Magic You

Magic You
chapter 37


__ADS_3

Aku kesal Tessa tak bersama denganku di kelas ini.


Ya iya lah, Tessa kan ambil jurusan hukum.


Ck. Ya mau gimana lagi...


Yang pasti aku ngak akan ada tempat contekan sebaik Tessa sekarang.


Aku harus berusaha sendiri.


Sekarang aku duduk di belakang kelas tapi bukan duduk di kursi paling belakang. Ngak ada teman yang bisa di ajak bicara. Mereka tampak sibuk dengan urusan mereka, dan juga sepertinya mereka udah saling kenal satu sama lain. Mungkin mereka satu sekolah dulunya.


Ah mungkin...


Tapi aku sangat kesepian di sini.


Ck.


Srett


Terdengar pintu kelas terbuka. Suasana yang tadinya terdengar beberapa orang yang mengobrol malah sekarang terdiam dan cengo. Aku yang duduk di belakang agak kesulitan melihat terutama dia mengunakan masker.


Kaya kenal posturnya.


Firasat aku ngak enak.


Dia pun membuka maskernya.


"Aih... Ganteng banget."


Terdengar pekikan setiap kaum hawa di kelas.


"Astaga dia dosen kita?" Seorang cewek bertanya dengan temannya.


"Eh engak, aku dengar dia ngak dosen, tapi asisten dosen." Jawab temannya.


Yang lain terus memekik kegirangan. Sedangkan kaum Adam mah jutek aja, dan bahkan merasa jijik dengan mahasiswi yang keganjenan.


Aku seharusnya sudah menyadari ini. Jessen. Ya, Jessen. Dia masuk kelasku.


Hidupku ngak bakal tenang sekarang.


"Selamat pagi." Sapa Jessen dengan wajah yang seperti biasanya. Datar.


"Pagi pak." Semua anggota kelas menyahut sapaannya.


"Nama saya Pak Jessen. Saya asdos mata kuliah Farmakologi." Dia mengambil buku nya dari tas. "Sepertinya hanya itu perkenalan diri saya. Kita mulai pembelajaran."


Salah satu mahasiswi mengangkat tangan seperti ingin bertanya sesuatu. "Kak, eh.. pak maksudnya. Xixi." Dia menutup mulutnya malu karena salah mengucap, dan aku sangat yakin dia memang sengaja mengatakannya. "Saya mau nanya dong."


Jessen yang memang dari oroknya berhati dingin menatapnya datar. "Iya, kenapa?"


"Bapak single kah? Xixi."


Wait... Pertanyaan macam apakah itu?!


Kalian gila ya?!...


Kalian belum tau betapa kejinya Jessen dengan wanita yang sok caper dengannya... Jangan sampai kalian terlibat kejadian yang sama dengan yang kurasakan sewaktu aku SMA.


Mata Jessen tampak teralihkan dari arah wanita itu dan menatapku dingin. "Hem." Katanya sambil mengangguk dan memutar bola acuh.


"Yahh." Terdengar suara kecewa dari jelas yang merasa kalah dengan keadaan.


Mm maksudnya... Siapa? Aku?


"Saya tak ingin membuang waktu terlalu lama. Kita mulai saja pembelajarannya."


Eh serius... Maksudnya aku kan ya?


Ngak ngak... Val. Jangan. Lagi!


Aku menguatkan diri untuk tidak akan terlalu jauh lagi dalam soal percintaan.


Jessen memulai pembelajaran.


Hem. Mungkinkah Jessen akan baik ke aku dalam pemberian nilai? Kan lumayan untuk penilaian dosen. Mana tau dengan ini IPku tinggi... Wkwk.


"Hei yang di belakang. Ngapain cengengesan di kelas saya." Jessen melihatku.


"Jangan membuat keributan di kelas." Sambungnya.


Idih... Sombong. Mentang-mentang guru.


Aku memutar bola mataku ke kanan acuh.


Dia kembali menjelaskan.


beberapa lama aku di kelas aku hanya diam. Aku duduk di kelas dengan termenung menjadi orang bego. Gimana enggak, dari tadi di Jessen jelaskan materi dengan sangat cepat. Kecepatan otakku tak mampu menangkap apa yang di ajarkannya. Tapi entah mengapa semua murid tampak memahami apa yang di ajarkan nya.


Hah? Kok bisa?


Apa karna cuma aku yang paling bego di sini.

__ADS_1


Sial.


Sepertinya memang aku masuk ke sini adalah hanya karena faktor keberuntungan.


Aku merudukkan kepala lemas.


Astaga... Aku baru menyadari aku salah ambil jurusan.


Kepalaku terkulai lemas di atas meja.


Apa aku pindah jurusan aja selagi bisa ya?


Arh...


Tapi sayang... Udah capek ujiannya...


Ish...


Aku memandang tangan ku sedang memainkan pulpen yang ada di atas meja tepat di hadapan ku sekarang.


Ah elah... Baru hari pertama udah selemes ini.


Aih....


Drett


Ponselku bergetar. Tertulis nama Ken di layar ponselku.


Heh? Jam pelajaran begini ngapain dia nelpon?


Aku mengangkat ponselku. "Kenapa?"


"Nanti aku ajarin kalau memang ngak ngerti." Katanya datar.


Aku kaget. Kok dia bisa tau aku lagi pusing belajar. "Tau dari mana kau?"


Dia menghembuskan nafas berat. "Tadi aku lewat kelasmu. Wajahmu cengo selagi pembelajaran. Kau ngak ngerti kan?"


Iya... Memang... Aku ngak paham...


Tapi aku ngak bakal mau di ajar sama dia. Nanti dia main nyosor bibir aja.


Ngak ngak bakal.


"Diam berarti iya. Oke. Aku tunggu di parkiran nanti." Dia mematikan sambungan teleponnya.


"Lah. Kan belum di jawab."


Aku berdecak kesal.


"Coba kau jelaskan apa yang kuajarkan tadi." Sambung Jessen.


Dia manggil aku atau gimana sih?


Aku memang ke belakang.


Orang yang ada di belakangku malah melihat ke arahku.


Eh? Aku?


Aku kembali menghadap depan dan menatap Jessen. Aku menujuk diriku dengan ibu jari. "Saya?"


Dia berjalan ke arahku dan berdiri tepat di sebelah bangkuku. "Berdiri."


Aku pun berlari.


Nih orang sombong amat sih. Udah kenal juga, pura-pura ngak kenal lagi.


"Ikut saya." Dia berjalan mendahului ku. Kemudian dia sedikit memang ke arah seluruh mahasiswa di kelas. "Pelajaran sampai di sini. Sampai jumpa minggu depan."


"Baik pak." Semua mahasiswa menjawab.


"Tapi Jes. Em maksud saya pak. Selesai ini ada mata pelajaran lain pak. Jadi saya tidak bisa ikut."


Dia membalikkan badan menatapku datar. "Pilih ikut atau nilai saya kurangi."


Is... Ngancem lagi.


Aku pun terpaksa mengikutnya.


Dia pun membawaku ke ruangannya.


...


Ruang ini sepi dan kosong.


Hanya ada kami berdua.


Sekarang aku ada di hadapannya. Dengan ekspresiku ikutan datar.


Nah loh. Aku juga bisa datar sepertimu. Ceh.


"Woy. Bisa ngak sih kau ngak usah sok oke di depan kelas. Menyindirku di kelas lagi. Ngak usah keren deh." Sindirku.

__ADS_1


Kesal soalnya lihat ni orang.


"Malam ini aku jemput. Dan nanti pulang samaku. Ingat." Katanya.


"Ngak. Aku sibuk."


"Tak perlu membantah." Dia menunjuk pintu keluar. "Silahkan keluar."


Aku memukul mejanya. "Kau yang manggil aku ke sini untuk berbincang hal yang sangat tak jelas arah tujuannya apa dan sekarang kau malah yang mengusirku. Stress kau kali ya?!"


Dia berdiri dan berjalan ke dekatku. "Berdiri." Ujarnya.


Ck. Aku berdiri dan menghadapnya.


Dia memegang rahang wajahku dengan satu tangannya. Dia dengan cepat dia mencondongkan badannya dan mencium bibirku.


Mataku membuka sangat besar.


Sekali lagi aku mengatakan... JESSEN MENCIUMKU!


Dia menjauhkan sedikit wajahnya dari wajahku. Dia menutup mataku dengan menurunkan jarinya pelan di kelopak mataku membuat kelopak mata menurun. Dan dia kembali menciumku.


Anjir...


Pikiranku mengatakan aku harus melepaskan diri darinya. Tapi badan ini malah membatu.


VAL! VAL! SADAR WOY!!!!!


Aku pun mendorong badannya. Akhirnya raga ini tersadar.


Aku berjalan menjauh darinya. Tapi perlambat tangan Jessen lebih cepat menarik tanganku. Mengunciku pada pelukannya. "Sekali lagi saja." Katanya datar. Dia menciumku lagi.


AAAAAAAAAAAA..........


VALENTRESIA.... LEPASKAN DIRIMU.....


Aku mendorong badannya lebih kasar. "D DAASAR. KKENAPA KAU?!!"


Aku pun berlari dari tempat ini.


GILA INI GILA.....


***


Aku memegangi bibirku tak percaya. Dia beneran menciumku dari aku masih di kampus sampai aku berjalan pulang ini.


Kenapa bisa?!


Arh.... Aku memegangi kepala....


Aku tak tau apa yang ada di kepalaku sekarang....


Valen.... Kau sudah gila....


Drep


Seseorang memelukku sari belakang. Aku mendongak. Ini Ken.


"Kenapa ngak ke parkiran tadi. Aku udah nunggu dari tadi." Dia menatapku datar.


Dia kembali melihatku aneh. "Kau kenapa megangin bibir Mulu sih?"


Pandangan bingungnya berubah jadi tatapan aneh dengan senyuman. Dia mengigit bibirnya dan sedikit mengemut bibir bawahnya.


Jangan-jangan dia juga akan...


Aku spontan menampar pipinya keras.


"Aduh." Dia merintih kesakitan. Dia memegangi pipinya dan tertawa. "Kau kenapa sih trauma banget sama ciuman." Dia melepaskan pelukannya dan memegang pipinya berdiri di sebelahku. "Ciuman itu nikmat loh."


Lagi lagi aku memukul perutnya dengan keras membuatnya kembali meringis kesakitan memegangi perutnya. "Ah... Jangan asal pukul dong."


Aku menunjuknya tajam. "Jangan bahas tentang ciuman lagi. Kalau enggak akan ku tambahi dengan mencolok matamu. Aku tak peduli sekali pun kau akan buta.


"Iya iya...." Dia menganguk mengerti.


Ah... Aneh-aneh aja.


"Kita mau ke mana?" Tanya Ken.


"Tapi tadi kau bawa kereta. Kenapa ngak pake kereta ke sini?"


"Ah males. Kalau aku naik kereta, kita sampai tempat tujuan cepat. Jadi ngak ada waktu lama berjalan bersamamu. Tapi kalau jalan. Kita bisa lama kencannya."


"Kencan-kencan.... Aku ngak bakal mau kencan denganmu."


Bip bip


Terdengar suara klakson mobil dari sebelah kami.


Dia membuka jendelanya. "Naik." Katanya singkat.


Itu JESSEN....

__ADS_1


Sial... Aku yang masih shock karena kejadian tadi... Datang dia malah nekat datang seolah-olah tak pernah terjadi apapun....


__ADS_2