
Catatan penulis;
Cuma mau bilang... Jangan lupa di like komen vote dan di beri tips ya guys...
love you....
...Author POV...
Rio duduk di meja makan sambil membaca buku sejarah. Mulai hari ini dia tak membiarkan waktu yang dia punya untuk bermalas malasan. Dia harus bisa meraih prestasi di sekolah.
Pertama yang harus dia lakukan adalah mendapatkan nilai ujian yang tinggi, kemudian Ranking kelas dan bahkan Juara umum sekolah.
Well. Agak berlebihan sih. Tapi itu harus dia lakukan demi Tessa.
'Tessa. Kau harus jadi milikku! Titik!'
Mama dan papa Rio cengo melihat anak nya yang bertingkah aneh.
Mereka saling tatap dan kembali melihat ke arah Rio.
"Nak. Kalau makan, makan aja dulu. Belajar nya kan bisa nanti." Mama Rio menegur.
Rio tak menggubris dan tetap makan sambil kembali membaca buku.
"Iya Rio. Lagipula. Tumben kamu belajar." Papa Rio bingung melihat anaknya.
Rio mempercepat makannya dan menelan seluruh makanan dengan paksa seraya meneguk air putih.
"Ah... Rio selesai." Rio mengakhiri makannya.
"Ma pa. Rio mau lanjut belajar lagi. Jangan ganggu Rio belajar... Dan kalau mama dan papa mau tau alasan, ini demi masa depan Rio. Demi mendapatkan hati calon menantu kalian oke.." Rio langsung berjalan ke arah kamar dan kembali belajar di dalam sana.
Mama dan papa Rio saling tatap lagi. Kemudian tersenyum.
Siapapun gadis pujaan Rio sekarang, pasti menantu idaman bagi mereka. Karena baru pertama kali dalam sejarah Rio mau belajar tanpa di suruh.
Ntah apa jurus yang di lakukan gadis itu. Tapi mereka menyukainya.
***
"Rasanya kepalaku mau pecah..." Keluh Rio sambil membanting badannya di ranjang.
"Sumpah. Hari Minggu aku belajar. Kesurupan apa aku... Arh..." Dia mengacak rambut nya kesal sendiri.
"Tapi gimanapun aku harus bisa jadi pintar. Itu aja intinya."
"Istirahat juga butuh kali. Gile aja terus belajar begini." Rio bermonolog.
Rio butuh hiburan. Dia meraih ponselnya yang ada di sakunya.
"Ngak ada yang menarik."
"Tapi tunggu. Apa... Aku pergi ke rumah Tessa aja ya. Hm... Ide yang bagus."
Rio langsung melonjak dari ranjangnya dan mengganti bajunya dengan setelah baju kaus hitam dengan celana jeans di tambah menggunakan Woody putih bersih.
Rio berjalan ke luar kamar dan melihat orang tuanya sedang mengobrol di ruang tengah.
"Ma pa. Rio berangkat." Ijin Rio dari kejauhan.
"Mau ke mana?"
"Jalan jalan doang. Bosan belajar mulu."
"Oh. Yaudah. Hati hati..."
"Oke..."
Rio pun langsung cabut dengan menggunakan kereta.
***
Tessa mencoba coba baju dress santai yang di belikan mamanya waktu pulang dari luar kota kemarin.
Jujur saja. Tessa jarang menggunakan baju dress. Dia lebih suka pakai baju kemeja dan celana panjang.
Mama Tessa suka melihat Tessa tampak anggun saat pergi keluar. Jadi mama Tessa lebih banyak membeli baju dress di bandingkan baju lainnya. Walaupun Tessa sendiri lebih sering menggunakan baju kemeja dan kaus kalau ke luar rumah.
Tessa berkaca di cermin.
Dia tersenyum simpul. "Hm. Lumayan juga."
Baju dress selutut berbahan renda berwarna hitam dengan kain pelapis dalam berwarna pink. Terlihat manis dan anggun.
Tessa coba mencocang rambut nya agar semakin elegan dengan sedikit polesan make up natural.
Tessa tersenyum sendiri melihat dirinya.
Tessa bercermin sambil berkacak pinggang melihat postur badan nya yang menggunakan setelan ini.
Mengingat rumah sangat sepi, hanya ada beberapa pembantu dan juga karena papa dan mama sibuk bekerja. Tessa jadi ingin keluar rumah menghilangkan suntuk.
"Pergi ke rumah Valen aja kali ya. Iya deh." Tessa tersenyum.
"Pakai ini apa engak ya?..."
"Hm.."
__ADS_1
"Pakai aja lah. Lagi pun ini kan dress santai, bukan untuk acara pesta."
Tessa pun mengambil tas kecilnya dan di selempang kan ke arah kanan.
Valen berjalan keluar rumah.
***
Rio telah sampai di depan pagar rumah Tessa. Pagarnya tak terkunci jadi Rio masuk saja.
Rio turun dari kereta, melepaskan helm dan meletakkan nya di atas kereta.
Rio berjalan menuju pintu rumah Tessa sambil membetulkan rambut nya dengan tangannya.
Saat pintu hendak di ketuk oleh Rio
Cletak
Pintu terbuka perlahan.
Rio ternganga melihat Tessa yang terlihat sangat cantik bagai bidadari.
"Rio." Ucap Tessa melihat Rio berdiri terpaku di hadapan nya.
Rio tak menjawab hanya menatap nya cengo. Tessa bingung.
Tessa menjentikkan jari nya di hadapan Rio.
"Udah lah Yo, aku mau ke rumah Valen. Aku luan." Tessa berjalan meninggalkan Rio.
Rio langsung menarik tangan Tessa. "Ngak. Kamu bareng aku sekarang." Rio mendekap Tessa sambil menatap nya dekat. 'Cantik banget sumpah.' Batin Rio.
"Kamu bareng aku. Aku udah capek-capek datang ke sini loh." Kata Rio tak membiarkan Tessa pergi dari hadapannya.
"Ngak. Aku mau ke rumah Valen."
"Pokoknya kamu harus temenin aku sekarang. Ngak mau tau. Dan ngak ada penolakan."
"Yo.. aku mau nonton di rumah Valen."
"Dari pada sama dia mending nonton bareng aku."
"Ngak." Tolak Tessa.
"Iya." Rio tak mau kalah.
"Ngak."
"Iya."
"Rio."
"Ish.. Ngeselin."
"Denger deh. Aku mau nanya, memangnya si Valen itu masih jomblo apa punya pacar?"
"Dia udah punya pacar."
"Nah.. Bisanya nih ya yang.. kalau udah punya pacar, pasti hari Minggu gini mah ngapel. Kamu mau jadi obat nyamuk?"
'Iys juga ya.' Pikir Tessa.
"Makanya hari ini. Aku mau ngajakin kamu jalan jalan. Oke.." Sambung Rio.
Rio melepaskan pelukannya dan mengandeng Tessa. "Kuy."
Rio menarik tangan Tessa.
'Ys udahlah. Toh juga cuma mau refreshing.' Pikir Tessa.
***
Tessa dan Rio pun menuju mall. Mereka nonton film bareng, makan bareng dan berakhir main games bareng di mall.
Tessa merasa sedikit senang hari ini.
Walaupun sebenarnya dia mau pergi bersama Valen, tapi ngak mungkin juga dia rela jadi nyamuk di antara Valen dan Jessen kan?
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Tessa rasa sudah cukup main mainnya. "Yo. Aku mau pulang."
Rio yang masih bermain basket Time-zone pun berhenti dan mengangguk.
Mereka pun pulang.
***
Udara dingin dan sejuk menerpa Tessa saat kereta melaju. Senyuman kecil terlukis di wajahnya yang cantik.
"Yo. Aku lapar. Makan dulu ya." Kata Tessa.
Rio menganguk dan tersenyum. "Oke sayang."
Terlihat ada pedagang kaki lima.
"Yo. Kita makan di situ aja." Ajak Tessa.
Rio kembali mengangguk dan menepi.
__ADS_1
Mereka pun turun dari kereta dan duduk makan di sana.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Rio.
"Bakso dan teh manis hangat."
"Okey.." Rio melambaikan tangannya ke mas mas yang jualan. "Pak bakso dua dan teh manis dua juga ya."
"Oke..." Kata mas mas itu.
Banyak lelaki di sini yang melihat kagum kecantikan Tessa. Bahkan tiba tiba ada yang nekat datang samperin mereka.
"Hi. Minta nomor WA dong." Ucapnya pria bertubuh besar.
Tessa sontak langsung melihat ke arah Rio. Dia takut dengan pria asing ini.
Rio menatap santai lelaki yang berusaha menggoda Tessa. "Bro. Dia pacarku."
Lelaki itu tampak tak senang dengan Rio dan kemudian manatap Rio tajam. "Heh! Kau pikir baku peduli! Aku ngomong sama dia, bukan kau!"
Tessa jadi kesal. "Maaf mas. Lebih baik mas kembali ke meja mas." Ucap Tessa dengan sorot mata tajam.
"Songong kau ya... Di baikin malah ngusir!" Pria itu tampak marah dan menatap Tessa dengan tatapan berapi-api.
Tangan pria itu melayang hendak menampar Tessa.
Tep
Rio menahannya. "Udah ku bilang. Dia pacarku." Rio menyorot mata pria itu tajam.
"Oh... Kalau gitu."
Burgh
Satu pukulan pria itu mendarat tepat di pipi Rio.
Rio berjalan ke arah pria itu dan membalas memukul wajahnya lebih keras. Membuat pria itu oleng.
Pria itu kembali membalas dengan memukul wajah Rio, tapi meleset. Dan malah di tonjok lagi oleh Rio.
Pria itu kembali di tendang Rio dengan kakinya sampai terpental. Rio menlap darah di sudut bibirnya yang di pukul tadi. Menatap pria itu tajam. "Jangan main main denganku."
Tessa hanya terdiam mati kutu karena takut.
Kemudian Rio meletakkan uang sebesar 100.000 di meja makan kami. Rio melihat ke arah mas mas yang juga terdiam di sana karena kejadian itu. "Mas. Ini uangnya. Kami selesai makan."
"E eh... Mmmakanannya baru ssiap den.." mas mas itu mengangkat pinggan yang berisi makanan kami dengan gemetar.
"Ngak apa mas. Udah kenyang." Rio masih bisa tersenyum.
Rio meraih tangan Tessa, "Ayo pulang sayang." Rio membawanya pulang.
***
Di perjalanan Tessa masih diam.
Rio sebegitu pedulinya pada dirinya. Dia masih tak sangka.
Terutama, dia masih shock dengan kejadian tadi. Tessa teringat waktu kecil dia pernah berurusan juga dengan preman yang hampir mau menculiknya, untuk waktu itu dia bisa kabur.
Tessa menatap punggung Rio.
Kenapa Rio sudah di putusin dengan kasar dan di tolak mentah-mentah oleh dirinya masih mau membelanya?
Crettt...
Kereta berhenti di depan pagar Tessa.
Tessa turun begitu pun Rio.
Rio membuka helmnya dan tersenyum kecil. Dia mengelus kepala Tessa. "Jangan di pikirkan. Nanti kamu sakit loh. Pikirin aku aja. Hm."
Tessa tersenyum melihat tingkah Rio yang tak bisa terpikirkan olehnya.
Lelaki yang di anggap nya bejat dan di bencinya, malah membuat dia luluh begini.
Tessa berjinjit sambil meraih tengkuk Rio yang lebih tinggi darinya.
Cup.
Tessa mencium bibir Rio membuat Rio terkejut bukan main.
Tessa melepaskan ciumannya. Kedua manik mata mereka menatap lekat. "Makasih buat hari ini by.." Bisik Tessa.
Tessa kembali berdiri dengan normal dan masuk ke dalam rumah.
Rio terdiam kemudian tersenyum kecil. Dia memegang bibir nya yang masih hangat dengan kecupan singkat Tessa tadi. Rio terkekeh kecil. "By?..."
Rio menutup wajahnya. Dia sangat senang seperti melayang di udara.
Rio mengambil helmnya dan memeluknya helmnya erat. "Akhirnya!...."
Rio mengangkat Helmnya dan mencium cium helmnya. "Muah... Muah... Muah... Tessa... I love you!!"
Pekiknya.
Tessa yang sudah ada di kamar yang berada di lantai atas terkekeh melihat Rio dari luar jendela seperti orang gila di luar sana.
__ADS_1
"I love you too Rio." Kata Tessa pelan.