aku ada masalah sama perkuliahan makanya TU manggil aku?


Pak Sudarsono mengangguk kemudian menghadap ke arah murid. "Valentresia."


Aku berdiri. "I iya pak."


"Silahkan ikuti Ken, ada yang perlu kamu urus di TU." Sambung pak Sudarsono.


Aku pun mengangguk dan pergi bersama Ken.


Aku terus memikirkan kenapa aku di panggil dengan TU. Aku udah bayar UKT kok, terus apa?


Aku melihat ke arah Ken yang tersenyum sambil menghadap depan. Firasatku ngak enak, apa jangan jangan dia...


"Ada masalah apa aku sama TU?" Tanyaku.


Dia menghentikan langkahnya kemudian mengarahkan badannya ke arahku. "Kau ngak ada masalah sama TU. Masalahmu itu denganku." Katanya singkat.


"Kau gila ya! Nanti kalau dosen tau kalau dari tadi kita keluar karena kau berbohong. Kita akan mendapat masalah besar! Astaga.... Aku masih MABA Kennnn! Kau membuatku di posisi yang bahaya!"


"Itu salahmu. Kenapa kau malah pacaran sama si kutu kupret itu!"


Ken menarik badanku ke dalam pelukannya. "Putusin dia kek!"


Aku memukul perutnya membuat dia meringis kesakitan dan melepaskanku.


"Heh. Aku ngak bakal mau jadi pacarmu. Aku itu cintanya sama Jessen." Kataku singkat.


Tunggu, apa ini suatu pengakuan diriku terhadap rasa cinta ke Jessen?


Aku sudah Gila...


Ken masih memegangi yang sakit.


"Apa bagusnya sih dia? Gantengan lagi aku, manisan juga aku, dan aku sangat yakin aku pasti sulit untuk kau lupakan. Ya kan?" Ucap Ken membanggakan dirinya sendiri.


"Euhh. Apanya... Pokoknya gini ya Ken, kau carilah wanita lain yang lebih baik dari pada aku. Pasti banyak yang mau samamu."


Ken menatapku datar dan yakin. "Jessen itu pasti bakalan menyakitimu."


"Hah?"


Dia memutar bola matanya sedih. "Aku tak mau orang yang kucintai tersakiti." Suaranya mulai melemah. "Aku sangat mencintaimu."


"Ta tapi, kenapa? Kenapa kau sangat cinta samaku, padahal kita juga baru jumpa?"


Dia menyoroti mataku dalam. "Aku tak tau kenapa. Tapi aku sangat mencintaimu. Apa aku salah?" Suaranya terdengar parau.


Deg


Aku terdiam sejenak. Apa yang akan ku katakan sekarang?


Aku sangat membencinya karena dia menyukaiku. Dan bahkan rasa cintanya padaku sama seperti rasa cintaku pada Jessen, aku tak dapat jelaskan... Aku terlihat seperti orang jahat sekarang.


"Ken. Aku... "


"Val." Dia memotong kalimatku. "Aku akan menunggumu. Cintaku takkan berubah." Dia tersenyum kecil dan pergi meninggalkanku.


Aku memegang tangannya menghentikan langkahnya. "Ken. Please. Aku ngak bisa. Jangan mengharapkanku, Karena aku juga tak dapat membalas cintamu. Please.. aku ngak bisa."


Dia menatapku kosong. Wajah sedih yang teramat dalam terpancar dari rautnya.


Aku sangat tak tega.


Dia berusaha tersenyum bahagia. Tapi aku yakin itu bukan dari hatinya.


Dia sedikit tertawa garing. "Heh. Lucu ya.. Aku tak pernah merasakan hal sesakit dan sesesak ini." Dia mengangguk sambil menatap mataku. "Kau berhasil membuatku sangat tersakiti. Makasih." Dia pergi.


Aku tak menghalangi langkahnya. Aku tak ingin dia melihatku dan semakin menyakiti dirinya lagi. Aku tak tega.


"Maaf." Ucapku pelan.


Aku berjalan kembali ke kelas. Sepanjang koridor tak sengaja aku melihat dari kejauhan Jessen bersama seorang wanita. Aku yakin sekali pernah melihat wanita itu.


Mataku terbelalak saat ingatan tentang wanita itu muncul di benakku.

__ADS_1


Itu tunangan Jessen yang waktu itu kan?


Apa yang... Tapi Jessen bilang dia tak ada hubungan apa pun lagi dengan wanita itu, tapi kenapa Jessen masih berjumpa dengannya?


Mereka tampak mengobrol sesuatu.


Wajah wanita itu tampak tersenyum. Namun, seperti biasa wajah Jessen hanya menatap wanita itu dingin.


Sebuah ciuman wanita itu mendarat di bibir Jessen!


Bukannya menolak, Jessen hanya diam.


Dada ini terasa sangat sesak se-sesak sesaknya.


Apakah kemarin ciuman kami semalam juga hal yang biasa bagi Jessen?!


Ingin aku berlari dan mendapatkan Jessen dan menamparnya.


Tapi mata ini di tutup oleh seseorang yang ada di belakangku. Dia membalikkan badanku dan memelukku masih dengan menutup mataku. "Dia akan menyakitimu." Seseorang itu perlahan melepaskan tangannya dan membuatku menatapnya.


KEN...


Dia melepaskan dekapannya. Kemudian menarikku ke suatu tempat.


***


Ken melihat dengan simpati.


Aku terus menangis sampai mataku terasa sakit. Tapi, sesakit apapun mataku, hatiku lebih sakit melihat kejadian tadi.


Ken tak berbicara apa pun.


Kami sedari tadi duduk di taman yang kampus yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung.


Entah sudah habis berapa pack tissue seukuran kantong habis kugunakan untuk menlap air mata dan ingusku.


Hariku sangat hancur...


Hancur...


Aku berusaha bernapas dengan normal. Tapi nafasku terus tersengat sengat karena menangis. "Hu hu. Ken... Kenapa bisa begini? Hu hu."


Ken tak menjawab dia hanya terus mengusap-usap punggungku agar bersabar.


"Hu hu. Kau udah tau tentang dia berdua di belakangku ya?"


Ken enggan mengangguk. Dia hanya memalingkan wajahnya.


"Huaaa... Heeee heee.." Aku terus menangis.


Dia menepuk nepuk pelan badanku. "Udah udah. Jangan nangis lagi."


Ken yang tak tau harus berbuat apa memilih diam sambil terus mengelus punggungku.


Kenapa Jessen sekejam ini?!


Aku tak sangka dia akan mengkhianatiku seperti ini.


Aku membencinya!


***


Sepulang kuliah. Aku memilih untuk pulang dengan berjalan kaki.


Srett


Sebuah mobil berhenti di sebelahku.


Ini mobil Jessen!


Dia membuka jendelanya. Dia tersenyum padaku. "Masuk."


Emosi ku menanjak sampai ke ubun-ubun kepala. Dia sama sekali ngak merasa bersalah!


Aku terus berjalan tak memperdulikannya yang bingung dan terus memanggilku.


Dia turun dari mobil dan mendatangiku.


"Val. Kamu kenapa?"


Aku terus berjalan tak memperdulikannya.


Dia kembali mesejejerkan langkah dengan langkahku. "Val. Kenapa?"


Aku udah tak tahan lagi!


"Ngak usah lah panggil aku. Aku tau aku hanya sebagai alat untuk membuatmu bahagia... Seharusnya aku paham betul dengan dengan tugasku yang seharusnya dan tak bermain hati denganmu!"


"Ngak perlu sandiwara lagi sekarang! Aku tau kau tak pernah cinta padaku! Aku tau kau hanya mempermainkan ku!"


Aku menlap air mataku yang kembali tumpah.


"Kalau kau memang masih mencintai mantan mu, paling tidak jangan mempermainkan sebagai wanita penggantinya selagi dia tak ada mendampingi mu!"


"Val..." Jessen mencoba menenangkan diriku.


"Ngak perlu. Tugasku hanya untuk menyelesaikan misi ya kan?! Aku tau itu!"

__ADS_1


"Valen dengarin dulu."


Aku menepis tangan Jessen yang membuat dia menjatuhkan sesuatu.


Buku mistis


Aku mengambil buku mistisnya. Tapi, tangan Jessen lebih cepat mengambil buku itu.


Aku menghentakkan kaki kesal. "Ck. Sini bukunya."


"Ngak akan. Kau harus dengerin aku dulu."


"Bodo amat." Aku pergi.


Aku muak dengan Jessen dan semua hal manis yang pernah di lakukan padaku. Aku sangat muak!


Dia menarik tanganku. "Valen."


Aku menepis tangannya dan melihat ke arahnya. "Apa sih?!"


"Kau harus pulang bersamaku." Ancamnya.


"Aku tak mau! Pergi kau sana!"


Wajahnya tampak sangat marah. Dia kembali menarikku dan menggendongku seperti menggendong goni.


Aku memukul mukul badannya keras.


Dia tak perduli dan memasukkanku ke dalam mobilnya kemudian menutupnya. Dia pun masuk ke dalam dengan menggunakan pintu lain di sebelah kemudi.


Aku melipat kedua tanganku geram.


Dia menatapku. "Dengar. Aku benci sikapmu yang seperti ini."


"Hah?! Aku bahkan membenci setiap tingkahmu!"


Dia mengemudikan mobil dengan kencang.


Aku sangat shock melihat Jessen yang lepas kendali.


"Jessen! Jangan mengemudi kencang kencang!"


"Aku akan berhenti saat kau mendengar penjelasanku dulu!" Teriaknya tanpa melihatku.


Aku yang masih sayang nyawa pun menyerah. "Iya iya!... Aku dengarkan. Tapi pelankan laju mobilnya!"


Dia mulai memelankan laju mobilnya. Dan mulai terlihat lebih menenangkan dirinya.


Dia mengatur nafasnya dan kemudian melaju dengan kecepatan pelan. "Aku akan jelaskan di rumah." Katanya.


Aku melepaskan nafas lega setelah dia menurunkan kecepatan kendaraannya.


***


Dia mengarahkanku untuk duduk di sofa. "Kau duduk di sini. Aku mau ambil sesuatu." Katanya sambil berjalan ke arah kamarnya.


Wajahnya tadi tampak sedikit pucat.


Bruk


Aku melihat ke belakang arah di mana Jessen berjalan tadi.


JESSEN JATUH!


Aku bangkit berdiri dan dengan segera duduk di sebelahnya.


Aku menepuk nepuk wajah Jessen yang tak sadarkan diri. "Jes... Jes... Bangun Jes..."


Dia tak terbangun sama sekali.


Aku panik dan langsung menelpon ambulans.


"Pak. Teman saya tak sadarkan diri pak! Cepat datang pak!"


"Baik bu. Alamat ibu di mana?"


"Di apartemen Kertajaya indah nomor kamar 264." Jelasku.


"Baik bu. Kami akan segera ke sana."


"Iya pak. Cepat pak!"


Aku mematikan teleponnya dan kembali menyadarkan Jessen.


"Jes! Bangun dong! Kau kenapa sih?!"


Jessen masih diam tak bergeming.


Tak berapa lama pun petugas medis datang dan segera membawa Jessen.


Jessen... Kau kenapa?!


Catatan penulis:


Hi gengsss..... Jangan lupa di like, comment, vote, rate, dan kalau bisa beri hadiah ke cerita aku ya...


Please beri aku semangat dari dukungan kalian itu guysss...

__ADS_1


Love you 🤗


__ADS_2