
Catatan penulis:
Yuhu readers... Aku up lagi. Lagi semangat nge-up soalnya... Wkwk. Imajinasi lagi lancar ya bund...
Readers ku yang cantik cantik dan tampan tampan... Jangan lupa di like dan komen ya guys, ingat loh... Like itu gratis. Ngak ada salahnya untuk di pencet guys... Itu membuat aku semakin bersemangat untuk nulis. Dan kalau bisa di vote dan beri hadiah... Itu akan lebih menyangatiku untuk berkarya.
Bagi readers yang udah like, komen, vote dan beri hadiah, aku sangat berterima kasih sekali sama kalian. I love you...
Happy reading guys...
...-----------------------------------------------------------...
...Ken Prov...
Aku menunggu bekicot di halte biasa dia menunggu bis. Semalam aku menelponnya untuk berjumpa dengan alasan ada kegiatan kemahasiswaan yang cocok dengannya.
Ntah kenapa aku ingin berjumpa dengannya hari ini.
Ngomong ngomong, nih bekicot kok lama banget sih. Masih molor apa?
Tapi kalau aku menelponnya lagi. Dia pikir pasti aku kepingin banget jumpa sama dia.
Ck..
Atau mungkin dia lupa?
Ish... Tu anak ya.
Aku mengambil ponselku dan menelponnya. Dan dia mengangkat.
"Eh bekicot. Kau sekarang di mana?"
"Tidur."
Aku mengusap wajahku gusar. "Semalam kan aku udah bilang kita hari ini ketemuan."
"Malas."
"Kau udah janji. Tepatin lah."
"Hm."
"Hm apa?"
"Iya KRP." Dia mematikan ponselnya.
Dia kembali menghinaku dengan nama KRP alias Kentang Rendah Protein.
Rasanya kesal. Tapi kenapa aku malah tersenyum?
Ah... Ngak ngak.
Tunggu.. Aku melihat jam tanganku. "Jam 10 pagi dia masih tidur... Bener bener tu anak ya. Mentang mentang ini hari Minggu. Dia jadi malas malasan."
Aku duduk di halte bis sambil melihat ke arah depan.
Kesal sekali aku. Ini seperti jaman penjajahan Belanda saja pakai rencana penjodohan segala.
Cih.
Aku kesal dengan papa pagi ini. Dia mengatakan aku akan di jodohkan dengan rekan bisnisnya yang bahkan aku sendiri ngak tau siapa. Papa bilang akan memperkenalkannya pada saat yang tepat.
Menolak? Sudah aku coba. Tetapi papa masih kekeh sama pendiriannya.
Mama juga menyetujuinya. Baru kali ini aku melihat mama sebahagia itu, dan baru kali ini mama tak membela pendapatku.
Ck. Kesal sekali.
Lihat saja. Aku bakalan buat penjodohan ini tak berjalan lancar. Aku akan mencari kesalahan wanita itu dan akan membuat papa membatalkan perjodohan kuno ini.
Tak selang beberapa lama aku mengoceh dalam hati. Bis berhenti di hadapanku.
Aku melihat setiap orang yang keluar dari sana. Sesaat kemudian aku melihat bekicot.
Wajahnya yang sangat datar dengan baju kemeja biru lengan panjang dan rok hitam selutut langsung dapat ku tandai bahwa itu dia.
Aku menyerngitkan dahiku. Kok cepet banget dia sampai?
Kau tau lah. Biasanya kan cewek kalau mau jumpai cowok pasti lama datangnya... Banyak membenahi diri dulu sebelum menjumpai cowok.
Dan ini orang...
Bahkan tadi dia bilang dia masih tidur...
Kok cepat?
Dia sekarang ada di hadapanku dengan wajah hambar.
"Cepatlah. Kita mau ke kampus kan?"
"Tunggu dulu. Kok kau cepat amat datangnya."
Dia memutar bola matanya malas. "Kau mau aku lama."
"Maksudku.. Ah. Aku tau. Kau belum mandi kan?" Dugaku.
Dia menatapku dengan tatapan sangat tajam.
Dia memegang tengkuku dengan keduanya dan menarikku hingga kepalaku berada di bahu kirinya sangat dekat.
Deg.
"Aku udah mandi." Katanya singkat kemudian dia menoleh ke arahku. "Ngak bau kan." Sambungnya datar.
Aku wajahku dengannya sangat dekat.
Deg
Deg
Jantungku berdegup kencang.
Dia mendorong lagi tubuhku menjauh darinya.
"Di bilangin ngak percaya."
Aku meneguk air liurku berat. Kemudian mengangguk dan memalingkan wajahku. Aku memegangi tengkukku kaku karena kejadian tadi.
"Jadi ayolah ke kampus. Lama amat sih."
"Oh itu. Em."
Dia memandang mataku tajam. "Kau bohong ya."
"Eh. Enggak lah. Ngapain juga bohong."
Dia memutar bola matanya gusar. "Ya udah. Ayolah."
Aku berusaha membuat ekspresi datar. Padahal jantungku masih sangat berpacu kencang. "Kita ngak ke kampus. Kita beli peralatan untuk kelompok seni kampus. Mereka ada perlombaan."
Okey. Aku berbohong. Ya kali aku bilang yang sebenarnya, dia pasti bakalan marah besar.
Dia menatapku datar. "Hem. Kemana kita pergi sekarang."
"Ke mall."
"Oh."
"Aku bawa motor. Kita naik itu aja."
Aku pun berjalan ke arah motorku dan bekicot mengikutiku dari belakang.
Aku naik motor, memasang helmku kemudian melihatnya masih berdiri di sebelahku, belum naik motor. "Naik."
Dia mengusap tengkuknya tak yakin.
Aneh.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Em. Ngak." Dia menggeleng kemudian naik ke motorku.
Dia tak memegangku.
Hem. Okey...
Aku pun menghidupkan motorku.
Dia langsung memelukku erat-erat.
Deg
Aku menoleh ke belakang. Dia menutup mata dengan mulut terkatup rapat seperti ketakutan.
Aku tersenyum. Dia kenapa?
"Udah sampai apa belum?" Katanya dengan nada ketakutan masih menutup matanya.
"Cepat amat sampai. Belum lagi jalan." Kataku sambil terkekeh.
Di memukul punggung belakangku. "Aduh. Lama banget sih." Dia kembali memelukku erat.
Baru kali ini aku lihat dia ketakutan setengah mati begini. Cih.
Aku semakin menggas motorku. Dia semakin mendekapku. "Hemm..." Katanya ketakutan.
Hahaha. Lucu banget bikin ngakak.
Dia memberanikan diri untuk membuka mata perlahan. "Lah. Kok belum jalan."
Tawaku pecah. "Kau sendiri aneh. Masa naik motor aja takut."
"Itu karena aku pernah jatuh dari motor waktu kecil." Pekiknya pelan.
Hem.. Gitu. Kado ceritanya doa trauma. Hehe.
"Udahlah. Aku naik bis aja." Dia menjauhkan dirinya dariku.
Eh. Jangan dong.
Dia mau turun dari motor. Aku memegang tangannya mau di lepaskan dari mendekapku.
"Iya. Iya... Aku ngendarainnya pelan. Kau tenang aja."
Dia kembali dengan wajah datarnya.
Aku tersenyum miring dalam helm fullface ku. Jadi nih anak nutupin ketakutan dirinya dengan wajah datar huh?
Dia menjauh kan diri dan melepaskan pelukannya. "Ya udah jalan."
"Eh bekicot. Kalau naik motor harus meluk pengemudinya. Ntar jatoh loh." Aku coba menakutinya.
Dia hanya membuang wajah malas.
Aku menggas lagi motorku. Hehe.
Dia kembali memelukku dan memukulku. "Rese kau."
Hem. Jarang jarang kan dia seperti ini. Whehehe.
Aku melajukan motorku. Aku memperhatikan tangannya yang mencengkram erat perutku. Cih. Penakut.
Aku memperlama lajuku. Aku tak ingin momen ini cepat berlalu.
"Eh kentang. Udah sampai belum?"
"Belum. Lama lagi."
Dia mengentakkan tangannya kesal. "Lama banget sih." Omelnya.
Aku terkekeh pelan.
"Kalau aku kencang. Nanti jatoh lagi. Mau?" Ancamku.
"Ish.."
"Makanya peluk aja erat. Biar ngak jatoh."
Hem. Dasar bekicot.
***
Kami sekarang di Gramediam membeli beberapa karton dan cat.
Sial. Terpaksa beli aku. Ck. Buat apa coba ini.
Aku melihat bekicot tanpa membawa apapun. Hanya membawa tas nya tanpa ribet.
Ck.
"Oy. Bawain dikit kek. Banyak banget nih."
Dia membalikkan badannya dan berjalan ke arahku.
"Bawa aja sendiri." Katanya datar.
"Cepet lah jalanmu. Lama banget sih jalannya." Katanya. Doa membalikkan lagi badannya ke depan dan berjalan lagi.
"Bawel kau. Ini banyak tau." Kataku sambil terus berjalan mengikutinya dari belakang.
Sesaat kemudian dia berhenti.
Huh?
Aku melihat apa yang di pandangnya.
Theo tengah berjalan mendekati kami.
"Hi." Kata Theo padaku dan bekicot.
Aku mengangguk dan bekicot juga.
Kok aku benci ya dia datang.
Aku langsung berdiri di sebelah bekicot.
"Cya. Kamu lagi nggak sibuk kan. Aku mau ngomong sebentar."
"Maaf. Aku lagi ada urusan."
Dia memegang tangan Cya. "Tolong dong Cya. Sebentar aja."
"Ngomong aja sekarang Theo. Soalnya aku sibuk."
"Baiklah kalau itu mau mu." Theo menatap Cya dalam. "Sepertinya aku menyukaimu Cya. Pikiran ku selalu memikirkanmu setiap hari. Aku tak bisa melupakanmu."
Mataku terbelalak. Baru kali ini aku melihat Fuckboy tulen seperti Theo mengatakan hal dengan sesungguh ini.
Aku menatap bekicot.
Aku jadi takut kalau bekicot juga mau menjadi pacarnya.
Aku nggak mau dia di rebut Theo.
Tapi, aku juga ngak punya hak atas Bekicot.
Arh... Kesal sekali.
"Aku udah tunangan."
Aku shock bukan main.
Huh?
Sejak kapan?
Ini bohong kan?
Tapi apa bekicot pernah berbohong?
__ADS_1
"Kau jangan pernah dekati aku lagi." Sambung bekicot datar.
Aku masih menatap bekicot tak percaya.
Theo tertawa. Dia mengelus kepala Cys. "Kamu bohong kan Cya."
"Aku serius kalau masalah pertunanganku. Jadi aku harap kau mengerti."
Cya kembali menatapku dan menagkulku. "Ayo pergi." Katanya datar.
Aku hanya mengikuti langkahnya. Masih tanda tanya besar di kepalaku.
Apakah serius?
***
Kami duduk di rumah makan bakso di dekat mall.
Hatiku sangat panas mendengar Cya akan bertunangan.
Apaan sih... Ngapain juga dia mau di tunangin.
"Kenapa?" Tanyanya datar.
"Siapa tunanganmu?" Kataku sedikit menggas kalimatku.
"Kok kau marah." Sambungnya datar.
"Siapa yang marah?"
Dia menaikkan alisnya. "Siapa lagi kalau nggak kau. Memang disini kan cuma ada kita."
Aku membuang wajah kesal. Aku menyeruput teh manis dingin menenangkan amarahku.
Siapa sih yang di tuangkan dengan Bekicot?!
"Kau juga bakalan tau." Ucapnya lagi.
Apa dia akan memamerkan tunangannya padaku. Huh?
Dasar sombong.
Tunggu... Kenapa aku sangat marah...
Heh Ken... Apa yang terjadi samamu?!
Masa kau cemburu dengan si bekicot yang selalu membuatmu kesal ini?!
"Kau suka kan sama ku." Ujar bekicot.
Aku terkejut.
"Yah enggak lah. Kepedean banget kau."
Dia menunjuk wajahku dengan ekspresi datar. "Wajah mu merah saat aku di genggaman Theo tadi. Bahkan sampai sekarang kau bertanya tentang tunanganku."
Jleb
Aku berusaha membuat wajahku terlihat normal lagi. "Ngak aku ngak suka samamu."
Dia mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Aku bisa bertunangan dengan tenang."
Emosiku melonjak. "Apaan sih bahas tunanganmu melulu. Apa sih bagusnya dia?!"
Aku terdiam setelah emosi ku tadi pecah.
Dasar bego. Kenapa aku jadi semarah ini kalau dia bertunangan.
Cya menatapku datar. Dan meneguk minumannya memandang arah lain. "Bener kan kau suka padaku."
Cih.
"Terserahmu lah mau tunangan sama siapapun. Aku nggak melarang." Aku membuang wajah.
"Emang kau siapa bisa melarang pertunanganku." Dia melipat kedua tangannya di meja. "Mau kau suka apa tidak aku pasti bakalan tetap bertunangan. Itu udah keputusan bulat."
Dia mengaduk minuman yang di genggamannya. "Udahlah. Aku mau pulang."
Dia bangkit berdiri. "Ngak ada lagi kan yang mau di bantuin cari perlengkapannya? Aku mau langsung cabut."
Aku berdiri berjalan ke arahnya. "Pulang bareng. Jangan bantah."
"Hm. Terserah."
Aku berjalan deluan. Tanpa membawa barang yang kami beli tadi.
"Eh barangnya gimana?" Bekicot bingung.
Ya ngak akan kemana mana bekicot... Kalau hilang juga ngak masalah. Kan sebenarnya barang ini juga ngak penting...
"Biarin aja di situ. Nanti aku bilang ke teman aku biar ambil barangnya."
"Ntar hilang bego."
"Bawel banget sih. Ngak tau apa orang lagi malas bicara sekarang."
"KRP." Hinanya.
"Bodo amat."
Aku kembali berjalan ke motor dan menaikinya. Ku pasang helmku.
Dia sekarang naik.
"Peluk."
"Ish... Ngak usah. Aku udah punya tunangan."
"Ih... Ngeselin ya." Aku menarik tangannya agar memelukku. "Nah begini. Aku mau ngebut."
"Huh?!" Dia terkejut.
Ku lajukan motorku sedikit kencang. Dia memelukku erat.
Selang beberapa menit berjalan. Dia kenapa diam?
"Ken.. Jangan kencang begini. Aku takut." Katanya dengan nada bergetar.
Apa aku keterlaluan?
Aku menepikan motorku. Dan berhenti.
Dia turun perlahan karena takut.
Aku pun turun dan berdiri di hadapannya.
Dia mengatur nafasnya. Kemudian menatapku. "Kau gila ya. Aku hampir mati karena jantungan."
"Kau tau ngak aku sangat kesal."
"Huh?"
Aku harus utarakan ini. "Kau suka pada tunangan mu itu?"
"Ntah lah."
Aku mengusap wajahku kesal. "Batalin pertunangannya. Jangan mau di tunangkan dengan orang yang nggak mau suka. Paham?!"
"Kayaknya protein otakmu memang sangat rendah."
"Bekicot... Aku serius."
"Kau pikir aku main-main."
Aku menggaruk kepalaku kesal.
Arh.. Kenapa aku lahir orang se-nyebelin se-antero Bima Sakti seperti si bekicot ini.
"Udah aku mau pulang. Disana ada bis yang baru berhenti. Aku luan."
__ADS_1
Dia pergi meninggalkan ku.
Aih... Nyebelin parah kau bekicot...