Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
116. Ternyata..


__ADS_3

Tuan Stone merupakan pria dominan sejati. Asal orang lain tahu, Bugatti miliknya tersebut baru dibeli beberapa hari yang lalu di Jakarta hanya untuk berkeliling kota, bersenang-senang mencari wanita, dan terakhir mengurus beberapa bisnisnya.


Meski bisnisnya merupakan prioritas, wanita baginya tetap nomor satu. Itulah uniknya orang kaya. Dia menatap sangar ke arah Stefan dan berkata, “Jika kau punya penawaran, silakan katakan. Mari kita bicarakan dan akan aku pertimbangkan dengan bijak.” 


Kemudian, Tuan Stone menyombongkan kekayaannya. Dia bercerita panjang soal bisnis investasinya yang cukup mengagumkan. Katanya, dia akan memperluas bisnisnya tersebut di Jakarta. “Aku akan berinvestasi di dua perusahaan besar di Indonesia. Aku orang kaya. Ha-ha.”


Asap cerutu pun mengepul dan membumbung ke langit. Lalu Tuan Stone tersenyum sangat lebar hingga tampaklah emas di giginya yang berkilau. Dia merupakan orang yang tipikal, jika di letakkan di kerumuan orang, semua orang pasti akan memusatkan perhatian ke dirinya.


Ketika semua orang memperhatikan dirinya, Tuan Stone akan bangga. Sebagaimana kebanyakan kemauan orang pada umumnya, kekayaan akan selalu berdampingan dengan ketenaran. Jika dua hal tersebut sudah dimiliki, agaknya mudah mendapatkan segala hal.


Tuan Stone mengawas sekeliling, lalu berkata sangat dingin, “Apa yang sedang kau pikirkan, Anak Muda? Aku tidak yakin kalau wanita di sampingmu adalah calon istrimu. Apa buktinya?” cecar Tuan Stone.


Stefan akan bersikap sebagaimana pria. “Tidak perlu aku jelaskan kalau dia memang benar-benar calon istriku. Apa dengan penampilanku yang sederhana ini, lantas kau menilaiku orang miskin?” Stefan melipat tangan di dada dan sedikit menaikka kepalanya.


Mike menyerobot. “Jelas kami tidak percaya kalau kau calon suaminya. Kau memang tampan, tapi kau tidak cocok dengan dia. Dan bukankah kami tadi sudah bilang kalau tidak ada gunanya bagi kami kau siapa wanita ini? Kami tidak peduli!” Mike mulai ngegas lagi. Nadanya mulai meninggi.


Lionny diserang rasa takut yang tinggi. Dia tidak ingin terjadi apa-apa. Dia berkata dengan pelan, “Stefan, ayo kita pergi saja dari sini! Tidak usah meladeni mereka!” Lionny menarik lengan Stefan.


Namun, Stefan bisa membedakan antara sabar dan takut. Dan, jika lari dari mereka sekarang, dia pikir dia seorang pengecut, maka dari itu Stefan harus menyelesaikan persoalan ini, dengan kepala dingin, kalau memang tidak bisa, sepertinya dia terpaksa harus berkelahi.


Stefan menoleh ke belakang dan berkata lirih, “Tenang saja Lionny, mereka adalah orang datangan. Tidak bakal berani mengusik kita.” Kemudian Stefan mengawasi mereka berdua dengan pandangan serius, lalu berkata sungguh-sungguh, “Apa kalian tidak mengerti, sudah ku bilang berkali-kali kalau aku merupakan calon suami darinya?! Jika kau, orang banyak gaya, ingin wanita, di Jakarta terlalu banyak, silakan cari!”


Tuan Stone mengoles dagu dan berkata, “Aku tidak mau! Aku hanya ingin wanita bernama Lionny itu! Lionny kan namanya ha? Kau sok kaya tidak mau menerima penawaranku!” Tuan Stone mendengus kesal. Ada guratan di keningnya. Matanya makin jahat. 


“Tidak akan!” Stefan tegas. “Sudah ku peringatkan berkali-kali, dia bukan wanita sembarangan. Berhenti kalian bicara, atau akan aku pukul kalian!”

__ADS_1


Mendengar itu, Mike terkaget. Dia berkacak pinggang dan berkata keras, “Berani-beraninya kau mau memukul kami!”


Tuan Stone memelototi Stefan, lalu menyindir sinis, “Bekerja di mana kau? Apa kau orang kaya?” Tuan Stone memberikan tatapan penasaran. Atau, jangan-jangan dia salah menilai orang. Bisa kacau urusannya. “Siapa kau?” cecar Tuan Stone dengan nada was-was.


Tuan Stone mulai khawatir. Apa bisa jadi pria di hadapannya ini bukan orang sembarangan? Ekspresi Tuan Stone mulai berubah.


Mike yang berada persis di sampingnya heran melihat wajah bosnya. “Apa kita sikat sekarang bos? Sepertinya dia tidak bisa diajak bekerjasama dengan kepala dingin. Dia tidak mau menerima tawaran dari kita.” Mike tak sabar.


Namun, Tuan Stone belum mau mengambil tindakan cepat. Adu fisik merupakan hal biasa bagi Tuan Stone, bahkan dia punya pistol di tasnya jika ingin memang harus ribut. 


Ketika melihat respons Stefan yang santai dan tidak panik, Tuan Stone malah yang jadi panik. Mengherankan, kenapa bisa orang di hadapannya ini tetap tenang? 


Tuan Stone tidak bodoh. Dia terlalu sering berhadapan dengan banyak orang, biasanya orang tersebut akan takut dan nurut, baik karena melihat harta yang menempel di tubuhnya, karena tawaran yang menggiurkan, gertakan, maupun kesombongannya.


Namun, tidak bagi Stefan!


Mike makin  bingung. “Tuan? Santai, Tuan. Aku bisa menghajar pria ini sekarang jika Tuan perintahkan!”


Stefan memasukkan tangannya ke saku dan kembali ke mode cold. Sedikit pun tidak ada rasa khawatir dan tegang di wajah Stefan. Itulah alasan kenapa Tuan Stone sangat curiga. 


Stefan berkata dingin, “Kau tidak perlu tahu aku siapa. Kau lihatlah sandal jepitku! Harganya hanya puluhan ribu rupiah.” Stefan memberikan sebuah senyuman tipis.


Mike marah, “Kau! Apa yang sudah kau katakan?”


PLAK!

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Mike. Tuan Stone berang. “Diam kau, Bodoh! Aku sedang bicara dengan pria bernama Stefan ini. Apa kau dengar tadi wanita itu bilang namanya Stefan?”


Mike mengusap-usap pipinya yang perih. Dia langsung menunduk lemas. “Maaf, Bos.”


Stefan berkata dingin, “Dave Stone, investor dari Singapura, aku tidak bakal lupa nama dan wajahmu, wahai orang tua. Pergi dari sini. Jangan rusak waktu berharga kami!”


Tuan Stone kembali melirik Stefan. “S-siapa kau?” tanyanya makin penasaran. Apa kau pebisnis di Jakarta. Stefan apa namamu? Katakan.” Tuan Stone makin kikuk.


Mike tak kuasa melihat bosnya merendah. Dia melirih untuk memperingatkan bosnya, “Bos, jang...”


BUG!


GIG!


“Ampun, Bos!”


“Sudah dibilang diam, b4ngsat!”


Nanar mata Tuan Stone. Dia membalik badannya dan melempar pandangannya ke lautan luas. Saat ini, Tuan Stone tampak galau dan resah. Isi di dalam kepalanya tiba-tiba berkecamuk.


Nafsu birahi yang tadinya meledak-ledak ketika menginginkan Lionny kini pupus, hilang mendadak, dihantam rasa penasaran beribu-ribu dahsyatnya.


Tuan Stone berjalan mondar-mandir tak jelas. Dia menginjak cerutunya. Sesekali lirikan matanya mengawasi Stefan, yang masih saja santai.


Tuan Stone bergumam sendiri, “Stefan? Stefan .... Stefan!” Dia mengusap wajahnya tanpa alasan yang jelas. “Stefan?” Dia menengadahkan wajahnya ke langit seraya menghembuskan napas yang sangat panjang. “Ahh!”

__ADS_1


Stefan mendekatinya. Dia mengeluarkan dua kartu sakti dari dompetnya dan berkata dingin, “Tadi baru saja aku membeli mobil di Best Auto Jakarta. Silakan tanya kepada orang di sana, siapa sebenarnya Stefan sebenarnya dan apa profesinya.”


Tuan Stone tercekat. Bibirnya bergetar.


__ADS_2