Magic You

Magic You
Chapter 78


__ADS_3

Catatan penulis:


jangan lupa di like komen dan vote (Kalau ngak ada vote, bisa di beri ya guys...)


thanks banget yang udah selalu like komen dan vote cerita aku... love you 🤗


happy reading guys


________________________________________________


Jam istirahat pun berbunyi. Aku dan Tessa pun pergi ke kantin sekolah. Aku kali ini tak selera sedikit pun mengenai makanan. Sangat tak berselera.


"Val, kau ngak pesan apa gitu?" Tanya Tessa yang berada di sebelahku.


"Teh manis aja deh." Kataku dengan raut wajah murung.


"Mbak..." Kata Tessa pada mbak kantin yang ada di hadapan kami sekarang.


"Iya dek."


"Nasi goreng satu, segelas jus jeruk sama segelas teh manis. Itu aja mbak ." Kata Tessa.


Mbak itu pun mengangguk dan mulai menyediakan makanan kami.


Kami pun berjalan ke arah meja makan kantin, menunggu pesanan kami.


Aku menghembuskan nafas berat sambil menyenderkan kepalaku pada tangan yang kuletakkan di atas meja.


"Lemes amat kau." Ucap Tessa.


"Hem.. Aku hilang arah." Kataku.


"Kenapa?" Tanyanya.


Tessa... Kalau aku jelas kan juga kau ngak bakalan percaya...


"Ngak apa." Kataku malas.


"Em. Sakit ya?"


"Mungkin." Ucap ku bohong.


Tessa yang percaya pada kalimat ku pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


Pandanganku menyisir sudut kantin karena aku kurang kerjaan.


Mataku terbelalak saat melihat Jessen yang tengah makan di sana.


Aku langsung duduk tegak bersemangat.


Tak. Tessa memukul badanku namun tak ku rasakan.


"Kaget aku." Kata Tessa.


Aku menatap Tessa. "Tess... Itu Jessen..." Kataku antusias sambil menunjuk nunjuk Jessen diam diam.


Tessa melihat ke arah Jessen. "Hah. Terus?"


"Samperin yuk."


Pletak.


Kepalaku di jitak. Aku meringis kesakitan. "Adoy... Sakit tau."


"Iya.. otakmu tuh yang sakit. Kau mau di skak mat sama dia, huh?" Pekik Tessa.


"Tapi aku kangen." Kataku. Jujur aku sangat merindukan Jessen.


Pletak.


Ah.. bodo amat. Aku kangen banget sama Jessen.


Fix... Kangen banget.


Tak perduli dengan cegatan Tessa aku terus saja berjalan ke arah Jessen.


"Hai Jes..." Panggilku.


Dia menoleh ke arah ku tajam sekilas kemudian kembali menatap makanannya. "Pergi sana. Aku sibuk."


Deb... Sakit mendengar nya.


Tunggu aku ingat kejadian ini... Saat ini aku beneran kesal dengannya dan membencinya. Kemudian aku berjumpa nenek yang memberikan buku ajaib yang membuat ku semakin dekat dengan Jessen.


Tiba-tiba badanku terasa lemas. Bukankah kejadian berikutnya takkan pernah di anggap ada ya... Kan buku ajaib ngak akan ada lagi.


Aku menatap Jessen kemudian menangis. Tessa yang ada di sebelahku mengelus pundakku lembut. "Udah Val.. udah.."

__ADS_1


"JESSEN!!" Jerit ku dengan suara bergetar, membuat setiap orang di kantin melihat ke arah ku.


"KENAPA KAU LUPA?! KENAPA?!... ISH... KESEL BANGET AKU MELIHAT MU TAU NGGAK!!!" Kataku sambil menghentakkan kaki geram.


Dia menatapku bingung.


Siapa coba yang ngak kesal?!


Aku terlanjur sangat mencintainya... Tapi kenapa malah terjadi hal seperti ini?!...


Aku kembali mengentakkan kaki ku geram. Kemudian pergi menjauh sambil menarik tangan Tessa.


Aku berjalan dengan penuh amarah pergi ke dalam perpustakaan. Kemudian aku duduk di kursi perpus sambil menangis. Aku menutup wajahku, sedangkan Tessa mengelus elus pundak ku.


"Sabar Val sabar... Ngapain juga pikirin dia..." Kata Tessa mencoba membangun ku.


Aku memeluk Tessa.


Aku nangis bukan karena di tolak tes... Tapi karena Jessen lupa samaku.


Hu hu hu...


Air mataku terus menetes. Aku mencoba mengontrol diri ku dengan mencoba bernafas tenang.


"Huf... Huf..." Aku menghembuskan nafas ku secara berkala dengan perlahan.


Tangis ku pun mereda. "Huf..." Hembusan terakhirku ku hembuskan dengan panjang.


Setelah tenang aku pun melepas kan pelukanku dan menegakan badanku sambil menatap Tessa.


Gimanapun ini adalah kenyataan yang harus ku hadapi. Aku tak boleh menyerah dan putus asa.


"Tes... Aku harus tetap semangat." Kataku meyakinkan diri ku agar tetap bersemangat.


"Iya.. kau harus semangat."


"Dan juga, ngak usahlah pikirkan mengenai si Jessen... Ngak penting mah dia." Sambung Tessa menyarankan ku.


"Hem. Aku harus berusaha untuk tetap menjalankan hidup. Ngak boleh mengingat masa lalu. Aku yakin, masa kini akan lebih baik lagi dari pada masa lalu." Kataku.


Tessa mengangguk. "Bener... Semangat!!"


"Huh... Semangat!!!" Kataku dengan bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2