Magic You

Magic You
chapter 48


__ADS_3

Aku memasuki rumah sakit di mana Jessen di rawat dengan membawa... Tunggu, aku ngak membawa apapun... Well, tujuanku ke sini kan biar ngak ketahuan dokter. Kalau aku masuk dengan bawa bunga atau apalah itu dan menaruhnya di dalam ruangan si Jessen, hemm... Kau tau lah akibatnya.


Aku berjalan dengan tenang menuju ruangan Jessen. Dan akhirnya aku sampai di depan pintu kamarnya.


Aku sedikit mengintip melihat ke dalam ruang.


Mataku terbelalak kaget melihat Jessen yang sudah sadarkan diri dan sekarang berada bersama mantan tunangannya.


Rasanya sangat kesal.


Kenapa cewek itu bisa masuk sedangkan aku tidak?!


Dan gilanya, dokter yang menyuruhku untuk tidak datang juga ada di situ!


Maksudnya apa coba?!


Aku masuk ke dalam dengan sedikit membanting pintu. Ya... Walaupun aku sangat terbakar emosi aku sadar aku ada di mana.. ini di rumah sakit, kalau aku banting pintu keras, kalau tetangga sebelah kamar Jessen ada yang sakit pasti bakalan mati mendadak. Aku ngak sekejam itu...


Mereka yang ada di ruang ini terkejut melihat kehadiranku.


Aku menatap sinis Jessen. "Jessen!" Jeritku.


Jessen kembali menatapku dengan ekspresi datar.


"Bisa bisanya ya kau sejahat ini samaku!"


Dia tak menjawab apapun. Hanya menatapku datar.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah dokter. "Bapak lagi!"


Sang dokter menunjuk diri pelan memastikan.


"Iya bapak!"


"Bapak kenapa harus bohong?! Bilang aja kalau ni orang pingin saya jauhi!" Aku menunjuk Jessen tanpa melihatnya, kemudian kembali menurunkan tanganku. "Bapak ngapain bohongi saya!"


Bapak itu hanya diam.


Mataku menatap cewek yang udah dua kali kecentilan sama Jessen. "Dan kau lagi!"


"Kau... Kau... Ishhh. Lupakan!" Aku ngak tau mau ngomong apa. Ya gimana coba? Belum tentu dia yang gatel sama Jessen, bisa aja emang Jessen yang ngak ada ahlaknya..


Aku kembali melihat Jessen dengan tatapan yang berapi-api. "Heh! Kau harus jelaskan sesuatu! Kalau enggak... Kalau enggak... Pokoknya jelaskan dulu kenapa ini terjadi!"


Jessen hanya diam tak menggubris perkataanku.


Aku mengangguk mengerti. "Oh... Berarti bener dugaanku. Kau hanya mempermainkanku."


Dia menutup matanya acuh sambil sedikit mengangkat salah satu tangannya yang memegang buku ajaib. Dia lambungkan buku itu ke arahku. Dan kutangkap.


"Buka." Katanya singkat.


Aku membukanya.


Tertulis 15/15


Misi selesai.


Dia menatapku tajam. "Pergilah. Aku tak membutuhkanmu lagi."


Emosiku meledak dalam dada tak meluap sampai aku menjerit. Rasa sesak yang sangat meliputi dadaku. Aku bahkan sangat sulit bernafas sekarang.


"Kita putus." Sambungnya.


Aku menarik nafas dalam-dalam. "Dari dulu juga aku ngak pernah mau jadi pacarmu! Kau bilang putus pun aku tak peduli!"


Aku membalikkan badan membelakangi mereka.


Aku menoleh 30° ke belakang tanpa melihat Jessen. "Aku menyesal mengenalmu."


Aku berjalan dan pergi dari tempat ini.


Aku semakin aku menjauh dari tempat ini aku semakin berlari. Berlari sambil menahan tangisku.


Aku semakin berlari dengan sekuat tenaga.


Terus dan terus.... Aku pergi ke apartemen Jessen untuk mengemasi barangku.


Setelah sampai di sana aku mengambil semua barangku.


Aku akan pergi, pergi jauh dari tempat ini. Aku benci Jessen dan segala yang pernah dia lakukan padaku.


Aku membawa koper sambil berjalan menuju halte bus.


Aku menelpon nenek. Hatiku sangat hancur sekarang.


"Iya Val?" Kata nenek setelah mengangkat teleponku.


Suaraku bergetar. "Nek.. Valen mau pulang." Aku menlap air mataku yang tumpah.


"Valen nenek jemput sekarang juga... Valen di mana?" Terdengar suara nenek yang panik karena menerima telepon dari cucunya yang menangis.


"Valen naik bis aja nek. Nanti Valen sambung pakai kereta api sampai ke rumah nenek."


"Iya iya... Nanti terus hubungi nenek ya Val, harus. Nenek bakal hubungi kamu kalau kamu ngak nelpon nenek." Jawab nenek.


"Iya nek. Oke ya nek."


"Iya... Hati-hati Val."


"Iya nek."


Aku menunggu di depan halte bus.


Tiba-tiba ada suara riang yang menyapaku dan duduk di sebelahku. "Sayang..."


Aku menoleh ke arahnya.


Ken...


Dia shock dan panik. "Lah kok. Loh."


Dia langsung mendekapku. "Kenapa sih? Val?"


Ntah kenapa air mataku mengalir deras karena pertanyaan itu.


Badanku bergetar sambil mencoba menahan tangisku yang terlanjur pecah lagi tadi.


"Aku mau pulang dan pindah kampus. Aku benci di sini." Kataku dengan suara parau.


Ken sedikit menjauhkan dekapannya dan menatapku. Tangannya menlap air mataku. "Kemanapun kau pergi. Aku akan selalu ada."


"Lebay."


"Kan aku sayang. Lihat, aku aja bisa ada di sini. Kita bahkan ngak janjian. Ini bukti adanya ikatan antara kau dan aku. Paham." Dia mulai ngarang.


"Ikatan apanya. Kan kau pernah bilang, di sini dekat sama rumahmu. Itu sebabnya kita bisa jumpa."


Dia memutar bola mata ke kanan. "Hem.. iya." Kemudian dia kembali melihatku.


"Aku antar kau pulang."


Jangan lagi.


"Ken. Aku bisa pulang sendiri."


"Sayang. Kau harus pulang denganku. Titik. Ngak pake koma."


"Aku ngak mau. Titik. Ngak pake koma." Aku meniru gaya keras kepalanya.


"Mau aku antar, apa aku cium sekarang."


"Ngak dua duanya." Aku bangkit berdiri. Sambil melihat jalan. Lama amat sih bisnya datang, biar langsung pergi aku dari hadapan si psiko ini. Ini lagi halte. Sepi amat kaya kuburan.


Dia memelukku dari belakang.


Cup.

__ADS_1


Sebuah ciuman mendarat di pipiku.


Aku menoleh. "Ken kau.."


Dia mencium bibirku.


Damn.


Aku menjauhkan wajahku dari hadapannya membuat bibirku langsung melepaskan dari padanya. "Kau gilm."


Dia semakin mendekatkan kepalanya lagi menciumku. Dia membalikkan badanku dan kembali menciumku sambil memelukku


Dia memberi sedikit jarak. "Aku akan terus menciumi mu kalau kau tak mau ku antar." Dia menciumku lagi.


Lagi lagi akhirnya aku menghantam kepalaku dengan kepalanya. Membuat dia meringis kesakitan sambil melepaskan pelukannya.


Sebenarnya aku juga kesakitan. Tapi aku tahan.


"Rasain."


Dia berdecak kesal. "Aku bisa geger otak tau."


"Ken.. Ini di depan umum." Aku menekan kalimatku agar dia sadar di mana tempat kami sekarang.


Dia melihat ke kanan, kiri, muka, belakang. "Kan ngak ada orang." Katanya tanpa merasa berdosa.


"Kau mau aku bogem atau aku piting huh?!"


"Aku mau cium."


Aku udah naik pitam lihat si Ken. Ku sentil bibirnya keras.


Dia memegangi bibirnya. "Ah."


"Tu bibir berdosa banget... Jadi harus di hukum."


Dia melipat kedua tangannya di dada. "Intinya aku antar."


Bukannya aku ngak mau di antar sama Ken. Tapi kau taulah, pasti nanti dia bakal terus datang terus menerus. Dan itu sangat toksik.


Dia langsung menyeret koper berodaku dengan memegang ganggang pegangan koper.


"Eh.. Ken."


Argh.. aku mengacak rambut kesal. Isss... Si Ken ini memang ngak ada ahlaknya....


Aku berjalan mengikutinya.


Kami pun masuk ke dalam halaman Ken.


Tunggu tunggu... Kalau dia bawa koperku ke rumahnya... Ngak menutup kemungkinan dia bakal MAKSA AKU TINGGAL.


Damn...


Aku menghentikan langkahku di depan garasi mobil Ken.


Aku sedikit mundur perlahan dan perlahan.


Mending aku kabur aja. Dari dia tiba-tiba kumat dan menggendongku masuk ke rumahnya.


Dia yang berada di depanku pun berhenti, membuat aku juga ikut berhenti. Dia membalikkan badannya dan menatapku datar.


Shitt


Jangan bergerak tiba-tiba Val. Kau harus tenang.


"Masuk." Katanya.


Kann


"Ngak. Aku ngak mau masuk. Kan tadi kau bilang mau nganterin aku!"


Dia menaikkan salah satu alisnya bingung. "Iya memang. Makanya kau masuklah ke mobil. Kalau kau ngak masuk aku gimana ngantarnya?"


Ooo... Masuk mobil toh... Kirainn


Kalau dia udah begini. Pasti otaknya udah mulai kumat.


Dia berjalan ke arahku perlahan.


Aku pun mengikutinya dengan mundur ke belakang... Sial... Ini apa lagi coba?


Deg


Deg


Dia mulai sedikit berjalan cepat.


Aku pun mundur dengan cepat juga. "Kau mau ngapain!"


Sekarang dia berlari ke arahku.


Auto aku langsung balik badan dan berlari.


Terlambat. Dia menangkap tanganku. Menarikku sehingga aku berbalik badan dan memelukku.


"Hemm. Kau ingin aku gendong masuk ke dalam mobil ya?" Desahannya di telingaku.


Pletak


Ku gaplak kepala Ken. "Duh." Dia memegangi kepalanya.


"Gila ya.. Ngapain aku minta kau gendong! Aku punya kaki! Masih sehat walafiat... Ngak perlu gendong gendongan."


Dia menatapku sambil tersenyum sambil masih memelukku. "Eh Val. Kau tau ngak."


"Apa?!"


"Aku belum makan dari tadi."


"Trus.. Ya makan lah sana. Atau pesan tuuhh nasgor di depan."


"Aku ngak mau makan yang begituan."


"Jadi?"


Firasat aku udah ngak enak.


Dia mencium bibirku. Mengemutnya terus dan terus dengan perlahan.


Aku berusaha melepas. Tapi dia sangat lihai mengarahkan kepalanya, padahal aku terus merontah.


Dia menaikkan salah satu tangannya ke tengkuku sampai aku benar benar tak dapat bergerak.


Sial!


"Kenm." Aku mencoba ngomong tapi ngak bisa. Bibirnya terus menciumiku.


Damn.


Badanku terasa panas.


Dia akhirnya melepaskan ciumannya. Menatapku. "Nikmat."


Dia menyambung lagi menciumku. Terus menerus.


Membuat bibirku basah.


Dia membalikkan kepalanya ke sisi lain masih dengan menciumku pelan namun dalam.


Ini sangat panas. Aku berkeringat.


Keadaan ini semakin memanas dan memanas.


Ini pertama kali aku sepanas ini... Damn.


Aku memegang sambil menahan bahu depan Ken agar dia memberhentikan aktivitas gila ini.

__ADS_1


Dia tak peduli dan semakin menjadi jadi.


Tanganku tergelincir jadi memegang lehernya karena pergerakan agresif Ken yang semakin bergerak memajukan badannya.


Dia menjauhkan lagi badannya.


Dia membawaku dengan menggendongku ke dalam mobilnya.


Aku meronta-ronta melepaskan diriku dari padanya.


Shit.. pelukannya sangat erat.


Dia mendudukkanku ke kursi belakang begitu pun dia tanpa melepaskanku, membuat posisi dudukku di menyamping berada di tengah kedua paha Ken yang terbuka lebar mengapit bokongku yang sedikit menyentuh bagian kursi. Ken menutup pintu. Kemudian dia menaikkan salah satu kakinya menimpa kakiku untuk mengunci pergerakanku. "Di ***** ya sayang... Di *****."


Dia kembali menciumku. Shitt.


"KEN!"


Kekuatan emosionalku memuncak!


Dia Brengsek!


Aku spontan menampar Ken, merangkulnya dengan tangan kananku, menjatuhkanya dengan satu hentakan jatuh ke bawah kursi.


"MATI KAU!" Tak sampai itu aku memitingnya yang sudah terkapar dengan posisi terlungkup.


Dia meringis kesakitan kemudian tertawa terbahak-bahak. "Val Val. Susah ya kalau minta samamu."


"Sekali lagi kau ngomong. Kau beneran MATI."


Bukannya merasa bersalah dia malah tertawa lagi. "Iya Iya... Aku angkat tangan. Lepasin kek." Katanya pasrah.


"Biar aja. Biar sekalian patah!"


Dia tertawa. "Lehermu sangat basah waktu ku pegang tadi. Baru pertama kali ya?"


Aku semakin memperkuat pitinganku.


"Ah.. sakit sakit." Ringisnya. "Oke oke aku salah. Lepasin dong."


"Awas kalau kau ulang! Aku ngak akan segan-segan membunuhmu!"


Dia mengangguk sambil menahan sakit.


Aku melepaskan pitinganku dengan mendorong tubuh kesal.


Aku bangkit dari posisiku yang menimpa badannya dan duduk dengan normal. begitupun dia, dia kembali duduk dan menarik nafas. "Ah... ngak seru."


"Bodo amat!"


"Kau jadi antar aku pulang atau gimana?! Kalau engak, aku pulang sendiri!"


Tanpa menunggu jawaban aku memegangi ganggang pintu hendak keluar.


Dia menarik lagi tanganku yang memegang ganggang pintu tadi.


"Iya iya. Aku antar."


Ken pun keluar dari sisi lain pintu mobilnya, memasukkan koperku ke sebelah dudukku. Dia menutup pintu dan masuk melalui pintu depan untuk menyetir.


"Nenekmu tinggal di mana?"


"Nanti aku tunjukin arahnya. Langsung aja berangkat." Kataku datar.


"Iya sayang."


Ck.


Dia melajukan mobilnya.


Aku memegangi leherku kaku.


Sial. Memoriku teringat lagi waktu dia mencium bibirku ganas.


"Kenapa? Sakit ya..." Katanya dengan nada melembut.


"Lain kali aku lakukan lebih lembut ya sayang." Dia tersenyum nakal.


"LAIN KALI AKU BAWA PISAU... BIAR KU SAYAT BIBIRMU." Kataku dengan penekanan dan tatapan emosi.


Dia tertawa terbahak bahak. "Lihat aja nanti."


Damn...


Dasar Psikopat..... Arghhhhhh....


Kenapa aku harus terjebak dengan orang seperti ini ya Lord....


Berat sekali ujian ini....


***


Sreett.


Mobil Ken berhenti. Kami tepat sampai di rumah lamaku setelah 1 setengah jam perjalanan aku mengarahkan Ken menuju rumah.


Ken keluar dari mobil. Aku langsung keluar saat dia keluar juga sambil membawa koperku, aku ngak mau sok sok romantis sama dia kayak dibukakan pintu gitu.... Ishhh...


"Val. Kok keluar, kan aku mau bukain pintunya untukmu." Kata Ken datar.


Bener kan..


"Ngak perlu."


Aku langsung melewati Ken.


"Val." Dia mengikutiku dari belakang kemudian menyamakan langkah denganku.


Aku memberengnya dengan tatapan sinis. "Ngapain kau dan sini.... Sana sana." Usirku.


"Ish.. Seharusnya kau bilang makasih lah."


"Heh? Setelah segala tindakan dursila mu padaku... Aku harus berterima? Ngak ada ahlak kau ya?!" Kataku sambil terus berjalan.


Sesampainya aku di depan pintu. Aku mengetuknya.


Deb.


Ken yang tadinya berdiri di sebelahku memelukku erat. "Aku ngak akan lepas kalau kau ngak bilang makasih."


Damn. Kalau nenek lihat gimana?!


Dia mendekatkan wajahnya ke arah pipiku hendak mencium.


Pintu mulai membuka.


Arh... Aku kalah... Aku harus berterima padanya!


"Makasih. Cepat lepaskan."


Dia tersenyum miring. "Pakai kata sayang baru aku terima."


"Makasih sayang." Kataku cepat.


Dia menciumku dan tetap memelukku sampai pintu terbuka.


Shit


Keretak.


Gangang pintu terbuka, yang menampakkan wujud nenek.


Aku auto menyikut perut Ken keras. Dekapannya terlepas dan tangannya jadi memeluki dirinya kesakitan.


Nenek melihat Ken agak shock. "Eh. Kamu tak apa nak?"


"Ohok, ngak apa nek." Ken sedikit terbatuk karena pukulanku tadi.

__ADS_1


Mampus kau.


__ADS_2