Magic You

Magic You
Chapter 93


__ADS_3

Catatan penulis:


hi guys.... mari di dukung ya shay karya aku... gimana caranya...



vote cerita aku


like dulu sebelum baca ya guys... (kenapa ngak habis baca aja? karena takutnya kalian baca dan lupa ngak terlike jadinya.)


beri hadiah ke cerita aku guys...


Rate bintang 5 cerita aku yauuu



Dan... juga... kalau kalian suka sama cerita aku jangan lupa di share ke teman teman kalian ya guysss..


buat aku semakin semangat nulis ceritanya guys... ongehh...


pokoknya love you banget lah guys...


salam sehat... jangan lupa jaga kesehatan. Terapkan 3 M dalam aktivitas kalian guys...


love you all


Dia melihatku. "Kau ngak belajar?" Tanya nya. Kemudian wajahnya kembali menatap buku.


"Huh? Ini kan jam istirahat." Ucapku sambil sebelum nya melihat jam tanganku.


Dia mengangguk. "Oh ya. Aku lupa."


Huh?


Dia seperti mencari topik pembicaraan atau... Ada yang ingin di bicarakan nya?


"Kau mau ngomong sesuatu ya? Resah banget."


Dia sedikit terkejut kemudian kembali tenang. "Ngak ada."


Aku mengedikkan bahuku ke atas dan kebawah. Terserah sih.


Aku terus melihat nya.


Serius... Jessen hari ini aneh.

__ADS_1


Dia menatapku datar. "Val."


"Hm."


"... Aku sayang kamu."


Deg.


Aku mengusap tengkukku kaku. "Okey."


"Kamu?" Tanyanya lagi


"Juga sayang kamu."


Dia tersenyum kecil sambil sedikit mengangguk. "Sayang kamu. Cuma kamu."


Aku mengangguk.


"Sangat tulus padamu." Katanya lagi.


Aku kembali mengangguk.


"Aku ngak mau kehilangan kamu."


Aku mengangguk.


Aku mengangguk.. eh?... "Huh? Apa? Gimana? Maksudnya?" Mataku terbelalak menyadari kalimat nya.


"Dengerin dulu." Katanya memegang tanganku memenangkan ku yang terlanjur spot jantung.


"Mama menyuruh untuk menikah dengan wanita pilihan nya. Aku menolak. Jadi mama memberi aku pilih, menikah dengan jodoh yang di pilihnya atau pilih jodoh sendiri dengan syarat harus menikah bulan depan."


Aku menutup dan membuka mataku terdiam dan terbodo...


"Val please... Mau ya." Ucapnya memohon.


"Kita bakalan tetap sekolah. Kau jangan kuatir. Hanya saja... Kita menikah."


"Aaku ngak tau jjes.." Aku beneran ngak tau harus apa.


Dia menatapku lemah. "Hm. Ya udah. Aku takkan memaksakan kehendak." Dia menghembuskan nafas berat.


Dia kembali membaca buku nya.


Dia meletakkan bukunya di meja dan mengepal melipat tangan nya.

__ADS_1


Dia bahkan tak fokus membaca bukunya.


Tapi aku juga ngak tau harus gimana...


Apa juga yang harus aku katakan ke nenek sama kakek nanti.


Arh... AKU NGAK TAU....


Aku kembali melihat nya. Dia sangat prustasi.


Ya ampun....


Dia tiba-tiba menoleh ke arah ku.


Aku sedikit terkejut. "Em." Aku melihat ke arah lain. "Ehem. Kkalau kau bisa bicara dengan nenek dan kakek. Aku setuju."


Dia tersenyum. "Baiklah. Hari ini aku datang ke rumah mu."


"Hari ini?!"


Dia mengangguk. "Tentu."


Aku memegangi tengkuku. "Terserah deh."


Aku merapikan buku yang ku bawa tadi ke sini. "Aaku pulang.. em, maksudnya balik ke kelas dulu."


Aku bangkit berdiri, begitupun dia.


"Mau aku bantu bawa bukunya." Tanyanya.


Aku menggeleng. "Hm. Ngak usah Jes."


Dia langsung mengambil bukuku. Jessen membungkukkan badan menatapku. Dia tersenyum.


Cup.


Deg..


Dia menciumku.


"Aku yang bawa." Dia tersenyum smirk.


Deg deg


Aku terdiam sejenak. Kemudian kembali merebut bukuku. "Aku aja yang bawa." Kataku tanpa melihat nya.

__ADS_1


Aku mempercepat langkahku meninggalkannya.


Jantungku astaga!!...


__ADS_2