
Aku terkejut bukan main melihat Jessen. Mataku terbuka lebar, kupegang tangan Ken yang berada di sampingku dengan erat. Aku menggeleng kepala dengan cepat.
Dia keluar dari mobilnya dan berjalan mendekatiku.
Ken menatapku bingung. Walau dia masih ambigu dengan apa yang terjadi padaku di memundurkanku ke belakang tubuhnya dan sekarang dia yang berhadapan dengan Jessen.
"Mau apa kau?" Ken memicingkan matanya menatap Jessen.
Jessen hanya tersenyum kecil hambar. "Apa belum jelas kemarin aku menjelaskan padamu?" Jessen menghilangkan senyumnya dan menyorot tajam Ken. "Dia pacarku."
Ken tertawa. "Eh. Dengar ya. Masa percintaanmu itu udah kuno... Pacaran sejak SMA kau bilang?... Cih." Ken mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Jessen. "Udahlah. Ngak usah mendekatinya lagi." Ken menatap Jessen datar. "Dia milikku."
Ken menarik tanganku agar pergi menjauh dari Jessen.
Jessen menarik lengan Ken. "Jangan sampai aku melakukan kekerasan."
Ken melepaskan tanganku dan menepis tangan Jessen yang ada di lengannya. "Kau pikir kau siapa?"
"Kau tuli? Sekali lagi kutekankan dia pacarku." Jessen mengintimidasi Ken.
Jessen menatapku datar. "Kau pilih aku atau dia."
M maksudnya?
Hah?
Jessen menunjukkan merogoh saku celananya, dia mengeluarkan buku kecil. Yup, buku mistis.
"Selesaikan atau tidak." Sambungnya.
Sial... Ini tak adil...
Aku merebut buku dari tangan Jessen. Kemudian menatap Ken.
"Maaf Ken. Tapi aku memanglah pacarnya."
Ken menatapku tak percaya. "Hah? Kau..." Dia mengepal tangan geram.
"Maafkan ak..."
"Diamlah!" Bentak Ken. "Jika kau memang tak dapat mencintaiku, pergilah dengan dia! Pergi sampai aku tak dapat melihatmu lagi!"
Ken memicingkan matanya. "Kau adalah wanita yang paling kubenci seumur hidupku!"
Ken membalikkan badannya dan pergi.
Ta tapi... Ken...
Aku tak tau mau bicara apa lagi. Ken sekarang sangat membenciku.
Aku melihat Jessen yang tampak sangat puas dengan kejadian tadi.
Jessen melihatku dan tersenyum lirih. Dan kemudian menatapku datar. "Naik." Dia berjalan masuk ke mobilnya.
Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam mobil.
***
"Di mana rumahmu?" Dia melihatku sekilas sambil mengendarai mobil.
"Masih jauh. Aku nge-cost. Rumahku bukan yang kemarin."
Dia hanya diam.
Aku melihatnya sesekali.
Gila ya nih orang. Dia apa ngerasa bersalah apa tadi menciumku sembarangan.
"Heh." Kataku.
"Namaku bukan heh." Jawabnya datar.
"Kau ngak ngerasa bersalah apa?!" Bentakku.
__ADS_1
"Kenapa? Ciuman?"
"Ya iya lah. Kau gila ya! Selama di luar negeri attitudemu semakin buruk."
Dia menepikan mobilnya ke dekat bahu jalan dan berhenti. "Kau selama ini udah ngapain sama dia? Ciuman? Pelukan?" Dia menatapku datar. "Sekarang siapa yang ngak ada attitude?"
"Heh. Dia yang cium tiba-tiba. Itu pun langsung aku pukul. Kau pikir aku mau?" Cetusku.
Dia membolangkan matanya. "Jadi bener dugaanku kau ciuman sama dia?!"
Lah... Tadi dia cuma ngetest doang?
"Jadi dia yang pertama mencium bibir mu?" Tanyanya meminta penjelasan.
"Ya engak lah! Dia ngak segila kau yang mencium bibirku yang suci ini!" Bantahku.
Dia memiringkan sedikit kepalanya. "Jadi aku yang pertama?"
"Cih. Iya lah. Dasar kutu kupret!"
Eh. Ngapain aku bilang gitu?
Dia kembali menyetir mobilnya kembali ke jalan.
"Jangan pernah menciumku lagi! Aku hanya akan bersamamu hanya sampai misi ini selesai. Setelah itu kita akan berpisah seperti tidak ada terjadi apa-apa." Lugasku.
Dia hanya menatapku datar dan kembali mengendarai mobilnya.
***
Aku keluar dari mobil Jessen. Di depan pintu kostku sudah menunggu ibu kost yang siap menagih uang perbulan.
Damn... Aku lupa lagi.
Aih... Malah belum minta ke nenek sama kakek.
Aku berjalan mendekati ibu kost dengan langkah kehati-hatian. "Ma maaf Bu. Saya belum bisa bayar. Minggu depan ya Bu."
Aduh gimana ini?
Aku ngak mungkin minta sekarang juga sama nenek kakek, mereka lagi banyak pikiran tentang perusahaan.
"Ini Bu uang kost dia." Jessen memberikan amplop yang sangat tebal ke hadapan ibu kost. Ibu itu terkejut begitu pun aku.
"Eh. Ngak perlu Jes. Aku bisa..."
"Bu, apakah 20jt cukup. Atau kurang Bu?" Jessen langsung menyambung kalimatnya tak mempedulikan aku yang sedang berbicara dengannya.
"Ini terlalu besar nak." Ujar ibu kost enggan menerima uang dari Jessen.
"Sudah ini untuk ibu saja. Asalkan jangan terima dia lagi di sini Bu." Jessen menunjukku. Pandangan Jessen teralih menatapku. "Dan kau. Kemaskan barangmu. Kau pindah ke tempatku."
"Loh loh. Apa apaan ini? Ngak ada ngak ada, aku ngak akan ke tempatmu. Aku tak perlu uangmu." Aku keukeh dengan pendirianku.
Mataku kualihkan ke ibu kost. Dia tampak sedih. Sepertinya memang dia sangat membutuhkan uang itu.
Jessen pun memasukkan uangnya lagi ke kantong dan hendak berjalan kembali ke mobilnya.
Ibu itu tampak sangat sedih dan seperti ingin menangis.
Adoyyy... Aku jadi ngak tega.
Aku pun memegang tangan Jessen membuat langkahnya terhenti dan kembali melihatku.
Ck aku benci harus mengatakan ini.
"Kasih uangmu ke ibu ini. Aku ikut kau."
"Cih. Jadi juga?" Kata Jessen merendahkan.
Aku memicingkan mata melihatnya. "Heh, aku lakukan ini bukan karena mau tinggal bersamamu. Aku kasihan lihat ibu ini. Jadi jangan kepedean."
"Yang penting. Kau sekarang berutang budi padaku."
__ADS_1
Ish...
Wajah ibu kost pun kembali riang. "Terimakasih ya nak. Kamu sangat baik." Ibu itu menyalamiku bersyukur.
Aku mengangguk. "Eh iya Bu. Gak masalah Bu."
"A apa perlu ibu bantu membereskan barang kamu sebagai wujud rasa terimakasih ibu, agar kamu ngak kecapekan." Bu kost menawarkan bantuan.
"Ngak apa Bu. Saya saja." Kataku.
Ibu itu mengangguk. "Sekali lagi makasih ya nak."
"Iya Bu."
"Ibu balik dulu."
"Iya Bu."
Ibu itu pun pergi. Aku masuk ke dalam kost-anku membenahi barang.
Ish... Kalau ngak karena aku kasihan lihat ibu itu, aku ngak bakal mau jadi tinggal sama dia.
Selesai membereskan barang aku kembali menjumpai Jessen di luar.
Dia yang tadinya duduk di bumper mobil berdiri setelah melihatku keluar dari kost-anku.
Dia membuka jok mobil.
Aku berjalan ke arahnya. Dia membantu ku memasukkan koper ke dalam jok dan kemudian menutupnya. "Dengar ya. Aku hanya sementara tinggal bersamamu. Hanya sampai misiku selesai." Aku membuat perjanjian.
"Tak perlu banyak bicara. Cepat naik."
Jessen berjalan mendahuluiku masuk ke dalam mobil.
Ck.
***
Sesampainya aku di apartemen si Jessen. "Di mana kutaruh bajuku?"
Dia menunjuk ke suatu lemari.
Aku pun pergi ke arah sana. Kubuka pintu lemari.
Eh. Ini kan bajunya si Jessen. Masa kami satu lemari?
"Hei, ngak ada lemari lain?" Kataku.
"Tidak."
Eh, memang pikiranku ngak pantas untuk berfikir seperti ini sekarang. Tapi, hei... kalau aku satu lemari dengannya pakaian dalamku dia bakal tau dong.
Anjritt.
"Ngak aku ngak mau satu lemari denganmu."
Dia memandangku sekilas acuh. "Kalau gitu ngak usah pakai lemari sekalian aja." Ucapnya sambil duduk di kursi belajar yang ada di kamarnya ini.
Ish... Ngeselin ngak tuh...
Aku menyisir melihat dalam lemari. Ada bagian sisi yang kosong. Aku kembali menatap Jessen yang sekarang sudah fokus belajar. "Woy." Panggilku.
"Bisa ngak panggil nama." Katanya tanpa melihatku.
"Iya. iya. Jessen."
"Hem." Dia berdehem.
"Bajuku ada di bagian sudut yang ada di bagian bawah. Jangan kau bongkar. Aku tau gimana susunan yang kubuat. Kalau ada yang tidak sesuai dengan posisi yang kuletakkan akan ku pukul kau." Kataku dengan penuh penekanan.
"Hm." Katanya singkat.
Ish... Sekarang aku bakalan setiap saat bersamanya...
__ADS_1