Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
100. Kebahagiaan


__ADS_3

Masih berkeliling kantor, Stefan mendekat ke Grace dan berkata, “Senang bisa mempunyai penumpang dan sekretaris sepertimu.” Stefan tersenyum renyah dan hampir tergelak.


Ingatan Grace berputar ke waktu lalu, di saat dia bertemu Stefan untuk kali pertama. Ya, dia menjadi penumpang dari seorang driver ojol, lalu anehnya si driver ojol malah membantunya di saat dia terkena masalah.


Grace tersenyum simpul dan menjawab, “Senang bisa mengenal mas ojol yang sekarang menjadi CEO.” Grace memperbaiki blazer hitamnya yang sudah rapi, lalu seperti mempercantik diri. Ya, itu tandanya dia sudah enjoi dan melepas rasa kagumnya pada Stefan, rasa kagum untuk dijadikan seorang kekasih.


“Kau lihatlah Martin di sana. Tampan dan gagah! Jika sekarang ada orang yang memberikan kedipan genit padamu, dia akan mematahkan kaki orang itu!”


Grace tersipu. “Bagaimana kalau orang berkedip itu adalah kau, Stefan?” tanya Grace sambil mengerutkan bibir seksinya.


Stefan mengeryitkan kening, lalu bertanya, “Hm. Apakah aku pernah genit padamu?”


Grace berpikir keras. Stefan tidak pernah genit. Jangankan genit, dipancing romantis dan puitis saja Stefan tidak bisa. Pria tulus dan setia memang seperti demikian. Sulit ditebak.


“Aku rasa, Martin tidak akan berani, bahkan hanya untuk menjawil telingamu, Stefan,” canda Grace.


Di saat berdua dengan Grace, Stefan selalu membanggakan Martin dan tidak pernah membicarakan keburukan Martin meski sedikit saja. Begitu juga sebaliknya.


Malam harinya, Tuan Alex mengundang Stefan untuk turut hadir di villanya yang megah. Sebagaimana permintaan Stefan sendiri, bahwa sekarang adalah momen di mana dua keluarga besar akan berkumpul.


Siapa yang mengira bahwa dua besan yang sudah puluhan tahun tidak bersua baik dalam hal bisnis maupun kekeluargaan, kini mereka kembali dipertemukan.


Tuan Alex memeluk Tuan Satria. Tuan Satria merupakan orang utama dari Keluarga Diningrat. Beliau merupakan kakak kandung dari ibunya Grace. Cukup panjang obrolan mereka karena terlalu banyak yang dibahas.


Tuan Alex berkata, “Keponakan saya bernama Martin, sukses di Swiss, karena kebaikan dari ipar Anda, Pak Arya.”


Tuan Satria membalas akrab, “Terima kasih. Namun, kami ingin mengingatkan kembali soal uluran bantuan dari Keluarga Sudrajat yang telah lalu.” 


Intinya kedua pihak saling melempar pujian satu sama lain.


Tuan Alex memperbaiki posisi duduknya dan meluaskan pandanganya, lalu berkata, “Keluarga Sudrajat saat ini tidak hanya menjadi rekan bisnis dari Keluarga Diningrat. Akan tetapi, lebih dari itu, dua keluarga besar akan kembali menjadi besan.”

__ADS_1


Puluhan orang menyambutnya dengan ceria. Grace memeluk ibunya erat. Sayangnya, momen ini tidak bisa dihadiri oleh Pak Arya.


Hepi endingnya terlalu cepat....


Tetapi, kenapa bukan Stefan yang sedang hepi?


Oh, Stefan malah sangat hepi sekarang.


Dia senang jika melihat orang lain senang.


Lalu, di saat kedua keluarga besar sedang asyik berkumpul, bercengkrama, bercanda, dan tertawa, Stefan malah menyendiri di kursi paling belakang. Dia duduk tersandar sambil menyeruput kopinya.


“Bahagianya mereka,” gumam Stefan.


Oh, seharusnya Stefan bersedih ketika melihat mereka karena Stefan tidak akan pernah bisa berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Namun, Stefan tidak memiliki sifat iri yang buruk di hatinya. Sebaliknya, dia turut bahagia menyaksikannya.


Stefan, tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.


Mengejutkan, di saat orang-orang sibuk, tiba-tiba suara Martin menggelegar, “Perhatian semuanya!"


Hening, lalu semua mata pun tertuju pada Martin yang tengah berdiri di depan sebuah air mancur. Di taman villa ini di sekelilingnya terdapat banyak jenis tanaman dan dipasangi lampu kuning emas. Suasana temaram begitu mengesankan.


Martin menggagahkan diri dan berkata dengan nada tegas, “Malam ini aku akan melamar seorang gadis!” Meski agak berkeringat dingin karena malu, Martin harus menunjukkan jiwa maskulinnya di hadapan dua keluarga besar.


“Grace Santika dari Keluarga Diningrat, Will You Marry Me?”


Semua pemirsa terpana. Ada mereka yang sampai membekap mulutnya sendiri karena tak percaya.


Grace yang tengah duduk dan menikmati hidangan, sontak terkaget mendengar itu. Dia tahu bahwa Martin suka padanya, namun di luar perkiraan bahwa Martin akan melamarnya sekarang. 


Semua mata pun tertuju kepada Grace. Ibunya menyenggolnya, supaya segera mendekat ke Martin. Grace gugup dan malu.

__ADS_1


‘Apa aku sedang bermimpi?’ batinnya.


Karena tubuhnya mengeras seketika dan tidak pula bisa dipaksa oleh orang di sekitarnya, lantas Martin turun tangan. Martin mengulurkan tangannya dengan penuh harap dan kelembutan.


Grace mengatur napasnya. Sedari tadi dadanya berguncang karena gejolak. Dan akhirnya Grace pun bersedia. “Oke, baiklah,” ucapnya lirih.


Grace menggamit tangan Martin, kemudian berjalan pas di samping Martin. Meski tampil biasa, Grace tetap memukau. Dia hanya pakai jeans dan sweater.


Sementara Martin hanya memakai jeans dan kemeja kotak-kotak. Mereka berdua seperti ingin nonton bioskop.


Lagipula acara malam ini acara keluarga dan tidak terkesan formal, hanya saja ternyata di luar dugaan akan ada surprise dari Martin.


Martin berjongkok di hadapan Grace. Dia mengeluarkan kotak cincin dari sakunya, membukanya, lalu berkata lembut, “Grace, aku cinta sama kamu. Maukah kamu menikah denganku?”


Muka Grace langsung memerah. Dan mukanya makin memerah tatkala dia sekelebat menoleh ke para kerabatnya.


Agak lama Grace berpikir. Dan pada akhirnya dia menatap Martin lekat-lekat dan membalas, “Ya, aku mau.”


Semua penonton pun bersorak sorai gegap gempita.


Martin memasukkan sebuah cincin perak ke jari manis Grace. Pas. Dan acara pernikahan mereka akan dilangsungkan tiga bulan lagi. Mulai dari sekarang kedua pihak keluarga mulai sibuk mempersiapkannya.


Malam yang begitu hangat. Di langit, bintang gemintang bertebaran, sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Angin berhembus, dinginnya menusuk.


Saat ini, Stefan masih duduk tersandar dan sendirian, menikmati momen bahagia mereka. Ketika turut merasakan kebahagian mereka, Stefan tahu arti dari bahagia sesungguhnya.


Rencananya berjalan mulus dan sesuai harapan. Maka dengan ini tidak ada hati yang tersakiti. Grace sudah masuk ke sebuah pintu hati yang tepat. Stefan yakin bahwa Martin adalah orang tepat yang akan menjadi pendamping hidup Grace.


Stefan sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengan Martin. Lagipula, alasan terbesar dari Stefan bukanlah hal tersebut. Ada sebuah alasan mendasar dan besar kenapa Grace bukanlah wanita pujaan hatinya.


Sekali lagi, Stefan bukan tipe pria penikmat masa lalu, namun, dia juga bukan tipe pria yang lupa akan daratan dan tidak pula mengerti arti terima kasih. Dia merasa masih belum puas untuk berterima kasih kepada wanita pujaan hatinya.

__ADS_1


Orang yang tulus dan setia terkadang sulit dimengerti jalan pikirannya.....


__ADS_2