Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
40. Sebuah kemenangan


__ADS_3

Bobby langsung memanggil Pak Wesley ke kantor pusat Sanjaya Group di Jakarta setelah proses tender selesai. Mengetahui bahwa Sanjaya Techno gagal mendapatkan project, Bobby mengamuk.


“Kau tidak bisa diandalkan, Wesley!”ketusnya menyeringai, kedua pangkal alisnya bertaut.


“Maafkan saya, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dari segi apa pun. Dalam penulisan proposal, saya bahkan melibatkan belasan ahli IT profesional kita untuk pengumpulan ide,” beber Pak Wesley menguatkan diri.


“Tidak usah banyak alasan!” tepis Bobby sambil menggeleng, meluapkan kemarahan. “Kenapa kau malah bawa-bawa karyawan lain?”


“Maksud saya bicara seperti itu adalah ingin menjelaskan bahwa sudah banyak sekali ide yang tersalurkan agar konsep yang kita tawarkan  bisa diterima pemerintah. Saya dan tim sudah bekerja dengan maksimal, Tuan. Sekali lagi maaf kalau saya mengecewakan.” Pak Wesley menundukkan kepalanya sedikit.


“Bagaimana mungkin kau bisa kalah dari bawahanmu itu, Wesley? Kenapa bisa Stefan mampu melakukannya?” Bobby ternganga mulutnya karena saking tak percaya.


Pak Wesley mengedikkan bahu sembari menghela napas lemah. “Ketika Stefan masih bekerja di tempat kita, saya selalu merekomendasikan dia, Tuan. Saya paham seperti apa kemampuan anak itu. Itulah kenapa saya kecewa begitu tahu dia dikeluarkan dari perusahaan. Bukan hanya saya kecewa, tapi hampir semua orang di Sanjaya Techno.”


Bobby tak bisa mengelak lagi. Stefan enyah dari perusahaan murni dari keputusannya seorang. Meski begitu, egonya tak juga turun, malah masih saja menyerang balik Stefan dengan pelbagai macam tuduhan.


“Dia sampah yang tidak jelas asal usulnya, Wesley. Masih banyak anak muda lulusan sarjana dan S2 di luar sana yang jauh lebih pandai dari dia, yang jauh lebih jenius dari dia. Ini merupakan tugasmu. Cepat kau cari orang yang lebih baik dari pada Stefan!” titah Bobby menggeram.


Pak Wesley kembali menunduk sedikit, lalu mengiyakan omongan bosnya. “Baiklah, Tuan. Saya akan berusaha.”


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Di kantor AlfaTech, Swiss.


Pak Arya mempersilakan Stefan untuk duduk. “Selamat, Stefan!”

__ADS_1


Stefan senyum dan berkata, “Selamat buat AlfaTech, Pak. Semua berkat kerja keras kita semua.”


Pak Arya yang wajahnya berseri-seri lantas menegakkan bahu, lalu berujar, “Walaupun kau adalah orang yang paling keras menolak keikutsertaan kita, tapi kau adalah orang yang paling berkontribusi besar. Perusahaan sangat berterima kasih kepadamu, Stefan.”


“Tidak usah berlebihan seperti itu, Pak. Justru perjuangan kita baru saja dimulai. Transformasi ke digitalisasi sudah berlangsung bertahap dan bisa dianggap sukses, namun untuk menyatukan puluhan ribu aplikasi dan database dalam satu aplikasi saja tentu sangat sulit. Maka dari itu, kita hanya bisa mengusahakan untuk penyempitan saja, jadi hanya akan ada seratus atau dua ratus aplikasi yang beroperasi untuk melayani sekian banyak kementerian dan lembaga,” jelas Stefan.


“Apa kau butuh senior untuk membantu tugas-tugasmu?” tawar Pak Arya.


“Jelas, Pak. Kita masih butuh tiga sampai lima orang lagi untuk mengisi beberapa pos. Khusus untuk database administrator kita butuh dari orang pemerintahan. Kita butuh network engineer, system analyst, dan designer. Theo dan Stephanie bisa diandalkan menjadi programmer aplikasi atau mobile app developer. Minimal akan ada tujuh orang yang bekerja termasuk saya.”


Pak Arya tahu tugas terpenting Stefan adalah information and cyber security, plus analyst, dan tak kalah penting lagi adalah menjadi pemimpin. Pak Arya tidak salah memilih orang. Tidak seperti sebagian kecil pekerja yang sok bisa dan merasa dirinya pintar segalanya, namun sebaliknya, Stefan tetap rendah hati dan masih membutuhkan kerja sama tim dari orang-orang terbaik.


Padahal, seandainya Pak Arya tahu kalau motivasi utama dari Stefan mau menggarap project ini alasannya karena ingin balas dendam dan membuktikan bahwa dia bukanlah sampah menyedihkan di hadapan Bobby Sanjaya.


Stefan puas. Jika waktu itu Bobby Sanjaya hadir, tentu dia akan membangga-banggakan dirinya, tim, dan nama perusahaan di hadapan Bobby namun untungnya waktu itu si congkak tidak datang.


\=\=\=>>>0<<<\=\=\=


Ketika Tim 18 yang baru telah terbentuk, sebagian orang tidak percaya bahwa anak baru bernama Stefan menjadi ketuanya, terutama Alan dan Liam, dua orang ini tampak sekali irinya begitu tahu info tersebut.


“Parah si penjilat itu! Cepat sekali karirnya melesat naik,” gunjing Alan, lalu memundurkan kursi kerjanya.


“Bahkan dia bisa mengambil hati pemerintah. Waw!” Liam tercengang heran, alisnya naik setengah senti.


Dua orang itu sengaja masuk ke ruang kerja Tim 18, lalu membuat sedikit keriuhan pagi ini.

__ADS_1


Alan si perfeksionis yang selalu tampil rapi bertepuk tangan berkali-kali, seolah memberikan ucapan selamat. “Hebat! Hebat! Tidak lama lagi anak baru kebanggaan Pak Arya akan segera menjadi manager,” koar Alan berdecak, tapi memandang remeh.


Liam berkacak pinggang juga berdecak-decak. “Lima tahun kerja bakal jadi direksi itu bocah!”


“Jilatanmu luar biasa, Stefan!” Alan mengacungkan dua jempolnya. “Baru bekerja beberapa bulan saja namamu sudah melambung tinggi di perusahaan ini. Anehnya, kau sikut sana sikut sini!”


Theo beranjak dan langsung mendorong Alan. “Pergi kau dari ruangan ini!” ketusnya menggeram.


“Wow! Si N4si rupanya makin berani yah?!” sembur Alan menatap jijik.


Belum sempat terjadi pemukulan, Stefan bangkit dan melerai dua orang itu. Stefan menyabarkan Theo, kemudian mengawasi wajah dua pria sok jago ini. “Puas-puaskanlah kalian memuntahkan sampah dari mulut kalian itu! Terus pergi dari sini! Kalian berdua tidak berguna sama sekali!”


Stephanie melambaikan tangan seperti mengusir kucing, sementara empat orang yang baru bergabung di tim ini jadi terkaget-kaget. Setelah mereka mendengar cerita sebenarnya dari Theo dan Stephanie, barulah nanti empat orang tersebut paham.


Meski demikian, sebagian yang lain malah bangga terhadap Stefan karena bagi mereka tidak mudah untuk memenangkan sebuah tender, saat ada seseorang yang telah melampauinya, tentu mereka akan senang menyambutnya.


“Stefan, selamat ya!” puji seorang karyawan yang berjalan berpapasan dengan Stefan.


“Stefan, lain kali ajak aku gabung bersama timmu dong!”


“Stefan, nanti ajarkan aku teknik coding yang sering kau praktikkan!”


“Stefan, foto bareng dong!”


Saking populernya, Stefan seperti artis saat berada di kantor. Namanya dipuja dan wajahnya di mana-mana, maksudnya fotonya diposting di mana-mana. Karena banyak prestasi yang telah ditorehkan dalam waktu kurang dari satu tahun bekerja, Stefan sering diajak dalam rapat penting dan dijadikan seorang pembicara di seminar-seminar yang diadakan oleh perusahaan.

__ADS_1


Ketika direksi dan management butuh masukan dalam menghadapi problem, Stefan selalu menyuarakan ide dan tidak diam saja. Saat karyawan lain butuh bantuannya, dia pun tak sungkan membantu dan tidak pernah mengeluh sama sekali. Stefan teringat dengan kehidupannya dulu yang keras dan susah. Jadi dia lebih sering tidak tega ketika melihat orang lain susah. 


Namun, Stefan punya prinsip, jika ada orang yang mau menantangnya, menjatuhkannya, dan terus menghinanya tanpa ada rasa kasihan dan tidak pernah meminta maaf, maka dendam di dadanya tidak mudah padam, serta balasan yang akan dia berikan akan jauh lebih besar. Seperti halnya kepada Bobby Sanjaya, tinggal menunggu tanggal mainnya saja, kehancuran, atau berlutut meminta maaf.


__ADS_2