
Catatan penulis:
Yuhu gengsss.... Jangan lupa di like, comment, vote ( kalau ngak ada beri hadiah koin ya guys... Hehe) dan rate 5 Yau...
oh ya... btw jangan lupa mampir juga ke cerita aku yang baru ya... Judulnya "Choco Cake"
Ceritanya buat nagih loh... wkwk. banyak unsur bapernya. oh iya, ada cogan juga loh... 🙃👍😂
ceritanya mengenai seorang remaja bernama Gralista bernama temannya yang tak sengaja menemukan ruang aneh di rumah Gralista saat ingin menonton film. Hal aneh terjadi pada mereka saat mencoba mengikuti alur kinerja ruangan itu. hal yang hanya sekedar mencoba coba karena penasaran membuat mereka dalam masalah. Ruang itu membuat mereka berada di dimensi lain, bahkan sebelum adanya kemerdekaan!!! membayangkan hal itu... apa yang akan terjadi pada mereka? apakah mereka dapat kembali? atau...
penasaran ya... kuy langsung baca aja cerita baru aku itu... selamat mencoba yau...
Wkwk. Cuma mau bilang itu aja sih...
Thanks bagi yang udah beri, semoga dapet pahala, panjang umur, sukses selalu... Amin...
Oke deh... Lanjut aja bacanya ya guys... Lope yu ❤️
Happy reading...
***(Rekaman berikutnya)
"Sudah lama aku tak memainkan rekaman ini. Dan ya, sekarang aku ada di rumah sakit. Melihat sudah sampai mana perkembangan penyakit ini. Melihat apakah aku masih dapat bertahan hidup atau tidak.
Mengerikan bukan?
Saat kau tau bahwa umur hidup mu tak lama, sedangkan kau harus selalu mengontrol dirimu agar tau hari kematianmu. Cih... Mengenaskan."
***(Rekaman berikutnya)
"Aku sangat merindukanmu Valen... Sangat..."
***(Rekaman berikutnya)
"Aku ingin melihat mu lagi Valen...
Aku sangat hampa tanpa mu... Mengertikah dirimu?... Aku sangat merindukanmu."
***(Rekaman berikutnya)
"Selama ini aku baru menyadari, kertas emas ini masih ada bersama ku.
Aku berharap aku dapat berjumpa dengan Valen.
Ketika harapan itu aku katakan. Angin berhembus kencang dan menerpaku.
Cahaya kecil menusuk mataku. Aku menutup mataku dengan tanganku.
Dan setelah semua terasa seperti normal, tak ada angin dan cahaya yang menyilaukan. Aku menurunkan tanganku, membuka mataku perlahan.
Aku melihat Valen!
Aku berada di kamar nya?
Huh?
Well, lupakan kebingungan ini. Aku sangat senang berjumpa dengannya.
Aku tak menyangka kertas ini masih berkerja!
Aku tak yakin dia ingin berjumpa dengan ku.
Tapi tampaknya dia senang aku ada di sini.
__ADS_1
But, wait. Dia berfikir aku ini hanya halusinasinya saja.
Ah... Lebih baik begitu.
Dia terus berbicara dan membuat kerinduanku semakin ingin pecah karenanya.
Aku menciumnya, melepaskan kerinduan ini.
Blush... Angin dan cahaya menerpaku dan aku kembali ke rumah.
Ah... Aku belum puas melepaskan kerinduan ini."
"Aku melihat kertas pembatas yang ada di genggaman ku. Warnanya memudar dan tampak menjadi seperti hampir transparan hampir menghilang.
Apa... Setiap kali aku meminta, kertas ini akan menjadi menghilang?
Ah... Begitu."
***(Rekaman berikutnya)
"Aku kembali meminta untuk berjumpa dengan Valen. Dan ya... Aku berjumpa dengannya.
Mengingat penyakitku semakin memburuk. Aku takkan ingin membuat nya berharap lebih dari ku. Aku tak ingin menyakitinya terus menerus. Lebih baik aku saja yang tersiksa karena kerinduan dan kehilangan selamanya, aku takkan mau membiarkannya jadi tersakiti sepertiku. Dia layak bahagia walaupun bukan dengan ku.
But, I always love you until I death.
You must be happy with someone. And I know that not me... Aku harus terima kenyataan pahit ini."
Suara Jessen terdengar menangis, membuat ku menjadi sesak dan tak tau harus berkata apa... Jessen..
***(Rekaman berikutnya)
"Hei... Ohok ohok..."
"Maaf aku tak dapat melanjutkan rekaman ini.
Ah hek..."
Terdengar dia menarik nafas yang tercengat. Dia mencoba menarik nafas.
"He.. Hek... Aku tak dapat bertahan lama. Aku harus berjumpa Valen kali ini. Sebelum aku tiada."
Rekamannya berhenti. Tak ada rekaman berikutnya. Ini selesai... Dia dia...
Nafasku tersengat... Aku tak kuat menahan sakit di dalam hati.
Jess... Why...
Air mataku menetes deras.
Aku menggenggam tangan Jessen erat.
"Jes!!! Kenapa kau tak pernah bilang apapun padaku!!! Jes!!!"
Aku menangis dan menjerit memanggil nya.
Tittttttt.....
Alat pantien monitor yang mengukur saturasi oksigen dalam darah dan denyut nadi pada Jessen, berbunyi melengking.
Menampilkan layar dengan hanya garis lurus tanpa adanya gelombang pertanda adanya detak jantung terdeteksi.
"JESSEN!!!!" Jeritku.
Aku menggoncang tubuhnya dengan terus menangis.
__ADS_1
"JESSEN!!! JESSEN!!!"
Aku langsung meraih ponselku hendak menelpon Tian agar segera datang.
"Valen." Terdengar suara lembut dari belakang ku.
Jantungku berdegup kencang mendengar suara itu...
Aku langsung membalikkan badan.
"JESSEN!!!.."
Jantungku semakin berdegup kencang dan kakiku sangat lemah.
Aku melihatnya seperti melihat hologram dan bercahaya...
Roh Jessen....
Aku menutup mulut ku tak percaya apa yang ku lihat...
Dengan ini aku menyadari bahwa Jessen sudah Tiada...
"JESSEE...EENN, JES.... JESSEN... KENAPA?!!!"
"KAU HARUS KEMBALI!!! JANGAN TINGGALKAN AKU.... JESS..."
Dia hanya tersenyum. "Akhirnya aku dapat melihat mu lagi... Aku sangat senang."
"JESSEN... JANGAN PERGI!!! KAU HARUS KEMBALI KE TUBUHMU.... Hu hu hu..." Aku terus menangis.
"Kau tau... Aku baru menyadari, buku itu membuat ku menjadi orang paling bahagia saat akan kembali ke baka."
"Dari hidupku yang sangat gelap dan hampa. Di warnai dengan kehadiranmu yang membuatku selalu bahagia... I am very happy now."
"Aku pergi dulu ya Valen... Makasih untuk semuanya..."
"NGAK NGAK!!! JESSEN!!!" Aku langsung berlari ke arahnya... Mengapai nya... Namun tanganku hanya menangkap angin dan cahaya wujud Jessen memudar dari hadapan ku... Aku terjatuh dengan berlutut mengenggam tanganku yang kosong.
"JESSEN!!!!.... JESSEN!!! Hu hu.... Hu..."
Aku berdiri dengan lemas dengan menangis.
Membalikkan badan melihat badan Jessen yang tak memiliki roh kehidupan lagi... Aku berjalan ke arah nya dan memeluknya.
"Hu.... Hu.... Hu hu... "
Dadaku sesak sekali, aku tak sanggup. "JESSEN..." Panggil ku lirih.
Saat aku memeluk Jessen erat. Tangan ku seperti memegang sesuatu.
Aku menaikkan tanganku.
Buku ajaib?
Seketika aku sangat emosi melihat buku ini.
"APA YANG KAU INGINKAN HUH?!.... APAKAH KAU SUDAH PUAS MELIHATKU MENDERITA?!.... CIH..."
Aku menegakkan badanku dan memegang buku itu dengan kedua tanganku. "DENGAR!!! AKU TAK PERNAH MEMINTA APAPUN DARIMU!!! MAKA KALI INI KABULKAN LAH PERMINTAAN KU!!!"
"JANGAN BIARKAN JESSEN MATI!!! DIA JANGAN SAMPAI MATI!!! JANGAN... jangan... Hu hu... Ku mohon..." Suaraku semakin melemah tak kuasa menahan kesedihan yang teramat dalam ini.
"Ku mohon... Kembalikan Jessen... Ku mohon..."
__ADS_1