Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
102. Rindu


__ADS_3

Pagi ini di kantor Sanjaya Techno, Surabaya.


Di salah satu sudut kantor, Pak Anggara selaku direktur utama perusahaan sedang berbicara bersama sekretarisnya. “Lionny, semua dokumen sudah kau persiapkan?” tanyanya.


Lionny mengangguk dan menjawab, “Ya, semua sudah siap, Pak. Kuasa hukum dan lainnya juga sudah dijadwalkan dan diharapkan mereka tidak akan telat.”


Lionny fokus mengurus karirnya di perusahaan. Gugatan cerai yang dia bawa ke pengadilan sudah kelar, maka dengan ini statusnya bukan lagi istri dari Erick. Dia sudah menjanda.


Dia juga melepaskan diri dari pengaruh keluarganya di Jakarta. Meski telah berusaha semampunya dengan cara menjalin hubungan baik serta memberikan upaya maksimal kepada pihak keluarganya, hasilnya nihil, dia tetap tidak begitu dihargai.


Lionny tidak ambil pusing soal hampir bangkrutnya enam perusahaan Sanjaya Group yang lain. Dia hanya ingin menyelamatkan Sanjaya Techno, perusahaan yang paling dicintai oleh mendiang Kakek Sanjaya. Bisa jadi dengan ini merupakan bentuk baktinya kepada Keluarga Sanjaya.


Tidak hanya itu, Lionny begitu antusias dalam mengurus surat pindah kepemilikan Sanjaya Techno. Ya, dia tahu bahwa Stefan adalah sang pemilik baru sesuai dengan keputusan dari mendiang Kakek Sanjaya sendiri.


Pak Anggara berkata penuh harap, “Besok merupakan hari bersejarah. Semoga setelah diakuisisi oleh Nano-ID, Sanjaya Techno semakin maju.”


Lionny merapikan berkas-berkas seraya tersenyum simpul. Setelah melewati hari-hari yang berat dalam menghadapi sikap keras keluarganya, akhirnya dia bisa bernapas lega. 


Lionny rindu.....


Ketika malam hari di kediaman mendiang Kakek Sanjaya, dia melamun di dalam kamar tidurnya. Lionny membuka jendela kamarnya, lalu melihat seisi kebun yang indah di bawah sana. Kemudian, pandangannya mengarah ke langit luas yang gelap.


Istana ini terlalu besar untuk Lionny seorang. Setelah seharian bekerja, dia tidak merasakan kenikmatan ketika di rumah. Ada banyak yang dia rindukan.


Seseorang pernah bilang, “Rindu adalah nikmat yang menyakitkan.”


Tiba-tiba jantungnya berdesir. Tubuhnya gemetar. Lionny merasakan rindu. Jika memang diresapi, rindu lebih sering menyakitkan.


Mengharapkan sesuatu yang telah pergi, untuk segera kembali, cinta sejati, cinta sampai mati.....


Lionny menggelapkan pandangannya, lalu terbayang wajah seseorang. Seseorang yang dia cintai sampai mati....


Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor tersebut belum tersimpan di kontaknya. Sudah sering Lionny menerima panggilan dan pesan dari orang tidak dikenal. Karena khawatir, dia tidak pernah mengindahkannya.


Dan untuk malam ini, dia ragu mengangkat teleponnya. Sudah terlalu banyak berita dan cerita soal penyadapan atau lainnya. Lionny malah mematikannya.

__ADS_1


Namun, panggilan itu masuk lagi dan Lionny tetap tidak mengindahkannya, sampai belasan kali, Lionny tidak peduli.


“Aku sedang enak melamun. Ada saja yang mengganggu,” gumamnya.


Ya, besok dia akan bertemu dengan Stefan. Terakhir dia bertemu Stefan pada saat perayaan ulang tahun AlfaTech. Akan tetapi, pada saat itu adalah hari yang buruk bagi ayahnya pribadi.


Sedangkan besok, dia akan berjuma di lain kesempatan. Betapa senangnya dia bisa bekerja untuk mantan suaminya sendiri.


Lionny kian hanyut terbawa oleh imajinasinya sendiri. Dia jelas tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Cinta sejati, tidak akan pernah terganti.


Drrtt....


Drrtt....


“Apaan sih?!” gumamnya lagi risau.


Setelah beberapa saat, Lionny pun penasaran. Biasanya nomor tidak dikenal yang menghubunginya tidak pernah menelpon sampai sebanyak ini. Lalu, dia memutuskan untuk menelepon balik.


“Halo?” sapa Lionny duluan.


“Apa kabar?” tanya pria itu.


Lionny tersentak kaget. “Stefan?” tanyanya dengan nada tidak percaya.


“Ya. Maaf mengganggu waktumu. Silakan lanjutkan aktivitasmu.”


“Tidak mengganggu sama sekali.”


“Sepertinya kau cukup sibuk sampai harus mematikan teleponku.”


“Kau pakai nomor baru. Jadi aku tidak tahu, Stefan.”


“Aku sedang mengobrol dengan petugas keamanan di dekat gerbang.”


Lionny langsung mematikan ponselnya dan menghambur keluar. Dia berlarian cukup kencang sampai akhirnya tiba di sana. Melihat Stefan sedang berkelakar dengan dua orang penjaga, Lionny yang sedang terengah-engah napasnya lantas mencetak senyum riang di bibirnya.

__ADS_1


Rambutnya agak berantakan, tapi segera disisirnya dengan jari ke belakang. Di rumah, Lionny lebih cantik daripada di kantor. Piyama putih terang itu telah menyita perhatian Stefan. Rambut Lionny belah tengah, mirip artis, entah siapa. Menawan, sungguh menawan.


Stefan pun menoleh. Namun, Stefan biasa saja, sebab dari dulu dia sudah tahu seperti apa cantiknya Lionny. Namun, karena bertahun-tahun Lionny terpendam di dalam rumah di bawah ketiak ayah dan ibunya, Lionny yang dulu tampak kaku, gagu, bimbang, layu, tidak bergairah, dan selalu terombang ambing.


Ketika Lionny terbiasa dengan suasana kantor, dunia pergaulan luar, dan telah bebas dari aturan patriakis ayahnya, kini Lionny menjelma menjadi ratu dengan jiwa R.A Kartini, meskipun dulu dia sering dilarang Stefan untuk tidak terpancing dengan program emansipasi.


Stefan beranjak dan melangkah santai ke arah Lionny. Di tengah temaram malam, Lionny tetap kelihatan anggun. Stefan memujinya, “Ke mana sayapmu?”


“Gombalan para begundal sangat tidak layak untukku, Stefan. Ayo kita ngobrol di teras!” Lionny tetap menjaga marwah diri sebagaimana seharusnya. Mungkin, ya mungkin, ada sebagian kecil wanita yang jika di posisi Lionny saat ini, dia akan cengengesan dan memamerkan tubuhnya yang menggoda.


Ah, dari kecil Lionny selalu menjaga diri. Bahkan, dia tidak pernah punya teman ****** apalagi pelacur. Dari dulu dia selalu pilih teman, sehingga wajar jika sekarang value-nya tetap tinggi.


“Kau pasti naik ojek online ke sini,” ucap Lionny dengan wajah yang berbinar.


“Ternyata sapu penyihir Harry Potter hanyalah tipuan. Lagipula, aku bingung bagaimana cara mengisi bahan bakarnya,” canda Stefan.


“Aku baru tahu kalau syarat untuk menjadi seorang CEO harus hobi bercanda,” timpal Lionny sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Stefan meminta maaf kalau tidak memberi kabar terlebih dahulu. “Kau jangan berpikir yang tidak-tidak kenapa aku bisa ke sini.”


Ekspresi Lionny pun berubah datar. Bibirnya malah perlahan berkedut-kedut dan matanya menyiratkan tanda tanya. “Aku tidak mengerti, Stefan.”


Stefan membuang pandangannya. “Aku rindu.....”


Mendengar ungkapan itu, Lionny tersipu. Lalu alisnya naik karena ada sebuah rasa yang tiba-tiba mendobrak dadanya. “Hmm,” hanya bergumam sambil berpura-pura berpikir.


Stefan meluaskan pandangannya ke halaman yang terbentang. “Aku rindu kakek. Rindu tempat ini.” Stefan menghela napas beberapa saat, kemudian melanjutkan, “Dan akhirnya rindu itu pun terobati.”


Sebuah fakta menyebutkan bahwa wanita memang suka terbawa suasana dan isi hatinya gampang berubah-ubah, jika sudah demikian, ekspresi di wajahnya biasanya akan turut berubah.


Meskipun masam, Lionny tetap manis.


Cemberutnya Lionny seperti memandangi pelangi.


Stefan perlahan melirik wajah itu dan berkata romantis, “Jika rindu hanya menyiksa kalbu, lebih baik buang, karena orangnya sekarang tidak akan pernah lagi menjauh.”

__ADS_1


__ADS_2