Magic You

Magic You
Chapter 74


__ADS_3

Catatan penulis:


Jangan lupa di like, comment, vote ( kalau ngak ada beri hadiah koin ya guys... Hehe) dan rate 5 ya...


mampir juga ke cerita aku yang baru ya... Judulnya "Choco Cake"


Ceritanya buat nagih loh... wkwk. banyak unsur bapernya. oh iya, ada cogan juga loh... 🙃👍😂


ceritanya mengenai seorang remaja bernama Gralista bernama temannya yang tak sengaja menemukan ruang aneh di rumah Gralista saat ingin menonton film. Hal aneh terjadi pada mereka saat mencoba mengikuti alur kinerja ruangan itu. hal yang hanya sekedar mencoba coba karena penasaran membuat mereka dalam masalah. Ruang itu membuat mereka berada di dimensi lain, bahkan sebelum adanya kemerdekaan!!! membayangkan hal itu... apa yang akan terjadi pada mereka? apakah mereka dapat kembali? atau...


penasaran ya... kuy langsung baca aja cerita baru aku itu... selamat mencoba yau...


Happy reading...


________________________________________________


 


...Ken Prov...


"Kau sangat menyebalkan kau tau!"


Aku kesal melihat Cya.


Dia hanya menatap ku datar.


"Jenis pertunangan macam apa ini?"


"Tak ada romantis romantis nya. Datar. Kaya ruang angkasa tau ngak... Hampa."


"Oke. Aku tak mempersalahkan kau yang selalu datar padaku. Tapi kenapa kau tak menunjukkan sisi lembut mu padaku saat ada di acara reunian temanku tadi sih?"


"Lihat tadi. Mereka bersama pasangannya sangat romantis. Berpegangan tangan, dan sangat terlihat hangat satu sama lain. Sedangkan kita? kita bahkan hanya berjalan berdampingan, tanpa pegangan tangan."


"Dan dan... Bahkan kau mengacangi aku bicara tadi. Kau sangat menyebalkan."


"Maunya tadi kau sedikit romantis kek, dikit aja." Aku sedikit menekan kalimat terakhirku.


Aku terus berdecak kesal.


Sedangkan Cya hanya diam dan tampak tak memperdulikan ku.


"Bahkan sampai sekarang kau tak pernah mau menciumku deluan. Ck menyebalkan."


Aku terus mengoceh selama perjalanan kami pulang dari reunian dengan menggunakan mobilku.


Kemudian dia menatapku datar.


Tunggu, apa aku terlalu banyak menuntut sesuatu darinya.


"Ke kenapa?"


Aku jadi canggung.


Dia terus menatapku datar.


"Ah. Sudahlah. Lupakan saja."


Aku kembali melihat ke arah jalan.


Perjalanan hanya hening tanpa kata. Dia juga tak ada berbicara sedikit pun.


Aku jadi ngak enak.


Setelah sampai rumah. Ku parkirkan mobilku di garasi rumah ku.


Yup, Cya di paksa untuk tinggal di rumahku sampai nantinya kami menikah.


Tiga hari lagi kami menikah.


Dan orang tua Cya yakin bahwa Cya akan semakin luluh jika kami bersama. Orang tua Cya tau bahwa anak semata wayangnya ini sangat datar pada semua pria. Mereka tak ingin anaknya juga memiliki sifat datar padaku yang merupakan calon suami nya.


Dan kau tau, dugaan orang tua Cya sangat salah. Dia juga sama datarnya padaku seperti dia sangat datar pada pria lain.


Dia pernah sangat marah padaku pada saat aku mencium dia untuk pertama kalinya.


Dia terus mendiamiku saat aku mengajak dia bicara dan jika berbicara dia hanya berkata singkat dan sangat datar, lebih datar dan semakin datar.


Sebenarnya, cowok idamannya seperti apa sih?


Menyebalkan sekali.


Dia keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


Meninggalkanku. Ck.


Aku pun masuk ke dalam rumah juga. Sedangkan security rumah menutup pagar.


Aku berjalan ke kamar. Membanting badanku gusar ke ranjangku dengan posisi duduk dan bersender pada punggung bagian atas ranjang. Memainkan ponsel dan mendengus berat.


Aku melihat ada ponsel Cya di atas meja lampu yang ada di sebelahku.


Terdengar suara air dari kamar mandi. Cya mandi.


Hm. Aku buka aja kali ponselnya ya. Aku belum pernah melihat ponselnya sekalipun.


Ku hidupkan ponselnya.


Ck. Pake sandi lagi.


Apa coba?


Tanggal lahirnya kali ya...


Saat aku jawab. Cih... Salah...


Arh... Mana mungkin aku tau sandinya...


Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami...


Ck.


Hm... Coba coba aja lah.


Apa mungkin tanggal lahir ku?


Cih. Mana mungkin.


Coba aja kali.

__ADS_1


Aku mengetik tanggal lahir ku.


Cling.


Terbuka?


Huh?


Serius?!..


Hahaha... Seromantis inikah dia?...


Aku terkikik dalam hati. Manis banget sih dia...


Cletak.


Pintu kamar mandi kamar terbuka. Dia selesai mandi.


Aku langsung mematikan lagi ponselnya. Dan ku letakkan seperti semula.


Hm...


"Geser." Katanya menyuruhku menyingkir.


Aku sedikit mengeser badanku dan memberikan bagian jarak agar dia dapat duduk di sebelahku.


Aku terus memandanginya.


Aduh.. manis banget sih...


"Ngapain senyum senyum?" Katanya datar.


Aku menggelengkan kepala sambil tetap tersenyum.


Aku memeluknya dari samping. Meletakkan kepalaku di atas salah satu bahunya.


Dia sedikit terkejut.


"I love you."


Wajahnya memerah. Tapi ekspresi datar.


Ah... Imut nya...


"Apaan sih. Sana sana." Dia mendorong ku.


Aku tak melepaskan pelukanku.


"Hem... Ngak mau." Rengekku. Dan mengeratkan pelukanku.


Dia mengenyerngitkan dahinya. "Tadi kau terus mengomel, sekarang malah jadi aneh. Dasar kentang."


Cih... Menyebalkan.


"Terserah. Aku tak peduli." Aku kesal sambil menatap wajahnya lekat.


Dia menoleh kearah wajah ku.


Deg...


Wajah kami sangat dekat.


Tangannya menyentuh lembut tengkukku. Memberikan sensasi yang sangat ku suka, kepalanya semakin mendekat.


Dan... Hem... Lembut sekali.


Dia mencium bibirku. Untuk pertama kalinya dia mencium bibirku lebih dahulu.


Mataku tertutup menikmati setiap sentuhan nya.


Aku hendak membalas sentuhan bibir lembutnya. Tapi dia melepaskan ciuman itu. Menatap ku lekat. "Aku tak suka mengumbar kemesraan di depan umum. Hanya kau dan aku saja. Paham."


Deg. Deg. Deg.


Jantungku berdegup kencang.


Hem... Aku baru tau sikapnya yang seperti ini.


Dia kembali mengerakkan jemarinya menyentuh leherku sangat lembut.


Ah... Aku suka sekali... Aku mendekatkan wajahku padanya, tak tahan ingin menciumnya.


Saat bibir ku sudah sangat dekat dengan bibirnya aku menutup mataku hendak menciumnya lagi.


Ctak.


Sentilan keras tepat mengenai jidadku.


Aku membuka mataku. "Ah. Sakit."


"Cukup sekali. Sana sana." Usirnya. Sambil melepaskan tangannya dari leherku. Mengambil buku yang di sebelahnya dan membaca buku itu dengan ekspresi datar.


Aku kecewa. "Baru aja mulai." Ucapku kesal.


"Baby... " Rengekku.


"Namaku Cya. Bukan Baby." Katanya datar.


"Ck." Decakku kesal


"Sayang... Cya sayang... Please..." Pintaku lagi.


Dia menatapku datar. "Ngak."


Emm. Aku kesal.


Ku ambil bukunya dan ku menariknya ke belakang ku dan mencampakkan nya ke lantai belakang ku.


Kalau dia ngak mau mulai. Aku saja yang mulai.


Ku pegang tengkuknya ku arahkan ke wajah ku. Menciumnya lembut dan lebih dalam.


Tanganku yang di tengkuknya tadi kembali ku arahkan ke pinggang nya, mengeratkan pelukanku. Mengerakkan badannya menghadapku agar aku lebih leluasa.


Tunggu...


Em... Dia membalas ciumanku.


Dan tangannya... Ehm... Mengusap tengkuku sangat lembut.

__ADS_1


Ku masukkan tanganku ke dalam kaus kebesaran yang di gunakan nya. Meraba tubuhnya...


Ah... Dia berkeringat...


Tanganku semakin meliar dan tak terkontrol. Aku tak ingin hanya menyentuh perut dan punggung belakangnya yang lembut aku ingin lebih.


Oh astaga... Aku tak tau lagi ingin berkata apa. Aku sangat menyukai sensasi ini.


"Kenm.. stopmm mm." Bibirnya mencoba berbicara padaku namun bibirku tak henti menciumnya.


Aku hanya menggelengkan kepala ku dan terus mencium nya.


Dia mendorong tubuh ku kuat. Membuat ciuman ini berhenti.


Kami terengah engah.


"Kau... Heh... Heh..." Dia mencoba mengontrol nafasnya. "Gila!... Heh heh..."


"Kita... Belum... Menikah!... Heh heh."


Kalimat itu menyadarkan ku.


Aku mengacak rambut ku kesal.


Arh... Sial!!


Aku harus menahan diriku dulu. Sangat kesal!!!!...


Sabar Ken... Tiga hari lagi... Tiga hari lagi...


Arh... Lama sekali...!!!!


Aku sedikit melompat ke arah nya dan memeluknya. Membuat tubuhku menimpanya.


"Aahh... Lama sekali menunggu lusa." Rengekku.


"Ck. Udahlah. Pergi sana." Katanya datar. Sedikit mendorongku.


Aku memayunkan bibirku menolak perintah nya. Aku menggeleng. "Hem.."


"Ish. Badanmu berat." Komennya.


Cih... Aku terkekeh.


Kalau gitu...


Aku menggerakkan badannya menyamping dan ku gerakkan juga badanku menyamping. Kami saling berhadapan sekarang.


Aku mengeratkan pelukanku. Aku tersenyum lebar.


Wajahnya tetap datar. "Apa sih?"


"Aku Cinta Kamu." Kataku.


Dia melukis kan senyuman kecil meremehkan. "Kamu?... Biasanya panggil kau... Atau bekicot..."


"Dasar ngak jelas." Sambungnya.


Aku terkekeh. "Aku lebih suka bilang kamu ke istriku ini."


"Kita belum nikah." Bantahnya.


"Istriku..." ucap ku manja. Aku tak peduli kalimatnya yang tadi.


Dia menggeleng malas.


"Istriku, sayangku, manisku." Sambung ku lagi.


Dia yang tak suka dengan godaan maut ku menutup matanya malas. "Aku mau tidur."


"Ah. Sayang kok gitu sih..."


"Yang... Sayang... Ayangg..." Aku menggoncang tubuhnya.


Kesal karena tak ada respon apapun.


"Ayang...." Aku merengek lagi.


Dia berdecak kesal. Membuka matanya dan memasang ekspresi datar. "Kamu tidur sekarang ya sayang. Biar kamu ngak sakit besok karena kekurangan tidur."


Baru kali ini dia berbicara sepanjang ini.


Aaa... Aku senang sekali.


Di panggil kamu dan sayang lagi.


"Kecupan tidur?" Pintaku.


"Emang kau masih TK apa. Kaya anak anak aja." Hinanya.


"Biarin... Yang penting aku di cium."


Aku tak yakin dia mau.


Tapi setidaknya aku mencoba. Hehe


"Ck." Dia kesal. "Ngak." Dia kembali menutup mata.


Aku merengek sambil menutup mata. Menggeleng geleng sepeti anak anak. "Aku mau cium... Cium... Sayang, aku mau di cium..."


Tiba tiba dia memegang tengkuku lembut.


Aku yang terkejut membuka mata, terdiam dan


....


Em...


Hehe, di cium...


Kali ini aku berhasil membuatnya mencium bibirku berkali kali.


Senangnya...


Dia melepaskan ciumannya. Menatap ku. "Udah kan."


Aku mengangguk. "Em." Aku menenggelamkan wajahku di bahu depannya dengan mempererat pelukan ku.


"I love you." Bisikku.

__ADS_1


__ADS_2