Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
98. Tangis yang pecah


__ADS_3

Di kantor Nano-ID, tepatnya di ruang kerja sekretaris.


Semenjak kenal, baru kali ini Stefan memegang tubuh Grace. Bagi pria mesum, Stefan sangat konyol, kenapa tidak memanfaatkan peluang zina dengan seorang primadona di saat kesempatan terbuka?


Karena tidak pernah jatuh di lubang hitam maksiat sewaktu dulu, Stefan bahkan tidak pernah terpikir untuk menggenggam tangan Grace, lalu mencium bibirnya, atau mengajaknya untuk tidur di hotel.


Padahal, wanita seperti Grace siap pasang badan jika Stefan mau. Dan Grace terlampau setia jika Stefan menginginkannya. Dari dulu Grace kagum dan cinta sama Stefan. Bukan Stefan tidak peka, bukan, sama sekali bukan.


Stefan sadar. Tetapi, dia tidak ingin terlalu dekat sehingga pintu hatinya kian terbuka lebar. Stefan tidak ingin terperangkap dalam cinta yang salah. Andai saja Grace bukan wanita yang profesional, sekarang dia sudah berhenti dari Nano-ID.


“Matamu merah,” ucap Stefan sambil memegang kedua pundak Grace. Wajah mereka sangat dekat. Sangat dekat. Napas mereka beradu.


Grace makin malu. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya. Matanya merah karena semalam dia menangis sejadi-jadinya. Ya, dia tidak bisa menerima Stefan begitu santainya ingin melepas rasa kagum yang ada di hatinya.


Meskipun Stefan sudah merendahkan diri serendah- rendahnya, di mata Grace, Stefan tetap Stefan yang dia kenal.


Baru kali ini Stefan meyentuh tubuh Grace secara langsung. Namun, sentuhan itu tiba di saat haru. Padahal Grace berharap ada sentuhan sayang, bukan sentuhan maaf.


“Apa kau tidak sadar, Stefan?” lirihnya lembut.


“Ya, aku sadar. Tapi, kau jatuh cinta pada orang yang salah,” balas Stefan dengan nada menggetarkan. “Kau masuk ke pintu yang salah, Grace.”


Grace sangat bersedih. Jadi selama ini dia jatuh cinta terhadap orang yang salah? Lalu, matanya basah. Grace kembali menangis.


Stefan melepaskan pegangannya dari pundak Grace, lalu membalik badannya dan menghadapkannya ke tembok. Stefan memegang kepalanya seperti frustasi.


Selama ini Stefan sebisa mungkin menjaga jarak dari Grace supaya Grace tidak semakin dalam dan larut dengan perasaannya. “Aku gagal,” gumam Stefan. Sejujurnya, dia tidak ingin ada hati yang tersakiti.


Beragam upaya telah dia lakukan dengan perhitungan, namun hasilnya gagal, Grace menangis.


Stefan membalik badannya kembali dan melangkah ke arah Grace. Sontak, Grace yang tengah berdiri memaku menutup wajah, Stefan memeluknya.

__ADS_1


Tangis Grace tambah pecah.


Stefan tersenyum dan berkata lembut, “Berhentilah menangis. Kau sangat jelek kalau menangis.”


Tangis Grace makin pecah.


Jas hitam milik Stefan basah oleh tetesan air mata, bukan air mata bahagia, melainkan air mata kekecewaan.


Sudah lama Grace mangharapkan pelukan hangat dari pria yang begitu dia cintai, namun pelukan itu hadir di saat yang tidak pas, di saat hatinya hancur.


Tetapi, jika pelukan ini tidak dia rasakan, hatinya pasti lebih hancur dari ini. Grace tidak kuat menahan rasa yang meledak di jiwanya.


Cinta yang begitu besar, kini perlahan memudar.


Rindu yang selalu dijaga, kini kehilangan arah.


Grace mencengkeram erat jas milik Stefan sampai remuk, melampiaskan rasa yang membuncah di dadanya, semakin erat dan kuat.


Dada Stefan sesak karena wajah Grace semakin kuat menempel. “Wanita selalu benar. Silakan kau salahkan aku. Aku memang pecundang. Sementara kau adalah dewi, kau adalah peri.”


Perlahan Grace mengendurkan pelukannya. Saat ini, rambutnya agak berantakan, wajahnya sangat memerah dan basah. Meskipun memang terlihat kacau, anehnya Grace masih terlihat cantik. Rona juwitanya tidak pudar.


Jika sebagian besar pria suka dengan wanita yang tampil alami, seperti baru habis bangun tidur di pagi hari, maka mereka harus berpikir kembali, Grace saat ini jauh lebih memukau. Cinta dan nafsu pasti bergejolak begitu melihatnya.


Stefan tersenyum dan berkata, “Ryan akan marah besar jika kita berpacaran.” Stefan tertawa.


Grace berusaha menenangkan dirinya, kemudian dia duduk di kursi kerjanya. Dia menutup wajahnya karena malu dengan kondisi dirinya saat ini.


Siapa yang tidak bersedih jika ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan?


Siapa yang tidak malu ternyata orang yang diidam-idamkan selama ini rupanya tidak memiliki rasa yang sama?

__ADS_1


Stefan duduk di hadapan Grace dan bercanda, “Apa perlu aku panggilkan Ryan untuk menenangkanmu?”


“Hm. Ah!” Grace menangis lagi. “Orang lagi serius begini. Malah diajak bercanda!” gerutunya sambil meringis.


“Ryan pasti sangat cemburu padaku kalau dia tahu rupanya selama ini sekretaris ada main hati sama CEO-nya sendiri,” ucap Stefan tersenyum geli.


“Aku serius, Stefan!”


“Memang, kalau sedang menangis ya harus serius dan dihayati.” Jika Stefan mengikuti alur hati Grace, nantinya Grace malah sulit keluar dari deritanya. Stefan tidak ingin hal demikian. Sebisa mungkin dia menetralkan hati Grace.


Stefan berdiri, lalu berjalan mondar-mandir. Dia berkata dingin, “Martin selalu tegas jika Ryan buat masalah. Dan dia akan menjadi sangat tegas jika Ryan menggodamu. Bagaimana mungkin Martin cemburu dengan Ryan? Jelas itu cemburu yang salah!”


Ya, seharusnya Martin tidak perlu cemburu. Jelas Grace akan menolak orang seperti Ryan. Ah, Ryan hanya pengalihan isu biar Grace berhenti menangis, karena jika mengingat Ryan, orang akan langsung jijik.


Stefan memasukkan tangannya di saku celana dan berkata dingin, “Waktu aku dikeroyoki, Martin tampak gagah sekali seperti Superman! Jika sama rekan kerja saja dia berani dan punya jiwa melindungi, bagaimana terhadap wanita yang dicintainya. Martin adalah tipikal, dia unik, tapi bukan unik seperti Ryan!” Stefan terkekeh lagi.


Kondisi Grace tidak berubah. Namun, perlahan kondisi hatinya yang tadi bergejolak dan berombak-ombak, kini berangsur tenang seperti air di kolam. Entah, sudah berapa tisu yang dia lempar ke lantai. “Stefan, bisakau kau diam!”


Stefan berhenti. “Astaga! Apa yang Anda ucapkan barusan, Bu Grace? Apa Anda tidak menghargai saya sebagai CEO?” cecar Stefan berakting penuh gaya. Seumur-umur, baru kali ini Stefan tampil seperti pelawak.


“Stefan!”


“Panggil saya Tuan CEO atau Pak Stefan! Anda harus hormat terhadap pimpinan Anda!” Stefan berkacak pinggang seperti koko yang punya toko kelontong. Dia mendongakkan kepala seperti bos pada umumnya.


Grace melipat tangan di atas meja dan menidurkan kepalanya di atasnya. Rambutnya makin berantakan. Ada suara tangis halus terdengar.


Stefan mengangguk dan berkata dingin, “Jangan Anda pikir, Anda anak dari Pak Arya Sutejo, lantas bertingkah seenaknya. Hormati saya selaku pimpinan di sini!” canda Stefan lagi.


Dan pada akhirnya Grace tidak sanggup. Terdengar suara tawa yang halus.


“Hei! Kenapa Anda tertawa?! Dasar tidak sopan!”

__ADS_1


Grace mengangkat wajahnya. Wajahnya campur aduk. Ada tangis, marah, kecewa, sedih, tawa, semua menyatu. “Dasar!” Lalu Grace berdiri dan memberikan pukulan lembut berkali-kali. “Tega!”


__ADS_2