
Lionny mengelap bibirnya yang basah. “Kenapa kau agresif sekali, Stefan?”
Stefan merapikan jasnya, lalu menjawab, “Terakhir kita berciuman ketika sebelum kita bercerai. Jadi wajar kalau aku begitu agresif.” Stefan menghela napas lelah. “Maaf, barusan sudah buat dosa. Nanti kalau sudah halal kembali, baru kita ulangi.”
Lionny menoyor dada Stefan, karena tidak tahan, dia pun memeluk Stefan sangat erat. Tangisnya pecah di dada Stefan.
Stefan mengelus-elus rambut Lionny. Mata Stefan berkaca-kaca, ingin menangis, tapi tak ingin. Jelas dia merasa terharu dan bahagia.
Cinta sejati, pasti akan kembali.....
“Lionny, ayo sudah dulu. Aku sudah ditunggu orang-orang di kantor. Sekarang hampir jam satu.”
Tapi, Lionny tidak mau melepas pelukannya. Makin lama, makin erat. Dia berkata lirih, “Jangan tinggalkan aku lagi....”
Agak lama Stefan diam. “Aku tidak pernah mau meninggalkanmu.”
Sebelum menuju kantor, Stefan bersama Lionny pergi ke sebuah bank untuk membuka buku tabungan baru. Mereka berdua pun duduk bersama para nasabah yang lain.
“Lionny, setelah ini, temani aku membeli mobil.”
Lionny menoleh dan menjawab, “Aku akan selalu menemanimu.”
Seorang petugas bernama Harvey agak tercengang ketika tahu bahwa ada salah seorang nasabah baru yang ingin membuka tabungan dengan limit yang cukup tinggi. Stefan beranjak dan menuju bagian customer service nomor 04. Di sana, Harvey memperhatikan sosok Stefan, memindainya dari atas sampai bawah.
Stefan mengenakan pakaian yang rapi dan tidak tampak menyedihkan sebagaimana cerita fiksi pada umumnya, hanya saja Harvey orangnya agak sombong, baginya orang yang akan punya kartu debit Black Star hanya orang-orang tertentu saja.
Stefan sudah punya tabungan di Bank Ace, namun dia ingin membuka buku tabungan baru di Bank Diamond saat ini. Ace dari segi apapun masih berada di atas Diamond. Tapi, Stefan tidak ingin sombong.
__ADS_1
Harvey menatap sinis dan bertanya, “Anda bekerja di mana, Pak Stefan?” Dia orang baru pindahan dari Sulawesi, wawasannya masih belum terlalu luas.
“Saya bekerja?” tanya balik Stefan sambil mengernyitkan kening. Padahal Stefan sudah mengisi formulir barusan bahwa dia CEO di Nano-ID.
Bank Diamond adalah pilihan kedua bagi orang-orang tajir, dan pilihan pertama bagi orang-orang kelas midle to low. Biasanya orang yang menabung di sini adalah sekelas manager umum atau di bawahnya, dan rata-rata pekerja biasa dengan gaji UMR. Jadi wajar Stefan ditanya bekerja di mana.
Stefan meluruskan tatapannya, lalu menjawab, “Di Nano-ID.”
Harvey kaget. “Saya pernah dengar Nano-ID. Perusahaan yang cukup bagus.” Harvey masih menatap remeh. Dia sepertinya kurang teliti dalam membaca data-data Stefan, karena biasanya yang datang ke sini ya orang-orang biasa, jadi malas dia mengecek seluruhnya.
Harvey bertanya, “Kartu silver atau gold?”
“Sekali transaksi seratus milyar,” jawab Stefan dingin.
Dalam kepala Harvey, ‘Kenapa tidak ke bank Ace saja sekalian?’
“Silakan baca kembali formulir yang sudah saya tulis. Dan pastikan, lalu bekerjalah dengan baik.” Stefan meminta proses ini dipercepat karena dia harus segera ke showroom mobil.
Harvey tersenyum geli tatkala ada orang yang ingin punya kartu Black Star. Satu minggu bekerja di Jakarta, baru kali ini ada orang yang ingin punya kartu istimewa itu.
Stefan sebelumnya sudah punya kartu Black di Bank Ace, tidak bisa menaikkan level kecuali setelah menjadi nasabah selama sepuluh tahun. Maka dari itu dia ingin punya kartu di atas kartu Black, yakni Black Star. Namun, tetap Black Star di Bank Ace dan Black Star di Bank Diamond tentu beda.
Harvey tahu bahwa orang yang punya kartu itu harus punya usaha besar dengan nilai ratusan milyar. Dia ragu jika pria muda di hadapannya ini sudah punya harta ratusan milyar. Sangat tidak mungkin.
“Sebaiknya Anda berpikir lagi Pak Stefan!” sentak Harvey dengan nada bicara menusuk. “Anda harus melakukan transaksi minimal sepuluh milyar dalam satu bulan. Apa yang mau Anda perjual-belikan dengan uang sebanyak itu?”
Stefan menyandarkan punggungnya. Dia pikir, sepertinya Harvey sedang ada masalah atau bagaimana. Apa Stefan harus bicara bahwa dia merupakan CEO dan pemilik Nano-ID, dan pemilik baru dari Sanjaya Techno.
__ADS_1
Statusnya demikian jelas akan diterima bahkan oleh Bank Ace sekalipun. Jadi sangat lucu jika Bank Diamond menolaknya.
Meski cukup terkenal di Jakarta, bukan berarti Stefan lantas ingin agar orang lain melayani dirinya dengan sangat manja. Stefan bukan tipe pria yang gila pelayanan. Lagi pula masih banyak orang yang jauh di atasnya.
Stefan menghela napas beberapa saat, lalu bertanya dengan dingin, “Apakah dengan kartu Gold saya bisa membeli sebuah BMW enam milyar?”
Harvey merapikan dokumen formulir Stefan dan menjawab, “Anda hanya akan bisa membeli innova di bawah empat ratus juta dengan sekali gesek jika Anda mau. Black Star adalah level tertinggi dari sepuluh level yang ada.” Setahu Harvey, selama sepuluh tahun belakanga, hanya ada tiga orang yang berani pakai kartu Black Star, dan mereka benar-benar konglomerat sekelas Bobby Sanjaya atau pun pentolan dari Keluarga Sudrajat.
Dan untuk pria sebatang kara seperti Stefan, sebagaimana tadi Harvey hanya membaca data pribadi soal status keluarga. Duda dan tidak punya keluarga, oleh karena itu Harvey ragu dan tidak membaca data lain dengan begitu detail.
Status Stefan yang agak menyedihkan telah mengubah persepsi Harvey, padahal dia merupakan staf CS biasa dan baru bertugas di Jakarta. “Tadi Anda ke sini naik apa, Pak Stefan?” tanyanya sambil mengerutkan bibir. Matanya penasaran.
Stefan menjawab santai, “Tadi saya naik taxi online sama seseorang.”
Harvey membulat biji matanya. “Bagaimana mungkin Anda ingin punya kartu Black Star sementara Anda ke sini hanya naik taxi online?”
Stefan kegerahan mendengar omelan pria sombong ini. “Saya ingin bertemu manager Bank Diamond, atau kalau perlu saya ingin bertemu pemiliknya!”
Harvey makin kaget. Baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang agak aneh, bagaimana mungkin tidak punya kendaraan, biasa-biasa saja, terus ingin punya kartu debit konglomerat. Logika Harvey berontak seratus delapan puluh derajat.
“Tidak perlu bertemu dengan manager bank, dan parahnya Anda ingin bertemu dengan Tuan Lee sang pemilik bank?!” sentak Harvey sambil melotot. Mulutnya terbuka saking terkejutnya.
Stefan menegapkan tubuh dan membalas, “Ya, saya ingin bertemu dengan Tuan Lee! Sepertinya Tuan Lee harus mengawasi Anda bekerja. Betapa kecewanya beliau punya anak buah sepertimu!” umpat Stefan dingin.
“Bicara apa kau?” Harvey mengeluarkan aksen bicara ketimurannya yang sangat khas. Nada tinggi dan seperti membentak. “Silakan pergi kau pergi dari sini! Akan segera saya panggilkan security!”
Suara Harvey yang cukup besar telah menyita perhatian orang-orang sekitar.
__ADS_1