Magic You

Magic You
chapter 67


__ADS_3

Catatan penulis:


Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah ya... Jangan hanya jadi pembaca gelap ya guysss...


Dan bagi yang udah like, komen, vote dan beri hadiah... Makasih banget ya..


Thanks...


Happy reading guys


 


Badanku seketika lemas. Pikiranku kacau. Jessen... Dia kenapa?!


***


Tian, aku dan beberapa perawat memeriksa keadaan Jessen di ruang ICU, Jessen tak sadarkan diri.


Tian mulai memeriksa pemeriksaan umum Jessen, detak jantung nya lemah.


Sedari tadi aku sangat ketakutan dengan kondisi Jessen. Keadaannya sangat di bawah keadaan normal pasien pada umumnya.


Semua pemeriksaan luar dalam dan kami pemasang oksigen telah kami lakukan, dan dilengkapi dengan tes laboratorium yang telah di lakukan oleh petugas medis lainnya dapat di simpulkan bahwa Jessen memiliki penyakit komplikasi jantung.


Tanganku sangat bergetar ketakutan melihat Jessen sudah seperti mayat hidup. Pucat tertidur dengan detak jantung yang sangat lemah.


Setelah selesai segala yang dapat kami lakukan. Kami pun keluar dari ruangan.


Semua keluar kecuali aku dan Tian. Tian tak keluar karena menungguku.


"Kau kenapa?" Tanyanya. "Kau sangat..."


"Tian. Apa dia ada kemungkinan untuk hidup?" Aku menahan air mataku.


Aku sangat tau dengan kondisi Jessen ini. Tak ada kemungkinan untuknya dapat bertahan hidup karena kondisinya yang sangat buruk ketika sampai di rumah sakit.


Tapi, aku sangat berharap dia dapat hidup.


Tian menatap Jessen. "Dia tak lama lagi. Kesadarannya bahkan tak terdeteksi."


Hatiku seperti meledak dan bibirku mengatup erat.


Kenapa saat perjumpaan kami kembali merupakan perjumpaan kami terakhir kalinya?


Bukankan ini tak adil?


Ini sangat kejam dan menyakitkan. Kenapa ini harus terjadi padaku?


Tian memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya dan mengarahkan tubuhku menghadapnya. "Val. Kau kenapa?"


Air mataku tumpah. Sedih sekali. Sangat sesak di dada.


"Aku akan berusaha semampu dan sekuat tenagaku untuk dia. Kau jangan seperti ini. Aku tak bisa melihat kau menangis." Tukasnya.


Aku manatap Tian dengan penuh haru.


Tian mengusap pipi wajahku lembut. "Kau jangan seperti ini." Dia mendekapku di dadanya.


Aku terus menangis.


Dia mengelus kepalaku. "Val, se-spesial itukah lelaki ini untukmu?"


Aku mengangguk pelan mengakuinya sambil masih menangis.


"... Dia, ... Maksudku. Siapakah dia sampai kau sesedih ini?" Tian tampak ragu bertanya karena di saat yang sangat tidak tepat seperti ini.


Aku menatap Tian dengan mata sembab.


Aku malah menangis semakin kencang karena tak sanggup mengatakan bahwa Aku Mencintai Jessen dan Sangat Mencintai Jessen...


"Ma Maaf Val. Aku ngak bermaksud..." Katanya kaku sedikit panik karena aku menangis kencang. Dia kembali mendekapku di dadanya sambil mengelus kepalaku. "Ja jangan nangis ya. Stt stt stt." Dia memenangkan ku agar berhenti menangis.


"Jangan menangis. Aku janji akan berusaha sebisaku." Ucapnya.

__ADS_1


Aku mengangguk sambil berusaha untuk berhenti menangis.


"Hiks hiks.. Tian..." Kataku sedikit megap karena baru selesai menangis.


"Iya."


"Hik aku.. Hiks.. bisa tinggalkan aku sebentar di sini. Hiks..."


Tian menganguk mengerti. "Hem. Iya."


"Makasih."


Dia mengelus kepalaku pelan.


"Aku keluar dulu ya."


Aku mengangguk.


Tian pun pergi dan meninggalkanku sendiri di sini.


Aku duduk di bangku yang ada di dekat Jessen. Aku mengenggam salah satu tangannya.


"Jes.. Jangan matilah. Jahat banget sih.."


"Baru aja jumpa lagi. Kau udah begini... Gimana sih..." Suaraku kembali bergetar sambil menahan air mata yang mau tumpah lagi.


"Jes.. Kenapa aku tak dapat melupakanmu sampai sekarang... Padahal kau bahkan dari awal juga tak pernah mencintaiku... Kejam banget sih..."


"Mungkin aku yang bodoh... Tapi aku tak dapat membohongi perasaanku... Aku sangat mencintaimu."


"Ku mohon... Bertahanlah... Jangan tinggalkan aku."


Air mataku tak terbendung dan pecah seketika lagi.


Aku tak tahan melihat Jessen seperti ini...


Aku menggenggam erat tangan Jessen.


"Jes.. aku pergi sebentar ya. Aku mau lanjut kerja.." Aku mengenggam tangannya.


"Kau jangan mati." Aku sedikit marah... Well, mungkin aku terlihat bodoh karena mwrah marah sendiri sekarang. Tapi aku sangat takut kalau dia mati, intinya aku tak ingin dia mati.


Aku melepaskan genggaman tangan ku dan pergi keluar ruangan melanjutkan tugasku.


***


Setelah habis jam dinasku di pagi hari. Aku sempatkan untuk pulang dan membenahi diriku, mulai mandi, sarapan dan lain sebagainya. Kenapa aku tidak melakukannya di rumah sakit? Ntah kenapa aku moodnya mau pulang dulu.


Setelah selesai semuanya dan tak ada tertinggal lagi aku pun kembali ke rumah sakit.


***


Aku membereskan barang bawaan ku yang baru aku ambil dari rumah ke dalam bilikku, bilik petugas medis.


Kemudian aku menjenguk Jessen di kamar inapnya berjalan melalui koridor rumah sakit. Setelah aku sampai di depan kamar Jessen aku membuka kamarnya. Aku melihat Tian ada di sana mengecek keadaan Jessen.


"Oh. Kau rupanya." Kata Tian menyadari kedatanganku.


Aku mengangguk. "Bagaimana keadaannya?"


"Masih belum sadarkan diri."


Aku menggenggam tanganku erat. "Apakah benar tak ada kesempatan lagi untuknya dapat bertahan hidup?" Suaraku mulai bergetar. Kembali merasakan sedih yang luar biasa menjulur di tubuhku.


Tian menatapku dengan empati. "Aku sudah berusaha semampuku. Maafkan aku."


Air mataku kembali berjatuhan.


Kau tau... Pernahkah kau merasakan apa yang terjadi padaku sekarang?


Kau tau kapan seseorang yang kau cintai meninggal.


Sadis sekali bukan dunia ini menyiksa perasaanku?

__ADS_1


Aku berjalan ke arah Tian. Bukan salahnya jika dia tak dapat menolong Jessen. Ini memang sudah takdir.


Tian memelukku. "Maafkan aku." Katanya.


"Ini bukan salahmu Tian. Ini memang harus terjadi. Suka tidak suka, senang tidak senang. Aku harus menerima kenyataannya... Aku yang seharusnya yang minta maaf padamu karena meminta yang di luar kemampuan manusia seperti ini. Maafkan aku." Kataku sambil menangis.


"Tidak Valen. Ini juga bukan salahmu. Ini bukan salah siapa-siapa. Kau jangan pernah merasa bersalah seperti ini."


Aku terus menangis. Betapa baiknya Tian padaku, namun aku masih bisa berlaku jahat padanya dengan menolak cintanya. Aku sangat jahat.


"Tian.." Panggilku dengan suara parau.


"Hm." Sahutnya masih dengan memeluk dan mengelus kepalaku.


"Makasih ya.." Ucapku yang masih di dekap olehnya


"Iya Val."


Aku menahan tangisku. Dan menatapnya. "Kalau aku pernah berkata kasar padamu aku minta maaf ya. Aku ngak akan lakukan lagi." Janjiku.


Senyuman terlukis di wajahnya. "Kenapa kau merasa bersalah huh?"


"Ya.. karna.. mm.. Aku selalu menilaimu seseorang yang buruk dan kejam. Padahal kau sangat baik."


"Sebaik itukah aku?"


Aku mengangguk.


Dia semakin tersenyum melihatku kemudian dia kembali mendekapku di dadanya. "Aku senang kau menganggapku begitu." Dia terus mengelus kepalaku lembut.


.


.


"Tian." Panggilku.


"Hem." Sahutnya.


"Bisakah kau tinggalkan aku sebentar di sini sendiri sebentar?"


"Hem." Dia mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. "Kalau gitu aku pergi dulu."


Aku mengangguk.


Tian pun pergi. Aku menatap kepergiannya sampai pintu kembali tertutup setelah beberapa saat tadi terbuka karena dia keluar.


Aku mengambil bangku yang ada di dekat Jessen. Aku duduk di sebelahnya.


Aku memegangi tangan Jessen. Air mataku kembali berjatuhan. "Kenapa begitu sulit untuk melepaskanmu huh?"


"Aku sangat mencintaimu... Bisakah kau mengerti Jes.."


Sesekali aku menlap air mataku, walaupun aku tau air mataku akan terus banjir karena melihat Jessen yang takkan pernah ku lihat lagi nanti.


Aku memegangi wajahnya lembut. "Aku takkan pernah bisa melihat mu lagi Jes."


Aku menelungkupkan wajahku di salah satu tanganku yang berada di atas ranjang Jessen.


"Hu hu hu..." Aku terus menangis.


Aku sedikit mendongakkan kepalaku menatap wajahnya.


Kemudian mataku tertuju pada saku bajunya. Terdapat pulpen kecil. Aku mengambil pulpen itu.


Aku melihat lekat lekat pulpen ini. Tampak seperti biasa saja. Aku menekan ujung pulpen tersebut.


"Ehem... Apakah ini sudah terekam. Sepertinya sudah.. Aku mulai saja.


Hi.. aku Jessen. Hari ini aku baru tau apa sekarang fungsi alat rekam ini, akan ku jadikan ini diaryku."


Mataku terbelalak mendengar rekaman ini.


Ini Diarynya!!

__ADS_1


__ADS_2