
Ketika Stefan berada di kamar mandi, ponselnya dari tadi bergetar dan berdering. Sekarang sudah panggilan ke enam. Penasaran, Lionny pun mengeceknya.
Panggilan dari Grace!
Apa? Kenapa wanita itu masih menghubungi Stefan? Lionny bertanya-tanya sendiri. Entah kenapa Lionny cemburu.
Begitu Stefan keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan handuk putih, Lionny malah memberengut dan memandang suaminya dengan penuh kecurigaan.
“Kau kenapa, Sayang?” Stefan melongo.
Lionny membatu dan di salah satu ujung bibirnya ada sunggingan. Lantas Lionny keluar dari kamar, entah mau ke mana, padahal sekarang seharusnya dia menyiapkan pakaian kerja buat Stefan, lalu menemani sarapan.
Drrrttt....
Drrrttt....
“Grace?” desis Stefan. Hm, pantas saja, pikirnya. Stefan mengusap warna hijau.
“Stefan, kabarnya kau sudah keluar ya dari Sanjaya Sawit. Aku dapat info dari Alifha. Kebetulan, ayahku kemarin memberikan konfirmasi bahwa AlfaTech sedang membutuhkan seorang programmer, kau termasuk orang yang direkomendasikan.”
“Grace, aku berterima kasih karena kau sudah berusaha agar aku bisa bekerja di AlfaTech. Tapi mohon maaf, aku tidak bisa menerimanya.”
“Hah? Serius Stefan? Ayahku sangat berharap kau mau bekerja di sana. Kenapa, soal administrasi? Kau tidak perlu memikirkannya karena semua akan dipermudah oleh ayahku.”
“Bukan, Grace,” bantah Stefan dengan pelan. “Aku sudah bekerja di perusahaan milik Kakek Sanjaya. Dengan berat hati aku menolak tawaranmu. Sampaikan dengan baik kepada ayahmu. Terima kasih.”
KLIK!
Setelah berpakaian, Stefan bergegas menemui istrinya. Rupanya Lionny sedang menyiram tanaman di kebun.
“Sayang, kan sudah ada bibi. Kau istirahat saja di dalam.”
“Tanahnya kering dan tandus. Jika tidak segera disiram, tanamannya akan mati.” Nada bicara Lionny seperti menyiratkan sesuatu.
“Bukan cuma air, terkadang pengertian jauh lebih penting agar tanamannya tetap hidup. Lionny istriku, Grace menelepon barusan hanya ingin menyampaikan bahwa AlfaTech sedang butuh seorang programmer dan mereka menawarkan posisi tersebut kepadaku.”
Lionny membalik badannya, lalu menjawab, “Pergi saja sana ke Swiss ditemani wanita itu!” Lionny melemparkan alat penyiram tanaman sekenanya, lalu berjalan keras menghentak-hentak.
__ADS_1
“Sayang, sumpah aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Grace.”
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Tidak seperti di kantor Sanjaya Sawit, Stefan sangat di hormati ketika bekerja di kantor Sanjaya Techno. Petinggi perusahaan atau karyawan biasa, baik senior atau junior, semua memperlakukan Stefan dengan baik. Makanya Stefan betah bekerja karena lingkungan yang nyaman.
Dalam sebuah rapat, Pak Wesley langsung menunjuknya untuk memimpin sebuah project pembuatan aplikasi yang dipesan oleh sebuah badan pemerintahan. Tidak ada satu pun dari para peserta rapat yang menolak keputusan Pak Wesley.
Meski Stefan sempat menolak karena dirasa masih ada senior lain yang lebih pantas memegang project ini, Stefan tidak bisa menahan desakan dari atasan dan rekan lain, dan akhirnya Stefan menjadi pemimpin grup pengerjaan project selama dua bulan ke depan.
“Akan ada dua prgrammer yang membantu tugasmu, Stefan. Semangat!” tukas Pak Wesley memberikan motivasi.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Sepulang dari bekerja, Stefan langsung menghampiri istrinya di kamar. Dilhatnya Lionny masih saja murung dan merengut. Lantas dipijatnya pundak istrinya perlahan, lalu dielusnya rambut istrinya dengan lembut.
Stefan membisik ke telinga istrinya, “Sayang, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Grace. Dia memberikan penawaran kembali agar aku bisa bekerja di AlfaTech, perusahaan yang dipimpin oleh ayahnya.”
Sebenarnya Stefan senang melihat istrinya merajuk. Dengan ini dia menilai bahwa istrinya masih benar-benar cinta terhadapnya. Namun, dia juga tidak ingin terus-terusan melihat Lionny dalam kondisi seperti ini.
Lionny yang tengah duduk di atas kasur lantas membalik badannya, lalu berucap lemah, “Aku baru saja merasakan bahagia, Stefan. Aku tidak ingin kebahagiaan ini rusak.”
Mata Lionny berkaca-kaca. Beberapa detik kemudian jatuhlah setetes bulir air matanya lalu membasahi pipinya yang halus. Stefan menyeka air mata itu, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Stefan meneruskan, “Ketika kau ingin dinikahkan dengan Erick pria pilihan ayahmu, apa aku diam saja dan pasrah? Apa aku tidak cemburu? Apa aku merelakannya lantas pergi begitu saja? Bahkan, aku rela dipermalukan di hadapan keluargamu dan karyawan kantor.”
Tangis Lionny pecah, sampai dia sesenggukan. Stefan merengkuhnya erat dan mengelus-elus tubuh Lionny, seolah tidak ingin berpisah lagi. Tidak ada kata yang mampu terucap lagi, melainkan derai air mata yang terus mengalir.
\=\=\=>>>0<<<\=\=\=
Begitu telah sampai di halaman parkir, baru saja turun dari mobilnya, Stefan langsung dihadang oleh Pak Wesley.
“Stefan, project-nya kita tunda dulu. Saya mendapat tugas penting dari Pak Bobby Sanjaya,” kata Pak Wesley agak kencang nada bicaranya.
Stefan mengangguk pelan. “Saya tahu informasinya, Pak. Beliau ingin meminta bantuan kepada Sanjaya Techno karena sekarang mereka sedang berada dalam masalah besar seperti tempo hari. Hacker kembali beraksi meretas sistem keamanan mereka.”
“Dari mana kau tahu, Stefan?” tanya Pak Wesley yang berjalan duluan dan masuk pintu depan melewati dua security.
__ADS_1
“Rekanku sesama prgrammer mengirimkan chat padaku pagi ini. Program yang aku pasang di sana telah dinonaktifkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.”
“Kemudian ada seseorang yang memasukkan malware.”
Sambil terus mengiringi langkah Pak Wesley yang berada di depannya, Stefan membalas dengan nada yang tidak ada keraguan sama sekali. “Orang dalam. Karyawan di sana sendiri yang membantu tugas si hacker. Jika program SigmaX.0.5 tidak dinonaktifkan atau dimusnahkan, mereka tidak bisa memasang malware.”
Ketika berbicara empat mata dengan Pak Wesley di ruangannya, Stefan mengeluhkan karyawan-karyawan di Sanjaya Sawit terutama yang terkait dalam bidang IT, karena baginya mereka tidak terlalu punya kapasitas.
“Apa saranmu, Stefan?” tanya Pak Wesley.
“Khusus IT, sebaiknya dirombak saja, Pak. Saya melihat di sana rentan sekali terjadi peretasan atau penyadapan. Ketika sekretaris yang bernama Grace disadap ponselnya, pelaku ternyata masih teman dekat seorang pekerja di sana.”
Pada saat tahu keberadaan Joko Sontoloyo, ternyata Stefan tidak melupakannya begitu saja. Sebab, ketika karyawan lain tersadap, meskipun Stefan tidak membantu mereka, Stefan tetap mencari tahu korelasi dari peristiwa antar korban dan pelaku melalui data yang ada.
Benar saja. Ketika terjadi peretasan sistem keamanan Sanjaya Sawit tempo hari, rupanya pelaku utama yang merupakan mantan pekerja Sanjaya Sawit tersebut ada hubungan dekat dengan pelaku penyadapan ponsel Grace dan teman-temannya. Dengan kata lain mereka berada dalam satu komplotan.
Pak Wesley mengoles dagu. “Stefan, berarti pada kasus yang baru ini erat kaitannya dengan pelaku kemarin?”
“Sangat erat, Pak. Pelaku memang tertangkap. Karena virusnya masih ada di kantor, pelaku lain akan mudah lahir kembali.”
“Kau tahu orangnya?”
“Saya tidak bisa memastikan karena belum punya bukti otentik.”
“Baiklah. Sanjaya Sawit merupakan bagian dari kita. Jika ada satu perusahaan Sanjaya Group yang sedang berada dalam masalah, maka sudah sepantasnya perusahaan lain memberikan bantuan.”
Stefan menangkat bahunya, lalu menjawab, “Karena masalah ini tidak hanya terkait dengan perusahaan, melainkan urusan keluaga juga, jadi saya akan mendiskusikannya dengann istri saya terlebih dahulu.”
Stefan pun memberi tahu kepada istrinya melalui telepon bahwa dia ingin masuk ke dalam tim yang akan membantu Sanjaya Sawit. Mendengar itu, Lionny berang, lalu saat ini juga langsung menuju kantor Sanjaya Techno dan mendobrak masuk pintu ruangan IT.
Ceklek!
Braakk!
Semua orang di ruangan ini terkaget-kaget. Dan lebih mengagetkan lagi yang masuk ternyata cucu dari Kakek Sanjaya. Semua mata langsung menuju kepada Lionny dan Stefan.
Stefan beranjak lalu menggiring istrinya keluar ruangan. Lionny marah-marah kepada suaminya. Dia tidak peduli suaranya melengking keras dan didengar banyak orang.
__ADS_1
Stefan berulang kali menenangkan istrinya, tapi wanita itu tak bisa menahan amarahnya.
“Stefan, kau ingat apa yang diperlakukan keluargaku selama tiga tahun padamu? Kau ingat terakhir kau dijadikan seperti apa oleh ayahku di kantor? Jadi, kau tidak usah membantu ayahku! Biar dia urus sendiri perusahaannya!” Lionny murka.