
Kami tengah berdiri di depan pintu rumahku. Diam tak bergeming.
Masuk, ngak, masuk, ngak....
Arh... Aku tak tau...
"Sampai kapan kita berdiri." Ucap Jessen padaku.
"Em. Anu... Tapi janji loh ya. Ini cuma formalitas aja. Maksud ku, kita setelah menikah tetap menjalankan rutinitas seperti biasa. Tetap sekolah dan... Aku ngak mau hamil sampai tamat sekolah. Titik." Aku mengaruk pundakku yang tak gatal.
Dia mengangguk. "Iya."
"Ooke kita masuk sekarang." Kataku memberanikan diri.
Aku pun masuk bersama dengan Jessen.
"Eh. Valen... Udah pulang sayang." Ucap nenek sambil berjalan ke arah ku dan memelukku sebentar.
Nenek menunjuk Jessen. "Ini teman kamu ya Val?" Kata nenek tanpa menghilangkan senyumnya.
Nenek tampak berfikir. "Kamu... Nenek seperti pernah lihat."
Nenek kemudian melentikkan jarinya menandakan dia mengingat akan suatu hal. "Ah. Iya... Kamu dari keluarga Luders kan?..."
Jessen tersenyum dan mengangguk. "Iya nek."
"Ah... Iya iya... Papa Valen pernah jadi rekan bisnis dengan papa kamu." Kata nenek. "Ternyata kamu temannya Valen toh... Nenek baru tau."
Jessen tersenyum. "Saya bukan temannya Valen nek."
Nenek tampak bingung dengan jawaban Jessen.
"Loh. Jadi?" Tanya nenek padanya.
"Saya pacarnya Valen." Kata Jessen dengan tenang.
Nenek terkejut.
"Saya datang ke sini ingin melamar cucu nenek menjadi istri saya." Sambungnya lagi.
Damn.. Gila! Dia ngak pakai basa basi...
__ADS_1
Nenek membolangkan matanya tak percaya. Nenek pun melihat ku dari atas ke bawah.
Pasti nenek mikirnya yang enggak enggak...
"Ggini nek. Valen. Maksudnya. Gini... Em... Valen dan dia ngak pernah ngapa ngapain kok nek. Valen ngak hamil. Valen masih perawan. Kalau nenek ngak percaya kita bisa cek ke dokter. Sumpah nek." Aku mengangkat tanganku bersumpah.
"Kkalau nenek ngak setuju juga ngak apa. " Aku jadi gelagapan.
Nenek tertawa. "Kita duduk dulu sambil berincang." Ajak nenek.
Kami pun duduk bersebelahan sedang nenek di hadapan kami.
Sesaat kemudian kakek datang. "Eh Valen." Sapa kakek.
"Iiya kek." Jawabku.
"Kek. Sini deh. Ada yang mau di bahas serius nih..." Nenek tersenyum sambil melihat kami berdua.
Aduh... Kenapa aku grogi banget yak..
Kakek pun duduk di hadapan kami. Kakek pun menatap nenek yang di sebelahnya. "Kenapa nek?"
Kakek terkejut melihat kami setelah mendengar bisikan nenek tadi dan menatap kami tajam. "Kalian mau nikah."
Aduh... Gila ya... Aku takut banget.
Jessen menganguk pasti. "Iya kek."
Tiba tiba wajah kakek yang ketat tadi jadi sumringah. "Kami terserah Valen saja."
"Iya. Keputusan ada di kamu kok sayang. Kami bahagia kami juga bahagia." Kata nenek padaku. "Lagipula kami juga nikah muda dulu. Ya kan kek." Nenek menyikut kakek.
Kakek terkekeh. "Iya. Hehe."
"Nenek doain kalian langgeng"
"Makasih nenek kakek." Ucap Jessen sambil sedikit membungkuk berterimakasih.
Jessen tersenyum. Kemudian melihat ku. "Gimana Val."
"Em. Iya..."
__ADS_1
Jessen kembali melihat kakek dan nenek. "kami akan menikah bulan depan nek. Nanti Jessen akan bawa mama dan papa ke sini untuk membahas lebih detailnya." Ucap Jessen.
Kakek dan nenek mengangguk. "Baiklah."
"Kek nek. Jessen pamit pulang dulu. Terimakasih telah menerima Jessen." Jessen berpamitan.
"Kok buru-buru banget." Kata nenek.
"Iya nek. Mau kasih kabar sama orang tua Jessen mengenai pernikahan ini." Kata Jessen.
Kakek dan nenek pun berdiri diikuti oleh kami berdiri juga.
"Iya iya.. kami mengerti." Kakek dan nenek tersenyum.
"Jessen pulang dulu ya nek. Kek." Jessen menyalim kakek dan nenek.
"Iya Jessen. Hati hati ya..."
"Iya nek. Kek."
Aku pun mengantar Jessen sampai ke depan pagar rumah.
Jessen naik keretanya. Melihat ku yang ada di samping nya. "Aku pulang ya."
"Hm. Hati hati."
Dia pun pergi.
Aku berjalan masuk ke dalam rumah.
"Cie cie..." Sorak kakek dan nenek.
"Apasih kek. Nek." Aku jadi malu sendiri.
"Jadi ngak sabar mau nimang cucu." Kakek dan nenek terkekeh.
"Kek. Nek. Valen masih mau sekolah.. Valen ngak bakal ngapa ngapain sama Jessen. Fix..." Kataku kesal.
"Hehe.. iya iya... Becanda doang kok." Nenek terkekeh. "Tapi... Kalau beneran juga ngak apa sih. Hehe."
"Ihh apaan sih nek. Udah ah. Valen mau istirahat dulu." Aku melangkahkan kakiku menuju kamar sedangkan kakek dan nenek malah tertawa.
__ADS_1