Magic You

Magic You
chapter 27


__ADS_3

Aku berjalan di taman yang lumayan jauh dari rumahku sepulang sekolah. Aku mencoba menjernihkan pikiranku dari berbagai masalah yang kuhadapi. Kumasukkan tanganku ke dalam saku rok sekolah, dan seperti ada sesuatu yang keras dan persegi. Kukeluarkan apa benda yang ada di kantongku. Buku mistis.


Aku tak terlalu terkejut lagi melihat buku ini yang kadang nongol kadang ngilang, aku sudah terbiasa. Kubuka buku itu, masih tertata rapi kertas kecil pembatas buku berwarna emas yang terakhir kudapat karena menyelesaikan misi 4/15.


"Ini sebenarnya kertas untuk apa ya? Ngak mungkin iseng-iseng kan?"


Krrrukk...


Aku memegangi perutku. "Aku lapar. Mau bakso."


Cling...


Seketika aku berada di rumah makan bakso.


Seorang pelayan datang menghampiriku dengan membawa mangkuk. "Silahkan di makan kak. Ini bakso spesial yang ada di tempat kami."


"Loh eh. Saya ngak pesan kok pak."


"Ini gratis kak, silahkan."


Heh?...


Sihir lagi?


Kulihat kertas emas yang ada di tanganku tadi, warnanya terlihat memudar.


Tunggu sebentar. Jangan-jangan ini kertas untuk mengabulkan keinginan!


Haha!


Aku memakan baksoku dengan lahap. "Em... Nikmatnya."


Aku teringat tugas biologiku yang belum siap, hehe, bisa kali ya...


"Aku mau tugas biologiku selesai sekarang."


Cling.


Aku terduduk di lantai suatu kamar. Kamar Jessen!


"Lah kok jadi gini? Aku mau tugas biologiku siap! Bukan ke sini!"


Aku memaki kertas tadi dengan keras, tapi kertas itu semakin terlihat transparan dan mulai menghilang. "Ganti-ganti! Aku mau pulang! Cepat!"


Dan aku terlambat, kertasnya menghilang.


Aku mengangkat kepalaku perlahan berharap Jessen ngak ada.


Jreengg...


Dia tengah duduk di kursi belajarnya menatapku sambil tersenyum misterius.


Aku berdiri. "Apa?!" Aku menatapnya tajam. "Aku pulang." Aku berjalan ke pintu kamar Jessen, kupegang gagangnya dan mencoba membukanya. Tapi terkunci. Ck... Ada-ada aja sih..


Aku membalikkan badan. "Buka nih." Suruhku.


Dia hanya diam dan memandangku datar.


Aku berjalan ke arahnya. "Cepetan... Aku banyak tugas."


"Tugas apa?"


"Adalah, kepo amat sih." Aku membuang pandanganku darinya. "Udah buka aja napa."


Dia berjalan ke arahku dan mengambil tasku dan merangkulnya. "Sini. Mapel apa?" Dia berjalan ke bangku belajarnya membuka tasku. "Tugas ini." Dia mengeluarkan kertas soal dari guruku tadi beserta buku biologiku.'


"Kok kau tau." Aku curiga. "Oh aku tau.. Kau selama ini memantauku ya.. hm." Aku menerka.


"Karna tadi kulihat kau lagi kerjakan kertas ini di kelas."


Aku tak percaya. "Hm. Alasan." Aku duduk mengambil kursi yang ada di sebelah Jessen dan duduk di sana.


Aku menunjuk Jessen sambil tersenyum. "Kau mulai suka ya sama aku."


Dia menatapku datar.

__ADS_1


"Alah Jes Jes. Ngak usah sok datar deh, aku tau kau suka samaku." Aku tertawa.


Dia membuka buku biologiku dan menutupi wajahku dengan itu. "Makan nih buku."


Aku menarik buku ke arah bawah, aku melihat Jessen masih dengan tersenyum. "Ya kan?"


"Cih." Dia menyorotku dengan mata yang dingin kemudian memalingkannya ke arah buku biologiku. "Cepat jawab."


"Ah, itu mah mudah." Aku mengambil ponselku dan mulai searching jawaban.


Jessen menarik ponselku. "Cari jawaban di buku."


"Ya elah Jes. Biar cepat loh. Sini sini." Aku meraih-raih ponsel yang ada di tangan Jessen yang diangkatnya ke atas.


"Cari di buku. Biar otakmu ada kerjaannya."


"Ah..." Aku geram.


Aku membuka buku biologi dan menjawab satu-persatu. "Ish.. Kelamaan Jes." Keluhku.


"Udah jawab aja." Katanya sambil masih mengerjakan tugasnya sendiri.


Ish... Aku terpaksa mengerjakan ini dengan cara yang sangat lambat.


Selagi aku masih menulis Jessen menghentikan aktivitasnya dan merenggangkan badannya, berdiri dan berbaring di kasurnya.


Aku memutar kursiku ke belakang. "Jangan tidur woy. Tadi kau suruh aku belajar biar otak bekerja, kau sendiri tidur-tiduran... Gimana sih?" Komentarku.


"Aku udah dari tadi belajar. Sedangkan kau baru 5 menit. Belajar sana. Jangan komen."


Ck... Aku kembali membalikkan bangkuku dan melanjutkan menjawab tugasku.


Aku terus menjawab semua pertanyaan dengan sekuat tenaga. Di bantu oleh koleksi buku biologi Jessen yang membantuku menjawab pertanyaan demi pertanyaan.


Sudah 3 jam aku mengerjakan soal ini, di barengi dengan beberapa jeda istirahat merenggangkan badan akhirnya tugas ini selesai.


Untuk sekian kalinya aku kembali merenggangkan badan. "Ahmm, siap juga."


Aku melipat kedua tanganku di meja. "Cape.." Kuletakkan kepalaku di atas lenganku. Mataku perlahan menutup kelelahan.


***


Aku mengucek-ngucek mataku dan membukanya malas. Jessen ada di sebelahku sambil belajar. Aku tersenyum. "Rajinnya..."


"Hm." Dia melihatku. "Tugasmu siap?"


"Udah dong." Senyumku bangga.


Dia mengangguk dan berdiri. "Biar aku antar pulang."


"Wow, tumben." Aku terkaget Jessen berubah jadi goodboy.


"Ngak mau? Ya udah ngak usah." Katanya acuh.


"Eh iya iya, aku mau."


Dan aku pun berakhir pulang dengan Jessen.


***


"Bibi." Ucapku riang ketika melihat bibi membuka pintu.


Bibi membalas dengan senyuman. "Ya non."


"Bi saya pulang dulu ya." Jessen pamit ke bibi kemudian melihatku. "Aku pulang."


"Oke... Da da." Aku melambaikan tangan sambil melihat dia pergi.


Bibi yang melihatku tertawa kecil. "Cie cie non."


Aku kembali terkekeh sambil tersenyum malu. "Apaan sih bi."


Kami pun masuk ke dalam rumah.


"Oh iya non. Tugas tuan dan nyonya udah selesai non, besok katanya mau balik."

__ADS_1


Aku terkejut. "Serius bi?"


"Iya non."


"Yesss." Aku melompat kegirangan. "Valen ke kamar dulu ya bi."


Bibi mengiyakan dengan anggukan.


Aku pergi ke kamar dengan bahagia.


***


Aku menatap langit-langit kamarku sambil sedikit menadakan suatu lagu tanpa berkata. "Aku seneng banget. Aku harap hari besok lebih bahagia lagi."


***


Aku berjalan ke luar kamar dengan riang, kakek dan nenek udah pulang. "Valen." Mereka memelukku.


"Iya kek, nek." Aku membalas pelukan mereka.


Mereka mengakhiri pelukan mereka dan menatapku tersenyum. "Hari ini ada pertemuan antara sesama perusahaan. Kamu ikut ya." Kata kakek dengan semangat.


Aku tak ingin merusak kesenangan mereka. "Iya kek. Valen ikut."


"Nenek senang akhirnya kamu mau ikut." Nenek mengelus kepalaku.


***


"Val, kok buru-buru banget sih nyusun bukunya." Kata Tessa sambil merapikan bukunya dengan santai di saat pulang sekolah ini.


"Aku mau cepat Tes, ada acara." Aku merangkul tasku.


Tessa yang juga merangkul tasnya ber-oh ria. "Oo."


Kami pun berjalan pulang bersama.


***


Aku di rumah langsung melihat betapa hebohnya kakek dan nenek menyambutku. "Valen ini Dress yang nenek beli kemarin sama kakek. Kamu coba ya."


"Eh iya nek." Aku pergi ke kamar mandi terdekat dan mengenakannya kemudian kutunjukkan ke nenek dan kakek.


"Wahhh, cantik sekali cucu nenek."


"Hehe." Aku terkekeh.


"Nanti kamu pakai ini ke pesta ya."


Aku mengangguk setuju. Kakek terdengar sedang menelpon seseorang sambil tersenyum Kemudian mengakhirinya. "Siapa kek?" Tanyaku.


Kakek melihatku. "Tadi kakek telpon make-up artist terbaik untuk mendandani Valen." Kakek mengelus kepalaku lembut. "Cucu kakek harus jadi paling bersinar nanti."


"Duh.. kakek berlebihan."


Kakek tertawa. "Pokoknya yang terbaik pasti kakek lakukan demi kamu."


"Owh.." Aku memeluk kakek dan nenek.


***


Gedung ini sangat mewah dan elit. Terlihat megah dengan berbagai furniture yang mahal. Pernak-pernik kaca dan berbagai barang yang berwarna silver tampak sangat indah di pandang mata.


Aku melihat setiap orang yang datang. Beberapa tampak seumur denganku, walaupun lebih banyak yang lebih tua dari padaku.


Ting Ting Ting


Terdengar lentingan antara gelas dan sendok. "Selamat datang di acara pertunangan tuan muda kami dengan nona muda Tressya Adwerd Venith."


Semua bertepuk tangan begitu pun aku.


Pasangan wanitanya turun dari tangga, terlihat sangat cantik dan anggun, beda banget sama aku. Hehe, jadi minder. Kira-kira tuan mudanya siapa ya?


Sang pria turun dari atas.


Aku sangat terkejut melihatnya begitu pun dia sangat terkejut ketika mata kami saling memandang. "Je Jesen?"

__ADS_1


__ADS_2