
Di halaman kantor.
Sebuah mobil masuk. Sopirnya bilang kepada petugas keamanan, “Es Kopi Kekinian. Ada 700 untuk semua karyawan kantor. Kalau ada lebih, silakan kasih ke pengendara yang lewat. Dari Lionny Sanjaya.”
Tak lama setelah itu, satu mobil pick-up juga masuk. “Ada sepuluh parcel. Kiriman dari Lionny Sanjaya. Untuk direksi perusahaan.”
Ryan baru saja tiba setelah dari Kwetiau A Ling. Dia diteriaki oleh dua security dan dua OB lainnya untuk membantu mereka membawa kiriman itu masuk ke kantor.
Tapi, Ryan menolak. “Aku harus menemui Nona Sanjaya dahulu. Ini perintah Bu Grace!”
Ryan melangkah panjang dan melewati resepsionis dan lobi. Setibanya di depan pintu ruangan pertemuan yang berada di lantai tujuh, Ryan tidak ada canggung-canggungnya sama sekali. Dengan pede dia mengetuk dua kali lalu masuk tanpa izin. Baginya, supervisor tetap tinggi untuk hal apapun.
Cklek!
Pintu berderit.
Martin tersentak kaget. Dia terpaksa menghentikan bicaranya lantaran pria tidak tahu sopan santun ini.
Ryan tersenyum renyah dan berkata, “Seharusnya saya hadir menemani para petinggi dan management. Tapi, saya mendapat tugas khusus dan istimewa sebelum bisa kumpul bersama kalian. Maaf Bu Lionny, ini pesanan spesial Anda.”
Ryan menggeletakkan bungkusan kwetiau tersebut pas di samping dokumen yang akan ditandatangani. Pria ini tidak hanya otaknya bermasalah, tapi attitude-nya juga. Kebanyakan gaya bisa menyebabkan kerusahan hati? Bisa jadi.
Martin dan David sama-sama beranjak. Namun, David memberikan gestur agar Martin tetap duduk dan melanjutkan pembicaraan. David permisi kepada para peserta pertemuan dan akan mengurus pria menyebalkan ini.
David menarik lengan Ryan. Setelah di lift, barulah David memuntahkan omelan yang sedari tadi membuncah di dadanya. Cctv jadi saksi.
“Kau bodoh sekali!” maki David geram. “Apa yang barusan kau lakukan sangat fatal!”
__ADS_1
Ryan menegakkan bahu dan menjawab, “Saya hanya menjalankan perintah Bu Grace. Saya disuruh beli kwetiau kesukaan Bu Lionny lalu disuruh juga untuk mengantarnya ke ruangan.”
“Tapi cara kau yang salah, Bego! Jika suasana sedang santai, kau bisa memanggil salah satu dari kami untuk mengambil hadiah untuk Nona Sanjaya. Malah kau taruh di atas meja pada saat suasana sedang serius!” David yang berperawakan seperti kopral mendengus marah.
Saat ini, jika ada karyawan bermasalah, dia yang akan bertanggung jawab. Manager HRD akan menanggung malu jika ada karyawan bermasalah karena atas persetujuannya lah karyawan tersebut bisa ada di kantor.
Ryan sepertinya penyakit. Wajar CEO sampai menempatkannya di garda terdepan.
David menyeringai, “Sepertinya masa hukumanmu akan bertambah!”
Ha? Apa Ryan tidak salah dengar?
Wajah Ryan menekuk basi. Dia berkata lunglai, “Maafkan saya, Pak David. Saya salah. Saya tidak akan mengulanginya kembali.”
Lalu David memberian lirikan menohok dari samping. “Semua keputusan ada di tangan CEO. Jika CEO ingin kau jadi direksi, pasti akan terjadi, namun jika CEO ingin kau jadi tukang bersih WC selama sepuluh tahun, jelas bisa terjadi. Perusahaan ini dipimpin dan dimiliki olehnya. Kau harus patuh dan menghormatinya!”
Hanya saja, dia keliru. Ryan salah dalam membangun perspektif tentang harga diri. Sebenarnya, mengangguk adalah identitas sebuah kepatuhan. Dan menunduk adalah simbol penghormatan. Bagi Ryan dan sebagian orang, menunduk adalah tingkah yang amat memalukan.
Benar, menunduk, rukuk, dan sujud hanya diperuntukkan kepada Tuhan. Namun konteksnya bukan ke sana. Dalam kasus Ryan, dia sombong. Di saat seperti ini, harusnya dia mengangguk karena patuh dan menunduk karena hormat. Tapi, tetap meninggikan dirinya.
Ryan tipe pria berkepala batu yang tetap mempertahankan egonya meskipun dipukul berkali-kali.
David menggiringnya sampai ke pintu kantor. “Bantu rekan-rekanmu membagikan minuman-minuman buat para karyawan. Kalau masih tidak becus, hukumanmu akan ditambahkan.”
\=\=\=>>>∆<<<\=\=\=
Di ruang pertemuan.
__ADS_1
Martin mengucapkan terima kasih atas kiriman yang telah diberikan oleh Lionny. “Kami terkesan dengan sikap Anda, Nona Sanjaya.”
Lionny tersipu. “Tidak seberapa. Semoga semua orang di kantor senang menerimanya.”
Sedari tadi Grace terus memandangi Lionny. Imajinasi liarnya bermain. Wajar Stefan mau menjadi suami dari wanita perfect ini. Jika dia jadi lelaki, sudah pasti akan naksir sama Lionny.
Dua wanita ini bukan tipe yang hobi bersolek ria layaknya ibu-ibu di kala Minggu pagi yang hendak menghadiri undangan pernikahan. Mereka berdua bukan pula seperti ibu-ibu arisan yang kalau ngumpul suka membahas hal receh.
Tidak hanya menang fisik, mereka menang hati dan masa depan. Meskipun setiap manusia punya kekurangan dan kesalahan, Grace dan Lionny sulit untuk dighibahi. Hanya orang yang diselimuti iri saja yang mau mengumpat dan menghina mereka.
Lionny berkata, “Bu Grace, saya harus belajar banyak dari wanita karir berpengalaman seperti Anda dalam mengemban tugas sebagai sekretaris.”
Grace peka. Jelas itu adalah pujian. Agaknya, dia tersanjung mendengarnya, tetapi Grace tidak suka dipuji. “Anda dibesarkan di keluarga pebisnis. Saya rela merantau ke Palembang hanya untuk menjadi sekretaris ayah Anda sendiri. Jika Anda tahu, saya ingin belajar langsung dari keturunan Sanjaya secara langsung. Jelas Nona Sanjaya lebih paham bisnis dari pada saya.”
Lionny pun peka. Dia tahu itu juga pujian. Namun, ayahnya bukan sosok yang patut dicontoh. Dia tahu bahwa Grace tidak mungkin lupa kebobrokan ayahnya. Lionny menjawab datar, “Saya belum satu tahun bekerja. Sementara Anda sudah ke sana ke mari. Dan untuk sekretaris Nano-ID, jelas bukan orang biasa. Anda orang terpilih, Bu Grace!”
Sialnya, Grace tidak mungkin memberikan pujian kembali karena dia tidak begitu mengenal jauh sosok Lionny. Kecuali jika dia membuka kisah rumah tangga bersama Stefan. Jelas Grace cukup tahu. Tapi, konyol.
Grace menyudahi obrolan mereka. Dia tersenyum kembali untuk menutupi rasa cemburu yang menggumpal di hatinya dan berkata, “Kita akan menjadi rekan kerja dalam waktu yang cukup lama. Senang bisa bekerjasama dengan Anda, Nona Sanjaya.”
Lionny membalas dengan rasa penuh kekaguman, “Saya merasa bangga bisa menjadi orang yang mewakili perusahaan Sanjaya Group untuk bisa berdiskusi dengan Anda, Bu Grace. Senang bisa bekerja sama dengan Anda dan juga lainnya.” Lalu, Lionny meluaskan pandangannya dan memperhatikan beberapa peserta pertemuan.
Ketika ingin pulang, Grace, Martin, dan David kompak bilang pada Lionny bahwa nanti pas di parkiran, dia akan mendapat pelayanan bagus dari seorang pria.
Ryan berdiri di tengah halaman yang luas di bawah terik matahari. Dia tampil gemilang menjadi juru parkir karena tidak ingin hukumannya ditambah.
“Terus, Bu Lionny! Terus!”
__ADS_1