
catatan penulis:
jangan lupa di like komen dan vote ya... kalau ngak ada vote bisa di beri hadiah juga boleh kok wkwk...
happy reading guys 🤗❤️
Di kamar aku sangat bosan belajar. Ingin makan cemilan rasanya.
Hem... Aku ke dapur lah. Mana tau ada cemilan.
Aku berjalan menuju dapur. Membuka beberapa lemari kecil di sana. Tapi tak ku jumpai di mana cemilan yang harapkan. Ck.
"Bi.." panggil ku.
"Iya non." Sahut bibi.
"Bi. Valen mau cemilan. Kok yang ada makanan berat doang."
"Oalah non. Bibi lupa belinya. Ini bibi mau berangkat belinya non sekaligus belanja."
"Yah... Lama dong Valen nunggt cemilannya datang." Rengekku.
"Aduh... Gimana ya non. Bibi minta maaf, lupa soalnya non."
Hem... Ngak mungkin juga aku maksain bibi.
"Ya udah deh bi. Ngak apa."
"Iya non. Maaf ya non."
"Iya bi."
"Eh iya bi, Valen juga mau keluar bi. Mau hidup udara bebas. Jemu banget soalnya." Sambungku.
"Oh iya non. Hati hati ya non."
"Iya bi."
Aku pun pergi ke luar rumah. Berjalan melalui trotoar jalan. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya. "Huf..."
Padahal ngak ngapa ngapain. Tapi berasa lelah banget aku...
Bruk..
Aku terkejut mendengar suara hantaman dari arah sebelahku. Suara itu berasal dari suatu celah antara bangunan satu dengan bangunan lainnya. Aku yang penasaran berjalan dan mengintip apa yang tengah terjadi di sana.
Tian tengah di kepung oleh beberapa orang!
"Masih mau cari gara gara." Kata Tian dengan wajah sangat datar seperti Psikopat menatap lawannya.
__ADS_1
Lelaki yang di bawahnya yang tampak babak belur sama seperti Tian pun tak tinggal diam. Dia menyegel kaki Tian membuat Tian terjatuh.
Ktak... Badan Tian di tendang dengan ala taekwondo. Membuat Tian menghantam tembok dengan kasar.
Ntah si Tian ini gila apa setres atau dia punya sembilan nyawa aku juga ngak paham. Dia berdiri sedikit terkonyong konyong berlari ke arah lawannya melompat melayangkan pukulannya dengan kaki nya.
Kbruak...
Lawannya terhempas seperti kapas dan mendarat di hadapanku yang berada di ujung depan celah tempat mereka beradu.
Aku menegakkan badanku kaku dan mataku membulat.
Lawan Tian menatapku tajam membuat aku menelan ludah berat.
Segera teman segeng nya membantu nya berdiri. Kemudian mereka lari terbirit-birit sambil memaki Tian. "Dasar anak pembunuh!"
Pe pembunuh?
M maksudnya?
Badanku masih mematung. Sesaat kemudian Tian keluar dan kemudian menatapku tajam.
Deg.
Lagi lagi aku menelan ludah.
Dia menatapku dengan berengan tajam. "Pergi."
Aku menarik nafas. "Huap... Huh..." Aku memegangi dadaku sambil menatap bawah. "Ntar dulu." Aku cengap lagi. "Biarkan aku bernafas."
Aku kembali menarik nafasku. Rasanya aku seperti penyakit Asmah sekarang!
"Kenapa. Takut huh."
Damn!!
Tian melangkah kan kaki mendekat padaku. Sedangkan aku mundur perlahan. "Aku keturunan sepasang pembunuh berantai. Walau mereka telah mati, darah kental pembunuh ada dalamku."
Dia mendekatkan wajahnya padaku. "Hem." Dia tersenyum singkat seperti Psikopat.
Deg.
Jantung ku.
Aku menahan dadanya dan menatap bawah. "Oy... Tahan Napa sih ngomong nya. Jantungan nih!" Pekikku.
Dia terdiam.
Aku mengelus dadaku menahan jantungku yang hampir copot.
"Huf..." Aku menghela nafas menenangkan diri ku.
__ADS_1
"Udah. Sekarang udah bisa aku bernafas." Kataku pada akhirnya.
Aku menatap wajahnya yang masih menatapku datar.
Aku sebenarnya paling ngak suka kalau menyamakan dan menjudge orang karena sifat buruk orang tuanya. Jadi aku tak mau membahas mengenai perkara orang tuanya.
Walau sebenarnya aku takut juga padanya karena dia merupakan keluarga pembunuh. Tapi kan belum tentu dia juga pembunuh kan...
"Sini biar aku obatin lukamu." Kataku tulus.
Aku menarik tangannya dan melangkahkan kakiku.
Dia tak berjalan. Membuat aku berhenti. Aku membalikkan badan ku melihat nya.
Dia menarik tanganku. Merangkul pinggangku.
Mataku membulat saat wajahnya dengan cepat mendekat ke arah wajahku.
Dia mau menciumku?!
Aku langsung memasukkan bibirku ke dalam mulutku dan menoleh ke arah sebelahku menutup mata.
Dia terkekeh singkat. "Kau kenapa?"
"Kau mau menciumku kan." Kataku dengan kembali mengatupkan bibirku.
"Denger ya aku cuma mau nanya. Bukannya tadi kau bilang sepulang sekolah kau capek. Kenapa ngak istirahat."
Aih... Bener juga. Ketauan dong bohongnya.
"Aku udah istirahat tadi. Cuma sekarang aku bosan aja di rumah."
"Em." Dia mengangguk percaya.
"Berarti kau bisa menemani aku makan sekarang kan."
"Eh. Wajah mu lembam begitu malah ngakjak makan. Obatin dulu lah."
"Dan..." Aku melepaskan diriku dari pelukan nya. "Sekarang kuy lah beli obat."
Dia tersenyum miring. "Em." Dia menyetujui.
Aku kembali membalikkan badan dan hendak berjalan.
Bruk. Aku menabrak seseorang di hadapanku.
Sambil memegangi jidadku aku mendongak.
"Jjj Jessen." Kataku dengan lidah kelu karena takut. Well aku baru ingat kalau sebelumnya kan Jessen menyuruh ku untuk pulang sama dengannya.
Aku menelan ludah berat. Mampus...
__ADS_1