Magic You

Magic You
chapter 101


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku. "Whoam." Aku menguap.


Ku rengangkan tanganku, kemudian aku tersadar dari tadi tangan Jessen masih ada di perutku bersentuhan langsung dengan kulit ku... Aku masih telanjang hanya berbalut selimut bersama Jessen!


Ingatanku kembali terulang saat pergumulan panas kami kemarin. Jessen agresif sekali, membuat aku benar-benar kewalahan. Aduh... Malu banget aku sekarang. Bahkan aku sekarang ngak mau lihat Jessen.


Tiba tiba tangan Jessen menarikku dan membuat aku berada di atasnya yang juga masih telanjang. Dia memelukku, membenamkan wajahnya di bahu depanku. Mencium lembut kemudian menatap ku, "Mandi bareng aku."


Deg!


Wajah ku memanas. Aku langsung menutup wajahnya dengan kedua tanganku.


Dia terkekeh. "Aku udah lihat seluruh badanmu. Kenapa harus malu lagi, hem?"


Kalimat Jessen semakin membuat ku tambah malu. Jessen membalikkan posisi kami, membuat dia berada di atas ku. Membuat tangan ku terlepas dari wajahnya.


Dia tersenyum miring kemudian mencium bibirku dan kembali mengemutnya.


Dia kembali memulai adegan panas lagi pagi ini.


Tangannya sangat lihai dan semua badanku tak luput dari sentuhannya.


Dia sangat menggila.


Skip...


Badanku sangat lemas karena ulahnya. Sedangkan Jessen hanya tersenyum puas melihatku.


Aku jadi tak sanggup berdiri lagi untuk mandi.


Jessen memelukku. "Kok diem, mau lagi yang?" Dia tersenyum nakal.


Aku mendorongnya. "Capek tau." Aku kembali menarik nafas dan mengeluarkan dengan cepat. Masih sangat lelah, seolah olah oksigen di ruangan ini sangatlah tipis.


Dia terkekeh. "Ya udah. Kamu mandi gih."


Aku mencoba duduk, tapi malah ambruk. Jessen melingkarkan tangannya di pinggangku, duduk dengan perlahan-lahan sambil mengangkatku agar dapat duduk.


Dia tersenyum miring. "Kalau gini. Artinya kamu ngak akan bisa mandi sendiri, jadi kita mandi bareng."


"Ngak mau Jes. Ntar kamu lakukan lagi. Ntar aku mati baru tau!" Cetusku.

__ADS_1


Jessen tertawa. "Ngak sayang. Kita hanya mandi. Janji."


"Awas kalau bohong."


Dia mengangguk. "Iya.. ngak bohong."


Akhirnya kami pun mandi bersama.


***


Kami pun mengenakan pakaian rapi hendak berangkat ke apartemen kami.


Kau tau. Aku sangatlah kesal, bisa-bisanya baju kaus dan celana untuk ku baru di kirim pagi ini dan bukan semalam!... Orang tua Jessen dan kakek nenek sengaja merencanakan ini biar kami beneran melakukan hal itu malam malamnya. Arh... Mengesalkan.


Kami berjalan ke meja makan. Semua telah tersusun rapi dan telah tersedia sarapan untuk kami.


Kami pun sarapan.


Setelah sarapan Jessen menggendongku ala bridal style.


"Ngapain gendong aku," kataku bingung.


"Sok so sweet banget sih. Tapi bener juga, aku lemes begini karena ulahmu." Ledekku.


Dia tersenyum miring kemudian kembali berjalan ke arah mobil.


Kami pun masuk ke dalam mobil dan melaju ke apartemen kami.


***


Tunggu kayak kenal ni apartemen. Ini kan apartemen Jessen sebelumnya aku terdampar karena ulah buku ajaib di masa lalu. Cih. Jadi flashback.


Aku langsung duduk di sofa ruang tengah. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya.


Jessen duduk di sebelahku dan menatapku. "Sayang. Pijitin tangan aku." Katanya sambil tersenyum lebar.


"Seharusnya kamu yang pijitin aku dong. Gimana sih."


Dia mendekatkan wajahnya sambil menunjukkan senyuman smirk di wajahnya, "Kamu mau di pijat bagian mana hem?"


Sepertinya dia udah mikir mesum lagi. "Eh. Ngak usah. Aku ngak perlu di pijit."

__ADS_1


Jessen terkekeh geli dan mengacak rambutku. "Aku ngak bakal lakuin kalau kamu ngak izinin."


Jessen menggeser badannya pindah duduk di belakangku, membuat aku memajukan badanku memberi ruang bagi nya untuk duduk di belakangku.


Mau ngapain?


Dia memijat bahuku.


Aku menutup mataku menikmati pijatannya.


"Gimana?" Tanya Jessen.


Aku mengacungkan jempol ke arahnya tanpa menoleh. "Udah bisa jadi tukang pijit kamu." Aku terkekeh.


Dia pun tertawa. "Enak aja. Emangnya kamu mau aku kalau jadi tukang pijit,  pikirin wanita lain?"


Aku menoleh kearahnya tajam. "Kok bahas wanita lain. Ish.." Aku ngambek.


Dia memelukku dari belakang dan kepalanya pun di senderkan di bahuku. "Kok ngambek. Yang."


"Kamu sih ngomongnya gitu."


Cup. Dia mencium pipiku, "Bercanda sayang." Dia kembali mencium pipiku. "I just want you."


Aku tersenyum. Sebenarnya aku nggak sepenuhnya marah, ya kali cuma ngomong gitu aku baperan menganggap Jessen selingkuh. Alay banget.


Aku menoleh melihatnya, kedua manik mata kami bertemu.


Jessen mencium bibirku cepat dan tak  sepertinya dia takkan berhenti.


Aku memundurkan kepalaku membuat bibirnya terlepas dari bibirku. "Udah segini aja. Ntar ke bablasan lagi."


Dia mengusap tengkuknya malu karena di aku tau kemana arah alurnya nanti.


"Ya udah. Kamu istirahat dulu. Aku yang akan masak nanti." Kata Jessen.


"Makasih Jessen sayang." Kataku sambil bangkit berdiri dan beranjak pergi ke kamar.


Jessen tersenyum dan pergi ke dapur.


Manis banget suami aku...

__ADS_1


__ADS_2