Magic You

Magic You
chapter 52


__ADS_3

Budayakan like sebelum membaca ya guys...


Jangan lupa comment, rate 5 dan kalau bisa di vote ya... Thank you


...


Happy reading... Love you 🤗


________________________________________________


Aku mendengus kesal. "Ishh. Tau loh. Tadi kan juga udah kau sampaikan di mobil tadi." Aku melepaskan pelukanku. "Bikin kesal aja."


Bruk..


Suatu barang jatuh lagi. Ntah dari mana berasal. Di sini sangat gelap, sangat sulit untuk melihat.


Arh kesel... Ni hantu ngak tau kondisi dan situasi! Udah tau moodku tiba-tiba drop karena hinaan Jessen. Dia malah nakut nakutin!


Jiwa pemberaniku pun muncul. "Heh hantu! Bisa ngak sih ngak ganggu! Orang lagi kesel juga!"


Bruk..


Sebuah benda kembali jatuh.


Damn...


Aku kembali memeluk Jessen. Badan Jessen bergetar, aku mendongakkan kepalaku melihat Jessen. Dia menahan tawa.


Gila... Di situasi serem begini malah tertawa!


"Eh bego. Jendela mu terbuka. Angin masuk dan menjatuhkan barang yang di dekatnya." Jessen mengarahkan matanya ke benda yang terjatuh tadi. Aku pun melihat se arah yang di lihat Jessen.


Aih... Aku pikir hantu Beneran.


Aku pun berdiri dan sedikit berlari berjalan menutup Jendela. Kemudian kembali dengan cepat.


Aku pun kembali duduk di tempatku berada tadi.


Duar...


Petir tampak menyambar di ikuti suara menggelegar khasnya.


Aku yang terkejut kembali memeluk Jessen.


Aku tak peduli. Aku sangat takut sekarang.


"Sebentar aja. Sampai lampu nyala." Jelasku agar dia tak salah tangkap dengan perilakuku.


Aku tak berani melihat wajahnya karena malu. Bodo amat... Yang penting aku ngak mati jantungan karena ketakutan.


Sesaat kemudian hanya terdengar hening disertai guyuran hujan yang tak kunjung berhenti.


"Kau. Masih cinta padaku?" Kata kata Jessen terdengar jelas di telingaku walau suara hujan yang menerpa sangat kuat.


Aku mendongak. Memperhatikan Jessen bingung.


Manik mata kami bertemu.


Dia mencium bibirku lembut. Dia sedikit menjauhkan kepalanya dan menatapku. "I love you." Sebutnya pelan. Kemudian kembali menciumku lembut.


Mata tak tertutup sama sekali. Aku shock dengan keadaan ini.


Seperti ada cahaya kilat dan angin menerpaku.


Aku menutup mataku refleks. Sesaat kemudian aku membuka sedikit demi sedikit kelompok mataku.


Lampu telah hidup. Aku melihat Jessen duduk di bahu sofa dengan menutup mata dan melipat kedua tangannya di dadanya.


Aku masih cengo di posisiku.


Tadi apa? Mimpi?


Tunggu, sejak kapan?


Lah?


Aku memegangi tengkukku bingung. Kemudian aku melihat ke arah Ken yang masih dengan posisi tidurnya.


Aku menyenggol Jessen. Dia membuka matanya. "Hm." Katanya.


"Tadi mati lampu kan?" Tanyaku meminta penjelasan.


"Kapan?"


"Ya.. ya tadi.." Kataku dengan sedikit kikuk.


"Ngak. Sehabis kau kedepan tadi. Kau ngak ada ngomong dan tidur di sini. "


Ah... Mimpi...


Tunggu. Kenapa aku kecewa?


Hm... Apakah secinta ini aku padanya?


Jessen bangkit berdiri. "Aku pulang."


"Eh. Tapi kan masih hujan."


"Aku bawa mobil. Ngak akan kehujanan. Kau tak perlu kuatir."


Aku hanya mengangguk.


Aku pun mengantar Jessen ke pintu depan rumah.


Jessen membuka payungnya dan berjalan melewati hujan.


Aku menatap kepergiannya dalam diam.


Perasaan kecewa... Ya kecewa... Kenapa dia tak dapat mencintaiku seperti aku mencintainya.


Aku tersenyum lirih melihat diriku yang mengenaskan ini.


Aku kembali ke dalam dan menutup pintu.


Aku berjalan ke sofa dan duduk di sana dengan melamun.


Aku menatap langit langit. "Jadi. Tadi... Cium ngak nyata." Ucapku sangat pelan. Bahkan karena suara hujan ini, aku yakin takkan terdengar.


Ken langsung terlonjak bangun dari tidurnya. "Apa?! Cium?! Hah?!"


Aku jadi ikut terlonjak kaget kemudian menepuk Ken. "Apa sih?"


Ken menatapku dengan penuh murka. "Dia menciummu?" Katanya dengan penuh penekanan. Matanya seperti mencari keberadaan Jessen sekarang. "Mana tu anak?!"


"Dia udah pulang. Ya enggak lah aku ciuman sama dia." Kataku datar.


Ken bernapas lega. Kemudian memelukku sambil menatapku dekat. "Val. Cium dong." Katanya manja. "Biar aku mimpiin kamu lagi."


"Lagi? Hah? Ngak ada ahlak kau ya."


Ken yang bermoral rendah langsung bergerak hendak menciumku.


Karena aku udah sangat memahami dan menghapal setiap gerakan Ken yang absurd. Aku langsung menutup mulutku dengan tangan.


Ken menatapku kesal. "Hem." Dia ngambek.


"Kau mimpiin aku apa tadi?" Tanyaku penasaran.


Sebenarnya ngak penasaran banget sih. Cuma mau tau aja.


"Mau tau?" Dia menaikkan salah satu alisnya. "Tapi janji wajahmu jangan memerah nanti ya..." Godanya.


Pasti dia mimpiin aku yang aneh-aneh!


Aku menjitak kepalanya lagi.


Dia tertawa. "Haha. Belum di kasih tau aja wajahmu udah merah."


"Makanya. Cium lah. Biar aku lanjutin mimpi indah tadi." Sambungnya. manja.


"Atau..."


"Atau apa?!"


"Kenapa aku harus melanjutkan di mimpi kalau bisa melakukannya sekarang?"


Aku kembali menutup mulutku dengan satu tangan.


Burgh


Aku meninju perutnya tepat sasaran. Membuat Ken melepaskan pelukannya dan memegangi perutnya. Aku bangkit berdiri. "Makan tu."

__ADS_1


Aku pun kembali ke kamarku. Tak mempedulikan Ken.


Aku mengunci kamar dan langsung merebahkan diri.


Aku mengambil ponselku, menatap layar ponselku.


Ting


Sebuah chat dari Ken tersampaikan padaku.


Aku membuka chattannya.


"Kau harus tanggung jawab. Perutku sakit sekarang."


Aku hanya me-read chattannya, malas untuk menjawab.


"Hei. Jawab. Jangan di read doang."


Bodo amat.


"Sayang. Aku rindu."


Cih. Orang tadi baru jumpa. Lebay.


Ken mengirim pap nya.


Dengan mata di tutup dan bibir yang di majukan seperti meminta di cium di kirimkannya padaku.


Cih.


Kemudian dia mengirimkan fotonya lagi. Dengan jari jempol dan telunjuk yang bersilangan berbentuk simbol Sarange.


Aku sedikit terkekeh. Aneh.


Dia mengirimkan VN.


Hem?


"Aku sayang kamu. Jangan pikirin siapapun kecuali aku ya... Yang, aku kangen. Kesini dong."


Aku kembali tersenyum. Dasar stres..


Dia menelponku.


Aku tak membalas telponnya.


Dia kembali men-chatku.


"Dia angkat dong. Gimana sih."


Aku hanya membalasnya dengan satu huruf.


"G."


Yup, singkat padat dan jelas.


Dia tak menjawab lagi setelahnya.


Kok diam?


Aku memandangi ponselku. "Kok ngak ngomong lagi?"


Dia tidur?


Hem. Mungkin kali ya...


Tapi, kok, kepo.


Aku bangkit berdiri dan menuju pintu.


Sedikit ragu untuk coba membuka pintu. Tapi...


Ah. Udahlah. Palingan dia udah tidur atau pulang kali.


Aku kembali ke kasurku, mematikan lampu dan menutup mata.


Ponselku bergetar. Ken menelponku.


Jawab aja lah.


"Hm." Dehemku.


"Ngak. Udahlah, aku ngantuk."


"Hem.. bohong." Katanya dengan nada mengejek.


"Ngapain juga bohong."


"Kenapa masih ngangkat telfonku? Padahal kau udah ngantuk."


"Ya... Karena aku kasian samamu, dadi tadi aku cuma read pesanmu doang." Kataku tak mau kalah.


Dia tertawa. "Hahaha. Bohong. Kau kepo kan aku ngapain sekarang."


"Idih... Pede amat."


"Hayo... Udah mulai suka kan sama aku?"


"Is... Ngak." Aku langsung mematikan ponselku.


Nyesel aku ngangkat telfonnya.


Cih.


Aku menonaktifkan ponselku dan berusaha menutup mata agar tertidur.


***


Aku pun segera membereskan diri untuk pergi ke kampus. Semua telah selesai dan aku juga udah mandi. Sekarang aku mau sarapan.


Aku berjalan melewati ke dapur. Aku melihat nenek sedang berberes selesai memasak. Tumben nenek masak.


Aku berjalan mendekat ke nenek, memeluk dan mencium pipi nenek. "Pagi nenekku, wanita paling cantik sejagat raya."


Nenek terkekeh. Kemudian mengelus kepalaku. "Ada saja kamu Val. Pagi begini udah menggoda nenek."


Aku pun terkekeh.


Aku pun melepaskan pelukanku dan berbalik hendak ke meja makan.


Jleb


Aku melihat Ken menatapku tersenyum gemas sambil menopangkan dagunya pada salah satu tangannya di meja.


Ekspresiku langsung berubah seketika mutung.


Pagi-pagi udah badmood.


Oalah, pantesan nenek masak. Pasti karena dia.


"Nek, Valen ngak jadi makan."


Nenek menatapku sedih. "Makan dong sayang."


Ish... Masalahnya aku kesel makan bareng Ken.


Tapi nenek...


Ah udahlah. Aku lebih milih menjaga perasaan nenek.


Aku pun ke meja makan.


Aku langsung memakan sarapanku dengan cepat.


Nenek duduk di sebelahku. "Val. Nenek mau pergi ke luar kota lagi. Jadi nenek bakalan lama di sana."


"Yah.." Keluhku.


"Maaf ya Val."


Aku terpaksa harus menyetujui. Aku mengangguk.


"Ken kan ada nek." Sambung Ken.


Kepalaku sontak menatapnya tajam. Kemudian menatap nenek. "Ngak nek. Dia gila. Valen tinggal sendiri aja, Valen udah gede. Ngapain di titip titip sama orang lain. Terutama orang kayak dia!"


Dari wajah nenek sepertinya nenek setuju dengan Ken.


Aku memasang wajah memelas sambil memegangi tangan nenek. "Ya nek... Please... Valen bisa sendiri kok. Ya nek..."


Nenek tersenyum melihatku. "Iya iya, nenek percaya kok sama kamu Val."

__ADS_1


Fuh... Aku bernafas lega sambil menutup mata.


"Tapi Ken, bisa kan di pantau pantau Valennya. Jangan sampai dia kenapa kenapa."


Mataku terbelalak melihat nenek yang menatap Ken percaya.


Nenek kemudian melihatku. "Kalau ada apa apa, kamu bisa minta Ken menolong. Misalnya membantu kamu belajar, atau nemenin kamu ya Val."


Aku menatap nenek tak percaya. Ku arahkan mataku ke Ken.


Dia mengedipkan sebelah matanya singkat sambil tersenyum kecil.


"Ngak. Valen bisa mandiri. Ngak butuh Ken. Valen bisa mengerjakan semua sendiri. Pokoknya Valen bisa kerja sendiri!"


Nenek tertawa sambil mengelus pucuk kepalaku. "Hahaha. Iya Val, nenek tau. Kamu pasti bisa mandiri. Hanya kalau kamu butuh bantuan aja kamu bisa panggil Ken, kalau kamu bisa mandiri, itu lebih bagus."


"Intinya Valen bisa sendiri."


"Iya iya."


Aku mendengus kesal sambil kembali menyantap makananku gusar.


"By, kita berangkat sama ya."


Aku tersedak. Memukul mukul dadaku sambil mengapai minum. Aku menyeruput minumanku. Menatap Ken dengan salah satu kelompok mataku berkedut menahan emosi. "By?!... Siapa By?!"


"Kamu dong sayang." Jawabnya singkat.


Astaga astaga... Sabar Val... Kau ngak mungkin nyekek dia di hadapan nenek kan Val... Sabar... Tahan emosi...


Aku menarik nafasku dalam dalam dan mengeluarkan.


"Ken. Gini. Fuh... Sabar... Gini ya... Pertama, aku bukan pacarmu. Kedua, namaku itu Valentresia, bukan BY... Ketiga, emang kau udah bersiap kuliah, huh?" Aku mengibaskan tanganku di udara. "Kau pulang aja sana, beres beres dulu. Baru kau berangkat sendiri."


Dia menatapku datar. "By, aku udah bersiap dari tadi. Semalam aku suruh asistenku bawain barangku. Termasuk peralatan sekolah dan baju. Well, I am ready now."


Aku menatap Ken tak percaya.


Aku lupa dia kan anak Sultan... Tidak ada yang mustahil baginya.


Aku menghembuskan nafas jengah.


Cobaan oh cobaan. Kau selalu datang tanpa henti.


Aku langsung melahap suapan terakhir nasi di piringku dan meminum air di gelasku habis. Aku tetap ngak mau bareng sama dia. Aku menyalim nenek. "Valen pergi nek."


Aku langsung pergi dengan sedikit berlari. Aku ngak mau menoleh, nanti malah di suruh nenek bareng si Ken. Psiko. "Da da nek... Love you."


Aku cabut.


Aku berlari ke halte bis.


Dari kejauhan aku tak melihat kehadiran bis di sana. Ck. Lama banget sih datangnya. Ntar keburu Ken datang.


Aku mendengar seseorang berlari ke arahku.


Aku semakin mempercepat langkahku.


Aku berlari dan berlari.


Dia juga semakin cepat berlari.


Aku terhenti karena seseorang memelukku dari belakang. Sial.


"Dapat."


Pasti Ken.


Aku menoleh ke arahnya.


"Kenm." Bibirku di kunci oleh bibirnya yang mendarat mulus di sana.


Dia melepaskan kecupannya. "Nanti malam aku nginap ya by."


Aku masih cengo karena di cium.


Dia tersenyum. "Masih belum terbiasa di cium rupanya."


Aku menggelengkan kepalaku. "K kau. Bisa ngak sih ngak tiba-tiba kkalau nyi..nyium!" Kataku terbata-bata.


Dia menaikkan salah satu alisnya tersenyum miring. "Kalau aku bilang. Kau ngak mau di cium." Katanya enteng.


Aku menghadap depan dan merontah. "Lepas. Aku mau berangkat sendiri!"


"Heh. Kau ngak lihat apa langitnya."


Aku mendongak melihat langit yang masih gelap.


"Ini masih jam 5.30. Bis mana yang lewat jam segini? Bis hantu?" Katanya masih dengan memelukku.


Mendengar kata hantu. Bulu kudukku merinding. Aku teringat kejadian ketukan pintu semalam. Itu sangat menyeramkan.


Aku terlonjak kaget dan berbalik ke belakang.


Cup


Mataku dan Ken terbelalak. Aku ngak sengaja mencium bibir Ken.


Ken menatap manik mataku sambil sesekali berkedip.


Aku mendorong tubuhnya dan merapikan bajuku. "A aku ngak sengaja." Kataku terbata-bata.


Damn... Kenapa bisa aku seteledor ini?! Masa balik badan aja bisa nyium sih Val!


Aku mengutuki diriku dan berbalik badan kaku. Aku berjalan kikuk bingung mau ke mana.


Aih..


Ku simpulkan aku balik ke rumah.


Aku berlari ke rumah meninggalkan Ken yang sedari tadi menatapku.


Aku menutup pintu kencang.


"Sayang."


"Astaga... Nenek." Aku lagi lagi terkejut.


"Loh, ngak jadi berangkat bareng Ken?"


"E engak nek. Dia.. dia mau ngambil barangnya yang tertinggal di rumah. Dan juga ini kan masih pagi buta, Valen nanti aja berangkatnya."


Nenek hanya mengangguk.


"Valen ke kamar dulu nek."


Aku berjalan seperti orang bodoh.


Astaga... Apa yang nanti di pikirkan Ken?


Bodoh!..


Kenapa juga tadi aku ngak jelaskan ke dia kalau aku takut?...


Arh... Bodoh!


Aku mengetuk kepalaku kesal.


"Valen bego. Bego. Bego."


Aku menutup wajahku dengan selimut.


Bodo amat lah...


Aih... Memalukan...


30 menit berlalu, sepertinya aku harus segera berangkat. Nanti terlambat.


Aku keluar dari kamarku.


Aku terus mengusap usap wajahku berusaha menjernihkan pikiran. Udah 30 menit berfikiran menjernihkan pikiran tapi ngak bisa.


Astaga...


Aku mendongakkan wajah ingin pamitan ke nenek. "Nek.. Valen berang..."


Aku melihat Ken yang berdiri di depan pintu depan bersama nenek. "Eh Valen. Ken udah lama nunggu loh." Kata nenek singkat.


Wajahku menjadi kaku. Aku meneguk air liurku berat.


Kkapan ddia datang?!

__ADS_1


__ADS_2