Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
112. Kartu tidak bisa digunakan


__ADS_3

Emelda sangat tercengang. “Ha serius?” Wajahnya melunak sebelumnya tadi begitu sangar. “Nona Sanjaya yang begitu dikenal namanya tapi orang pada tidak tahu wajahnya?”


Lionny masih dalam kondisi yang cukup emosi. Jika saja Stefan tidak menghalanginya, asli bisa berantem. 


Stefan menatap malas dan berkata, “Kau yang bernama Emelda, sanalah! Sudah ada Gia di sini yang mau memberikan pelayanan kepada kami.” Lalu, Stefan membuka kacamata dan topinya.


Gia terpana. “Stefan? Hacker jago yang menjadi CEO Nano-ID? Andakah orangnya?” Bola mata Gia membulat sempurna karena saking tak percayanya.


Emelda maju dan ingin minta maaf. Dia menunduk dan berkata, “Sorry. Saya tidak bisa mengenali kalian berdua.”


Stefan membalasnya, “Kau kami maafkan. Silakan kau beristirahat. Lain kali, kau harus belajar banyak dari rekanmu Gia. Jaga sikapmu kepada siapapun.” Stefan tidak bisa memberikan ekspresi keakraban pada Emelda karena hatinya sangat terusik.


Lionny melirik Emelda sangat tajam. Rasa kagum dari Emelda barusan telah perlahan meredam amarah yang membuncah di dada Lionny. Jika saja Emelda tidak menunjukkan sikap respek dan tidak pula meminta maaf, Lionny akan bertindak lain.


Beberapa saat Stefan memainkan gawainya untuk membeli sesuatu, lalu kembali mengajak Gia berkeliling.


Emelda yang tengah diselimuti rasa bersalah, begitu tidak tenang, lantas dia pun kembali berjalan dengan ingin mengajak bersalaman dengan Lionny. “Maafkan saya Nona Sanjaya. Jangan laporkan kepada atasan saya kalau tadi saya kurang ajar sama Anda.” Wajah Emelda tertekuk basi.


Lionny membalik badannya. Dia menatap dengan seringai di wajahnya, lalu membalas, “Sudah saya maafkan. Tapi, tetap akan saya laporkan kepada atasanmu karena kamu memang kurang ajar. Seandainya saya orang yang sangat miskin, tentu tetap tidak terima  dengan omonganmu.”


Emelda sangat menyesal. Hari ini merupakan hari yang buruk baginya. Dia bikin masalah dengan putri dari konglomerat Indonesia. Jika bikin masalah dengan anak dari bos kecil-kecilan saja kadang jadi masalah besar, apalagi bikin masalah dengan Lionny.


Seandainya nanti Lionny benar-benar melaporkannya, jelas karir Emelda sebagai sales di tempat ini akan cukup berbahaya. Paling minimal, akan turun SP dari atasan. Dan parahnya, dia bisa saja dipecat secara langsung. Oleh karena itu, pundaknya makin landai dan hatinya begitu terpukul.


Emelda tertunduk lesu dan berkata lemah, “Maafkah saya Nona Lionny Sanjaya. Saya tidak tahu kalau ternyata Anda orangnya.”


Lionny melengos. Sudah malas dia bicara sama wanita pembenci ini. Dia kembali berjalan menyusul Gia dan Stefan. Namun, Emelda menarik lengan Lionny dan terus berusaha.


Lionny mendengus kesal dan berkata dingin, “Saya orang biasa yang tadi turun dari transportasi online, Agya merah norak, datang ke sini hanya melihat pameran mobil. Sehabis ini kami mungkin akan ke showroom pinggiran cari mobil bekas yang cicilan tiga juga per bulan.” Lionny melipat tangan di dada dan tidak melihat mata Emelda.


Sales seksi itu sampai membungkukkan badan. “Saya sering dengar cerita tentang Keluarga Sanjaya. Karena Anda cukup tertutup, jadi saya tidak begitu tahu tentang Anda, Nona Sanjaya. Maafkan saya.”


“Oh, berarti kalau saya hanya orang biasa bahkan miskin, kamu akan tetap sombong dan ketus. Itu berarti kamu sudah biasa melayani pelanggan dengan tidak sopan.”

__ADS_1


“Tidak seperti itu juga, Nona Sanjaya. Kebetulan hari ini saya memag agak sensitif.”


“Dan sangat disayangkan saya yang menjadi korbannya. Kembalilah ke tempatmu! Tunggu nanti hukuman apa yang akan diberikan oleh bosmu!” Lionny lalu melenggang meninggalkan Emelda yang tengah terpancang bengkok seperti batang keladi.


Stefan yakin dengan pilihannya tadi Bentley yang modis dan cocok buat dipakai pergi pulang kerja. Dia menghadap Lionny dan berkata, “Silakan kau pilih, Lionny,” tawar Stefan sambil kembali menenangkannya.


Lionny menatap Stefan sangat lekat. Ekspresi wajahnya langsung bertransformasi, dari menjengkelkan tadinya, langsung ceria berbinar. “Hadiah untukku? Apa saja? Serius?” cecarnya tidak tahan.


Stefan meluaskan pandangannya ke gedung luas ini. “Pilihlah satu, sesukamu!” Stefan melepaskan sebuah senyuman yang penuh kemenangan. Jika Stefan memberikan dua puluh mobil sport terbaik dan termahal, tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan Lionny.


Di tengah gedung, Lionny memutar badan, kepala dan bola matanya; memindai semua jenis mobil. Namun, dari semuanya, fokus pandangnya terakhir tertuju pada Audi A7.


Stefan menatap heran. “Tidak salahnya kemarin makan daging, sekarang makan ikan, karena alasannya selera. Tapi, bagaimana bisa kemarin A8 sekarang mau A7?”


Lionny menyenggol Stefan. “Dulu kepinginnya A7, tapi kesampeannya A8. Logikanya sih harus ada peningkatan. Tapi analogi selera tadi cukup rasional.”


“Lionny, jika kau inginkan mobil lain, apapun, akan aku kasih. Silakan.”


“Cukup yang tadi saja.”


“Bungkus Mbak!” kata Stefan sangat yakin


Ketika berjalan-jalan dan masih melihat-lihat mobil lainnya, ada beberapa pengunjung yang mengenal Stefan, sampai-sampai mereka minta foto bareng karena saking kagumnya.


Begitu juga dengan sebagian dari karyawan. Saat melihat ketampanan Stefan, para wanita di sini menjadi tergila-gila. Tidak hanya menawan dalam segi fisik, mereka yakin bahwa Stefan sungguh kaya.


Buktinya baru saja Stefan membeli dua mobil mahal yang kalau ditotalkan 11,6 milyar.


Tyo sang supervisor keluar dari ruangannya setelah mendengar kegaduhan. Mengetahui ada orang istimewa yang datang, Tyo menyambutkan dengan antusias. “Tuan CEO Nano-ID. Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” tawarnya hangat.


Stefan bersalaman. “Terima kasih. Saya sudah dilayani dengan baik oleh sales bernama Gia. Anda harus mempertahankan pekerja seperti Gia.”


Tyo mengangguk takzim dan membalas akrab, “Gia memang dinilai ramah terhadap semua pelanggan. Kami sangat senang ketika ada pelanggan, apalagi sekelas Pak Stefan, yang menyanjung karyawan kami. Terima kasih kembali.”

__ADS_1


Ada bisikan sesama karyawan.


“Stefan, dia lebih tampan dari yang aku lihat di media sosial.”


“Badannya sangat tinggi dan berisi seperti bule Eropa.”


“Waw! Dia bos yang sangat dikagumi karena sikapnya yang tenang, dingin, dan tegas.”


“Suami idaman!”


Tyo segera menemani Stefan menuju bagian kasir untuk melakukan proses pembayaran. “Pak Stefan, seharusnya tadi Anda memanggil saya atau lebih baik manager langsung untuk melayani Anda. Dikhawatirkan sales kami tidak memberikan pelayanan baik kepada Anda. Kami tidak ingin Anda kecewa.”


Stefan menepuk pundak Tyo dan berkata, “Pelayanan di sini sudah baik. Selebihnya, silakan nanti Anda bicara dengan Lionny.”


Pada saat berhadapan dengan petugas kasir, Stefan mengeluarkan dua kartu sekaligus : kartu Black Bank Ace dan kartu Black Star Bank Diamond.


Tyo, petugas kasir, dan orang-orang di dekat sana pun terkesima!


Stefan memberikan kartu Black miliknya. Petugas kasir pun menggeseknya lalu menyuruh Stefan untuk memasukka pin.


Sukses, tapi....


Petugas kasir berkata heran, “Pembayarannya baru sepuluh milyar, masih kurang satu koma enam.”


Tyo dan yang lainnya memberikan sebuah gestur.


Stefan tenang, itulah alasan kenapa dia menyiapkan dua kartu sekaligus. “Sisanya saya bayar pakai Black Star.”


Petugas kasir menggeseknya lalu kembali meminta pin.


Kartu tidak bisa digunakan!


Wanita itu tercengang. “Kita ulangi!” ucapnya resah.

__ADS_1


Masih gagal. Sampai lima kali pun masih gagal. Kartu tidak bisa digunakan.


Semua mata tertuju pada Stefan dengan pandangan heran.


__ADS_2