Magic You

Magic You
Chapter 102


__ADS_3

Guys.... lagi mengalir nih inspirasi author... hehehe... ini semuanya karena dukungan kalian...


hari ini author akan crazy up...


yuk terus dukung author biar rajin up...


happy reading guys...


---------------------------------------------------------------------------


...Author POV...


Rio berjalan menyusuri koridor sekolah. Berharap menemukan seseorang, siapa lagi kalau bukan Tessa. Dia sangat merindukan wanita itu, padahal semalam baru saja berjumpa.


"Ck. Mana sih." Decak Rio kesal tak kunjung menemukan Tessa.


Mata Rio sibuk mencari keberadaan Tessa. Dan akhirnya matanya puas karena menangkap sosok yang di nanti.


Tessa duduk di dalam kelas. Valen tak datang dan Tessa tak tau kenapa.


Tessa memukul meja pelan. Rasanya menyebalkan. Di saat dia ingin cerita betapa menyebalkannya orang tuanya kemarin, di saat itu Valen malahan ngak hadir, di telfon ngak di balas dan bahkan sudah di spam chat juga ngak di tanggepi.


"Pokoknya hari ini aku harus ke rumah Valen." Ucapnya dengan nada pelan tapi dengan penekanan.


Kelas Tessa tiba tiba riuh karena kedatangan seseorang.


'Cih. Bukannya ini istirahat, ribut banget sih.' Batin Tessa.


"Ya ampun. Ganteng banget."


"Manis banget."


"Kak. Udah punya pacar belum."


"Minta nomor wa dong."


"Hai... Kenalan dong."


Tessa lebih memilih untuk tak menggubris mereka dan lebih baik kembali membaca buku sempoa.


Yup, Tessa sangat mahir dalam hal sempoa. Dia sangat suka menghitung. Itulah sebabnya orang tua Tessa memberikan dia les privat khusus untuk sempoa sejak kecil namun berhenti pada saat dia memasuki SMP karena memang sudah bosan dengan itu dan lebih fokus untuk mengejar cita cita nya sebagai arsitek dan menekuninya.


Tapi hari ini karena dia lagi badmood makanya dia memilih untuk menghitung deretan angka dengan cara sempoa bayang (menghitung dengan membayangkan seolah olah sempoa ada di depannya sebagai alat penghitung, sehingga jika orang melihat Tessa seperti jari tangannya saja yang bergerak gerak meja)


Srett


Kursi sebelah Tessa yang kosong berdecit karena di geser ke belakang.


Tessa menoleh.


Rio.


Tessa yang terlalu malas dengan keadaan hari ini memilih untuk kembali melanjutkan perhitungan nya.


"Sayang. Makan yuk." Ucap Rio yang membuat kelas jadi hening tak bergeming. Bagaimana tidak baru kali ini mereka melihat bintang kelas terpintar, tercool dan teracuh malah mendapatkan cowok setampan sekaya dan sebersinar Rio Alaska anak sang pemilik sekolah ini. Dan juga... Bukannya dia itu Playboy plus Badboy plus Fuckboy berkedok wajah aktor papan atas?


Tessa menatap Rio tajam dan kemudian menatap ke arah semua temannya, membuat orang yang di tatap bergidik ngeri dan memalingkan wajah tak berani meledek cie cie. Bukan karena takut Tessa yang garang, tapi takut ngak akan di kasih nyontek lagi kalau saja membuat dia kesal.


Rio yang masih baru di sekolah ini rada bingung. Emangnya pacarnya ini setan apa makanya mereka pada takut?


"Sayang. Mereka..."


"Kenapa." Sanggah Tessa datar.


"Em. Kamu..."


"Aku kenapa." Sanggah Tessa cepat lagi.


Ya ampun. Galak banget. Ucap Rio dalam hati.


Tanpa aba aba Rio memeluk Tessa yang membuat Tessa kaget bukan main.


Rio menatap lekat Tessa sambil tersenyum. "Aku kangen kamu."


"Pfff." Beberapa teman Tessa menahan tawa sambil memegangi mulut.


"Gombal o gombal." Tawa seorang. Semua menatap Gian yang membuat dirinya sadar sendiri dan berhenti tertawa. "Mampus. Ngak bisa nyontek lagi aku." Dia menatap takut Tessa yang memicingkan mata nya tak senang.


Di situlah Rio tau dan peka. 'Ternyata pacar aku sumber kunci jawaban soal toh... Juara kelas rupanya..'


Tessa melepaskan pelukan Rio dan kembali menatap buku. "Ngak lapar. Pergi aja sendiri ke kantin."


"Oww... Dapat penolakan dong." Ledek Ridwan ngakak.


"Sabar bro. Udah banyak yang coba cara mu, tapi ngak luluh juga mah dia." Sambung Tristan.


'Huh? Jadi aku bukan cowok pertama yang coba ngerayu Tessa?' Pekik Rio dalam hati.


"Ngak bakal jadi pacar juga bro. Hatinya batu." Sambung yang lainnya.


Rio tersenyum singkat. 'Berarti... Aku cowok pertamanya dong? Hm...'


Tessa bangkit berdiri. Tak ingin terus jadi sorotan. Tessa pergi meninggalkan kelas dan kemudian di susul cepat oleh Rio. "Yang... Yang... Mau ke mana?"


***


Tessa terpaksa duduk di perpustakaan kosong. Dia duduk di pojok perpustakaan yang jarang ada yang pernah menempatinya.


Tessa mendengus kesal saat Rio datang dan duduk di sebelahnya. "Apaan sih Yo."


"Kok aku di tinggal." Rengek Rio.


Tessa berdiri dan melihat deretan buku yang hendak di bacanya tanpa menggubris Rio.


Rio bangkit berdiri dan merangkul pinggang Tessa mengikis jarak mereka. Deg!


"Jawab." Rio menatap tajam Tessa.

__ADS_1


"Aku ngak suka keramaian." Jawab Tessa dengan wajah musam.


"Kamu buat keributan di kelas buat aku kesal tau ngak." Tessa menatap Rio dengan manik mata indahnya membuat Rio yang tadinya kesal karena di tinggal malah tersihir.


Eh tunggu. Kamu?


Kamu?!


Dia panggil aku kamu!


Rio semakin senang.


Cup. Rio mencium bibir Tessa. Kepala Rio sudah mengingatkannya untuk tidak lakukan, tapi rasanya dia sangat ingin melakukannya.


Rio yang baru tersadar buru buru menjauhkan wajahnya dari Tessa.


Benar saja. Tessa sangat marah. Bahkan wajah nya sangat merah padam.


Rio takut kalau Tessa bilang...


"Rio. Kita putus."


Deg!


Rio seperti mati kutu. Badannya membatu dan rasanya seperti mati rasa. Pasokan udara seperti menipis membuat harinya sangat remuk dan hancur.


Ini pertama kalinya dalam hidup Rio dia putus dan merasa sangat merana.


Tessa mendorong Rio dan pergi meninggalkan Rio dengan rasa marah yang bercampur aduk.


Seperti ada air yang mengalir di pipi Rio. Rio menlap itu. "Air mata?" Pasalnya Rio tak pernah menangisi seorang wanita manapun yang menjabat sebagai pacarnya.


Hati Rio seperti hancur seketika. Membuat badannya sangat lemah.


***


Tessa berjalan ke lapangan olahraga dengan menghentakkan kaki. Bagaimana bisa first kiss nya diambil seseorang yang bukan suaminya. Rasanya kesal sekali. Tessa sangat membenci Rio.


Ish...


Terutama lagi hari ini juga sangat mengesalkan. Sekarang adalah jam olahraga yang seharusnya bisa jadi tempat Tessa dan Valen mengobrol malah jadi tempat kesendirian Tessa.


Dia merindukan Valen. Dia ingin curhat sekarang.


"Rio. Leles amat. Jam olah raga nih." Ucap seseorang membuat Tessa menoleh ke sebelah sumber suara.


Rio?


Rio masih tampak lesu karena habis putus.


Astaga kenapa bisa samaan gini jam olahraga nya. Dan kenapa Tessa baru tau?


Ah iya. Sekolah kan lagi banyak perlombaan, jadi banyak guru yang sibuk mengurus perlombaan termaksud guru olahraga kelas kak Rio. Ck. Kenapa harus kelas gabungan lagi!


Arh... Tessa semakin kesal saja!


Beberapa saat kemudian guru olahraga kelas Tessa hadir dan memberikan instruksi untuk pemanasan.


Tessa pun mengikuti saja.


Tanpa sadar Rio juga terkejut kalau dia sama jam olahraga pengganti itu sama dengan kekasihnya. Ehm, maksudnya mantan.


Rio hanya menatap Tessa tanpa mendatanginya. Rio takut membuat Tessa semakin marah lagi.


Karena kelas Rio sedang tak ada guru yang mengajar. Beberapa anak kelas cowok di kelas Rio bermain basket. Begitu pun Rio.


Tapi Rio tetap saja tak fokus dan sering kali mencuri pandang melihat Tessa.


Brugh


Rio memegangi kepalanya yang ketimpuk bola basket.


Segera beberapa teman Rio menghampiri. "Eh. Yo. Ngak apa kau?"


Rio hanya mengibas ngibaskan tangannya. "Ngak. Ngak apa. Kalian main aja sana. Aku mau ke UKS."


Tapi sebenarnya memang rasanya sangat sakit. Belum lagi dia harus berjalan ke UKS seorang diri.


Tessa ngak sengaja melihat Rio yang melintas lapangan seorang diri sambil memegangi kepalanya.


"Dia kenapa?"


Rio melihat ke arah Tessa kemudian melihat ke bawah lagi melanjutkan langkahnya.


'Apakah salah kalau berharap dia bakalan datang padaku karena kuatir aku sakit? Cih. Kayanya ngak bakal.'


Tessa melihatnya jadi ngak tega. Dia kenapa megangin kepala gitu sih... Dia sakit?


Pemanasan telah berlalu. Dan seperti biasa mereka bisa melakukan olahraga sesuka mereka, biasanya pembebasan jam olahraga ini di perbolehkan dalam akhir bulan. Karena ini akhir bulan makanya olahraga sekarang bebas.


Tessa yang kepo dengan Rio pun mengikutinya.


Beberapa langkah berjalan. Tessa melihat Rio masuk ke UKS.


Bener kayaknya dia sakit.


Tessa pun masuk ke dalam UKS dengan mengintip.


Rio tengah berbaring dan tertidur pulas.


Seseorang menoel bahu Tessa. "Eh dek. Mau masuk jengukin kawannya ya?" Ucap ibu penjaga UKS.


"Eh. Em enggak Bu."


"Terus ngapain di sini?"


"Em. Cuma mau nanya doang Bu."

__ADS_1


Alis ibu itu bertautan bingung. "Mau nanya apa?"


Tessa menunjuk Rio. "Dia sakit apa Bu?"


"Oh.. Kepalanya ketimpuk bola basket."


Tessa menganguk.


"Agak rada aneh memang anaknya. Waktu di tanya kenapa bisa ketimpuk, dia malah bilang karena ngak fokus main basket dia fokus lihat wanita cantik."


'Cih. Tuh kan. Baru aja putus, udah liatin cewek lain. Dasar nyebelin!' Tessa geram dalam hati.


"Kalau ngak salah dia bilang namanya Tessa manis tiada duanya. Hem... Ada ada aja anak muda jaman sekarang." Sambung ibu itu sambil terkekeh.


Tessa juga jadi tergelitik mendengar kalimat itu.


"Oh ya dik. Bisa jadi UKS sebentar. Ibu mau keluar sebentar beli obat Paracetamol. Baru habis soalnya.


Tessa menganguk. "Baik bu."


"Makasih ya dik. Ibu pergi dulu."


Tessa menganguk dan ibu itu pun pergi.


Tessa datang ke tempat Rio dan duduk di kursi yang ada di sebelah Rio.


Tessa melihat wajah Rio dengan menumpukan rahang pada tangannya menatap Rio intens.


Tessa mungkin memang marah karena perlakuan Rio tadi. Tapi ntah kenapa di sisi lain Tessa juga ngak mau kalau Rio jauh darinya.


Tessa mengusap rambut Rio pelan. "Kalau di lihat lihat. Ganteng juga."


Mata Rio terbelalak kemudian melihat Tessa. "Serius?"


Tessa terkejut dan menarik kembali tangannya. "Jelek."


Tessa langsung berdiri tak melihat Rio dan berbalik hendak pergi.


Tep


Tangan Rio mengenggam Tessa dan menariknya dalam pelukan Rio yang sudah menanti dengan posisi duduk.


"Yang aku kangen. Jangan marah lagi." Rio mendekatkan wajahnya.


Kedua manik mata Tessa menangkap tatapan mata Rio.


Tessa membuang wajah nya acuh. Jantungnya sangat berdebar, kenapa dia jadi gelagapan begini?


Rio memeluk Tessa erat. "Yang... Aku ngak mau putus. Hm."


"Aku sayang kamu."


"Please ya... Pokoknya ngak mau putus."


Rio terus berbicara. Dia tak ingin Tessa lepas dari nya. Sungguh. Dia sangat mencintai Tessa, sangat.


Jika di tanya mengapa?


Ya karena cuma Tessa yang mampu merebut hati nya seutuhnya. Bahkan pikir Rio pun di renggut oleh Tessa tanpa sisa, Rio sangat mencintai Tessa.


Rio melemah kan peluka nya dan menatap Tessa dalam.


"Kepalamu masih sakit?" Tanya Tessa.


Rio berdecak kesal. "Ih ngapain sih bahas kepala aku. Sekarang yang jadi korban itu hati aku. Gimana sih kamu."


Tessa rasanya ingin tertawa, tapi dia tahan menjaga harga diri. Belum lagi Tessa juga masih sangat kesal dengan tingkah Rio yang menciumnya sembarangan.


"Lepasin aku. Aku ngak suka." Kecam Tessa.


Rio langsung melepaskan pelukannya.


Tessa bangkit berdiri. Dan menatap tajam Rio. "Aku bakalan maafin kalau kau membuatku terkagum dari segi prestasi. Aku suka dengan cowok yang lebih pintar dariku."


Rio mendesis tak terima. "Yang kok gitu."


"Aku tak peduli. Laksanakan atau tidak itu terserah padamu."


Rio bangkit berdiri. "Okey. Aku gak akan kalah."


"Tapi kalau aku menang. Aku jadi pacarmu dan bisa menciummu sesukaku."


"Ngak mau. Kalau gitu aku yang rugi. Lebih baik putus aja sekalian." Tessa jadi sebel sendiri telah memberikan kesempatan pada Rio.


Rio kembali mengenggam tangan Tessa. "Ya ya ya... No kissing no problem. Asalkan kamu kembali jadi pacar aku." Ucap Rio berharap.


"Hm. Ya udah. Aku mau balik ke kelas dulu."


Rio menarik pelan tangan Tessa. "Yang... Aku masih kangen."


"Selesaikan dulu janjimu baru bisa sayang sayangngan."


Tessa melepaskan pergelangan tangan nya dari tangan Rio.


Tessa tersenyum. "Kalau kau bisa selesaikan. Akan aku kasih hadiah."


"Apa??" Tanya Rio antusias.


"Nanti dong. Tunggu kalau beneran kai selesaikan misi."


Rio mengerucutkan bibirnya. "Hmm... Iya."


Tessa pun pergi meninggalkan Rio.


Bukan tanpa alasan Tessa buat rencana itu. Kenapa? Karena Rio itu anak nakal dan sering bolos. Jadi Tessa ingin merubah sikap Rio yang buruk itu perlahan.


Ingat. Tessa paling ngak suka cowok yang nggak taat aturan dan nakal. Camkan itu.

__ADS_1


__ADS_2