Magic You

Magic You
Chapter 97


__ADS_3

...Author POV...


Tessa yang kini tengah berjalan sendiri pulang ke rumah pun kembali murung. Dia tampak sangat sedih karena akan pulang ke rumah, berjumpa dengan orang tuanya yang selalu bertengkar lagi.


Udara kencang menghembus nya dengan sekali tepasan, membuat rambutnya yang indah terurai ke belakang mengikuti arah mata angin.


Sepertinya akan hujan. Itulah yang di pikirkan Tessa.


Tessa berjalan lambat, sengaja karena dia hanya malas terlalu cepat pulang.


Sewaktu melewati halaman sekolah Tessa teringat lupa membawa buku catatan Biologi nya.


"Ck. Kenapa baru inget sekarang." Umpat nya kesal.


Tessa pun membalikkan badan nya kesal dan kembali ke kelasnya.


Tessa melewati koridor yang sudah sepi dan tak sengaja mendengar sesuatu yang janggal di telinganya. Suara nya sedikit rusuh..


Matanya teralihkan pada ruangan kosong, atau lebih tepatnya ruangan tempat dimana di tumpukkan buku buku dan berkas yang tak jauh tempat nya dari perpustakaan. Ruangan itu jarang di masuki, karena memang di sana hanya ada buku buku yang usang dan beberapa buku paket tambahan bagi kelas yang siswanya kekurangan buku paket saat pembagian buku paket yang di ambil dari perpus.


"Itu apa ya?" Pikir Tessa.


Karena rasa kekepoan yang tinggi, akhirnya Tessa memberanikan diri melihat ke dalam.


Saat Tessa hendak membuka pintu, pintu tak terkunci.


Tessa sedikit membuka dan melihat ke dalam.


Mata Tessa telah ternodai, badannya mematung dan tak dapat berkata apa apa lagi. Ini pertama kalinya melihat seseorang, maksudnya dua orang melakukan hal yang tidak senonoh di sekolahan!


Walaupun itu hanya ciuman. Tapi itu berlangsung sangat ganas.


Terutama itu adalah anak pemilik sekolah, Rio!


Walaupun badannya sangat bergetar ketakutan melihat ini semua Tessa berusaha untuk berjalan mundur perlahan, berbalik badan kemudian berlari ke kelas.


Tak mau melihat lebih lama lagi kejadian itu! Sungguh bejat!


Di sisi lain, Rio yang telah puas dengan ciuman pun berhenti. Dia mudah bosan dengan wanita. Dan itu yang di alami nya sekarang.


"Kita putus." Ucap Rio enteng.


Wanita itu terkejut. "Apa?! Kamu kok gitu sih Rio!"


"Aku sudah bosan denganmu." Rio bangkit berdiri dari posisinya tadi yang tertindih wanita itu. "Bukankah kau sudah sering juga melakukannya dengan lelaki lain huh?" Hina Rio.


Rio sangat tau siapa lawan bicaranya ini. Dia adalah Frida, wanita Fuckgirl yang selalu mengincar pria tampan.


Tunggu. Dia menghina orang Fuckgirl tanpa sadar di sama bejatnya dengan wanita yang di hinanya huh?


Sedetik kemudian wanita itu bangun dan merapikan bajunya dan menarik tanganku. "Please yo... Aku suka banget sama kamu. Baru kali ini aku sesuka ini sama cowok... Please... Kita jangan putus ya.." Frida memohon.


Rio memutar bola matanya malas, Rio benar benar sudah bosan dengan wanita seperti ini. Wajah kecantikan Frida sangat membosankan ketika di pandang berkali kali. Lagi pula wajahnya bukanlah tipe Rio. Jadi Rio tetap pada pendiriannya.


"Sekali putus. Ya putus." Rio menepis tangannya. "Aku keluar."


Rio keluar dengan menginggalkan Frida yang menangis tertatih tatih. Rio tak peduli.


***


Dengan cepat Tessa mengambil buku di kelas dan kemudian kembali berjalan melewati koridor, sialnya koridor yang Tessa lewati harus koridor yang sama dengan koridor dia masuk tadi.


Mengingat itu, Tessa merasa jijik sendiri melihat Rio.


Tessa menggelengkan kepalanya berusaha menenangkan diri.


Bruk


Tessa menabrak seseorang karena tak fokus pada jalannya tadi. Tessa pun mendongak.


Matanya terbelalak saat melihat Rio yang ternyata di tabrakannya.


Deg! Jantung Rio tersentak melihat wajah wanita yang ada di hadapannya ini.


Cantik?


Imut?


Manis?


Ntahlah. Semuanya ada padanya.


Rio diam, hanya menatap Tessa sangat terpukau. Sampai tak di sadari kepala Rio semakin miring memandangi wanita yang di hadapannya ini.


Tessa menyingkirkan badannya dan kembali berjalan cepat meninggalkan Rio.


Rio baru sadar. Dan membalikkan badan melihat kepergian wanita itu.


"Eh. Tunggu." Panggil Rio sambil berjalan mengejar Tessa.


Tessa yang mendengar suara Rio memanggil membuat bulu kuduk nya merinding. Tessa langsung berlari.

__ADS_1


Dasar lelaki menjijikan... Pekik Tessa dalam hati.


Rio terkekeh melihat wanita itu berlari sangat kencang. Kenapa dia begitu takut? Apa dia malu? Cih... Lucu sekali.


Tapi serius, Tessa berlari sangat kencang dan Rio bahkan tak dapat mengikutinya dan menyerah.


Rio ngos ngos-ngosan. Dan terduduk di lantai.


"Akan ku dapatkan." Ucap Rio sambil menyunggingkan senyum.


***


Malam ini Rio bosan di rumah dan hendak pergi ke luar.


Mumpung karena orang tuanya sedang tak ada di rumah, ini kesempatan Rio untuk pergi ke bar.


Rio berangkat dengan menggunakan kereta menuju bar.


***


Tessa yang tengah suntuk di dalam rumah pergi ke halaman depan rumah untuk bernafas.


Papa dan mama Tessa sedang tenang di dalam rumah. Syukurlah. Tessa sangat senang.


Tessa berlari ke luar pagar kemudian merenggangkan badan sambil bernafas. "Ah... Syukurlah..."


Angin malam yang dingin sangat menenangkan bagi Tessa. Sangat cocok untuk nya dan suasana hati nya. Terutama di depan rumah sangat sepi.


Di saat yang bersamaan, Rio menyerngit shock melihat sosok wanita yang di kekarnya tadi ada di seberang sana.


Jantung nya berdegup kencang.


Rio menepikan keretanya agak jauh, sedang di berjalan mengendap-endap bersembunyi di sudut pagar tanaman rumah tangga Tessa yang tak jauh dari tempat Tessa.


Tessa sangat senang karena orang tuanya akur lagi, sampai sampai Tessa melupakan kejadian kotor yang merusak mata nya tadi.


"Aa... Makasih Tuhan!" Jerit Tessa.


Tessa tersenyum lebar dan memegang kedua pinggangnya di gerakkan ke kanan dan ke kiri seperti anak kecil senam. "Hari ini aku janji jadi anak baik. Akan rajin nyapu, cuci piring, ngepel. Eh... Rajin cuci piring aja deh. Capek bener ngerjai semua, kan ada Bi Ayu."


Rio mengepalkan tangannya di mulutnya menahan tawa melihat tingkah absurd Tessa.


"Pokoknya jadi anak baik." Kata Tessa bersemangat.


Rio sangat menikmati tingkat Tessa yang membuat nya jadi penasaran, sampai sampai Rio duduk di trotoar jalan yang tertutupi tanaman pagar tetangga Tessa tadi. Rio menopangkan dagunya sambil memiringkan kepalanya nongol dari balik tanaman.


Tessa yang sangat peka akan sesuatu. Langsung melihat ke arah Rio. "Siapa itu!" Jerit Tessa. Tessa berjalan perlahan ke arah Rio dengan menyilang kan tangan di hadapan nya membuat pertahanan. Tessa pernah belajar silat. Dia tau cara mematikan pertahanan lawan seketika, jadi dia tak takut.


Rio bangkit berdiri sambil memegangi tengkunya. Sedangkan Tessa yang sudah berhadapan dengannya terkejut bukan main.


Tessa memandang Rio sangat jijik. Pria bejat dan kotor!


"Ngapain di sini!" Tessa marah.


"Aku, tadi ngak sengaja lewat. Tadinya mau negur kamu, tapi malah aku salfok sama kamu." Rio berharap Tessa juga terpesona padanya.


"Berengsek! Kau kan udah punya pacar! Kau pikir aku tak lihat kau ciuman tadi!" Ucap Tessa membuat suasana menjadi hening.


Rio terdiam beberapa saat. "Iitu."


"Pergi sana! Aku benci lelaki seperti mu!"


Rio merasa sesak sekali mendengar kalimat Tessa. Baru kali ini dia merasa seperti ini saat di hina. Kenapa? Rio juga tak tau."


"Aku udah putus darinya." Rio memberanikan diri bicara.


"Kau baru cium dia. Dan sekarang kau putuskan dia." Tessa menggeleng kesal sendiri melihat lelaki bejat satu ini.


"Bukan aku yang mau. Dia yang cium aku dulu." Rio jujur.


"Terus kan kau juga mau!"


Rio jadi bingung mau jawab apa. Wanita ini terlalu polos. "Dengar, jika pria di rangsang oleh wanita, terutama itu adalah pacarnya. Untuk apa menolak?"


"Itu hal yang wajar bukan? Lagipun kami hanya ciuman, ngak lebih. Dan juga... Itu kan Frida. Kau tau kan trek perjalanan percintaannya." Tambah Rio tanpa merasa bersalah.


"Wah. Ngak bener nih otakmu. Jadi karena dia wanita begituan kau menganggap dia rendah gitu!" Tessa memekik marah.


"Dengar ya, aku ini cewe, aku tau perasaannya! Kau harus minta maaf padanya, aku yakin dia bukanlah wanita murahan! Aku yakin! Kau saja yang bejat!"


Rio merasa tertantang. Dia tau pasti Frida sudah mencari pria lain penggantinya. Kau tau, Frida sangat Fuckgirl. Bahkan Rio yakin 5 menit setelah Frida menangis setelah di putuskan dia sudah dapat pengganti baru.


"Kalau Frida ternyata lebih bejat dari aku gimana." Tanyaku menantangnya.


"Ngak mungkin." Tessa kekeh dengan pendirian nya membela kaum wanita yang tersakiti! Mana mungkin Frida lebih brengsek dari si kurang ajar yang ada di hadapannya sekarang.


Rio mendekatkan wajahnya. "Taruhan?"


"Oke! Kalau aku menang, kau harus minta maaf ke dia dan jadikan dia istri mu! Ingat, kau sudah menyentuh nya." Kenapa Tessa tak bilang pacaran lagi, karena dia tau Rio pasti akan memutuskan Frida lagi. Kalau menikah, tak mungkin putus, dan untuk membuat Rio bertanggung jawab atas Frida.


Rio tersenyum miring. "Kalau aku menang. Kau jadi pacarku."

__ADS_1


Tessa terdiam sejenak terkejut. Tessa menenangkan diri, untuk apa dia harus takut. Dia harus membela kaum hawa yang sudah sangat di rendahkan ini!


"Aku setuju." Ucap Tessa mantap.


Jantung Rio berdegup kencang, ntah sejak kapan dia sangat senang dengan persetujuan ini.


"Temui aku di halaman sekolah saat pulang besok. Aku akan menunjukkan padaku kebejatan mantanku itu." Kata Rio.


"Aku akan ke sana. Takkan terjadi apapun besok!"


'Kamu akan jadi milikku seutuhnya' Ucap Rio dalam hati.


***


Rio menunggu di depan pagar sekolah. Menunggu Tessa sambil memainkan ponselnya santai.


Seseorang memukul tangan Rio membuat Rio menoleh.


Deg!


Tessa dengan kepangan cocang tempel sangat cocok dengan wajah nya yang sangat manis, di tambah bibir nya yang berwarna pink alami membuat Rio semakin menyukainya.


"Apa liat liat?!"


Rio tersadar.


"Mana Fridanya?... Bener kan dia ngak bejat." Tessa langsung memutuskan bahwa Frida lah yang benar!


Rio mengenggam tangan Tessa mengajaknya.


Tessa menepis. "Ngapain pegangan pegang. Tunjukin aja di mana si Frida." Cetus Tessa tak suka di pegang lelaki kotor ini.


Sedikit kecewa dengan Tessa. Ternyata dia wanita yang galak.


"Hm. Ya udah ikuti aku."


***


Mata Tessa terbelalak sempurna, satu hal yang ada di otaknya... Frida sangat lah BERENGSEKKK....


Lihat... Bahkan Frida melakukan hubungan badan dengan pria berbadan atletis di dalam suatu gudang kosong di belakang gedung sekolah lain yang tak jauh dari sekolah nya. Ini lebih parah dari pada yang di lakukan Frida dengan Rio.


Seketika Tessa mual dengan pandangan ini. Tessa mengenggam lengan baju Rio sambil memegangi perutnya. "Ayo pergi dari sini."


Rio bingung melihat wanita satu ini.


"Aku... Uek... Mau muntah..  uuem" Tessa menahan muntah nya.


Rio menggeleng tak percaya. Ini cewek memanglah sangat polos. Dia bukannya terangsang, malahan mau muntah.


Rio mengingat sesuatu. "Berarti kita pacaran." Kata Rio.


Tessa tak menjawab. Wanita yang selama ini di dukungnya ternyata sebusuk ini. Sangat sial mengiyakan taruhan ini. Pantas saja si Rio sangat santai.


Arh... Tessa menyesali perdebatan nya semalam dengan Rio.


Tapi Tessa tak bisa berfikir lagi. Dia sangat jijik dengan pandangannya ini.


"Kak.. Nanti aja bahasnya... Uek... Mau muntah..."


Rio ingin jawabannya sekarang. Jadi Rio memilih diam, pura pura tak dengar.


"Please... Uek.."


Masih tak di respon.


"Iya, kamu menang. Kita pacaran. Puas. Uek..."


Rio sumringah. "Hm. Oke sayang."


Mereka pun pergi dari tempat itu.


***


Rio menatap Tessa yang duduk di bangku penonton lapangan basket sekolah yang kosong karena tak ada kegiatan apa pun di sekolah hari ini di sini. Tessa terus meneguk air, rasa kesal dan menahan jijik karena adegan sialan tadi bercampur padu.


"Satu." Kata Tessa kencang, kemudian dia melihat Rio.


"Aku pacaran ngak mau ciuman. Dan dua, aku ngak akan mau melakukan hubungan intim denganmu." Sambung Tessa.


Rio tertawa geli dalam hati. Okelah kita takkan melakukan hubungan intim. Tapi... Ngak ciuman? Terus ngapain?


Rio rasanya sangat candu dengan tingkah pacar barunya ini.


Sebenarnya Rio sangat super duper ingin mencium bibir Tessa. Tapi dia harus tahan. Tessa membenci itu bukan?


Cih... Semoga Rio bisa tahan.


Catatan penulis:


Like, komen vote ya... hadiah juga boleh... thanks... lop yu 💪💪😘😘

__ADS_1


__ADS_2