Magic You

Magic You
chapter 69


__ADS_3

Catatan penulis:


Jangan lupa like, komen, dan vote ya... (Kalau ngak ada vote bisa di beri hadiah/gift ya..." Thanks.


 


"Aku baru kali ini mendengar dia bernyanyi. Suaranya sangat buruk. Cih. Tapi kenapa aku terus mendengarkan suara buruknya.."


Sepertinya dia berkata sambil tersenyum. Terdengar dari nadanya.


"Aku dan dia pun pergi bersama. Rasanya sedikit lucu karena dia terus menyangkal bahwa dia tidak menyukaiku, padahal dari tadi dia naik motor bersamaku dia kepergok tersenyum senyum."


Aih... Malu maluin banget aku.


*** (Rekaman berikutnya)


"Aku akan memberikan buku diary nya hari ini. Ngak mungkin aku terus menyimpan ini. Barang ini juga tak berguna bagiku.


Wajahnya sangat memerah saat dia mengetahui diarynya padaku. Heh.


Aku menyukai ekspresinya.


Dia terlihat lucu saat dia panik karena kebodohannya. Dasar bego.


Tapi aku sangat benci ketika dia mendekat dengan si Anak baru itu. Sok akrab.


Aku mengatakan bahwa aku pacar Valen. Agar si pengganggu itu pergi dari hadapan Valen."


"Dia begitu kesal padaku karena aku terus mengerjainya. Dia pergi begitu aja."


"Sesampainya aku di rumah dan membaringkan badanku lelah. Dia datang lagi.


Kembali menjelaskan mengenai dirinya adalah urusan peri. Dia sangat serius dan matanya tampak berbinar memohon aku untuk percaya.


Ternyata ini alasannya kenapa dia selalu datang ke sini.


Gejolak emosional ku melonjak, hatiku meluluh saat melihat ketulusan. Aku memeluknya. Hangat. Itu yang ku rasakan.


Perasaan apa ini?


Sesaat kemudian dia menghilang... Huh?


Apakah benar dia... utusan peri?"


***(Rekaman berikutnya)


"Darahku memuncak saat melihat Valen dengan Rio sedang bermain basket.


Aku menelpon Valen menyuruhnya agar nanti pulang bersamaku.

__ADS_1


Dia menolak.


Aku langsung mematikan ponselku. Ck.


Buat kesal saja...


Kesal? Kenapa aku harus kesal?


Aku tak suka melihat Valen dengan pria lain selain aku. Aku tak tau kenapa... Tapi aku beneran sangat tak suka jika itu terjadi!


Jadi aku putuskan untuk pulang bersama mereka pulang sekolah ini.


Setelah sampai di rumah Valen aku mengatakan bahwa aku bakalan datang ke rumahnya lagi malam ini.


Kalau memang di utusan peri seperti yang di katakannya, pasti dia bakalan mengikuti permintaanku untuk menyelesaikan misinya.


Dan ya, malam ini aku datang dan bilang mengenai misi padanya. Dia terlonjak kegirangan.


Dia tampak kegirangan di awal perjalanan, aku melihatnya terus tersenyum dari spion motor. Senang itu kah dia? Cih, dasar bego.


Dia bertanya padaku mau mengajaknya ke mana, sebenarnya aku juga ngak tau mau kemana. Tapi tempat favorit ku hanyalah yang bersangkutan dengan buku. Jadi aku mengajaknya ke perpustakaan umum.


Dia mengomel karena aku membawanya ke perpus. Aku tak peduli.


Sewaktu di parkiran perpustakaan, helm yang di kenakannya macet clepnya menyangganya sehingga sulit baginya membuka helm itu.


Aku kembali berjalan ke arahnya karena sempat meninggalkan karena terlalu lama berjalan. Ku dekatkan wajahku padanya sambil melihat clep helm. Jantungku berdegup kencang tak karuan.


Dengan cepat aku membuka clep itu. Saat ku lihat lagi wajahnya. Dia sangat merah. Heh... Lucu sekali. Dan bahkan saat kami membaca buku di perpustakaan, bukunya terbaik, segrogi itukan dia? Hehe..


Karena aku sedang berbaik hati. Aku mengajarnya sampai dia paham.


Memang aku akui, dia sangat lamban dalam belajar, membuatku terkadang kesal sendiri. Tapi ya mau gimana lagi, kalau aku bekerja aku ngak suka setengah setengah. Sekali mengajar, ya harus tuntas. Jadi aku lanjut terus mengajarnya."


***(Rekaman berikutnya)


"Hari ini melihat Valen tengah berjalan dengan temannya. Dia memberi kode agar aku pergi. Tapi karena aku iseng, ya kerjain aja sekalian. Aku malah memperkenalkan diri ku sebagai pacarnya. Dia terlihat sangat marah padaku. Hehe... Itu pembalasanku karena membuatku kesal kemarin saat mengajar otaknya yang loading lama.


Aku mengajaknya ke perpustakaan, kemudian kami makan siang di tempat makan di dekat situ. Setelah kami makan dan hendak kembali ke perpus, aku melihat mama, ck... Aku yakin di sedang bersama pacarnya sekarang.


Mereka setimpal. Papa dengan istri barunya dan mama dengan pacar barunya, palingan sebentar lagi mereka menikah... Cih.


Dan si bego ini mengira aku suka sama tante tante. Aku bilang itu mamaku. Dia malah terkekeh. Bego.


Dia menyuruhku untuk menyusul mama dan pulang bersama mama. Tapi aku sangat muak melihat keluargaku. Tak ada yang bisa di andalkan. Ck.


Melihat raut wajahku, Valen mengajakku ke taman. Dia mengatakan kata kata yang sangat sering aku dengar di drama drama serial yang pernah aku tonton... -'Hidup itu harus berlanjut, jadi jangan memikirkan kesedihan, jadi carilah kebahagiaan.'- Itulah yang dia katakan. Cih. Kata kata klasik... Tapi itu terdengar sangat berbeda saat dia yang katakan.


Aku memeluknya.

__ADS_1


Cih. Apa ini kebiasaan baruku memeluknya?


Aku menyukai kebiasaan baru ini.


Aku suka ketika merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang sedekat ini.


Bahkan aku sangat nyaman saat memeluknya.


Cih.." kata Jessen sedikit terkekeh.


***(Rekaman berikutnya)


"Dia ada ujian minggu depan, tapi dia malah bermalas malas dan coba menghindari diri dari ku agar ngak belajar. Dasar.


Aku tak membawa kereta.


Kemarin aku bertengkar dengan mama kerena tak menggubris kalimat yang di katakan mama.


Aku sangat membenci mama membawa pria itu datang ke rumah. Menjijikan!


Fasilitas ku di tahan dan terpaksa aku harus mengunakan kendaraan umum.


Aku tak peduli.


Aku pikir Valen akan menjauhiku karena aku sekarang tampak tak bermodal seperti ini. Tapi dia tampak terlihat bisa saja dan terlihat santai berjalan bersamaku.


Aku senang.


Namun itu hanya beberapa saat sampai aku pulang ke rumah. Aku kembali melihat mama dengan pria asing itu. Ck.


Aku langsung masuk ke kamarku dan mandi memenangkan diri.


Aku hendak makan sehingga aku pergi ke ruang makan. Mataku menjadi sangat panas melihat mama sedang bercumbu dengan si pria kurang ajar itu. Ingin sekali aku memukul pria itu. Tapi aku sadar, untuk apa aku memukulnya, agar mama kembali ke papa?... Cih... Rasanya tak mungkin!


Selera makanku menurun. Aku pun keluar dari rumah mencari udara segar.


Rintik rintik hujan beberapa sudah menetes ke bumi. Aku mempercepat langkahku dan berakhir di halte. Hujan deras pun mengguyur.


Air mata ini tak mau menetes lagi. Sangat terbiasa dengan hal kejam dunia ini lakukan padaku. Menutup mata dan merasakan dekapan dingin yang menyelimuti hatiku yang sangat panas.


Aku tak tau ini bisa menjadi kebetulan. Tapi Valen datang dan menemaniku di sini. Dia keras kepala dan tak mau pulang kalau aku ngak pulang. Dia memaksaku terus dan terakhirnya dia mengajakku ke rumahnya dari pada di sini.


Kenapa dia sangat peduli?


Aku bahkan bukan siapa siapa baginya?


Aku sangat senang sekarang. Tapi kesenangan itu sirna karena aku mengingat sesuatu...


Ah... Aku baru ingat. Ini pasti karena dia ingin menyelesaikan misi. Aku bukanlah seorang yang spesial baginya.

__ADS_1


Hm..."


__ADS_2