
Catatan penulis:
Jangan lupa like, voment dan kalau bisa di vote ya...
Oh iya btw, aku punya cerita baru loh. Judulnya: "Turn Back Dimensi"
Bisa di cek di akun aku ya guys...
Ceritanya ngak kalah seru kok...
Oke aku sudahi aja ngomong nya ya wkwk... Selamat membaca...
Love you
________________________________________________
...Ken Prov...
ku terkejut mendengar perkataan Cya. Sedangkan dia hanya sedang membaca buku kecilnya sambil masih menggenggam ponselnya di telinganya.
Dia tau kalau aku yang jemput mama kemarin?
Dia mematikan ponselnya dan kembali menatap ke datar ke bukunya.
Eh.. Aku...
Aku kembali menelponnya.
"Hm." Katanya.
"Kenapa di matikan?!"
"Karna kau diam."
Ck.
"Kalau kau tau kemarin aku yang jemput mamaku, kenapa kemarin kau seolah-olah ngak kenal aku?" Aku penasaran.
"Karna kau berharap aku tak mengenalimu kan, makanya kau pakai Woody yang tertutup dan masker?"
Aku meneguk salivaku berat.
Dia benar.
Kalimatnya singkat tapi sangat menusuk. Aku terdengar seperti orang jahat, meninggalkan dia sendirian kemarin sedangkan dia menolong mama.
Aku terus memperhatikannya dari tempatku berteduh.
Dia menutup bukunya dan melihatku. Wajahnya masih sama seperti biasa, sangat datar.
Apa yang dia pikirkan tentangku sekarang?
"Ken!!" Seseorang memanggilku.
Aku menoleh ke arah kananku dan melihat Theo merangkul mesra seorang perempuan datang ke arahku dengan beratapkan satu payung yang di genggaman Theo.
Mataku terbelalak mengingat Cya.
Dia pasti melihat ini.
Theo merangkulku.
Aku tak memperdulikan dan melihat Cya.
Sial. Dia masih melihat ke arah sini.
Theo yang bingung melihatku yang hanya diam, mengerakkan pandangannya ke arah yang kupandang.
Dia juga terdiam.
Tercyduk.
Srestt.. Bush...
Bis berhenti tepat di seberang sana yang menutupi sosok Cya. Sesaat kemudian bis berjalan dan hanya meninggalkan angin.
Cya pergi dengan bis tadi.
Aku masih terdiam dan mengarahkan pandanganku ke bawah.
Ponselku masih hidup. Sambungan telepon tadi tak terputus.
Langsung aku arahkan ponsel itu ke telingaku. "C Cya.."
"Hm." Masih dengan nada datar. Bahkan tak bergetar seperti orang menahan tangis.
"K kkau." Aku bingung mau bilang apa.
"Aku udah pulang. Kau pulanglah."
"I..iya." Hanya itu yang dapat aku katakan.
Dia mematikan ponselnya.
Aku melihat ke arah Theo yang masih kaku dengan keadaan tadi.
Dia menatapku. "Itu Cya?"
Aku hanya mengangguk.
Dia mengusap tengkuknya kaku. "Aku. Pulang dulu ya."
"Hm." Ucapku singkat.
Mereka pergi meninggalkanku.
Aku mengusap wajahku. "Huff."
Aku bahkan sejahat itu padanya, mendekatkannya pada pria hidung belang padanya.
Aku menghela nafas berat.
Aku pulang ke rumah ajalah. Aku pun menerobos hujan dan pergi ke rumahku menggunakan motor.
Hujan mengguyur diriku sepanjang perjalanan.
Kemudian aku mengingat sesuatu. Ku pukul jidadku.
Aduh.. Kan aku bawa jas hujan. Ngapain aku nekat terobos hujan sih...
Sudahlah, udah terlanjur.
Aku mengemudikan motor dengan cepat.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu di perjalanan, aku masih di perjalanan menempuh hujan ini.
Aku terus memperhatikan jalanku.
Sreet
Ku hentikan motorku karena lampu merah. Ck. Lama.
Aku pun memperhatikan sekitarku.
Bekicot?
Dia berhenti di halte lagi?
Buat apa?
Kali ini dia berdiri sambil menjulurkan tangannya melewati kanopi halte, membuat telapak tangannya basah terkena hujan.
Bib bib
Mobil di belakangku sibuk mengklaksonin aku. Aku melihat ke arah lampu lalu lintas. Oh, udah hijau rupanya.
Aku mengendarai motor ku ke arah bekicot yang ada di seberang jalan.
Aku mengentikan motorku dan mencagaknya di depan halte. Aku pun berjalan ke arahnya.
Sekarang aku berada di sebelahnya. "Kok kau ngak pulang?"
"Malas." Katanya tanpa melihatku.
Aku melihat tangannya yang masih sibuk menampung dan membuang air hujan.
"Woy. Jangan main hujan."
"Kenapa?"
"Nanti kau sakit."
Tunggu. Ngapain aku peduli.
Dia mencipratkan air yang di tangannya kebawah dan kembali meletakkan tangannya di sebelah badan. Dia menatapku nunjuk badanku.
Oh iya. Aku bahkan lebih parah. Basah kuyup.
"Aku laki-laki. Lebih kuat dari padamu."
Dia hanya menggelengkan kepalanya.
Dan kembali menatap depan.
Dia memeluk badannya.
Dia kedinginan?
Aku terkekeh. "Bekicot bisa kedinginan juga rupanya."
Dia memberengku.
"Kau bukannya tinggal di tempat becek, basah dan kotor ya..." Aku menunjuk genangan hujan di hadapan kami. "Noh berendem di kubangan, pasti kau segar. Hahaha."
Aku tertawa puas.
Dia hanya diam.
Aku menghentikan tawaanku kaku.
Aku sebenarnya sangat tak enak padanya.
"Kenapa diam? Pulang aja." Katanya lagi.
"A aku di sini aja." Ucapku.
Dia terp singkat. Dia menghembuskan nafas berat singkat. "Hem. Kau tak perlu merasa bersalah."
Huh?
Dia menatapku datar. "Bukankah kau mendekatkanku dengan Theo untuk balas dendam karena kekesalanmu padaku?"
Deg. Dia...
"Kau pikir aku bodoh? Ngak mungkin seseorang bersikap baik pada musuhnya secara tiba-tiba kalau bukan karena maksud tertentu."
Aku terdiam tanpa kata.
"Walaupun begitu. Setidaknya aku pernah bersama dengan Theo walau sebentar."
Dia menatapku dalam-dalam. "Aku tak mungkin memaksakan perasaannya yang sebenarnya tak pernah mencintaiku kan."
Dia tersenyum garing. Kemudian mengacak rambutku. "Aku ngak akan menyesal pernah mengalami hal ini." Dia berhenti mengacak rambutku dan menarik tangannya kembali ke posisi semula. "Makasih."
Bush..
Bis berhenti di hadapan kami.
"Aku pulang dulu. Kau juga pulanglah."
Dia pergi dari hadapanku dan naik ke bis.
Aku tertegun melihat kepergiannya.
***
Esok harinya
Aku berjalan di koridor kampus. Aku melihat Cya juga berpapasan denganku. Aku sedikit memperlambat langkahku sambil memperhatikannya. Dia tak menggubris ku dan hanya sibuk dengan ponselnya. Dia terus berjalan, membuat dia sekarang berada di belakangku karena melewati ku tadi.
"Woy... Cupu. Ngak punya kaca ya?"
Aku sedikit menoleh dan melihat
Cya berhenti dan melihat ke arah wanita yang mencacinya tadi yang sekarang ada di sebelahnya.
Cewek itu mendorong bahu Cya dengan satu jari. "Cantik loh?" Sindirnya.
Cya menatap bahunya yang di senggol tadi sekilas. "Cih." Dia tertawa singkat. "Bukan aku yang bilang. Tapi kau yang bilang aku cantik."
Aku tersenyum miring.
Lawan si Cya makin panas. "Heh! Kau itu ngak lebih dari dakinya Theo tau ngak!"
"Aku? Daki?" Cya tersenyum datar. "Kalau seputih aku di sebut daki, gimana lagi orang hitam sepertimu." Dia menunjuk wanita itu dari atas sampai bawah. "Keraknya daki..." Hina bekicot.
Aku terkekeh sekejap.
__ADS_1
"Heh! Jaga mulutmu ya!"
Cya hanya menggelengkan kepala dan pergi gitu aja. Dan mengibas ngibaskan tangannya di atas. Membuat lawan bicaranya hanya dapat menghentakkan kaki kesal.
Tapi, tatapannya tadi sangat kosong.
Tunggu... Sejak kapan aku tau membedakan tatapan tu Cya natap orang?
Shh... Udahlah. Aku kembali berjalan.
***
Pulang perkuliahan aku berjalan di halaman parkir. Aku melihat Cya dsn Theo sedang mengobrol.
Huh? Theo sampai datang ke sini?
Ini pasti karena dia tercyduk Cya kemarin.
Kalau udah gini pasti dia bakal putusin hubungan dengan Cya.
Aku berjalan sedikit mendekat menguping.
"Cya, maaf aku sepertinya..."
"Hm.." Kalimat Theo terpotong Cya. "Maaf menjadi hambatan mendekati wanita lain."
Theo menatap Cya terdiam tanpa kata.
Cya tersenyum miring. "Pergilah bersama wanita itu. Aku tak berhak menghalangimu. Aku senang bisa dekat denganmu beberapa hari ini. Walau singkat."
Cya menatap Theo dengan tak menghilangkan senyumannya. "Makasih ya mau datang ke sini. Aku pergi dulu." Cya beranjak pergi. Kemudian berhenti sebentar danĀ sedikit menoleh ke arahnya. "Tenang aja. Aku takkan pernah menghubungimu lagi. Bahagialah bersamanya. Karena aku tau kau bukan milikku." Kalimat terakhirnya di bubuhi dengan senyuman yang tulus. Cya pergi.
Aku ngak sadar kalau Cya semakin lama semakin mengarah ke tempatku bersembunyi.
Karena baru tersadar aku langsung membalikkan badan, pura pura acuh.
Plak
Aku melihat ke belakang seseorang yang menimpuk kepadaku.
Cya.
"Nguping kok ketauan." Ucapnya.
Aku mengusap tengkukku kaku.
"Aku..."
"Hm.. terserahmu. Aku mau pulang dulu." Katanya cepat.
Dia pergi.
Aku melihatnya.
Dia.. selalu bertingkah aneh. Dan pikirannya selalu membuatku terkejut.
Aku mengacak rambutku. Sebaiknya aku pergi ke rumah Valen ajalah.
Aku pun pergi ke rumah Valen.
***
Aku mengetuk pintu rumah Valen.
Valen keluar.
"Hi by... Aku rindu..."
Dia menatapku datar. "Ken. Please. Aku bukan pacarmu."
"By. Aku ini..."
"Ken stop."
Aku menghentikan kalimatku.
"Aku ngak akan pernah bisa membalas perasaanmu sampai kapanpun. Aku ngak pernah suka sama mu Ken. Mengertilah."
Apa yang terjadi dengan Valen?
"By kamu kenapa?"
"Berapa kali aku bilang. Aku bukan pacarmu Ken. Aku tak mau menyakitimu semakin dalam lagi. Aku takkan bisa membalas perasaanmu. Hatiku bukan milikmu. Aku tak pernah sedikitpun mencintaimu... Ku mohon mengertilah." Valen tampak menahan tangis.
Kalimat itu sangat menusuk ke jiwaku. Sesak sekali.
Aku tau apa penyebab...
Jessen.
Cih...
Seberapa besarpun aku berusaha menarikmu dari Jessen. Tanganmu semakin kuat mengenggamnya.
Aku yang terlalu di butakan cinta. Malah menjadi menyakiti cinta yang ku sayangi.
Ambisiusku menyakitinya.
Pikiran melayang mengingat kejadian Cya tadi.
Apakah ini yang di maksud kau bukanlah milikku...
Tapi kenapa rasanya sangat sakit.
Aku menatap Valen. "Maafkan aku. Aku akan pergi."
Aku pergi dari hadapannya tanpa menunggu jawaban darinya.
Aku mengendarai motor pergi dari sini.
Di perjalanan aku terus menatap setiap halte yang ku jumpai. Berharap menjumpai nya...
Mataku terbelalak dengan perasaan penuh haru melihatnya tengah menunggu Bis sambil berdiri.
Aku berhenti di hadapannya. Dan turun dari motor berdiri di hadapannya. "Cya."
Dia menatapku datar.
Rasa pedih ini sangat dalam. Aku menatapnya dengan penuh rasa sedih yang teramat dalam. Aku memeluknya.
Rasanya aneh, tapi apakah ini karma karena menyakiti Cya karena sengaja ingin membuatnya terluka bersama Theo?
Aku jadi ikutan tersakiti.
__ADS_1
Cih.
Aku terkekeh singkat. "Kita impas." Ucapku pelan.