Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
57. Hanya satu hari


__ADS_3

Marissa yang hendak pergi istirahat kaget melihat Stefan sedang pegang sapu lidi dan membersihkan halaman kantor siang ini.


“Kau sudah diterima jadi OB di sini?” tanyanya heran. “Kau buang ke mana semua ilmumu sehingga kau rela berpanas-panasan hanya untuk duit UMR?”


Stefan menyeka peluh di dahinya, lalu menjawab, “Seru juga menemani calon supervisor kerja. Iya kan, Ryan?”


Ryan tersandar lemas di bangku pos penjagaan. Baru saja dia menghabiskan setengah botol air mineral. Seumur-umur jadi pria tampan dengan penampilan menarik, baru kali ini dia kerja sangat keras. Jika bukan karena perintah CEO Nano-ID, dia pasti akan protes.


Ryan bergeming dan membatu. Dia tidak ingin menjawab karena nantinya omongan ini akan panjang. Dia tambah malu. Dari tadi dia menjauhkan alat kebersihan itu darinya. Parahnya, Martin tidak memperbolehkannya memakai masker.


Beberapa saat setelah itu, Marissa kembali dengan membawa dua nasi padang buat teman lamanya itu. “Makanlah! Aku sangat prihatin melihat kalian berdua. Terutama kau, Stefan. Kau sepertinya bakal lama menjabat sebagai OB. Sedangkan Ryan hanya sebulan.”


Stefan mengambil pemberian Marissa, lalu berkata, “Mudah-mudahan CEO akan lebih berlaku adil. Sepertinya CEO adalah orang yang bijak. Dia sangat benci jika diremehkan. Dan aku harap dia akan membalas kebaikanmu, Marissa.”


Marissa tak mengindahkan dua pria receh ini. Dia malah sibuk mengurus pekerjaannya yang belum kelar.


Ryan meneriaki Stefan dan menyuruhnya mendekat. “Hei. Beruntung sekali kau bisa langsung bekerja disuruh oleh asisten CEO. Apa mereka tahu siapa kau?”


Stefan menghela napas, lalu menjawab, “Bisa jadi mereka tahu rahasiaku. Bukankah aku ini pria menyedihkan yang pernah tiga tahun menumpang?”


Namun, Ryan tidak tahu bahwa Martin, David, dan beberapa orang penting lainnya merupakan orang-orang baru pilihan Pak Arya. Orang-orang ini tidak tahu soal Stefan kecuali Stefan adalah orang terbaik pilihan Pak Arya. Mereka tidak kenal sosok Stefan yang sering dihina dan dipermalukan.


“Stefan, kau tadi lancang sekali bicara sama Robert Sanjaya. Bagaimana nanti dia dan bersama orang-orang Sanjaya Group datang ke sini lagi lalu mempermalukanmu?”

__ADS_1


“Jika mereka benar-benar butuh, mereka pasti akan ke sini lagi, hanya saja CEO Nano-ID tidak akan mempersilakan orang seperti Robert masuk ke dalam ruangannya.”


Ryan kaget mendengar statement Stefan yang begitu meyakinkan. Dia membalas, “Hm, aku tidak heran kau bicara seperti itu karena kau punya riwayat gegar otak dan hilang ingatan parah. Otakmu belum teralu optimal, Stefan. Apa sekarang kau masih rutin berobat?”


“Otakku masih bagus. Buktiknya aku bisa bicara sebenarnya dengan anak orang kaya itu. Dia terlalu muda untuk seorang manager. CEO Nano-ID sungkan berurusan dengan orang seperti itu.”


Ryan menggeleng dan menatap heran, lalu berkata, “Asli kau ini belum sembuh seratus persen. Belum bertemu dengan CEO saja kau sudah sok tahu CEO orangnya seperti apa. Lama-lama aku bisa gila kalau bicara sama kau.”


Sore harinya, Martin, David, dan beberapa orang lain pun pulang. Mobil-mobil mereka mengklakson begitu melewati gerbang kantor.


Ryan kira, mereka semua memberikan salam terhadapnya. Sontak Ryan berdiri sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil-mobil itu.


“Ya, hati-hati,” seru Ryan.


Padahal, klakson itu tertuju pada Stefan yang tengah duduk tersandar di pos penjagaan. Dia tak berekspresi. Rasanya Stefan ingin tertawa melihat pria ini. Dulu waktu SMA, Ryan memang memukau, tapi bukan karena sesuatu yang mencolok, kalaupun ada, itu karena sesuatu yang dipaksakan. Pria ini idealis dan narsis.


‘Aku tidak sabar menunggunya,’ batinnya.


Di waktu bersamaan, di kediaman Bobby Sanjaya, Robert bicara lantang penuh keceriaan, padahal tugasnya belum terselesaikan sama sekali.


Robert mengawasi orang-orang di sini satu per satu, lalu berkata, “Sekarang pria menyedihkan itu sudah pulang dari Swiss. Lucunya, dia menjadi office boy di Nano-ID. Geli sekali aku melihatnya tadi.” Robert tergelak melepaskan tawa.


Mendengar itu, Bobby sumringah, senyumnya sangat bahagia. “Jika nanti Sanjaya Group bisa collabs dengan Nano-ID, jelas kita akan tiap hari mempermalukan dia.”

__ADS_1


Info terakhir yang Bobby dapatkan ialah Stefan berhasil memenangkan tender, sekitar setahun lalu, setelah itu cerita Stefan lenyap. Jika saja saat ini karir Stefan langsung anjlok, bisa saja terjadi. Sebagaimana dulu Stefan merupakan orang hebat, lalu tiba-tiba gila. Semua bisa terjadi.


Chyntia tersenyum jahat. Matanya menajam sambil melihat ke arah dinding. Pasti dalam bayangannya adalah wajah pria benalu itu. Luchy terkekeh-kekeh begitu tahu Stefan sekarang jadi petugas kebersihan.


“Masa lalu yang melekat di kepala memang mempengaruhi masa depan,” umpat Luchy sambil melepaskan tawa sambil perutnya tergeli-geli. “Dia pasti jadi tukang sapu yang andal!”


Bobby mengalihkan pandangannya ke Robert dan berkata, “Bagaimana, apa kau sudah ketemu dengan CEO Nano-ID? Apa beliau bersedia mau bekerja sama dengan kita?”


Wajah Robert langsung terkekuk. “Ayah, CEO saat ini belum bisa diganggu. Aku hanya bertemu dengan asistennya. Lagipula Nano-ID belum beroperasi. Tapi yakinlah sama aku. Sanjaya Techno akan bisa bekerja sama dengan Nano-ID.” Robert amat antusias dan percaya diri. Jiwa mudanya terbakar, tapi pengalaman dan attitude-nya Nol!


Ibunya memberikan motivasi. “Buktikan kalau kau memang anak laki-laki dari Bobby Sanjaya dan merupakan penerus utama dari Sanjaya Group!” Chyntia menatap harap.


Mendengar itu, wajah Robert berubah lagi, ada riang tercetak di air mukanya. “Aku akan buktikan pada Keluarga Sanjaya bahwa aku bisa. Setelah melobi CEO Nano-ID, aku ingin sekali mempermalukan Stefan.”


Saat ini, Lionny telah berada di Surabaya. Dia kecewa karena tidak dipercaya oleh ayahnya sendiri. Belum lagi, dia harus mengikis cerita palsunya bersama Leon.


....


Di rabu pagi, Stefan tidak masuk bekerja. Ditunggu sampai jam sepuluh Stefan tidak muncul-muncul. Akhirnya Ryan segera melapor ke Martin.


“Pak, OB rekan saya tidak masuk tanpa alasan jelas hari ini.”


Martin mengernyitkan kening dan menggaruk telinganya, lalu membalas, “OB mana? Semua OB masuk hari ini. Hanya saja, mereka bekerja di dalam ruangan. Ada satu OB di setiap lantai. Hanya kau sendiri saat ini yang bekerja di halaman.”

__ADS_1


“Stefan nama temanku itu. Aku yang merekomendasikan dia. Bukankah Pak Martin sendiri yang menyetujui?” Ryan menatap heran. Matanya penuh diselimuti rasa penasaran.


Martin mengedikkan bahu dan berkata tegas, “Keji sekali kau bilang dia OB. Sudah, aku masih banyak urusan sekarang. Empat hari lagi kau akan tahu sendiri. Cepat kau keluar sana!” usir Martin seperti kegerahan.


__ADS_2