
"Dia pacarku."
Kalimat Jessen berhasil membuat mulutku ternganga dan menyergitkan dahi. Gimana tidak, pacar? Apa coba maksudnya?
Kak Rio menatapku bingung. Dia tampak memikirkan sesuatu, selang beberapa saat dia tersenyum dan merangkul Jessen sambil membisikkan sesuatu.
Jessen malah menatap kak Rio datar dengan senyuman. Kemudian menoleh ke arahku.
Aku tak mau punya masalah lagi dengan Jessen sekarang. Karena kalau aku bilang ke kak Rio kalau aku bukan pacar Jessen, Jessen akan menjauh dan misiku tak akan pernah selesai, ditambah aku akan selalu tertimpa segala kesialan. Lebih baik aku mengiyakan saja. "Em. Iya, aku pacaran nya."
Jessen mengalihkan pandangannya dariku dan menatap Rio. "See."
Yang lebih gilanya, Jessen melanjutkan jalan tanpa merasa bersalah.
Rio masih menatapku. Aku coba memberi Penjelasan. "Ma maaf kak, aku."
"Ngapain berdiri di situ. Cepat." Jessen memotong kalimatku.
Sontak aku langsung memalingkan wajahku ke arah Jessen dan berjalan mengikutinya. Rasanya kesal harus mengikuti segala keinginannya. Ini kulakukan demi menyelesaikan misi, mengenaskan sekali.
Kak Rio menarik tanganku ketika aku hendak berjalan menjauhinya. Aku menoleh ke arah kak Rio. "Ngak usah di turutin. Ikut aku aja."
Pengen kak... Pengen...
Langkah kaki Jessen terdengar mendekat. Aku melihat ke arah Jessen yang menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah kami. Dia menatap kak Rio. "Lepasin tangannya."
Kak Rio kembali menatap Jessen sinis. "Kalau aku ngak mau, kau mau apa?"
Waduh, bisa berabe nih. Aku langsung melepaskan tanganku dari kak Rio. "Maaf kak, hari ini aku ada urusan sama kak Jessen. Maaf... banget kak." Aku melipat kedua tanganku memohon pada kak Rio, berharap dia mau memaafkanku.
Kak Rio yang begitu baik dan berbesar hati mengelus kepalaku. "Iya, tak apa. Tapi ingat ya, besok harus pulang bareng." Dia menaikkan kelingkingnya.
Thanks God.
Tak berfikir panjang aku menyambung kelimat kak Rio dan menyumbarkan senyuman. "Oke kak."
Jessen melanjutkan jalannya tak peduli, aku mengikuti jalan Jessen sambil melambaikan tangan ke arah kak Rio dan di sambut dengan lambaian dan senyuman darinya.
***
Selama perjalanan aku terus memikirkan satu hal. Kenapa Jessen bilang aku ini pacar nya?
Dan yah, aku jadi kepedean sekarang. Apa mungkin Jessen beneran suka sama aku ya?
Ah.. jadi malu.
Kami berhenti di parkiran perpustakaan. Dan berjalan masuk ke dalam.
Shh. Males banget aku.
Aku mendengus kesal. "Kak kok ke sini sih?"
Dia menatapku datar kemudian kembali memalingkan wajahnya menatap depan. "Tumben panggil kak, biasanya panggil aku kau."
__ADS_1
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Ishh"
Dia tersenyum kecil. "Kau harus banyak baca buku. Biar pintar."
Aku menyerongkan sisi bibir atas ku kesal. "Iya tau, aku memang bego."
Tapi isi kepalaku masih banyak pertanyaan tentang perilaku dan kalimat Jessen tadi.
Terlihat Jessen tengah memilah buku di yang ada di rak yang berada di hadapannya sekarang.
"Aku mau nanya." Aku menatap Jessen dalam dalam.
Dia menoleh ke arah ku. "Hem."
Aku memegangi daguku penasaran. "Kenapa tadi kau bilang aku pacarmu?"
Dia kembali menatap buku yang ada di hadapannya. "Dan kau kenapa bilang iya?"
"Ya... Ya karna... " Aku jadi bingung mau jawab apa. "Jawab dulu pertanyaanku lah, masa kau tanya balik?!" Sambungku.
Dia mengambil buku yang ada di hadapannya dan berjalan menuju meja baca buku. Dia duduk. "Kalaupun kau bilang ke dia kalau kau bukan pacarku, aku tak peduli." Dia menatapku datar dan terkekeh sinis kemudian kembali membaca bukunya. "Tapi kau malah menjawab ya."
Jadi dia mempermainkanku.
Arr
Malah udah baper lagi.
Tunggu tunggu... Kalau ada orang yang tau kejadian tadi gimana? Dan kalau si Jessen bilang aku sebenarnya bukan pacarnya dan bilang aku cuma kepedean... Dimana kutaruh mukaku?! Belum lagi kak Rio bakalan jijik lihat aku... Arhhh
Aku berjalan ke arahnya dan memukul meja nya. "Kalau sampai orang lain tau kita boongan pacaran gimana?! Kau mau tanggung jawab!" Aku duduk di hadapan Jessen dengan kesal sambil mengacak-acak rambutku kesal. "Kau gila ya?!"
"Kalau gitu, pacaran beneran aja." Katanya masih dengan menatap bukunya.
Mataku terbelalak mendengar kalimat dari mulutnya. Aku mengorek kuping dengan kelingkingku untuk memastikan kupingku tidak tersumbat. "A apa?"
Dia menatapku. "Kalau tak mau juga aku tak peduli."
Sekali lagi aku menggaruk kepalaku dengan kesal. Sebenarnya maunya apa sih?! "Memangnya definisi pacaran menurutmu apa sih?! Cuma ajang mainkan wanita?! Argh... Aku cabut!" Aku berdiri dan berjalan dari hadapan nya.
Jessen menggenggam tanganku. Membuat ku berhenti. "Kau pikir aku akan mempermainkanmu?
Aku menelan liurku dengan penuh penekanan. Kok jadi gini? Aku berpikir sejenak sebelum aku membalikkan badan. Apa dia akan mempermainkanku lagi? Aku melihat wajahnya, sangat datar, aku tak tau apa yang dipikirkan nya. "Kau serius?"
Dia melepaskan genggaman tangan nya, memalingkan wajahnya dan tertawa tanpa bersuara.
Damn, dia mempermainkanku lagi.
Dia mengusap kepalanya. "Kau mudah tertipu ya."
"Kenapa sih kau suka mempermainkanku? Apa karna kau menganggapku sebodoh keledai ya?!" Ketusku.
Dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum meledek. "Mungkin." Setelah itu wajah Jessen berubah menjadi serius. "Tapi tentang pacaran aku serius."
__ADS_1
Ngak ngak, aku ngak boleh baper ke dia untuk ke sekian kalinya.
Sadar val... Sadar...
"Aku ngak percaya." Aku memalingkan wajahku dan berjalan menjauh darinya.
Persetan dengan rasa malu yang akan kuterima besok atau lusa atau sampai kapan siswa siswi di sekolahku akan meledekku karena kebodohanku yang menyatakan bahwa aku pacaran dengan Jessen padahal dia hanya bercanda. I don't care.
***
Di kamar aku sangat kesal.
Arh..
Sedari tadi aku hanya mengutuki diriku yang selalu bertindak bodoh.
Aku ngak mau terus menerus di bilang bodoh sama tu orang. Aku harus belajar! Aku ngak mau di bodohi lagi sama dia!
Aku berjalan ke meja belajarku. Melihat buku yang tertata di sana. Dan yaa, aku bingung harus baca apa...
Aku mengacak rambutku kesal. "Aku ngak tau mau baca apa?!"
Aku berpikir sejenak sambil menghidupkan ponselku yang ada di meja belajar. "Apa ya?"
Dan seketika aku seperti mengambang dan pandanganku menjadi kelabu.
Kedebuk
Terasa aku seperti terjatuh. Tapi tidak terlalu keras.
Aku mendongakkan kepalaku.
Damn, ya kali ini aku di rumah Jessen.
Aku mendengus kesal. Why?! Why?!
Kenapa aku harus di sini ketika aku tadi udah tampak keren meninggalkan Jessen begitu aja di perpustakaan. Kan kelihatan aku kayak pengemis cinta! Sial, sial, sial!
Aku mencoba berdiri dari posisi tidurku di lantai. Aku melihat Jessen sedang tertidur pulas.
Fuhh, syukurlah
Aku berjalan dengan pelan dan hati-hati ke luar kamar Jessen. Membuka pintu kamar dengan penuh kehati-hatian agar Jessen tak terbangun.
Kok ngak bisa terbuka.
Aku mencoba dengan tambahan sedikit tenaga namun masih dengan kehati-hatian.
Masih tak bisa terbuka.
"Pintunya terkunci bego."
Mataku terbelalak mendengar suara Jessen.
__ADS_1
Dia bangun!