
Ken Prov
Aku berjalan ke parkiran mobil dan mengeluarkan mobilku dari sana.
Brum
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Di guyur oleh hujan yang deras.
"Ck. Menyebalkan sekali."
Aku mengendarai mobilku ke lapangan basket tempat terakhir kali Theo dan bekicot bersama.
Setelah beberapa lama aku mengendarai mobil. Akhirnya sampai juga.
Aku memarkirkan mobilku dan keluar dari sini. Sebelumnya aku membentangkan payungku dan beranjak keluar.
Apa mungkin dia masih di sini. Di sini kan ngak ada tempat berteduh.
Aku berjalan menyusuri lapangan ini. Dia ngak ada.
"Manalah dia."
Astaga. Aku memukul jidatku. Kenapa ngak aku telfon aja dari tadi. Ck, bego aku!
Aku mengambil ponsel dari saku celanaku.
"Hm." Jawabnya.
"Kau di mana?"
"Di rumah."
"Kok ngak bilang dari tadi sih!"
"Kenapa harus ngasih tau?"
"Eh bekicot... Aku kena marah sama Valen karena meninggalkan mu sendiri dengan Theo."
"Oh. Tadi juga aku udah bilang ke Valen kalau aku baru pulang."
"Ish... Terserahlah."
"Hm."
Dia mematikan ponselnya secara sepihak lagi.
Aku menelpon lagi. Aku sangat tak terima dengan perlakuan ini!
"Apa?" Katanya datar.
"Heh bekicot berlendir! Aku belum siap bicara!"
"Tadi kau bilang terserah. Sekarang kau mau ngomong. Gak jelas."
"Arh... Ngeselin kau ya!"
"..."
"Heh."
"..."
"Woy."
"Hm."
"Kok tadi di panggil ngak jawab?"
"Aku ada urusan. Udah siap bacotnya apa belum?"
"Cih. Udah!"
"Hm."
Dia mematikan ponselnya.
Aku mengacak rambutku. Gila ya... Ngomong sama dia memang buat umur pendek.
Heh... Sabar. Sebentar lagi kau akan lihat dia merana karena putus cinta Ken...
Aku berjalan menuju mobilku dan melakukannya dengan pelan.
Aku memperhatikan sekitar dengan perlahan. Hujan sangat deras, lebih baik aku mengemudi lambat dari pada kecelakaan.
Eh... Itu...
"Bekicot?"
Dia ada di halte bis tengah meneduh bersama seorang ibu.
Dia masih pakai baju yang sama, seperti terakhir kali aku melihatnya.
Dia belum pulang?
Kenapa tadi bilang udah pulang?
Wait... Hah?!
"Mama?!"
Dia sama mama?
Aku menepikan mobilku sedikit jauh dari mereka.
Aku menelpon mama.
"Ah. Iya Ken."
"Ma. Mama di mana?" Tanyaku bingung sekaligus memastikan. Karena selama ini mama ada di luar kota mengurus perusahaan.
"Oh. Mama lagi di halte bis. Kamu tenang saja. Mama sebentar lagi pulang."
"Mama kok ngak bilang mama mau pulang?"
"Haha. Tadinya mama mau ngasih surprise ke kamu. Tapi tiba-tiba hujan. Jadi kejebak di sini deh. Dan barusan mama mau telpon kamu biar jemput mama."
"Ya ampun ma. Iya aku ke sana."
"Iya... Kamu hati hati ya, jangan ngebut loh. Karena mama di sini juga ngak sendirian, ada gadis baik hati yang nemenin mama di sini."
Baik? Cih...
"Iya ma."
Aku mematikan ponsel.
Dia kok mau nemenin orang asing sih? Ngak takut apa dia? Syukurnya ini mama, kalau orang jahat gimana?
Aku pun mengambil woodyku, memasangnya dan aku menggunakan masker biar ngak ketauan sama si bekicot.
Aku keluar dengan menggunakan payung. Pergi berjalan menuju arah mereka.
Aku menelpon mama saat aku berjalan. "Ma."
"Iya Ken."
"Ken udah sampai. Pakai Woody biru dan pakai masker ya ma."
Mama nampak mencari cari. Mama melihat ke arahku. "Ah.. Iya Ken. Mama lihat."
"Iya ma."
Aku berjalan dan semakin dekat dengan mama. Ku matikan telepon setelah berada di hadapan mama. "Ayuk ma. Mobilnya ada di sana."
Aku menunjuk ke arah jauh dari kami berdiri sekarang.
"Iya Ken." Mama melihat ke sisi lain dari kami. "Cya ikut aja sekalian."
"Eh. Ngak apa Bu. Saya di sini saja. Sebentar lagi juga saya di jemput." Katanya sopan.
Aku melihatnya tajam. Bisa sopan juga dia.
Dia kembali menatapku. Ku alihkan pandanganku dan memegang tangan mama.
Mama melihat ke arahnya. "Cya. Ibu pulang deluan ya. Makasih banyak mau nemenin ibu."
Dia tersenyum. "Iya Bu."
Tersenyum?
Mama kembali berjalan ke arah bekicot dan memegang tangannya. "Kamu ikut ibu aja ya."
Dia memegangi tengkuknya. "Eh. Ngak usah Bu." Katanya tanpa menghilangkan senyumnya.
Dia tersenyum tulus kah?
"Cya. Gimanapun ibu harus berterimakasih sama kamu sayang. Kau baik sekali."
"Aduh. Gimana ya Bu. Saya juga ikhlas kok Bu. Hehe."
Mama mengusap pucuk kepalanya. "Kamu anak yang baik ya. Manis lagi."
"Ibu berlebihan menilai saya. Hehe. Saya ngak sebaik itu bu. Hehe. Tapi beneran bu, saya tak apa. Sebentar lagi saya di jemput."
"Baiklah Cya kalau begitu. Ibu pulang deluan ya."
Dia mengangguk. "Iya Bu."
Aku berjalan bersama mama pergi dari hadapannya.
Aku memegangi tengkukku.
Hm. Aneh.
Aku berjalan terus menuju mobil bersama mama.
__ADS_1
"Ken."
"Iya ma."
"Kamu tau ngak. Mama bersyukur tadi ada dia, kalau enggak mama tadi kecopetan tau ngak."
"Huh? Kok bisa?"
"Iya... Tadi ada pencopet yang narik tas mama. Tapi tadi Cya langsung menendang itu pencopet, dia pemberani banget."
Cih. Serius?
"Yang paling mama ngak nyangka. Masih ada orang muda baik sepertinya yang mau menolong mama."
Hm. Bener juga ya.
Kami mengobrol sambil masih terus berjalan.
"Oh iya Ken. Katanya dia kuliah di kampus Sriwijaya. Kamu kuliah di sana juga kan?"
"Iya ma."
"Satu angkatan kamu Ken?"
"Ngak ma. Angkatan di bawah Ken ma."
"Hm." Mama mengangguk.
"Kejar gih. Jangan sampai lolos." Sambung mama membuat aku sedikit terbatuk.
"Apa sih ma."
Mama terkekeh. "Jarang loh ada cewek sepertinya."
Iya... Jarang... Bahkan termaksud limited edition jenis orang yang nyebelin tingkat dewa sepertinya.
***
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur.
"Hm. Aku baru tau ada secercah kebaikan di dalamnya."
Ah. Udahlah. Ngapain juga mikirin dia. Ngak ada gunanya.
Aku menutup mataku dan berusaha tertidur.
***
Di kampus aku melihat bekicot sedang duduk di ruang tunggu di depan kelasnya sambil memainkan ponselnya.
Valen mana ya?
Aku berjalan ke arahnya.
"Cot. Mana Valen?"
"Ntar lagi datang KPR."
"KPR?"
"Kentang protein rendah."
"Cih."
Dia berdiri dan menatapku datar. Kemudian berjalan melewatiku.
Semalam sumringah banget senyum sama mama dan Theo. Giliran samaku... Cih... Sok oke.
Aku memegang tangannya. "Btw. Semalam gimana kencanmu?"
Dia membalikkan badan dan melepaskan tanganku yang memegangnya.
Dia melipat kedua tangannya di dada dan menatapku datar. "Bukan urusanmu."
Dia kembali berbalik dan kembali berjalan.
"Heh. Udah di bantuin juga dekati cowok pujaan. Ngak tau berterimakasih kau!"
Dia mengibas ngibaskan tangannya di udara masih terus berjalan.
Aku menggelengkan kepala jengah.
Dasar bekicot!!!
Aku berusaha menenangkan diri dan kembali ke kelasku.
"Heh. Si Cya itu menjijikan banget ya." Terdengar suara seseorang dari belakangku.
"Kenapa beb?"
"Is.. kau tau. Semalam aku lihat dia jalan sama mantannya Sabrina. Gandengan lagi... Cih. Dia ngak sadar apa dirinya ngak layak."
"Hmm... Sok cantik banget ya. Ngak ngaca apa tu anak."
"Ah... Palingan cuma di mainin aja dianya beb."
Gila. Beritanya cepet banget tersebar. Kepopuleran Theo memang maniak.
Hem.. Kok jadi ngak enak ya sama si bekicot.
Gimanapun kalau ngak ada dia, aku ngak tau apa yang akan terjadi sama mama tadi malam.
Ah. Ngak ngak. Dia kan selalu buat aku kesal, ngapain aku berbelas kasih sama dia. Cih. Ngak sudi.
Bodo amatlah.
Aku kembali melanjutkan jalanku dengan cepat ke kelas.
***
Pulang perkuliahan
Drett
Ponselku bergetar.
Farhan.
"Hm. Apa Han?"
"Main basket kuy."
"Ck. Malas aku."
"Ayolah... "
"Ck. Hm, ntar aku kesana."
"Oke."
Aku mematikan ponselku dan mengendarai mobilku ke sana.
Beberapa saat kemudian aku sampai di lapangan basket. Aku berjalan ke arah lapangan, mataku tertuju melihat Cya yang tersenyum bersemangat melihat seseorang. Yup, Theo.
Heh. Dasar bucin.
Kembali ku arahkan pandanganku ke lapangan.
"Woy... Datang juga kau." Rayhan melambaikan tangan dan berjalan ke arahku.
"Hm. Terpaksa."
"Ah elah. Semangat napa."
"Iya iya. Aku mau ganti baju dulu. Nanti aku nyusul."
"Yoi."
Aku pun pergi menganti baju dan berjalan ke arah bangku penonton, aku mau meletakkan tas bajuku di sana. Bekicot duduk di bangku paling depan dan masih terus menatap Theo.
Hm.
Hari ini banyak sekali penontonnya.
Aku meletakkan tas dan duduk sebentar.
"Eh. Apaan sih tu cewek. Ngapain coba megangin tas Theo." Umpat perempuan yang duduk di belakangku. Dia seakan berbisik tapi kedengaran kencang. Sengaja?
"Hm. Dia pikir dia siapa? Pacar?"
"Cih. Mana mungkin Theo mau sama cewek serendah dia."
"Ya iyalah. Tipe apaan dia. Cih."
Banyak orang yang menghina Bekicot dengan suara yang sedikit di keraskan.
Aku menatapnya. Dia hanya diam dan tanpak tak memperdulikan mereka.
Berhati baja juga ni orang.
Aku berdiri dan berjalan ke lapangan hendak bermain.
Aku pun bermain, sesekali aku melihat ke arah Cya. Masih dengan pandangan yang sama, dia menatap Theo sambil tersenyum bahagia.
Aku sedang mundubling bola dan sekarang berhadapan dengan Theo.
"Oy. Cewekmu tu, di ejekin mulu sama fans mu."
"Hah? Yang mana satu?"
Astaga... Sangking banyaknya cewek, dia bisa sampai lupa sama si bekicot.
"Yang megangin tas mu."
Theo mengambil bolaku dan melemparkannya ke ring.
__ADS_1
Ck.
Dia mendapatkan poin.
Theo menepuk pundakku. "Ngak peduli aku. Toh juga cuma main main. Mana mungkin aku serius sama dia. Kan aku juga udah bilang ke kau."
Aku sedikit tertegun.
Hm. Aku hampir lupa dengan tujuanku yang sebenarnya yaitu menyakiti perasaan si bekicot.
Theo kembali mengambil bola yang di oper Wahyu dari belakangku, kemudian dia mendubling bola itu meninggalkanku.
Aku pun kembali bermain basket.
Sudahlah ngak usah di pikirkan.
Setelah beberapa ronde bermain. Kami pun selesai. Aku berjalan kembali mengambil tasku, sedangkan Theo terlihat berjalan ke arah Cya. Dia mengelus kepala Cya lembut, aku terkekeh dalam hati.
Padahal baru beberapa saat dia lupa sama keberadaan si bekicot, sekarang malah bertingkah manis padanya. Cih.
Tatapan sinis di dapatkan Cya dari pada deretan fans amatir Theo.
Tapi dia tak menggubris.
Aku mengusap tengkukku.
Sebaiknya aku pulang aja.
Aku pun pulang.
Sesampainya aku di rumah, aku langsung mandi dan langsung pergi ke kamar.
Aku menelentangkan badanku di sana. Aku mendengus berat.
Ku tutupi wajahku dengan selimut dan mencoba untuk tidur. Aku mulai terlelap.
.
.
.
Tok tok tok.
Pintuku terketuk.
Aku bangkit dari kasurku dan berjalan menuju pintu. Aku membuka pintu. Mama ada di hadapanku.
"Kenapa ma?"
"Tadi mama jumpa Cya lagi."
"Hm, oh ya?"
"Iya. Mama sempat ngobrol samanya tadi. Dia ngasih ini ke mama."
Mama menunjukkan kue yang di bungkus dengan kemasan kotak.
"Dia buat sendiri katanya." Kata mama dengan wajah yang sumringah.
Aku tersenyum kecil.
Hm. Bisa masak juga dia?
"Kamu ngak mau nyobain?"
Ntah kenapa aku penasaran sama masakan si bekicot.
"Hm. Boleh."
Aku pun mengambil satu potong kuenya.
Hm. Lumayan.
"Enak?"
"Ngak ma." Aku ngak bakal memuji apapun yang ada sangkut pautnya dengan si bekicot.
Aku kembali masuk ke kamar dan menutup pintu.
Aku kembali berbaring di kasurku.
Hem. Kepribadiannya aneh. Dasar bekicot.
Aku kembali menutup mata dan tidur
***
Esok harinya
Aku berjalan ke kantin, dari kejauhan Valen terlihat sangat bahagia bersama si bekicot.
Aku mengetuk meja dan duduk di hadapan mereka.
Wajah si bekicot kembali datar.
Aku menatap Valen. "By. Pulang nanti kita jalan ya."
"Aku mau jalan bareng Cya." Sambung Valen.
Aku menatap Cya datar. "Heh bekicot. Pergi aja kek sama cowok barumu. Ngapain sih masih nempel sama my by.."
Dia melihatku, kemudian melirik ke kanan dan ke kiri bergantian dan melihatku lagi. "Siapa by mu?"
"Ya Valen lah."
Dia menaikkan sudut bibirnya singkat kemudian memberiku buku kecil yang terbuka. "Baca."
Kekurangan protein dapat menyebabkan gangguan fungsi otak dan gangguan mental.
Shit...
Aku menatapnya dengan mata berkedut menahan emosi.
"Kentang." Katanya datar.
Cih... Nyesel aku kasihan sama dia kemarin.
Dia bangkit berdiri dan mengambil bukunya.
"Val. Kita cabut aja."
Valen ikutan berdiri dan merangkul si bekicot. "Oke."
Mereka pergi meninggalkanku.
Ish... Bekicot!!!!!
***
Aku pulang sendiri dengan motor. Cuaca lagi lagi mendung.
Ish. Seharusnya aku sekarang sama Valen!
Aku sedikit memukul kemudiku kesal.
Apa aku ke rumah Valen aja ya.. Hm ya kali.
Byurr
Hujan deras tiba tiba turun. Aku menepi di suatu tempat.
Tunggu... Itu bekicot?
Dia sendiri?
Mana Valen?
Aneh...
Apa aku telpon aja?
Ah. Malas. Nanti yang iyanya aku semakin setres ngomong sama dia. Diami aja lah.
Aku melihatnya dari kejauhan. Jujur, selama dia dekat dengan Theo dia lebih sering terlihat tersenyum.
Kalau di lihat lihat saat dia tersenyum seperti sekarang, wajahnya terlihat sedikit berubah. Hm..
Tapi otaknya tetap saja keras kepala.
Banyak hal dari kepribadiannya yang sedikit membuatku terkejut. Mulai dari sikap pedulinya, dia bisa bela diri, pandai masak, dan yang paling buat terkejut... Dia bisa tersenyum lepas.
Aneh.
Bipolar kali ya?
Hehe. Aku terlalu berlebihan.
Drett
Ponselku bergetar.
Aku mengambil ponselku. Bekicot?
Aku mengankat telponnya.
"Ngapain lihatin aku." Katanya datar.
Damn... Dia tau aku melihatnya.
"Huh? Kepedean kau."
"Kau pikir aku ngak punya mata?"
"Sejak dari kau menjemput mamamu sampai sekarang. Kau memperhatikanku dengan tatapan aneh."
__ADS_1
Deg.