Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius

Menantu Benalu Ini Ternyata Hacker Jenius
32. Horwerstrasse


__ADS_3

Pagi yang cerah di Luzern, Swiss, tepatnya di sekitaran Alpenstrasse. Sebuah kota yang cukup ternama selain Bern dan Zurich. Tower enam lantai megah berdiri di antara bangunan-bangunan lainnya. Itulah kantor AlfaTech, sebuah perusahaan ternama di Eropa.


Setelah menikmati sarapan bersama Grace di Kleinfield Restaurant, Stefan dan wanita cantik itu pun berjalan kaki menyusuri Horwerstrasse, jarak ke kantor tak lebih dari seratus meter. Dua orang yang tengah mengenakan busana musim dingin Eropa tersebut melangkah sambil menikmati pemandangan gedung dan pepohonan kiri kanan.


“Sama seperti empat tahun lalu. Keadaannya tidak berubah,” ungkap Grace sambil meluaskan pandangan.


“Cuacanya dingin. Aku harus beradaptasi di lingkungan seperti ini, jika tidak, aku bakal mudah sakit,” ujar Stefan sembari memasukkan kedua tangannya ke kantong jaket tebal.


Beberapa saat kemudian, Stefan dan Grace pun sampai di depan kantor AlfaTech. Karena sudah kenal, sang penjaga keamanan tersebut mempersilakan Grace masuk, lalu menanyakan sebentar kepada Stefan dan dipersilakan masuk juga. Dua orang tersebut melenggang dari pintu masuk menuju lift, naik ke lantai paling atas.


Tit!


“Apa ayahmu tidak meragukan diriku yang pernah mengalami kecelakaan tragis?” tanya Stefan sambil melihat sebuah layar digital yang angkanya terus naik.


Grace melirik pria di sebelah kanannya ini, kemudian menjawab, “Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk meyakinkannya pada ayahku kalau kau tidak kenapa-kenapa, bahkan kecerdasan otakmu di atas rata-rata.


“Terima kasih. Bagaimana caranya aku membalas semua jasa-jasamu?”


“Aku bahkan masih belum bisa membalas jasamu ketika kau dulu pernah menolongku,” sanggah Grace sambil memberikan tatapan merendah.


“Apa yang pernah aku bantu padamu itu tidak ada apa-apanya, lagi pula kan kau sudah membayarku.”


Tring!


Pintu lift membuka.


Stefan dan Grace pun melangkah cukup jauh. Grace mengetuk sebuah pintu yang di sana bertuliskan : Arya Sutejo, CEO AlfaTech.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


“Permisi.”


“Ya, silakan masuk.”


Stefan dan Grace dipersilakan duduk.


“Selamat pagi, Pak Arya. Bagaimana kabarnya?” Stefan senyum sambil menegaskan matanya menatap mata Pak Arya, kesan bahawa dia benar-benar semangat pagi hari ini.


“Selamat pagi juga, Stefan. Baik kabar saya.” Pak Arya memperbaiki posisi duduknya, lalu menggagahkan diri dengan meluruskan lengan kirinya dan menempelkan telapak tangannya di atas meja. Kemudian menggerak-gerakkan tangan kananya guna memaksimalkan otak kirinya. “Tiga setengah tahun yang lalu seharusnya kau sudah berada di sini, Stefan.”


Stefan mengangguk. “Benar sekali, Pak Arya. Tapi nasib berkata lain. Saya memohon maaf karena tidak memberi kabar sama sekali ketika saya mengalami kecelakaan dan dirawat.”


Pak Arya menatap serius. “Waktu itu ada seorang pria yang menjawab telepon dari saya. Ayah mertuamu. Katanya, Stefan tidak berminat bekerja di AlfaTech, lalu sambungannya terputus. Beberapa hari kemudian saya menghubungi kembali tapi tidak pernah nyambung karena sepertinya ponsel kau tidak aktif.”


Mendengar itu, Stefan agak terperanjat. “Berarti Bapak tidak tahu kalau saya mengalami kecelakaan?”


“Saya tidak tahu. Makanya saya bingung. Kenapa tiba-tiba kau urung bekerja, dan tidak memberikan konfirmasi pula, padahal kau sudah menandatangani tanda tangan kontrak kerja.”


Sementara Grace hanya bisa menjadi pendengar yang baik di ruangan ini. Matanya melihat ayahnya, tapi sekali-sekali mencuri pandang, dengan memutar hitam matanya ke sampingnya, sebuah lirikan yang penuh kekaguman.


Pak Arya memperlihatkan berkas administrasi milik Stefan, seperti fotokopi ijazah, sertifikat dan semacamnya, lalu menunjukkan sebuah dokumen lima lembar, yakni surat perjanjian kerja yang pernah ditandatanganinya. 


“Surat perjanjian kerja ini sudah tidak berlaku. Nanti akan saya bakar. Nah, ini yang terbaru,” sambung Pak Arya sambil menyodorkan sebuah dokumen lagi. “Kalau dulu kau cukup menandatangainya via online, sekarang kau menandatanganinya secara langsung.”


Stefan meraih pena tinta yang sudah disediakan oleh Pak Arya, setelah membaca sekilas, karena dia tahu isi perjanjian kerjanya apa, lalu dia membubuhkan dua tanda tangan di dokumen tersebut. Stefan akan menjalani kontrak kerja selama lima tahun ke depan.


“Terima kasih, Pak Arya. Saya akan bekerja dengan sebaik dan semaksimal mungkin.”


Setelah itu, Stefan diajak berkeliling kantor oleh Pak Arya dan diperkenalkan kepada sebagian karyawan-karyawan, terutama yang akan menjadi satu tim dan satu ruangan bersama Stefan. 

__ADS_1


Tiga pria tersebut adalah Alan si perfeksionis dan disukai wanita, Theo si pria berantakan tapi humoris, dan Liam si kritikus andal. Plus satu orang wanita yang bernama Stephanie yang berkepribadian tenang tapi mulutnya kadang judes.


“Salam kenal,” sapa Stefan sambil menyalami mereka satu per satu.


Pak Arya bilang kepada empat orang tersebut, “Kalian meskipun sudah berpengalaman dua tahun di sini sebagai junior programmer, tapi harus menghargai Stefan yang merupakan anak baru.”


“Apa posisinya sama seperti kami?” tanya Stephanie yang bertubuh seksi dan berambut pirang panjang, sambil memutar-mutar kursi kerjanya.


“Stefan merupakan senior programmer di tim kalian. Untuk sementara waktu tim tetap diketuai oleh Alan selama tiga bulan ke depan. Setelah itu barula Stefan yang akan menjadi ketua,” papar Pak Arya


Belum apa-apa, Liam yang berkulit hitam mengajukan protes kecil. “Bagaimana bisa dia tiga bulan bekerja bisa menjadi ketua tim, Pak Arya? Sementara kami sudah dua tahun.”


Meskipun jabatannya akan terancam, Alan si tampan dan bermata hijau tetap cold dan tidak goyah sedikit pun. Sementara Theo yang tidak peduli siapa pun yang menjadi ketua hanya bisa manggut-manggut sambil mengunyah permen karet, si ikal selalu ceria terhadap apa pun keputusan.


Pak Arya meluaskan pandangannya dan mengawasi satu per satu wajah tim tujuh ini. “Dengarkan saya baik-baik. Selama tiga bulan ke depan Stefan akan menjadi rekan satu tim kalian. Lihat dan nilai sendiri kinerjanya seperti apa. Siapa di antara kalian yang ingat program SigmaX?”


Alan cepat-cepat mengacung. “Program canggih buatan anak Asia yang telah menyelamatkan setidaknya lima perusahaan besar di dunia.”


Pak Arya melempar pertanyaan lagi. “Apa kalian tahu siapa perancang program tersebut?


Keempat orang tersebut menggeleng dan bergeming.


Pak Arya melanjutkan, “Seharusnya pria tersebut sudah bekerja di sini semenjak tiga setengah tahun yang lalu, tapi karena ada sebuah musibah, jadi urung. Namun, sekarang pria tersebut bisa kembali bergabung di AlfaTech. Dan Stefan lah orangnya.” Pak Arya menepuk-nepuk pundak Stefan.


Liam berdarah Afrika terlonjak dan nyaris lepas landas dari kursi kerjanya. Alan si tinggi berotot terpana mendengar itu. Karena saking tercengangnya, Theo tersedak dan permen karet dimulutnya tak sengaja tertelan. Stephanie berdiri sambil menyisir rambutnya ke belakang, bola matanya agak membesar.


“Serius, Pak Arya?” sergah Liam tak percaya.


“Untuk apa bohong? Silakan kalian ngobrol-ngobrol.” Pak Arya pamit dan meninggalkan ruang kerja tim 7.

__ADS_1


Setibanya di ruangannya lagi, Pak Arya langsung duduk menghadap putrinya. “Ayah sudah siapkan dia rumah dinas di Pilatusstrasse. Sesuai dengan kemauanmu, anakku.”


Grace sumringah. “Ayah, bolehkah aku mengajaknya berlibur di Swiss sebelum dia aktif bekerja?”


__ADS_2