
Tok tok tok
"Non, non... Makan dulu non... Dari tadi siang non tidur mulu. Non..." Panggil bibi dari belakang pintu kamarku.
Ahr... Aku merenggangkan badanku baru terbangun dari tidurku, aku mendudukkan diriku dan beranjak ke pintu kamar dan membukanya. "Iya bi." Aku pun langsung berjalan ke meja makan di ikuti oleh bibi yang langsung menyediakan makanan di meja yang di hadapanku sekarang. "Ini non. Silahkan di makan."
Tak banyak bicara aku langsung makan.
"Non dari tadi bibi perhatikan kok lemes amat non? Sakit ya non?" Bibi kuatir akan keadaanku.
Aku melihat bibi sambil berusaha tersenyum. "Ngak bi, cuma kelelahan aja bi." Aku kembali memakan makananku. Setelah selesai aku kembali beranjak ke kamarku.
Tak dapat di pungkiri hari ini terasa sangat mengesalkan. Apa coba si Jessen?! Kenapa tiba-tiba ngajak putus? Masa cuma gara-gara salah ucap dia langsung begitu!
Kalau semakin kupikirkan rasanya semakin geram saja.
Aku menutup pintu kamarku.
Hus.. hembusan nafasku sangat dalam keluar.
Kuperhatikan sekeliling kamarku. Aku melihat ada beberapa kotak sepatu di bawah lemari bukuku, di sana aku menyimpan sendal jepit berbuluku. Bisanya aku menggunakannya saat aku kedinginan ataupun keadaan lingkungan hawanya dingin. Aku berjalan ke sana, membuka kotak sepatuku dan memperhatikan sendal yang berbulu ini. Gabut.
Pandanganku menjadi kabur dan terasa seperti melayang... Sepertinya aku tau akan kemana.
Blush
Aku berada di kamar Jessen. Dia menatapku dari bangku tempat dia belajar. Karena terbakar emosi aku melemparkan sendal yang kugenggam.
Pletak
Tepat mengenai wajahnya, aku tertawa puas. "Jessen! Kau pikir aku wanita apaan Huh?! Seenaknya kau memutuskanku! Dasar kurang ajar!"
Aku coba menahan emosiku yang dari tadi sudah terlanjur meledak.
"Kau tak bisa seenaknya memutuskanku!"
Dia tersenyum hambar. "Huh, kau masih nekat menjadi pacarku cuma karna agar kau dapat menyelesaikan misi bodohmu kan?"
Aku terdiam.
Kenapa aku begitu marah putus dengannya? Dan bahkan aku tak sama sekali berfikir untuk menyelesaikan misi. Aku marah pure karena aku tak terima putus dengannya.
"Beri aku alasan kenapa kita harus pacaran." Dia mengintimidasiku dengan tatapannya.
"Karena kau butuh aku!" Aku berdiri tegak dan mengepal kedua tanganku yakin.
Dia kembali tertawa hambar. "Begitu ya?" Dia kembali menulis di bukunya dengan cepat, mengoyakkan selembar kertas dan memberikannya padaku. "Selesaikan 10 soal ini. Kalau kau berhasil baru kita pacaran. Serahkan jawabannya ke aku besok di perpustakaan umum kota, tempat biasa aku duduk. Serahkan paling lambat jam 3."
__ADS_1
Aku menarik kertas itu kasar. "Aku akan menyelesaikannya! Lihat saja!" Aku membalikkan badan dan keluar.
***
Setiap menit aku mengumpat karena soal yang diberikan Jessen. Aku bingung lihat si Jessen, ni orang suka banget dah sama matematika. Kepalanya ngak puyeng apa?!
Apa coba soalnya ini!
"Diberikan garis yang menghubungkan dua
titik (1, 2) dan (16, -8) dan parabola y^2\= 4x.
Ambil M sebagai titik potong garis dan sumbu simetri parabola. Tunjukkan bahwa jarak dari titik M ke puncak parabola adalah sama dengan panjang latus rektum.
Koordinat (x, y) dari suatu titik yang bergerak
diberikan oleh x \= 2 + t^2,y\= 4t.
A. Tentukan hubungan antara x dan y.
B. Jika digambar pada kertas grafik, berbentuk
apakah kurvanya?
C. tentukan puncak, fokus, dan panjang latus
D. Tentukan persamaan Kartesian dari kurva
dengan persamaan parameterX\=t(t-2), y \= t +1
E. tentukan puncak, fokus, dan persamaan garis direktris kurva tersebut"
Kubaca soal pertama yang diberikan Jessen padaku. Udahlah soalnya sulit... Beranak lagi... Arh...
Aku memijat kepalaku pusing memikirkan ini.
***
Aku sungguh-sungguh dalam membahas soal ini, di kelas aku sangat diam sambil membuka balikan buku mencari cara menjawab setiap soal yang di berikan Jessen.
Jam istirahat pun demikian, sebenarnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk belajar di kantin sekolah di waktu istirahat, tapi mau gimana lagi, batas waktu hari ini. Aku harus bisa jawab soal ini. Harus bisa!
Takk
Tessa menghenakkan meja makan di hadapanku. "Woy! Kau kenapa tiba-tiba rajin?"
Aku tetap fokus memandangi bukuku. "Ini menyangkut nyawa tes... Udah kau tenang aja." Aku menulis lagi ketika menemukan cara yang kurasa tepat untuk di soal.
__ADS_1
"Yes!" Aku mengenggam tanganku dan menaikkannya ke atas. "Aku udah siap satu soal!" Aku menatap Tessa bangga.
Tessa yang masih terkaget karena jeritanku, dia memukul kepalaku. "Tenang woy! Aku juga punya jantung!"
Dia mengelus dadanya menenangkan detak jantungnya. Kemudian kembali bertanya. "Memangnya berapa soal lagi?"
"Hehe, 9 soal lagi."
Tessa mengangguk. "Hem."
"Ya udah, makan aja dulu. Besok kan bisa di lanjut." Sambung Tessa.
Kali ini aku yang menghentakkan meja. "Besok besok... Kumpul hari ini Pea, jam 3!"
"Eh buset... Cepetlah kerjakan. Sini-sini aku bantu." Tessa menawarkan bantuan.
Mataku berbinar melihat kebaikan Tessa. "Makasih tes."
Tessa membaca soalku. "Gila nih! Payah banget!" Tessa melihatku. "Siapa yang ngasih? Sulit Val!"
Tessa yang begitu pinter di kelas aja udah bilang gitu. Gimana lagi aku yang bego ini.
"Udah tes ngak usah di bahas siapa yang ngasih soal. Yang penting ini soal siap aja."
Tessa meraih ponselnya, mengetik-ngetik sesuatu. "Gila, soalnya ngak ada di Gugele cuy... Cuman yang nomor satu aku tau."
"Ya iya lah, dia aja nulis soalnya spontan dari otaknya." Kataku pasrah, aku kembali meraih soal dari tangannya Tessa." Udahlah aku jawab lagi aja." Aku kembali mencoba menjawab soal psiko ini.
***
Kepalaku sangat pusing sekarang. Aku masih bergumul dengan soal Jessen di perpus sekolah. Ini udah jadwal pulang sekolah, tapi aku masih di sini. Sambil mencari buku mana yang harus kucari rumus yang tepat menjawab soal ini.
Satu tangan memberiku minuman jus jeruk tepat di hadapan wajahku. "Ini untukmu." Aku mendongak ke arah atas. "Kak Rio!"
Dia tersenyum dan duduk di sebelahku. "Jangan terlalu di porsir, kamu bisa sakit."
Sangat terharu melihat kebaikan kak Rio. Aku beneran sangat lelah dan kepalaku beneran ngak sanggup lagi untuk berfikir.
Aku menahan air mataku yang mau tumpah. Gini banget hidupku. Berusaha harus membahagiakan seseorang yang bahkan tak mengharapkan kehadiranku.
"Aku akan menemanimu sampai selesai." Sambungnya sambil meletakkan tasnya di meja dan kembali menatapku. "Aku akan mendukungmu." Dia menyemangatiku. Rasa haru tak terkatakan. Aku pun menangis.
Dia memelukku. "Udah jangan nangis. Kalau belajar harus semangat dong."
Kenapa dia sangat baik padaku.
Tanpa aba-aba tangan ini pun membalas rangkulan kak Rio. Rasanya kekuatanku kembali.
__ADS_1