
...Author POV...
...(1 setengah tahun kemudian)...
"JESSEN!!!...." Valen menjerit kegirangan.
Jessen menjauhkan ponselnya dari telinganya yang berdengung sakit mendengar teriakan Valen kemudian kembali mendekat kan ponselnya lagi. "Kenapa sayang?"
"AKU LULUS DI JURUSAN KEDOKTERAN!!!!!" Pekik Valen sekali lagi. Sedang orang yang di telpon di seberang sana malah terkekeh mendengar istrinya yang seperti bocil dapat lolipop.
"Selamat sayangggg...."
"AAAA.... AKU SENENG BANGET TAU NGAK..."
Jessen tersenyum sumringah.
"Pokoknya, kalau kamu nanti kamu pulang, aku bakalan ngasih apapun... Hehe... Lagi baik soalnya..." Valen cengengesan.
Jessen yang mendengar itu menaikkan satu alisnya. "Semuanya?"
"Iya.. semuanya."
Jessen tersenyum miring penuh dengan rencana aneh di pikirannya. Jessen terkekeh pelan.
"Kamu mau apa yang..." Tanya Valen polos.
"Nanti aja di rumah aku mintanya." Bisik Jessen.
"Okay... Bye honey!"
"Bye..."
Jessen menatap layar ponselnya dengan smirk. "Ngak sabar pulang."
Jessen mendongak tatkala ada seseorang yang merangkulnya. "Udah gila kau, ketawa mulu perasaan." Ucap orang tersebut saat duduk di sebelah Jessen.
Jessen kembali memasang wajah datar.
Orang tersebut memutar mata malas dan melepaskan rangkulannya. "Nah. Begini nih... Kalau udah ketauan dia nge-bucin mah tiba tiba sok cool."
"Siapa sih bro. Penasaran." Orang tersebut menyikut perut Jessen.
"Istri." Jawab Jessen singkat yang membuat si lawan bicara tercengang sampai mata nya melotot. Teman Jessen ini tau kalau Jessen sejak SMA tak pernah bercanda mengenai hal yang berbau hubungan percintaan.
"Anying! Bangsat! Wew..."
"Kau ngatain aku anjing bangsat huh?" Mata Jessen menatap tajam lawan bicaranya setajam silet.
"Jangan gitu dong lihatin Ken nya mas Jessen... Atut nih..." Rengek Ken sok manis.
"Pergi sana. Sok imut kau! Ish.." Jessen menatap kesal Ken.
Ken terpingkal pingkal tertawa. Bagaimana tidak, selama ini dia berfikir bahwa Jessen adalah Gay karena nggak pernah berpacaran sekalipun dalam sepengetahuan Ken, sekarang malah udah nikah aja.
"Hehehe... Mantep tuh bro udah nikah. Jadi nggak main tunggal lagi kalau lagi pingin." Mesum Ken.
Jessen mendorong Ken dengan sikutnya , membuat Ken sekali lagi meringis sakit. Tapi kemudian Jessen sedikit terkekeh karena yang di katakan Ken memang ada benarnya juga.
"Udahlah. Sebentar lagi masuk. Pergi sana ke kelasmu." Jessen mengerak gerakkan tangannya di udara menyuruh Ken pergi.
Ken mengangguk seperti mengambek. "Oh.. Jadi ceritanya ngusir."
"Iya." Kata Jessen tak banyak bicara.
Ken terkekeh. "Oke deh mas Jessen. Adek tampan mau ke kelas dulu."
__ADS_1
Ken pergi menuju kelasnya.
Sedangkan Jessen, masih tersipu dengan apa yang akan di lakukan nya nanti pada istrinya.
***
Ken menatap sekelilingnya dengan banyaknya wanita cantik yang tebar pesona padanya.
Ken itu orangnya humble, tapi juga tidak playboy. Lelaki yang tak suka berperilaku berengsek pada wanita.
Ken tersenyum formalitas dan kembali ke kelasnya.
Jurusan akuntansi keuangan itulah jurusan Ken.
Ken duduk di kelasnya dengan santai.Β Sedangkan ada beberapa fans fanatiknya terus menatapnya kegirangan.
Bagaimana tidak? Mereka sangat bersyukur bisa sekelas dengan Ken yang terspektakulerrrr bagi mereka.
Sebenarnya Ken sangat risih dengan tatapan mereka, tapi mau bilang apa lagi, kan gak mungkin karena itu Ken mengendong mereka dan menjatuhkannya dari jendela kelas yang berjarak 10 meter ke lantai bawah bukan?
'Kayaknya aku memang harus cari pacar.' batin Ken.
***
Pulang kampus.
"Oy Ken!" Panggil seseorang dari kejauhan.
Ken menolehkan kepalanya ke kanan melihat sumber suara. "Oy! Kenapa bro." Sahut Ken saat orang tersebut berdiri di sebelah nya setelah berlari.
Orang itu menarik nafas ngos-ngosan. Setelah di rasa sudah netral dia menatap Ken. "Woy. Kau bantuin kita ya nge-MOS Maba ya. Please...." Bujuk orang tersebut.
"Ah. Malas. Ngak ada waktu cuy..."
Ken memutar mata malas. "Alah bro... Males banget serius..."
"Ayolah bro... Jujur, kita butuh banget bantuan kau untuk melakukan pendataan. Ya... Pleaseeeeeeeeee......" Orang tersebut memohon dengan senyuman dan dengan wajah memelas minta di gabok.
Ken menepis wajah menjijikan itu. "Iya ya... Ngak usah sampe gitu mukamu. Najis."
Orang tersebut terkekeh. "Thank you mas bro... Aku luan ya... Jangan lupa besok ke ruangan kepengurusan!" Kata orang tersebut sembari pergi meninggalkan Ken dengan berlari pelan. Sepertinya memang tugas dia lagi banyak untuk ngumpulin anggota.
***
Jessen berjalan menuju apartemennya di sambil tersenyum dengan membayangkan suatu hal yang menyenangkan nantinya.
Ting tong.
Jessen menekan bell apartemen dan di bukakan oleh Valen.
"Hai..." Valen riang.
Jessen tersenyum kecil. "Hai..."
Kemudian Valen mengandeng tangan Jessen masuk ke dalam kemudian menutup pintu.
"Oke... Sekarang kamu duduk dulu di meja makan. Aku udah siapi masakan terenak buat kamu." Ucap Valen bangga.
Jessen menganguk tanpa menghilangkan senyum dari wajah nya.
Jessen duduk di meja makan dan menanti Valen menghidangkan nya makan yang di bawahnya dari dapur.
"Tada!!!" Kata Valen sambil menghidangkan makanan yang tampaknya enak. Walaupun Jessen tau makanannya pasti tak seenak kelihatan nya. Tapi Jessen tetap akan makan dengan sedikit bumbu cibiran pada masakan Valen tentunya. Dia ingin istrinya lebih berusaha untuk lebih lihai memasak.
π(Author): Ckckc... Suami yang Baek...π₯΄π
__ADS_1
Jessen memakan habis masakan Valen.
"Enak?"
"Lumayan." Jessen sedikit terkagum karena masakan nya beneran lumayan enak. Biasanya mah ngak enak sama sekali.
"Yes..." Valen senang karena pujian Jessen.
"Berarti aku udah ngasih yang kamu mau kan ya... Hore.." Valen berlonjak dari bangkunya dan berjalan riang ke arah sofa.
"Siapa bilang ini yang aku mau?" Kata Jessen yang membuat langkah Valen berhenti dan kemudian membalikkan badan.
"Lah. Bukannya kamu selalu ingin aku masak enak. Sekarang kan udah enak. Berarti apa yang kamu mau udah aku lakukan dong."
Jessen menggeleng dan berjalan ke arah Valen. Jessen merangkul pinggang Valen.
Valen sedikit terkejut.
Jessen menatap mata Valen dan tersenyum smirk.
Cup
Jessen memperdalam ciumannya membuat Valen hampir kehilangan oksigen.
Jessen melepaskan tautan bibirnya dan menatap Valen sangat intens sambil tersenyum kecil.
Wajah Valen memerah. Ntah kenapa Valen selalu deg degan sendiri kalau di tatap seperti itu oleh Jessen.
"Sayang... Aku mau anak."
Deg!
Kalimat itu membuat mata Valen membolang kaget.
"T-tapi..."
Bibir Valen kembali di cium oleh Jessen. Jessen tak ingin kalimat penolakan. Sudah sangat lama dia ingin merasakan tubuh Valen tanpa pengaman apapun.
Dia sangat ingin...
Jangan cepat Jessen menggendong Valen ala bridal style tanpa melepaskan ciumannya berjalan ke arah kamar, sesekali Jessen melihat arah jalannya agar tak terjatuh. Kan ngak lucu kalau udah romantis malah kejedut tembok.
Sesampainya di kamar Jessen menurunkan Valen dan langsung menindih memeluknya.
Jessen melepaskan ciumannya dan menatap manik mata Valen. "Sayang... Mau ya..." Bujuk Jessen dengan tangan tak diam terus masuk ke dalam baju Valen, membuat sang empunya tubuh merasakan sensasi kenikmatan.
Valen masih berusaha berfikir jernih.
Jessen yang melihat istrinya menahan gejolak hasrat nya membuat Jessen tersenyum smirk. Jessen mengarahkan kepalanya ke leher Valen. Menciumi dan sesekali menghisap leher mulus Valen.
"Euh... Sayang..." Benteng pertahanan Valen hampir roboh.
Jessen tersenyum. Dia harus mendapatkan lampu hijau sekarang juga.
Jessen mencium bibir Valen lagi dan tangannya mengelus elus terus dada Valen.
Benteng pertahanan pun roboh. Valen melingkar kan tangannya ke leher Jessen dan membalas ciuman Jessen. Sungguh Jessen sangat merasakan kemenangan sekarang.
Jessen memulai aksinya yang membuat ruangan kamar mereka jadi penuh desahan dan terasa sangat panas.
π(Author): siap siap punya momongan sayangggg...ππ
Jessen: Diem Thoorrrπ€... Jangan ganggu...π
π(Author): Ow.. ongehh π₯΄π
__ADS_1