
Aku berjalan dengan sedikit berlompat kecil riang. Ternyata Jessen peduli... Hahaha
Tapi... Dari mana dia tau aku sakit?
Langkahku pun melambat sambil memikirkannya.
Apa dia memperhatikanku selama belajar?
Pipiku memerah tersipu malu, jika benar iya, sepertinya memang Jessen semakin menyukaiku.
Haha, masa iya?
Tapi sebenarnya aku berharap begitu.
***
Aku melenggang masuk ke dalam rumah, dan kujumpai kak Rio sedang tertidur di sofa. Aku tega sekali meninggalkan orang yang jelas-jelas tadi sudah menolongku.
"Non, ndak usah di bangunin. Kasian." Bisik bibi.
Aku mengangguk membalas bibi.
Bibi pun pergi ke kamarnya dan meninggalkan aku yang berdiri memandangi kak Rio.
Aku mengambil selimut untuk menutupi badan kak Rio dari hawa dingin malam. Kurentangkan selimut dan kuletakkan padanya, seketika tangan kak Rio menarikku yang membuatku terduduk di sebelahnya, dia memelukku erat. "Jadilah pacarku."
Aku kaget bukan main! Bibirku terkatup rapat karena syaraf otakku yang menyingkronkan kondisi sekarang belum terkoneksi dengan tepat untuk akan berbicara apa.
"Kau sekarang bukan milik Jessen lagi." Dia menatapku penuh harap. "Jadilah pacarku."
Dia mendekatkan wajahnya sambil sedikit memiringkan kepalanya menyesuaikan arah bibirnya dengan bibirku.
ANJRITTT...
Aku sontak melepaskan dekapannya dan berdiri dari sofa. "A.. apa-apaan ini?" Aku mundur perlahan. "K k kita kan belum nikah... Jangan a a assal nyosor aja dong!" Pekikku.
Kak Rio melihatku dan memposisikan badannya duduk seperti semula dengan kaku.
"Denger ya kak. Aku ngak bakal nyium siapapun kalau belum jadi suamiku!"
Mendengar kalimatku, kak Rio berdiri dan mendekat. "Kalau gitu, kita nikah aja."
Lah?!
__ADS_1
"Mana bisa gitu? Kita kan juga baru kenal, dan juga kita belum tamat SMA! Gimana sih!" Pekikku.
Dia malah tersenyum, menarik tanganku dengan cepat dan mendekap tubuhku. "Pokoknya, selesai SMA ini kita nikah." Bisiknya di telingaku.
Jantungku bergebu kencang. Aku merontah melepaskan dekapannya, namun tangan kak Rio lebih kuat dari pada tenaga yang kupunya. "Aku akan menunggumu." Katanya lembut.
Dia melepaskan dekapannya perlahan dan melihatku sambil tersenyum lebar. Dia kembali duduk dan tidur di sofa sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang kuberikan tadi.
Aku berlari ke kamarku dan menutup pintu rapat.
Jantungku masih berdetak kencang tak beraturan.
ASTAGA... APALAGI INI?!
Wajahku sangat panas, aku berjalan linglung ke tempat tidurku dan menutupi seluruh badanku dengan selimut.
INI GILA!!
***
Pagi ini aku bangun lebih awal. Namun aku tak berani untuk keluar kamar, aku takut kak Rio masih di rumah.
Please God... Biarkan kak Rio pergi dari sini....
Aku terlonjak kaget luar bisa mendengar ketukan pintu kamarku.
Aku masih tak mau keluar...
"Non, makan non... Hari ini kan non sekolah." Kata bibi dari balik pintu kamarku.
"E..em.. aku sepertinya tak masuk sekolah deh bi. Sakit." Alasan klasik bagi setiap anak sekolahan biar tak sekolah. Bukan karena gimana-gimana... Aku takut bangsattt jumpa kak Rio di rumah...
"Oalah non... Saya ambilkan obat dulu ya..." Bibi mempercayai ucapanku. "Oh iya non, temen non yang semalam nitip sesuatu tadi sebelum pulang, bibi taruh di mana non?"
Dia udah pulang?
Thanks God...
Aku langsung membuka pintu kamar bersemangat. "Taruh aja bi di dalam. Valen mau makan dulu."
Bibi menatapku bingung. "Lah, tadi non bilang non sakit... Sekarang kok sangat sehat?"
"Emm..." Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.
__ADS_1
Terdengar suara yang datang mendekat "Hari ini kau sekolah."
Mataku refleks melihat ke sumber suara itu. "Aku ngak mau!" Bantahku ke Jessen. "Dan kau. Ngapain kau kesini, masuk sembarangan lagi!"
"Aku udah ijin bibi." Sambungnya singkat.
"Kau pergi mandi sekarang. Kutunggu, jangan lama!" Dia membalikkan badan dan berjalan ke ruang makan.
Aku berdecak kesal sambil mengacak rambut.
Masalah kemarin masih berbekas di memori akal sehat... Sekarang timbul masalah baru...
***
Aku berkendara bersama si setan... Rasanya campur-campur... Arh...
Sesampainya di sekolah Jessen memberikan aku satu buku.
Aku melihat buku itu. "Buku apa ini?"
"Catatan sejarah. Udah aku rangkum."
Aku menyergitkan dahiku. "Untuk apa?"
Jitakkan Jessen pun mendarat di dahiku dengan mulus. "Bego. Hari ini kau ujian sejarah." Dia menggelengkan kepalanya. "Pasti kau belum belajar." Jessen menunjuk bukunya yang ada di tanganku. "Itu ringkasan. Baca, manatau dari kapasitas otakmu yang kecil itu masih dapat mengingat isinya. Walaupun yang kau ingat pasti hanyalah segelintir." Ngenak banget hinaannya.
"Iya iya. Makasih pujiannya." Jawabku acuh, Aku melanjutkan langkahku masuk.
"Hei!" Panggilnya.
Aku sedikit membalikkan badanku. "Ha?"
"Kau lulus. Sekarang kau pacarku."
Aku membalikkan badanku seutuhnya dan melihat antusias ke arah nya. "Serius?!"
"Hm."
Yes...
"Okay.... Aku ke kelas dulu ya... Hehe." Aku pun kembali melanjutkan langkahku ke kelas dengan riang.
Selang beberapa saat aku berjalan, satu tangan menarikku membuat badanku berbalik dan teredekap oleh seseorang. Aku mendongakkan kepalaku. "K kkak Rio?!"
__ADS_1