
Masih di kediaman Bobby di Jakarta.
Robert yang makin dewasa kian congkak. “Mau ke mana? Duduk dulu! Rapat keluarga belum selesai. Kau bahkan belum memberi saran soal aku akan jadi manager di kantor pusat Sanjaya Group di Jakarta. Kakak macam apa kau ini?!”
Lionny membalik badannya dan menghunjamkan tatapan tajam pas ke manik mata robert, lalu berkata, “Kau sudah tidak punya rasa sopan sama kakak sendiri, Robert.”
Chyntia menengahi. “Kalian berdua harus akur! Jika di antara kalian memang merasa baik, mulai sekarang, buktikan kepada ayah dan ibu bahwa kalian merupakan penerus terbaik Keluarga Sanjaya.”
Luchy mencebik dan berkata dingin. “Ya, kami akan berusaha, asalkan keadilan tetap ditegakkan. Jangan cuma mengurusi satu cucu kesayangan itu saja!”
Merasa disinggung, Lionny naik pitam. “Kau juga Luchy! Sekarang makin berani sama kakakmu sendiri. Urus saja kuliahmu. Jika sudah berada dalam masa seperti aku, kau akan merasakan seperti apa sulitnya.”
Luchy melengos sambil melontarkan kata-kata kebencian, “Aku banyak belajar darimu, Kak. Kau telah gagal sekali dalam mengurus rumah tangga bersama ipar hilang ingatan itu. Dan sekarang, kau bahkan tidak mau mengurusi suami barumu di Palembang. Istri gagal macam apa kau ini?!”
Lionny terperangah kaget. Saat ini, dia seperti diserang dari berbagai macam arah. Jika saja ibunya mengiyakan perkataan mereka, Lionny kian tak ada arti di keluarga ini. Rumah tangganya memang hancur, tapi kehancuran itu bukan serta merta atas kesalahannya sendiri, melainkan provokasi dari keluarganya sendiri.
Luchy melanjutkan, “Aku tidak ingin sepertimu, Kak. Hidupmu tidak karuan. Lucunya, sekarang gosip kedekatanmu dengan Leon itu, apa menurutmu kami tidak tahu? Apa menurutmu kami semua tuli di sini?” Luchy memberengut ketika sekelebat melirik wajah kakaknya.
Saat ini, tidak ada yang membela Lionny. Gosip? Leon? Mereka memang sekantor, tapi Lionny sendiri tak paham gosip kedekatan mereka. Bukankah orang-orang kantor tahu bahwa Lionny sudah punya suami dan suaminya itu CEO di Sanjaya Karet?
Bobby Sanjaya dan istrinya ingin mendengar perdebatan keras di antara anak-ananya. Mereka ingin tahu, kira-kira siapa yang memang becus suatu saat mengurus bisnis besar ini. Namun, sikap yang diambil mereka jelas salah.
__ADS_1
Dari dulu mendiang Kakek Sanjaya memang ragu dengan cara kepemimpinan Bobby, bahkan di rumah tangganya sekalipun. Wajar rumah tangga anaknya jadi hancur dan Sanjaya Sawit rubuh. Semua jelas karena kebodohan Bobby.
Rapat keluarga seperti ini sangat jarang dilakukan oleh Bobby, mengingat masing-masing mereka selalu saja sibuk. Kesempatan ini tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Robert, yang memang benci terhadap Lionny.
“Kasihan iparku yang sangat cerdas itu, Erick, dia ditinggal oleh istrinya sendiri dengan alasan sibuk bekerja dan mengurus perusahaan keluarga. Padahal, dia berselingkuh dengan cowok yang jauh lebih muda,” ungkap Robert lalu tersenyum getir.
Napas Lionny makin sesak. Jantungnya berdebar-debar. “Kau tidak usah membuat fitnah pada kakakmu sendiri, Robert! Kau bahkan telah melakukan perbuatan yang lebih keji daripada membunuh!” Lionny makin berang.
Robert memperbaiki posisi duduk lalu mengangkat kaki. “Fitnah? Mana mungkin fitnah dari Surabaya bisa sampai ke Jakarta? Jika memang fitnah, mana mungkin ada banyak laporan dan bukti?”
Lionny tercekat. Lalu, diawasinya satu per satu dari mereka. Semua menampakkan wajah yang kesal dan murka. Sepertinya satu keluarga ini telah sepakat dan yakin bahwa dia memang berselingkuh dengan Leon. Lionny berharap agar ibu atau ayahnya berbicara sesuatu, tapi mereka membisu.
Luchy berdecak kesal. “Aku follow akun instagram milik Leon. Dia memang jauh lebih tampan dari Kak Erick. Lebih muda, putih, gagah, dan cerdas. Jika saja bisa, tentu aku mau menjadi istrinya. Tapi, aku sudah didului oleh kakak perempuanku sendiri.”
Luchy menggigit bibir dan berkata manja, “Dia terlalu tampan. Apa kakakku yang sudah punya suami ini bisa mendapatkan hatinya? Oh, lelaki mana yang tidak mau dengan seorang sekretaris kantor dan merupakan bagian dari Keluarga Sanjaya.”
Tiba-tiba, Robert menyergah, “Keluarga Sanjaya masuk dalam deretan seratus orang terkaya di Indonesia. Siapa pun akan tergila-gila pada kakakku itu, bahkan orang gila seperti Stefan pun mengerti seberapa kaya Keluarga Sanjaya.”
Luchy tersenyum mengejek. “Kasihan sekali Kak Erick. Sudah sebaiknya dia pindah tugas ke Surabaya. Atau lebih baik kakak perempuan kita ini balik lagi jadi ibu rumah tangga. Sarjana Ekonominya lebih baik dipakai untuk menawar harga sembako di pasar.”
Lionny makin terpojok. Lalu, dia berkata tegas, “Berhentilah kalian mengurusi urusan rumah tanggaku. Kalian berdua tidak mengerti apa-apa.”
__ADS_1
Saat ini, barulah Chyntia angkat bicara. Lionny berharap ada pembelaan dari ibunya. Namun, tidak seperti apa yang Lionny harapkan.
“Lionny, kedua adikmu benar. Kita semua tahu bahwa kau gagal dalam urusan rumah tanggamu bersama Stefan. Sekarang Erick juga tidak terurus. Kasihan dia. Alangkah tega kau menyuruhnya makan nasi padang terus tiap hari.”
Luchy mengangguk dan berkata, “Betul itu. Seharusnya seorang istri bisa mengurusi suaminya dengan baik.” Luchy yang masih berumur belasan menggurui Lionny.
Lionny makin tidak dihargai.
Chyntia melanjutkan, “Jika gosip itu memang benar, kau harus ambil keputusan. Berhenti bekerja, atau Erick pindah tugas ke Surabaya. Jarak yang jauh memang berbahaya bagi pasangan suami istri.”
Robert bahkan berani menatap tajam mata Lionny sembari berkata, “Parah! Aku harap tidak akan terjadi pernikahan yang ketiga. Kakak yang tidak patut dicontoh!”
Lionny mengakui semua masalalu kelamnya. Jauh dari kata bahagia. Masa yang penuh dengan kekelaman. Saat itu, Lionny sabar menahan cibiran dari keluarganya. Sekarang, dia tidak ingin terus-terusan berada dalam tekanan.
Bobby menggagahkan diri di hadapan lainnya lalu berkata, “Buktikan kalau kau bisa mengurus rumah tanggamu, Lionny. Dan buktikan juga kalau kau bisa mengurus pekerjaan kantormu.”
Robert yang dari tadi memang sudah muak, sontak berdiri dan berkata, “Aku tidak pernah yakin kalau dia akan bisa mengurus perusahaan Ayah. Dia hanya punya pengalaman tiga tahun mengurus orang gila itu!” tukas Robert lalu pergi meninggalkan ruang kerja di rumah mewah ini.
Lionny juga beranjak. “Baiklah. Aku akan buktikan pada kalian semua kalau aku bisa mengurus perusahaan Ayah.”
Robert yang sudah berada di tangga lantas menjerit. “Jangan sampai Sanjaya Techno ambruk gara-gara wanita lemah sepertimu!”
__ADS_1
Lionny mengatur napasnya. Sebelum keluar dari rumah dan berangkat ke Surabaya, dia masih berpamitan sopan dengan keluarganya. Lionny tak seburuk penilaian mereka.
“Sebelum itu. Aku ingin menyampaikan bahwa aku tidak punya hubungan spesial apapun dengan Leon. Jadi, jangan pernah membuat fitnah di keluarga kita. Tunggulah, aku akan mendapatkan kontrak kerja sama dengan Nano-ID sesegera mungkin.”