
Pagi yang cerah sekitar jam 8 di kantor Nano-ID.
Seorang security mendekati Lionny yang tengah mengawas bingung. “Nona, ada yang bisa kami bantu?”
Lionny menutup sekitar kelopak matanya dengan telapak tangan kirinya untuk menghindari sinar matahari. Dia melirik Ryan yang tengah bersih-bersih, lalu menjawab, “Aku ingin bertemu Stefan yang bekerja sebagai OB.”
Ryan langsung mendekat, “Dia cuma sehari masuk kerja. Orang itu aneh.” Ryan agak lama memandangi Lionny. Dia teringat dengan seseorang tapi ragu.
Masalahnya, setelah pernikahannya bersama Erick, Lionny memang tampil beda dengan perubahan yang cukup signifikan.
Saat ini, Lionny menjadi pusat perhatian. Dia memakai celana hitam kantoran panjang dan kemeja merah tua, serta blazer hitam. Dia tampil elegan. Rambutnya yang disisir ke kanan agak berantakan terkena angin, tapi rona cantiknya kian bertambah. Semua pria di sini kian terpukau.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Chella tersenyum ramah. Chella yang cantik saja minder pas ketemu dengan Lionny. Senyumnya perlahan mengendur, lalu, datar, hambar.
Di sinilah letak kecerdasan Lionny. “Saya ingin bertemu dengan HRD Manager. Bilang, nama saya Lionny Fransisca Sanjaya.”
Chella tercekat. Senyumnya kian pudar. Rupanya, Chella tidak hanya kalah cantik, tapi kalah pamor. Dia kenal nama itu. Baru kali ini Chella bertemu langsung dengan sosok itu.
“B-baiklah.” Segera Chella menghubungi David via telepon kantor beberapa saat. Chella menatap Lionny dengan perasaan minder, lalu berkata, “Silakan Bu Lionny menunggu di lobi.”
Sekitar lima belas menit kemudian, David pun menghampiri Lionny di lobi, lalu bertanya, “Ada perlu apa, Nona?” tanyanya.
Lionny memperbaiki posisi duduknya, lalu menjawab, “Maaf mengganggu sebentar, apa di kantor ini ada pekerja bernama Stefan Raden Kusuma?”
David hampir membeliak matanya mendengar pertanyaan itu. David, begitu juga Martin, cukup lama di Swiss dan tidak begitu tahu urusan Keluarga Sanjaya. Beda halnya dengan Chella yang sudah lama bekerja di Jakarta, jelas tahu berita dan cerita tertentu.
Jika dilihat dari cara berpakaian dan bicaranya, wanita ini bukan orang sembarangan. David tidak boleh salah langkah. Dia masih ingat nama wanita ini.
“Tunggulah sebentar, Nona,” ucapnya akrab.
Kemudian, David menjauh dari keramaian kantor dan menghubungi bosnya melalui sambungan telepon.
“Tuan CEO, ada seorang wanita bernama Lionny Fransisca Sanjaya, menanyakan tentang Anda. Bahkan dia tahu nama jelas Anda. Siapa wanita itu?”
__ADS_1
“David, apapun yang ada di dalam pikiran kamu saat ini, layani dia sebaik mungkin! Jika dia meminta kamu untuk membelikannya gudeg di Jogja sekarang juga, lakukan dan jangan mengeluh!”
“Hm,” David terbata dan kikuk. “Baiklah, Tuan CEO. Akan saya perlakukan wanita itu dengan sangat baik.”
“Tanyakan apa maksud kedatangannya. Jangan jelaskan identitas saya kalau dia bertanya. Selalu alihkan dengan pembicaraan lain. Kamu ahli dalam psikologi, David.”
Setelah itu, Lionny diajak masuk ke ruangan kerja David dan cukup banyak apa yang mereka bicarakan.
“Katanya, Stefan hanya bekerja satu hari,” Lionny berkata ragu.
“Jangan percaya omongan petugas kebersihan di depan sana, Nona Lionny. Mungkin Nona salah informasi terkait Stefan Raden Kusuma itu.”
Lionny mendengus samar. Dia mencoba membaca mata David. Sampai lima detik tatapan itu tidak lepas, lalu dia pun mengalihkan pandangannya ke berkas-berkas yang tertumpuk.
Tangan Lionny ingin meraih berkas itu. “Saya ingin cek satu per satu nama karyawan di sini.”
David tak kuasa. Dia tidak ingin salah omong terhadap wanita ini. Apa yang harus dia lakukan? Lalu, dia berkata ramah dan hampir berbisik, “Nona, saya minta jangan diapa-apakan tumpukan berkas itu.”
“Baiklah, tadi saya mendapat info bahwa Anda ini rupanya bagian dari Keluarga Sanjaya. Hm, jika Anda ada keperluan, saya akan membantu.” David berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
Lionny berpikir sesaat. “Apapun?”
David bergeming, namun begitu dia ingat omongan bosnya tadi, dia pun mengangguk pelan sampai tiga kali.
Saat ini, Lionny rasa dia diterima karena dia merupakan bagian dari Keluarga Sanjaya. Pamor keluarganya memang cukup berpengaruh.
Lionny menurunkan kembali tangannya yang tadinya ingin mengincar dokumen yang berisi data-data karyawan, lalu dia menatap David lekat-lekat. Wajahnya berubah serius.
Lionny tersenyum akrab, lalu berkata, “Perusahaan milik Sanjaya Group, yakni Sanjaya Techno ingin bekerja sama dengan Nano-ID. Apa sekarang bisa diurus?”
David berdiri. “Tunggulah sebentar, Nona.”
Kemudian David jalan ngebut pontang-panting menuju ruangan Martin. Saat ini, Martin sedang berdiskusi dengan manager sebuah perusahaan swasta. Orang di ruangan ini pada kaget melihat kedatangan David secara tiba-tiba.
__ADS_1
Ngos-ngosan, David bicara kurang jelas, “Un-untung tidak beli gudeg di Jogja sekarang. Martin, tinggalkan dulu urusan dengan mereka.” David seperti kebakaran jenggot.
Mendengar itu, Martin terperanjat. Apa David buta dan tidak tahu sekarang Martin ingin membubuhkan tanda tangan kontrak kerja sama yang amat bernilai? Ada uang ratusan juta berputar di kertas ini. Apa David sudah gila?”
Martin menegakkan bahu dan berkat agak marah, “David, hormati klien kita. Tenangkan dirimu!”
David duduk dan menelepon bosnya lagi. Lalu, dia memberikan ponsel itu kepada Martin. Biar Martin dengar sendiri apa perintahnya.
Belum satu menit, Martin langsung berdiri sigap seperti pemadam kebakaran. “Segera suruh wanita itu ke ruanganku!”
Martin segera menyelesaikan tugasnya saat ini, lalu melayani Nona Sanjaya ini pula.
Lionny melewati beberapa orang-orang penting yang sedang duduk antre tak jauh dari pintu masuk ruangan Martin. Orang-orang terheran-heran melihatnya. Heran karena pesonanya dan heran pula karena kenapa bisa wanita itu bisa langsung masuk, apa mungkin dia karyawati di sini?
David menggeser kursi dan mempersilakan Lionny untuk segera duduk. Martin tersenyum ramah. Baru kali ini mereka berdua benar-benar serius dan takut dalam bekerja.
Martin bertanya, “Apa Nona Sanjaya sudah menyiapkan proposalnya?”
Lionny diam sesaat. “Sepertinya saya harus ke kantor terlebih dahulu lalu menyiapkan proposalnya.”
Martin dan David berbarangan menyerobot, “Tidak perlu.”
Lionny malah heran. Bagaimana mungkin tidak perlu?
Martin menarik laptop dan beberapa dokumen di atas meja kerjanya, lalu berkata, “Maafkan kami Nona Sanjaya karena Anda harus menunggu sekitar sepuluh menit. Saat ini juga kontrak kerja sama akan kami proses.”
David menimpali, “Kami bisa mengakses info tentang Sanjaya Techno, jadi Anda tidak perlu mengirimkan aplikasi. Anda tenang saja.”
Lionny melongo takjub. Dia menggigit bibir bawahnya. Situasi saat ini dan cerita dari Robert begitu berlawanan. Bagaimana Robert bisa diusir paksa oleh penjaga keamanan sementara dia dilayani dengan sangat baik?
Martin menyerahkan seberkas dokumen kepada Lionny. “Silakan tanda tangan di sini. Dokumen ini adalah bukti bahwa Nano-ID sudah bisa diajak bekerja sama oleh pihak Sanjaya Techno, namun nanti perwakilan dari perusahaan harus datang ke sini lagi dalam upaya membahas kerja sama apa yang akan dijalin.”
Lionny tersenyum bahagia.
__ADS_1