Magic You

Magic You
chapter 59


__ADS_3

Ken pergi tanpa berkata apa apa lagi. Bahkan. Aku tak mencegahnya. Maafkan aku Ken. Tapi aku memang tak dapat melakukan ini lebih jauh lagi.


Aku tak mengerti bagaimana aku dapat menjelaskan perasaan ini. Aku sama sekali tak mencintai Ken. Aku tak ingin dia semakin tersakiti. Terpaksa aku mengatakan hal itu. Maafkan aku Ken.


Aku menutup pintu rumahku dan kembali berjalan ke kamarku.


Aku menutup kamar sambil merenung. Aku tak mengerti, aku bahkan tak ingin untuk membuka hatiku lagi untuk siapapun. Jika aku membukanya itu akan semakin membuatku semakin sakit.


Sesak sekali rasanya mengetahui Jessen pergi dan akan menikah dengan mantan tunangannya. Walaupun itu hanya rumor mengenai pernikahannya, tapi ntah kenapa itu seperti benar seakan akan terjadi.


Kenapa dia setega itu? Aku pernah berbuat salahkan padanya? Bahkan aku yang selalu tersakiti dengan sikapnya yang aduh terhadap perasaanku. Aku tak mengerti.


Air mata ini menetes deras. Begitu naifnya aku mengenai percintaan ini. Cih. Dasar lemah.


Aku memeluk erat bantalku.


Ku usap terus air mataku yang mengalir terus. Kemudian aku menepuk nepuk dadaku yang terasa sangat sesak.


"Kenapa aku sangat mencintainya?"


Berapa kali aku meneguhkan diriku untuk melupakan Jessen. Semakin kuat hati ini mengingatnya.


"Aku benci kau."


Aku membaringkan tubuhku lemas sambil terus menahan dit agar berhenti menangis.


Kenapa aku tak bisa tampak sedikitpun berharga di matamu?


Salahkah aku yang selalu tak bisa melupakanku dan selalu mencintaimu?


Aku menutup mataku kelelahan menangis. Menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya.


Aku tak boleh terlarut oleh kesedihan ini.


Aku takkan mati jika kehilangannya. Aku tak boleh menyerah.


Aku harus menjadikan diriku lebih kuat. Aku pasti bisa.


Aku pasti bisa.


Aku membuka ponselku. Aku melihat instagran.


"Hah?! Cya di tolak dan di jauhi Theo!" Aku melihat story anak lambe turah yang bahagia di atas kesedihan Cya.


"Memang ngak ada ahlak tu playboy ya!"


Aku menggeleng kepala tak percaya. Kasian banget si Cya... Aku ngak tega teman terdekatku tersakiti.


Kesedihanku berubah jadi amarah.


"Lihat aja. Kalau aku melihat si Theo lagi. Ku pijak pijak tu orang!"


***


Aku berjalan melalui koridor di kampus menuju kelas.


Sesampainya aku di depan kelas, aku melihat Cya yang tengah duduk diam sambil membaca buku.


Aku berjalan ke arahnya dan duduk di sebelahnya.


"Oy.." Aku menoel tangannya.


Dia sedikit terkejut dengan melihatku Sambil tersenyum. "Eh. Valen. Buat terkejut aja."


Aku sedikit terkekeh.


"Ah..." Aku mengeluarkan nafas panjang. "Males banget hari ini aku."


"Kenapa beb?"


"Hmm. Ntah. Hormon dopaminku menurun. Whahaha."


"Haha. Ada aja."


"Btw. Buku apa tadi yang kau baca Cy?"


"Buku tentang gizi beb. Lagi gabut soalnya."


"Hm." Aku mengangguk.


Kalau orang orang pintar memang beda ya cara gabutnya dengan orang standard sepertiku. Wkwk.


Drett.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Cya. Ponselnya bergetar di meja.


Dia melihat ponselnya datar kemudian mengangkat ponselnya.


Cya selalu menggunakan volume tinggi di ponselnya jadi aku bisa dengar percakapannya.


"Hi." Kata seseorang di ponselnya.


"Iya?"


"Hm. Nanti kita jumpaan ya."


"Maaf. Aku lagi ada acara Theo."


Astaga... Theo yang nelpon.


Aku sampai lupa kalau aku mau nanya kan mengenai hubungan Cya dan Theo tadi.. Aih..


"Sebentar aja." Kata Theo.


"Maaf aku ngak bisa,.. Eh dosen aku udah masuk. Udah dulu ya."


"Eh. Am.. ya udah deh."


Cya mematikan ponselnya.


Masih dengan wajah yang datar Cya kembali membaca buku.


"Em.. Cy." Panggilku.


"Iya?"


Aku mengusap tengkuku kaku. "Hm. Hubunganmu dengan Theo gimana?" Tanyaku memastikan. Aku tak mau terlalu percaya dengan cerita lambe turah.


"Kemarin dia menjumpaiku karena dua hari yang lalu dia tercyduk berduaan dengan wanita lain di mataku."


"Bangsat memang tu cowok ya." Pekikku.


"Aku sadar aku bukan siapa siapa di matanya. Jadi aku bilang ke dia untuk menyudahi hubungan kedekatan kami. Hmm. Ya udah, makanya sekarang aku ngak mau dekatin dia lagi sekarang."


Cya memang orang yang sangat tegar.


Aku memeluknya. "Cya... I lop yu... Semangat ya beb..."


"Haha. Iya iya."


Pintu kelas terbuka dan dosen pun masuk.


"Cya... Pokoknya kita harus semangat ya..."


Cya mengacungkan jempolnya mantap. "Ashiapp."


Kami pun saling mengangguk percaya diri. Kemudian kami melakukan perjalanan dengan semangat.


Apapun yang terjadi, aku harus semangat.


***


Jam pembelajaran kuliah telah usai. Aku dan Cya berjalan pulang bersama melewati koridor. "Cya kita pulang sama ya. Kau jangan sendiri lagi berjalan lah seperti kemari."


"Hehe. Iya beb. Kan kemarin aku udah bilang aku lagi ngak enak badan makanya aku jalan sendiri mau berobat dulu." Katanya sambil tersenyum.


"Iya beb." Kami mengobrol sambil berjalan.


"Oh iya. Btw kamu sakit apa beb?" Sambungku.


"Demam karena pilek beb. Bergadang nonton drama serial, haha."


"Astaga Cya Cya... Ada aja kamu ya..." Aku tertawa. Ternyata hobi kami sama.


"Lain kali nonton bareng kuy..."


"Kuy lah... Hari ini aja gimana? Besok kan Minggu."


"Hem... Tawaran yang menarik. Tapi,.."


"Tapi apa beb?"


"Aku belum izin sama nenek."


"Oalah... Haha. Nanti aku izinin kamu ke nenek. Setelah itu kita langsung ke rumah aku... Okay?..."


"Okay..." Kataku bersemangat.

__ADS_1


Yes... Hari ini kegabutanku sendiri di rumah akan sirna. Aku bakalan nginap di rumah Cya dan nonton film sampai puas... Whuahaha.


Langkah kami terhenti sesaat ketika seseorang menghadang dan berdiri di hadapan kami.


Itu Theo.


Darahku naik melihat tampang playboynya.


Menyadari aku sangat panas melihat Teo, Cya tersenyum melihatku. Memberi kode agar aku dapat menahan emosi.


Aku terpaksa diam dan memalingkan wajahku.


"Cya." Katanya.


"Iya?"


"Bisa kita ngobrol sebentar?"


"Maaf. Aku aku ada acara Theo. Aku nggak bisa."


Theo menatap Cya kecewa.


"Aku luan ya." Cya mengenggam tanganku dan kami berjalan melewati Theo.


Langkahku terhenti ketika Cya juga berhenti.


Aku melihat tangan Cya di pegang Theo.


Mau apa lagi sih?


"Sebentar aja." Katanya lagi.


Cya melepas tangannya. Kemudian kembali tersenyum datar. "Maaf. Aku tak bisa. Dan juga kau perlu mengingat suatu hal Theo..."


"Aku takkan pernah lagi akan menghubungimu ataupun berhubungan dekat lagi denganmu. Sama seperti yang aku bilang kemari. Terimakasih." Sambung Cya.


Cya mengenggam tanganku erat dan berjalan membuatku mengikuti arah jalan Cya.


***


Aku tengah beras di bis bersama Cya.


"Beb." Panggilku ke Cya, yang sedari tadi kami hanya diam tanpa kata.


"Kenapa beb?"


"Kau ngak apa kan beb?"


Dia tersenyum simpul. "Hem. Iya beb. Ngapain juga mikirin dia. Jangan hawatir beb, aku biasa aja kok beb. Ngak perlu lah sampai di pikirkan terus, hahaha."


Aku mengangguk mengerti. "Iya beb. Kamu kuat banget. Salut aku."


"Hahaha. Biasa aja kali Beb."


Drett.


Ponsel Cya berdering. Aku melihat kontak yang menelpon Cya sekejap.


KRP?


Maksudnya? Siapa?


Cya mematikan ponselnya.


Lah kok di matikan?


"Siapa Cya?"


Cya menoleh ke arahku. "Bisalah, orang ngak penting."


Aku mengangguk mengerti.


"Oo."


"Oh iya... Btw kita mau nonton apa nih?"


"Nonton romantis lah beb. Jangan film horor lah beb. Nanti nya bisa tidur. Hahaha."


"Bener juga. Haha. Kita nonton romantis aja ya."


"Okay..."


Catatan penulis:

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, dan kalau bisa di vote dan di beri hadiah ya guys... Thanks...


__ADS_2