
Grace bertanya kepada Stefan, “Tuan CEO, kenapa Anda begitu tega tidak merestui kencan kami?”
Stefan mendekatkan mic, lalu menanya balik, “Nanti, saya mau bilang apa pada ayahmu, Grace jika kau berkencan dengan seorang seperti Ryan? Semua orang tahu bahwa Ryan punya wajah tampan, hanya saja posisi sekretaris dan status sebagai putri dari Pak Arya agak membuat orang-orang lebih berpikir dengan logika.”
Ryan makin tertunduk malas. Ilusi yang dialaminya masih belum berakhir. Hari ini hari yang paling payah seumur hidupnya. Hari ini adalah hari yang paling memalukan semenjak dia pertama kali menghirup udara.
Ryan merupakan pria sejati yang selalu menjaga harga diri, jika menggaruk kepala di depan orang akan mengurangi jati dirinya, dia tidak akan melakukannya sampai kiamat.
Namun, kali ini jati dirinya telah terkikis habis dan urat malunya telah putus. Dan selama lima tahun ke depan dia akan terus menanggung malu di hadapan Stefan, sosok yang selama ini rendah di matanya.
Adegan kali ini tampak tidak make sense di matanya. Namun, fakta membenarkannya. Sebagaimana pun dia membolak-balikan logika, fakta ini harus ditelannya mentah-mentah. Ryan mengaku kalah.
Lalu, Stefan turun dari podium dan mendekati badut pria itu, kemudian berkata, “Hari ini aku sangat bahagia, Kawan!”
Ryan bergeming dan pucat pasi. Jangankan menatap, melirik pun dia tidak berani. Rasanya badannya mau runtuh. Remuk.
At least, adegan ini menjadi trigger bagi Ryan untuk segera mengubah pola pikir dan sikapnya yang buruk selama ini. Unik tidak harus aneh di mata orang.
Marissa terpaku dan membisu. Seumur-umur, baru kali ini dia jadi badut, dan mulai besok dia akan jadi petugas tukang buat kopi karyawan.
Stefan berkata akrab, “Senang bisa bekerjasama dengan kalian berdua. Semoga, selama lima tahun ke depan, kalian berdua bisa menerima kenyataan ini. Pahit, tapi harus tegar!”
Acara berlangsung seru dan hangat. Dua badut menjadi penghibur bagi semua para tamu undangan sampai waktu santap siang.
Setelah acara selesai, Pak Arya mengajak Stefan bertandang ke rumahnya di Jakarta. Meski Stefan sempat ada niat ingin bertamu, sepertinya sekarang adalah waktu yang pas, sangat kebetulan Pak Arya ada di Jakarta.
.....
__ADS_1
Sore ini di salah satu komplek perumahan elit Jakarta.
Grace yang sedari tadi sangat berbunga-bunga hatinya tak hentinya melirik dan mencuri pandang Stefan. Baru kali itu Stefan tampak berani dan tenang. Grace makin terpukau.
Tidak hanya itu, menurut cara pandang Grace, jelas Stefan hanya mengaitkan Keluarga Sanjaya dengan bisnis dan tidak lebih dari itu. Dengan kata lain, Grace terbebas dari firasat keliru selama ini.
Dia pikir, dengan terjalin kerjasama antara Nano-ID dan Sanjaya Techno, berarti Stefan tidak bisa move on atas mantan istrinya. Ah, Grace tenggelam dalam lumpur yang salah.
Tadi, dengan mata kepalanya sendiri, Grace menilai bahwa bahkan Stefan tidak peduli dengan mantan istrinya.
“Stefan, banyak orang yang memuji dan menyanjungmu. Bagaimana sikapmu?” tanya Grace.
“Biasa saja,” balas Stefan simpel dan dingin.
Kali pertama istri Pak Arya bertemu Stefan. “Grace, apa dia pria yang sering kau ceritakan? Tampan dan kalem.”
Bu Merlyn tersenyum simpul, lalu membalas, “Kita harus duduk sambil minum teh untuk membicarakannya. Grace tidak pernah membicarakan seorang pria seperti dia menceritakan dirimu, Stefan. Ibu sangat tahu Grace seperti apa.”
Stefan mengalihkan pandangannya ke arah Grace yang sedang tersipu. Pipi Grace memerah karena malu. Jiwa feminimnya semakin kuat tatkala berhadapan dengan Stefan.
Sementara Pak Arya melenggang meninggalkan ruang keluarga. Karena sudah lama tidak pulang, Pak Arya akan menghabiskan waktunya lebih dari satu minggu di sini.
Sengaja Pak Arya meninggalkan mereka bertiga. Istrinya lebih pandai melobi dalam perihal asmara dan perasaan. Alasannya, Pak Arya tidak ingin mencampuri urusan bisnis dan pekerjaan dengan isi hati anaknya. Istrinya turun tangan.
Wanita yang berumur hampir lima puluh itu berkata, “Jika dituliskan dalam sebuah novel, cerita Grace ini sudah sampai 100 bab.”
Stefan terpana. Dia tahu bahwa Grace memang tidak punya teman dekat yang bisa diajak curhat, terutama perkara hati. Hanya saja, Stefan tidak pernah terpikir bahwa selama ini Grace berbicara kepada ibunya soal kedekatan mereka.
__ADS_1
Stefan menatap Grace dan berkata, “Sangat wajar jika anak perempuan menceritakan isi hatinya kepada ibunya.” Stefan jelas menerimanya. Apa hak dia untuk marah?
Bu Merlyn matanya berbinar. “Grace tidak akan salah pilih calon suami.” Bu Merlyn sangat blak-blakan di hari perdananya.
Stefan tentu peka. Sebuah kode keras. Dia tidak perlu membaca ucapan dan gerak-gerik Grace karena sudah sadar dari kemarin-kemarin.
Meski sangat malu, Grace bukan tipe wanita yang kaku. Hanya saja, dia akan mengandalkan ibunya kali ini.
Bu Merlyn berkata, “Bagaimana nasib Ryan? Apa sekarang dia menerima pelajaran berharga? Grace mengeluhkan pria itu yang ingin mendekatinya. Ibu sangat yakin kalau nantinya Stefan akan mengambil tindakan.”
Stefan membalas dingin, “Dia mendapat hukuman setimpal. Dia pasti akan jera.” Tetapi, Stefan tidak jujur sepenuhnya. Dia memperlakukan Ryan bukan hanya karena ingin memberi pelajaran atas perilaku tidak mengenakan terhadap Grace, lain dari itu.
“Tidak mungkin CEO tidak merasa cemburu sekretarisnya digoda oleh seorang petugas kebersihan yang mesum,” jawab Bu Merlyn antusias. Wajahnya sangat terang. Matanya memberi kesan bahwa restu darinya sudah diberikan.
Dalam situasi seperti ini, Grace menjadi gagu. Perasaan yang membuncah di hatinya sulit mencairkan suasana. Grace wanita yang humble dan suka humor, akan tetapi wanita manapun, jika sudah berhadapan dengan hati dan masa depan, biasanya akan mengalami perubahan sikap. Seperti halnya pada Grace.
Bu Merlyn membanggakan putrinya. “Pernah datang ke rumah seorang pengusaha yang sudah sangat dewasa. Bujang berumur lebih dari tiga puluh. Pria tersebut tidak akan kekurangan dalam hal finansial. Fisik dan latar belakangnya juga bagus. Namun, pria itu tidak berkenan di hati Grace.”
Bu Merlyn menceritakan belasan pria dengan segala macam kelebihannya yang naksir dan ingin melamar Grace. Semuanya, ditolak oleh Grace, dengan sedikit alasan, dan terkadang alasan tersebut tidak beralasan. Dengan kata lain, ya memang Grace tidak suka. Itu saja.
Grace memang terlalu mewah.
Namun, Bu Merlyn mengambil sikap yang salah, semakin dia meninggikan Grace dengan maksud agar Stefan makin tertarik, sebaliknya Stefan malah semakin merendah dan menjauh.
Meskipun sekarang statusnya sebagai CEO Nano-ID, masa lalu yang kelam dan status sebatang kara tidak bisa dihilangkan. Semakin Grace ditinggikan, semakin rendah pula Stefan.
Pak Arya punya lima saudara kandung dan semuanya sukses. Dan Bu Merlyn punya delapan saudara kandung dan semuanya sukses. Apakah keluarga besar ini hanya silau dengan jabatan CEO Nano-ID tanpa memperhitungkan status keluarga Stefan?
__ADS_1