
Robert marah. Kedua pangkal alisnya bertemu. Ada seringai jahat di sudut bibirnya. Dia berontak, “Siapa CEO perusahaan ini? Saya ingin segera menemuinya!”
Martin menegakkan bahu, lalu menjawab, “Pihak pemerintah saja belum bisa menemui CEO. Sebaiknya Robert Sanjaya balik saja ke kantor. Sanjaya Techno sudah diurus oleh Lionny Sanjaya. Semua akan berjalan dengan lancar. Tenang saja.”
Robert tidak terima. “Tidak! Saya lebih berhak daripada Lionny. Biar saya saja yang mengurus semua kerjasama. Dia tidak akan becus.”
Suara Robert yang besar telah menyita perhatian warga kantor. Bermaksud ingin bekerjasama, Robert malah buat keriuhan di sini.
Martin bertindak. “Ayo kita keluar! Sebelum security naik ke sini.”
Robert menatap Martin dengan sangat tajam. Matanya hampir melotot. “Saya ini Robert Sanjaya. Apa bedanya dengan Lionny Sanjaya? Apa spesialnya dia? Seharusnya saya diperlakukan baik seperti halnya terhadap Lionny. Kalian ini bagaimana?!”
Menyaksikan tingkah Robert, seketika Grace teringat dengan Bobby, mantan bosnya. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu terbukti. Realitanya Robert seperti mini Bobby. Jika dibiarkan, jelas bocah seperti dia akan berbahaya bagi bisnis besar mendiang Kakek Sanjaya.
Tidak terima diperlakukan dengan tidak adil, Robert brutal di kantor Nano-ID. Martin jelas tidak ingin ada keributan di kantornya. Dia selaku bawahan langsung CEO Nano-ID jelas punya tanggung jawab besar mengurusi Robert.
Ryan bersama satu orang security pun tiba di ruangan sekretaris. Ryan seperti pahlawan kesiangan. Tugas kali ini setidaknya ada tiga faedah. Pertama, dia bisa mengambil hati Grace. Kedua, cari muka di hadapan Martin. Dan ketiga, balas dendam terhadap Robert karena tadi dia dimaki-maki pas di parkiran.
Ryan menarik lengan kemejanya sampai ke siku lalu menggertakkan jari jemarinya. Dia berkata tegas, “Siapa yang mau diurus sekarang, Bu Grace, Pak Martin? Apa Robert yang harus diurus? Biar saya saja yang menangani sendirian. Security, jaga dua orang penting kita di sini!”
Sontak Ryan merangkul pinggang Robert dan menyeretnya keluar dari ruangan. Peristiwa ini menjadi tontonan masyarakat kantor. Ada di antara mereka yang rela meninggalkan pekerjaannya demi menyaksikan peristiwa hebat itu.
Seorang pria berkomentar, “Tadi si OB mengantar Bu Grace ke ruangan kerjanya, sekarang dia menyeret paksa seorang Robert Sanjaya.”
__ADS_1
Seorang wanita berkomentar, “Boleh juga. Dia tampan dan pemberani.”
Marissa berjalan alon sambil memampang wajah tak percaya, “Ryan. Hebat sekali dia memperlakukan Robert Sanjaya seperti polisi menangkap pengedar sabu.”
“Ryan bekerja dengan loyalitas tinggi.”
Pas di depan mobil mahal milik Robert, Ryan menyergah, “Dasar payah! Bagaimana mungkin ada Keluarga Sanjaya diusir oleh petugas kebersihan?! Kau tidak punya nilai seperti Lionny dan keluargamu yang lain. Sepertinya kau harus banyak belajar, bocah!”
Robert mendorong Ryan cukup keras. “Dasar OB rendahan! Sombong sekali kau bicara seperti itu. Orang di kantor ini sangat aneh. Semuanya aneh!” lolongnya emosi.
Ryan tersenyum remeh, lalu mencomel, “Kau tidak bisa membawa besar nama Keluarga Sanjaya. Sementara Lionny bisa. Kau tidak pantas berada di Keluarga Sanjaya, pecundang!”
Jika Ryan menghina orang di bawahnya, mungkin sah-sah saja, seperti dia menghina Stefan dalam kebodohannya. Namun kali ini dia anti-mainstream, tidak hanya berani mengeluarkan Robert dari kantor, dia juga berani mengeluarkan kata-kata pedas. Makin lama, Ryan makin unik.
Ryan menyambung, “Di sini aku supervisor dan suatu saat bisa saja menjadi manager, dan kalau terjadi, statusku dalam karir berada di atasmu. Perusahaan ini besar dan di bawah payung pemerintah. Bukan di bawah payung kapitalis.”
Robert murka. Sudah diusir paksa, dia malah adu mulut dengan orang seperti Ryan. Jelas ini sangat menurunkan martabatnya selaku penerus Keluarga Sanjaya. Dia berkata, “Walaupun kau akan menjadi direksi di sini, kau tidak akan pernah bernilai jika pernah bekerja seperti sekarang. Kau hina!” sentaknya gusar.
Ryan melipat tangan di dada, lalu membalas, “Sehina-hinanya aku, aku tidak pernah diusir dua kali, apalagi diusir oleh orang yang dikatai hina. Ha? Kau juga hina!”
Robert langsung mencekik leher Ryan. Emosinya meledak. “Babi!”
Ryan mencengkeram tangan kanan Robert, lalu menepis serangan itu. “Kau ingin main fisik? Ayo!” Ryan siap mengepalkan tinjunya dan ingin meninju Robert.
__ADS_1
Namun, security di pos berlarian dan segera melerai pertikaian itu.
“Hei! Sudah! Sudah!”
Ryan tersenyum mengejek. Seringai jahatnya beradu dengan seringai jahat Robert. Kedua pasang mata mereka tak berhenti saling tikam satu sama lain. Mereka seperti dua kucing jantan yang memperebutkan daerah kekuasaan. Hanya saja satu kucing anggora dan satu lagi kucing kampung.
Meskipun Ryan berada jauh di bawah Robert terutama dalam hal finansial, namun mental Ryan tak kendur. Dia tidak takut sama Robert. Ryan cerdik, jika kejadian ini di luar, mana mungkin dia berani. Saat ini dia berada di kawasan kantor dan tentu akan aman, lagipula dia memang disuruh oleh bosnya barusan. Ryan tidak hanya menang gaya, tapi kadangkala otaknya berguna juga.
Ryan melirik kerumunan di depan pintu kantor. Semangatnya kian membara. Diawasinya lagi Robert. “Pergi kau dari sini! Dasar pecundang! Payah!” sembur Ryan. Dia sangat puas, betapa tidak, dulu dia pernah melamar bekerja di salah satu perusahaan Sanjaya Group tapi tidak diterima. “Mampus!”
Robert meludah. “Cuh! Aku tidak akan lupa dengan nama dan wajahmu! Setelah aku bertemu dengan CEO Nano-ID, akan aku koyakkan mulutmu!”
Ryan mendengus kasar. “Orang seperti Stefan saja mengerti. Apa kau lupa, dia pernah bilang, kalau kau tidak akan pernah bertemu dengan CEO Nano-ID? Kita berdua paham betapa gila dan menyedihkannya Stefan, bukan? Tapi, dia paham! Bagaimana kau ini berpikir?”
Ryan seperti membanting logika dari atas ke bawah sehingga Robert sepertinya nyaris kehabisan kata-kata. Duel mulut pagi ini cukup seru. Ryan menang tipis. Betul kata-kata bijak dari Ryan tadi, bahwa Robert harus belajar, dan lebih banyak belajar.
Robert membuka pintu mobilnya, lalu berkata, “Selama ini aku dilayani oleh orang bawahan CEO. Nanti, begitu aku bertemu langsung dengan CEO, kalian semua akan bertekuk lutut di hadapanku. Termasuk kau, OB sok jagoan!”
Ryan berkacak pinggang. “Jika kau tidak menemuiku di halaman depan, silakan kau tanya di resepsionis, saat itu supervisor Nano-ID sedang berada di mana. Dan kau harus mengukir namaku di batu supaya tidak akan pernah lupa. Namaku Ryan Vikes. Supervisor jabatanku.”
Robert menyalakan mesin mobilnya. Diinjaknya pedal gas hingga ujung lobang knalpot mobilnya memuntahkan suara besar membahana.
Ngeeennggg....
__ADS_1
Kepulan asap putih membumbung di sekitar halaman parkir.
Sang manager prematur menyiapkan diri sebelum mendapat siraman rohani oleh keluarganya hari ini.