
Best Auto. Tempat penjualan mobil top. Best Auto paling the best.
Stefan turun dari taxi online bersama Lionny. Karena ingin menyembunyikan identitasnya, secara sekarang dia hampir dikenal penuh seantero Jakarta, Stefan mengenakan kaca mata hitam dan topi.
Sementara Lionny, orang tak banyak yang mengenal wajahnya karena dia tak hobi bermain media sosial, namun sematan Sanjaya di belakangnya sangat berpengaruh. Lionny bersikap biasa untuk menutupi diri.
Bagi sebagian orang dan memang biasanya, popularitas adalah hal menakutkan. Keterkenalan hanya membatasi ruang gerak. Ke mana-mana susah dan serba tidak nyaman. Bahkan katanya, artis top sampai bunuh diri lantaran popularitas.
Seorang sales cantik tengah duduk di sebuah kursi dan bermain ponsel. Wajahnya terlihat ketus, tapi entahlah, apa mungkin dia tidak lihat mempermak alisnya, sehingga alis Sincan itu pangkalnya tampak menukik ke bawah, membawa kesan dia seolah marah. Entahlah.
Lionny mendekatinya dan berkata ramah, “Permisi Mbak. Kami ingin melihat-lihat mobil-mobil di dalam.”
Emelda masih sibuk dengan aplikasi medsos-nya! “Apa kalian berdua yang baru saja turun dari Agya merah norak tadi?” ketusnya dengan pandangan tak sopan.
Lionny masih santai. “Ya, kami naik transportasi online. Ada yang salah?” Bibir Lionny berkedut-kedut sambil menaikkan salah satu alis naturalnya.
Emelda menggeletakkan ponsel bergambar apel digigit versi lama miliknya, lalu berkata, “Baru kali ini ada orang turun dari transportasi online, terus mereka ingin melihat-lihat.” Emelda menatap sinis ke arah Lionny. “Tempat ini bukan pameran! Semua mobil di sini dijual!”
Lionny menggigit bibirnya. Dia mulai kesal. Ada dengusan samar yang keluar dari hidungnya.
Stefan berdeham, lalu berkata ramah dan dingin, “Oke. Bagaimana kami bisa membeli, kalau kami belum melihat?” Stefan memasukkan tangannya ke saku celana dan tampil santai.
Tidak lama kemudian seorang sales wanita lainnya berjalan agak ngebut dan terburu-buru. Namanya Gia. Dia memang cerewet layaknya sales pada umumnya, tapi agak kalem dan bersahabat. “Tuan dan Nona, silakan masuk!” sapanya sangat ramah. Senyum Gia seperti senyum Miss Indoensia yang berhasil juara satu. Sangat menggoda.
Lionny pun menyambutnya dengan antusias. “Mbak Gia. Tolong antarkan kami untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Teman pria saya berminat dengan Bentley atau Porsche.”
Emelda berkacak pinggang. “Jika kalian ke Toyota ataupun Honda, kalian tetap tidak cocok, mending ke showroom pinggiran yang jual mobil bekas. Di sana angsurannya bisa tiga juta sebulan. Tiga per empat dari gaji kalian!” Emelda mengakhiri omelannya dengan mencebik sadis.
Gia menetralkan situasi setelah Emelda kembali ke habitatnya. “Kalau menjelang sore, ya beginilah suasananya, kami sudah mikirin pulang. hehe,” Gia kembali tersenyum ramah. “Baiklah, ikut saya, Tuan dan Nona.”
__ADS_1
Di kursinya, Emelda masih saja menggerutu, “Gia! Bilang pada mereka, pameran akan ditutup dua jam lagi. Jika mereka melihat-lihat satu mobil, pastikan waktunya tidak lebih dari satu menit!”
Stefan dan Lionny pun mulai berkeliling. Lamborghini, BMW, Audi, dan semua mobil mahal lainnya ada di sini.
Tiba-tiba ponsel milik Gia bergetar dan berdering. Dia melihat sebentar siapa yang menelepon, rupanya pacarnya, karena tidak begitu penting, dia malah mematikannya.
Stefan melihat merek ponsel milik Gia. Android sejuta umat yang kalau dijual ke konter sekarang juga, harganya tidak lebih dari lima ratus ribu.
Lionny respek dengan Gia yang tampil tidak begitu menor layaknya biduan di atas panggung, meski pekerjaannya dituntut dengan penampilan yang menarik, namun Gia tampil fresh dan biasa.
Stefan dan Lionny suka dengan orang seperti Gia.
“Siapa tahu penting,” ucap Lionny sambil menyenggol lengan Gia.
“Biasa, jam santai seperti ini do’i biasanya nelepon cuma buat nanya kabar. Ayo kita lihat yang di sana!” Gia berjalan di depan sembari menjelaskan satu per satu.
Stefan dan Lionny mengekor di belakang sembari mengerling dan mengawas-awas.
Stefan lebih suka teknologi Jerman daripada Inggris, tapi karena mobil tersebut dipakai untuk pergi dan pulang bekerja, maka, “Bentley Flying Spur.”
Detailnya 6.0 L W12. Sedan hitam nan elegan. Cocok bagi Stefan yang tampil dingin dan santai.
Gia cukup berpengalaman dalam menghadapi para customer, pernah ada yang datang kemari pakai celana pendek tapi beli dua Lamborghini. Gia cerdas, tidak menilai seseorang hanya dari penampilan.
Dan untuk Stefan, dengan setelan rapi kantoran, tentu Gia tidak bakal salah dalam menilai. Tapi, Stefan menggertak dengan sebuah candaan, “Bisa kurang gak?”
Gia langsung melongo. Matanya berubah kosong. Lionny terkekeh gegara Stefan yang ngawur.
Lionny memperbagus rambutnya, lalu berkata santai, “Mungkin maksud teman saya adalah apakah sekarang ada semacam promo, diskon, dan semacamnya.”
__ADS_1
Gia membekap mulutnya dan menyipitkan kedua matanya. “Hm. Saya kira.... Untuk sekarang belum ada penawaran. Khusus untuk dua merek itu.”
Stefan menaikkan salah satu alisnya dan berkata, “Harganya 9,8. Kuranginlah Mbak Gia. Potongan berapa kek.”
Gia malah tertawa melihat keanehan Stefan.
Lionny menyenggolnya. “Kau pikir kacang goreng apa?!” Lionny mendengus heran.
Di saat mereka asyik bercanda, Emelda datang dengan membawa hawa panas. Dari tadi, sebenarnya dia memang sinis dengan Lionny. Emelda tahu bahwa Lionny sangat cantik wajahnya meski tak ada riasan apa pun sama sekali.
Jika iri dan cemburu sudah menguasai hati, mata dan mulut akan menjadi alat untuk melemparkan kebencian. Ada saja alasan yang keluar untuk memuaskan jiwanya. “Kau bekerja di mana? Apa kau asistennya pria itu? Suaminya? Atau .... simpananya?”
Lionny tersentak kaget. Tawanya langsung hilang. Dia menatap Emelda dengan cukup tajam dan berkata, “Jaga mulutmu baik-baik! Kami datang ke sini niat ingin membeli, bukan main-main!”
Emelda melipat tangan di dada sembari mencibir halus, “Bisa jadi suami istri, tapi lebih cocok kalau simpanan.”
Stefan pun resah dibuatnya. “Silakan Anda menyingir! Sudah ada Gia yang melayani kami. Apa perlu saya menemui manager kalian?” cecar Stefan mulai emosi.
Gia berusaha meminggirkan Emelda. Tapi Emelda tidak mau beranjak. Meski Emelda jarang berlaku seperti ini, namun sikapnya aneh, kecemburuan jenis apa yang dia simpan ke Lionny. Wanita kalau iri, memang menakutkan.
Emelda mencebik ke Lionny. “Saya sangat yakin kalau kau cuma staf kantor yang sedang berusaha menjilat atasan untuk uang dan jabatan.” Bibir Emelda berkerut, sebuah kesan remeh.
Lionny naik pitam. “Kurang ajar!” sergahnya mulai emosi.
Gia kembali mendorong Emelda untuk segera menjauh. “Duduklah kembali di tempatmu. Takutnya nanti dilihat oleh supervisor atau manager.”
Lionny bergerak maju dan ingin menjambak-jambak rambut Emelda karena saking kesalnya. Tidak ada angin apa-apa tiba-tiba dia dilecehkan. “Aghr!”
Stefan langsung memeluknya dan berkata tegas. “Sabar, Lionny Fransisca Sanjaya!”
__ADS_1
Seketika, Emelda tergagap. “Ap-ap....”