Magic You

Magic You
chapter 46


__ADS_3

Aku sangat panik di ruang tunggu ini. Hal yang terus berputar di kepalaku adalah Apakah Jessen akan baik-baik saja?


Astaga... Aku takut sekali.


Aku duduk di kursi tunggu sambil menutup wajahku dengan telapak tanganku.


Kakiku terus kuhentak hentakkan.


Ck. Mana sih nih dokter... Lama banget keluarnya.


Sreet


Pintu ruang Jessen terbuka. Tampak seorang lelaki paruh baya menggunakan baju rapi dan jas panjang putih yang menutupi baju yang di kenakannya. Itu dokter yang memeriksa Jessen tadi beserta beberapa staf perawat pria dan wanita yang berjalan di belakang sang dokter.


Aku langsung melangkahkan kakiku ke sana dengan segera.


"Dok. Gimana keadaannya dok?" Kataku dengan sedikit bernada tinggi bukan karena marah tapi karena kepanikan.


Dia menepuk pelan pundakku. "Dia tak apa. Kau tak perlu mengkuatirkannya."


Aku bisa bernapas lega. Syukurlah.


"Apakah saya bisa masuk dok?" Tanyaku dengan nada riang karena bersyukur tak terjadi hal buruk yang menimpanya.


Dokter itu dengan cepat menghalangiku masuk. "Maaf nak. Kamu tidak bisa berjumpa dengannya."


Eh?


Ah. Mungkin karena dia lagi butuh istirahat. Aku berusaha berfikir positif. "Baik dok. Dia memang butuh istirahat sejenak. Saya akan datang lagi besok dok."


Sang dokter saling menatap ke arah perawat secara bergantian seperti bingung mau berkata apa padaku.


"Kenapa dok?"


Dokter itu kembali melihatku. "Kamu tidak perlu lagi mengunjunginya. Karena dia perlu di rawat intensif selama seminggu." Katanya dengan nada pelan.


Aku sedikit bingung dengan kalimat yang dikatakan oleh dokter itu. "Tapi kenapa dia tidak bisa di kunjungi, padahal kan tadi dokter bilang dia sudah tak apa? Saya jadi meragukan kesehatan Jessen." Aku sedikit menyindir mereka karena jujur aku sedikit kesal dengan sikap mereka yang terlihat ambigu.


"Bukan begitu nak. Kami sebenarnya tak ingin menghalangi kamu berjumpa dengannya, tapi memang dia perlu di rawat lebih fokus, sehingga kami harus membatasi interaksinya dengan orang lain." Jelas Dokter.


Mendengar penjelasan itu aku jadi memakluminya. Mungkin memang aku saja yang terlalu parno-an sama keadaan Jessen sekarang.


Aku pun mengangguk mengerti. "Baiklah kalau begitu dok. Saya dapat memahaminya. Terimakasih ya dok."


Dokter itu membalas dengan anggukan dan senyuman kecil yang terlukis pada bibirnya.


Aku pun kembali dengan berjalan kaki.


***


Aku berjalan di trotoar jalan dengan perasaan yang masih sedikit kuatir dengan Jessen.


Semoga dia baik-baik saja.


Srak srak srak


Terdengar suara langkah kaki yang berlari dengan cepat dari arah belakangku.


Aku menoleh ke arahnya yang sekarang sudah berada di sebelahkj dengan ngos-ngosan. "Valen... Kau... Tadi... Kemana..." Tanyanya dengan mencoba menarik narik napas.


Aku berhenti yang kemudian membuat dia berhenti pula.


Lah. Kok bisa jumpaan?


"Kok kau ada di sini?" Tanyaku


Dia melihatku dengan masih mencoba mengontrol nafasnya. "Arah rumahkuh.. darih.. sinih..."


"Bernapas dulu yang bener." Kataku pada Ken.


Dia menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya. "Huhh."


Dia mulai terlihat bernapas normal lagi. "Jadi kan Val. Aku tadi sibuk mencari-carimu ke seantero kampus tau ngak. Kau melah ngilang." Ken melihatku dengan sedikit marah.


Mengingat kejadian tadi pagi, sepertinya dia masih mengkuatirkanku.


Aku memegangi terngkukku. "Em. Tadi aku langsung pulang ke rumah." Kataku datar.


"Tapi kok ngak sampe-sampe dari tadi."


Jleb


Ah iya... Bener juga... Aku memang ngak ahli dalam berbohong.


"Ya karna aku lama jalannya." Aku berusaha untuk tetap menjawab dengan tenang.


"Hem gitu." Dia percaya.


Fuhh, slamat.


Dia menatapku. "Kalau gitu aku antar pulang ya." Katanya dengan wajah tersenyum lebar.


Waduh...


"Oh iya. Kau udah pindah rumah ya. Soalnya aku pernah ke rumah kost mu. Kau udah ngak ada di situ." Ucap Ken penasaran.


Aku meneguk air liurku berat. Ngak mungkin kan aku bilang... Hehe, aku tinggal di apartemen Jessen. Dan soal yang waktu kau datang ke tempat Jessen, aku lagi ngumpet... Hehe


Kan ngak mungkin... Aih.


"Em itu. Memang aku udah pindah dari situ. Dan.." Aku bingung mau lanjutin apa lagi.


"Dan?..." Ken mengulang kalimat terakhirku.


"Dan... Aku lapar Ken. Kita makan yuk. Tadi siang aku sedikit makan." Aku coba mengalihkan pembicaraan.


"Hem.. Ini nih. Modus minta traktir." Ken memutar matanya malas.


"Hehe. Ya ya ya."


Aku berhasil mengalihkan pembicaraan.


Wow. Sebuah rekor yang ngak pernah ku dapat saat mencobanya pada Jessen.


"Hm iya. Kita makan apa?"


"Soto Wak iyan... Serius itu enak buanget..."


"Wak iyan siapa lagi sih? Ngak kenal."


"Ah elah. Iya aku tau kau tak tau tempatnya. Nanti aku tunjukin." Sambungku.


Dia hanya mengangguk dan kami pun pergi ke tempat rumah makan Wak iyan.


***


Dari tadi makan sampai selesai seperti sekarang Ken terus memandangiku sambil sesekali melahap makanannya.


Aku jadi bingung. "Kenapa?"


Dia kembali mengalihkan pandangannya ke gelas minuman yang berisi jus jeruk yang ada di hadapannya. "Mm. Val, nanti aku yang antar kau sampai ke rumahmu. Ini udah gelap."


Aku memukul kepalaku pelan.

__ADS_1


Aduh... Aku lupa, ngak mungkin kan dia ngak ngantar aku pulang, terutama karena aku cewek dan ini udah malam.


"Aku pulang sendiri aja." Aku bangkit berdiri. "Btw. Makasih traktirannya."


Dia ikut berdiri dan berjalan menuju posisiku.


"Aku harus mengantarkanmu pulang. Jangan membantah."


"Ta tapi..."


"Pokoknya harus." Dia mengandengku.


Fiuit


Dia bersiul sambil melambaikan tangan memanggil pelayan. Pelayan itu datang sambil masih mengira-ngira makanan yang telah habis kami makan tadi. "Rp. 30.000. mas."


Ken memberikan uang Rp. 100.000. "Kembaliannya ambil."


Memang ngak salah aku mengecapnya sebagai orang songong.


"Ma makasih mas."


Ken hanya mengangguk. Kemudian dia menatapku. "Ayo pulang." Dia berjalan yang membuatku pun mengikutinya karena gandengan tangannya.


Setelah beberapa langkah dari tempat makan ini, Ken kembali berhenti. "Rumahmu arah mana?"


Aduh duh... Bilang apa lagi coba?


"Em... Aku... Aku..."


"Aku apaan Val?" Katanya tak sabar dengan jawabanku yang menggantung.


"Aku..." Terbesit ide gila tapi bisa di coba. "Aku untuk sementara tinggal di jalanan Ken. Soalnya aku baru di gusur sama ibu kost karena ngak bayar terus."


Apa ku bilang... Gila kan...


Semogalah dia percaya samaku Tuhan!


Ken terdiam dan menatapku lurus sambil membolangkan matanya.


"Jadi gitu Ken." Kataku memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa saat tadi. "Mending kau pulang aja. Aku juga mau balik ke tempat biasanya aku numpang. Hehe." Kataku dengan sedikit bumbu tawaan garing.


"Valen!" Panggil Ken dengan keras membuatnya aku masih berada di hadapannya terlonjak kaget.


"Apaan?"


Dia menarik badanku dan mendekapku kuat. "Kenapa ngak pernah bilang sama aku? Kenapa?


"Ya.. karna."


"Aku ngak mau dengar penjelasan apa lagi! Pokoknya sekarang tinggal sama aku. Titik!"


Mataku terbelalak shock.


Tinggal sama Jessen aja bisa se-gila ini, apalagi kalau aku tinggal sama ni orang!


"Ngak ngak! Aku ngak mau!" Aku mendorong tubuhnya.


Dia menatapku dengan mata yang berapi api. "Aku ngak mau tau. Intinya. Kau. Tinggal. Bersamaku. Sekarang." Dia menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Aku ngak mau! Kenapa sih maksa banget. Aku ngak mau pokoknya." Sentalku.


"Val. Kau buat aku habis kesabaran."


Dia menarik tubuhku dan mendekapnya lagi. Mendekatkan wajahnya. "Aku ngak mau terjadi sesuatu yang ngak-enggak samamu. Jangan membantah."


"Atau..." Gantungnya.


"Atau apa?"


Anjritt.... Kalau aku paksakan tetap bilang aku pilih tidur di jalanan, pasti dia bakal ngekor aku sampai di jalan mana aku numpang tidurnya. Padahal kan aku boong... Aihhh.


Aku jadi kacauuuu


"Gimana?"


"Ish... Kau ini buat aku sakit kepala saja!"


"Tuh kan. Sekarang aja udah sakit kepala. Nanti kalau kau jadi sakit, siapa coba yang rawat... Makanya aku harus ada bersamamu."


Masalahnya bukan itu Saccaromices Cerrevisiae... Tindakan gilamu ini loh yang buat aku semakin sakit!!


"Iya iya... Aku tinggal bersamamu." Kataku pasrah.


"Tapi ingat. Cuma hari ini! Besok aku langsung pindah ke rumah kakek dan nenekku!" Aku menggaruk kepalaku kesal. "Ini semua cuma karena rumah mereka jauh... Jadi ngak mungkin hari ini aku ke sana!"


Terukir senyuman kemenangan dari wajahnya. Dia merangkul tanganku dan berjalan, membuatku sedikit tertarik karena menyeimbangkan langkah kakiku dengannya.


Ish... Kenapa jadi gini coba?!


***


Ken langsung membawaku ke rumahnya. Rumah Ken sangat besar njir. Padahal yang tinggal cuma dia dan beberapa pembantu dan sekarang karena Ken menyuruh mereka istirahat, membuat tak satupun mereka yang kelihatan sejauh mata memandang. Anak Sultan.


Dia melarang aku membawa segala barang-barangku yang kubilang aku tinggalkan di tempat penitipan barang. Dia akan meminjamkan pakaian untukku.


Sebenarnya aku tak mau. Tapi, kau taulah si Ken.. Dia selalu maksa. Takutnya jika aku bersikukuh menolak akan membuat semakin buruk keadaan yang sudah buruk ini.


"Ini baju dan celanaku. Pakailah setelah kau mandi." Kata Ken sambil memberikan pakaiannya.


Aku melihat baju yang di berikannya. Baju putih kebesaran dengan celana pendek di atas lutut berwarna hitam. "Heh! Celananya kok pendek amat. Bahkan baju ini lebih panjang dari pada celananya."


Dia tersenyum nakal kemudian mendekatiku perlahan. "Kalau gitu kamu ngak usah pakai celana aja. Aku juga suka itu."


Buk


Kupukul kepala Ken dengan pakaiannya yang kugulung di tanganku.


Dia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia mendengus. "Sakit tau."


"Kau sih gila! Bener kan dugaanku.. Kau mengajakku sekarang pasti karena modus!"


Dia tertawa. "Ngak enggak... Aku tadi bercanda doang. Makanya, wajahmu itu lemesin napa. Kaku amat."


"Terserahku lah." Decakku.


"Aku mau mandi. Dimana kamar mandinya?"


Dia menunjuk ke arah kanan. Sedangkan di arah sana sangat lebar dan panjang. Tak tampak kamar mandi.


"Di ujuuuungg sana. Jauh pokoknya Val." Jelasnya.


"Ya anterin lah." Cetusku.


"Ck. Mager.. Kalau kau mau mandi, di kamar mandi kamarku aja."


Ini pasti modus lain darinya!


"Ngak. Ngak akan." Sentalku


"Ya udah. Terserah. Aku mau ke kamar dulu." Dia membalikkan badan. "Oh ya. Btw, kamar untukmu ada di ujuuuungg sana juga. Tapi lebih jauh dari kamar mandi. Di sana sedikit horor sih. Saranku kau banyak banyak berdoa, karena udah lama ngak ada penghuninya. Dan..."


"Ken! Kok kau jadi nakut nakutin sih!"

__ADS_1


"Lah... Aku bukan nakutin. Cuma mengingatkan. Yang penting udah aku beritahu ya."


"Ken!"


"Bye Vale.."


Aku memeluknya dari belakangnya reflek sebelum dia pergi meninggalkanku sendirian. Sudah ku bilang, aku sangat takut yang namanya dengan hal hal yang berbau kegelapan dan... Hantu.


"Kau harus..." Aku menghentikan kalimatku. Aku ngak boleh salah ngomong untuk nyuruh dia biar tidur bersama. No wayyy


Aku melepaskan pelukanku tapi tangannya langsung menimpali tanganku yang belum sempat melepas dari perutnya.


Damn


Dia masih memegangi tanganku dengan salah satu tangannya dia mencoba membalikkan badan kemudian mendekapku lagi.


Badannya sesaat bergetar menahan tawa. "Hmm. Sepertinya bukan aku yang modus."


"Enak aja! Aku tadi refleks karena takut tau! Bukan modus!" Aku masih berusaha melepaskan pelukannya.


"Masa?"


"Ya iya lah... Kau tuh yang modus! Ngapain kau jadi peluk! Lepasin!"


"Kau luan yang peluk. Aku mah refleks meluk juga."


Ishh buat makin emosi aja nih orang!


Karena dia ngak bisa di bilang lembut, aku pun memukul perutnya dengan tenang badak.


Dia meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya.


"Mampus." Hujatku.


Aku pun melenggang pergi menuju kamar tamu. Bodo amat dengan rasa takut! Pokoknya besok aku pindah.


***


Di kamar aku menelepon nenek.


"Halo Valen..."


"Iya nenek."


"Tadi pagi nenek baru kirim uang ke kamu... Maaf nenek dan kakek kemarin lagi banyak kerjaan kemarin kemarin. Jadi nenek kirim uang 3 kali lipat ya..."


Asik asikkkk


"Makasih ya nek... Love you nek..."


"Iya sayang... Kamu sehat sehat kan di sana?"


Sakit nek... Sakit kepala... Huhu..


"Sehat kok nek." Aku bohong.


"Syukurlah. Jangan lupa makan ya Val. Jaga kesehatan ya Val."


"Siap nek... Sekali lagi makasih ya nek. Nenek juga harus jaga kesehatan loh..."


"Iya Valen. Nenek pasti selalu jaga kesehatan. Belajar yang bener ya."


"Iya nek."


"Selamat malam Valen."


"Malam nek."


Nenek mematikan teleponnya.


Rasa senang menyelimuti diriku. "Yes. Besok bisa keluar dari sini."


Senangnya...


***


Aku bangun dengan bahagia pagi ini. Hem... Ini hari apa yakk?...


Oh iya, hari ini kuliah!


Aku langsung bangkit berdiri. Aku melihat jam di ponselku, menunjuk jam 4 pagi.


Fuhh. Masih jam 4 rupanya.


Btw aku mau pake baju apa ya?


Hm. Udahlah gini aja. Aku mandi aja dulu. Abis itu aku nulis surat untuk si Ken bahwasanya aku pulang dan terimakasih tumpangan rumahnya. Nah habis itu aku kembali deh ke rumah Jessen.


Eh tunggu... Mengingat Jessen, misiku udah selesai berapa ya?


Malah bukunya sama Jessen lagi. Ck.


Aku kesel sama tu buku, saat orang ngak butuh kehadirannya dia nongol tiba-tiba. Tapi di saat orang nyariin tu buku, bukunya malah ngak balik. Dasar aneh!


Ah.. Dari pada mikirin itu dan membuat waktu banyak terbuang. Lebih baik aku keluar dan mandi.


Wkwk. Btw kemarin aku belum mandi... Udah asam badanku...


Setelah aku mandi dan berganti pakaian -tapi engak dengan celana. Aku ngak mau pakai celana pendek itu!- Aku pun menulis surat di kertas. Di kamar tamu ini sangat lengkap segala perlengkapannya. Bahkan perlengkapan tulis yang ngak sama sekali terpikir untuk ditaruh di kamar tamu ada di sini.


Setelah selesai. Aku pun beranjak keluar kamar menuju ruang tamu.


Para pelayan rumah udah sibuk dengan pekerjaan mereka. Sebelum aku pergi ke ruang tamu, aku melewati dapur. Ada bibi yang lagi memasak sarapan. Aduh jadi ngak enak.


"Bi." Tegurku.


Bibi itu menoleh sambil tersenyum ramah. "Iya non."


"Eh. Panggil Valen aja bi."


"Baik non Valen."


"Em maksudnya. Ah sudahlah, ngak apa bi." Aku memegangi tengkukku. "Bi, saya izin pulang. Ini saya udah tulis surat untuk Ken. Nanti tolong di berikan ya bi. Sekali lagi makasih ya bi."


"Tapi non."


"Iya bi. Ngak apa ya bi... Soalnya saya mau cepat. Makasih ya bi."


Ktek


Seseorang menyentil telingaku. "Kalau ucapin makasih secara langsung lah."


Aku mendongak ke arah sumber suara.


Ken menatapku datar.


Hedehh. Kenapa juga dia harus bangun... Kan jadi ribet dah ini urusannya.


catatan penulis:


jangan lupa tinggalkan like, vote, rate dan comment ya para readers ku...


kalau boleh bisa di beri hadiah ya... wkwk...

__ADS_1


thanks semuanya...


__ADS_2