
Dua minggu kemudian.
Pak Arya sudah pulih dan bisa kembali mengurus AlfaTech. Stefan pun terbang ke Jakarta pada hari itu juga. Sesampainya di apartemen mewahnya, Stefan tidak butuh istirahat lagi. Dengan setelan celana dasar hitam dan kemeja abu-abu serta sepatu pantofel, dia sudah duduk di boncengan belakang sepeda motor ojek online.
Stefan sudah sampai di depan kantor Nano-ID. Dia pun berdiri di atas trotoar pinggir jalan. Dia sudah mengirimi chat kepada Ryan, mengkonfirmasi kehadirannya.
“Woi! Stefan! Kenapa kau menghilang? Untung aku tidak melaporkanmu kepada Pak Martin soal kau hanya masuk kerja cuma satu hari. Apa kau kembali gila?” pekik Ryan dari dalam mobil.
Stefan membuka pintu innova hitam sejuta umat ini, lalu masuk dan duduk pas di samping kemudi. “Hm. Ryan, kita akan ke store komputer terbaik dan terlengkap di Jakarta.”
Ryan, kalau berada dekat Stefan, dia akan selalu merasa tinggi. Segala macam omongan lucu, menghinakan, dan apa saja akan tiba-tiba terbersit di benak kotornya. “Entah kau hilang ke mana, Stefan, selama satu bulan ini. Apa kau melamun saja di kontrakan sepetakmu? Kau, kutanya di mana kau tinggal, selalu saja tidak mau kasih tahu. Tidak usah malu! Kita ini kenal sudah lama!”
Stefan tersenyum hambar sembari menikmati jalanan padat metropolitan. Pemandangan berupa kemacetan dan beberapa gedung tinggi menjulang merupakan pemandangan sehari-hari warga kota. Deruman dan klakson sungguh mengganggu.
“Aku yang bakal main ke apartemenmu nanti. Kau tinggal di mana?” tanya Stefan dingin.
Apartemen?
Apa Stefan tidak tahu angsuran mobil ini masih tiga tahun?
“Aku tinggal di kos-kosan elit di Jakarta, Stefan! Kosan AC full fasilitas! Di sana, kasur tidurnya tidak berada di samping wc jorok seperti kos-kosan murahan. Dan jangan pernah samakan dengan kontrakan sebulan 500 ribu tempat kau tinggal itu,” dengus Ryan sombong.
Stefan tidak berekspresi. “Berapa satu bulan di sana?”
Ryan tersenyum riang dan kelihatan gigi gerahamnya. “Dua juta rupiah satu bulan! Itu separuh dari gajimu kalau kau betah jadi OB. Kau tidak akan pernah sanggup bayar kosan elit.”
__ADS_1
Stefan berdecak kagum. “Wow! Minimal harus supervisor. Sesuai dengan levelmu, teman lamaku! Mobilmu ini enak juga yah, nyaman.”
“Ya iya dong! Aku malu sekali kalau pergi bekerja naik motor, apalagi naik ojek online. Seumur hidup aku cuma sekali naik ojol, itu karena mobil lagi di bengkel. Huft! Helm yang aku pakai seperti sepatu. Bau minta ampun! Tobat aku naik ojol!”
Stefan yang jumlah neuron di kepalanya dua kali lipat lebih banyak dari manusia normal jelas tidak akan pernah lupa semua statement yang dikeluarkan oleh Ryan.
Ryan terkikik, lalu terbahak-bahak. “Mana ketek mamang itu bau pula! Wajar waktu itu sudah sore. Mungkin aku penumpang ke dua puluh. Di saat keringat di keteknya sudah berkuah. HA-HA-HA.”
Stefan tak berekspresi. “Oh ya. Bagaimana dengan tagihan Kobe beef? Jangan bilang kalau kau belum melunasinya!”
Ryan menjawabnya tanpa terbata-bata, “Tujuh belas juta sedikit. Aku sangat malu jika tidak bisa menebus barang-barang milikku. Kau tidak akan pernah lupa dengan traktrian mahalku itu, kan?”
Padahal, jika Ryan ingin jujur apa adanya, sebenarnya dia meminjam uang di pinjol-nya yang kelima. Status sebagai supervisor Nano-ID dengan pendapatan awal setidaknya lima belas juta sebulan, sudah menaikkan limit pinjamannya sampai 30 juta dengan batas pembayaran sampai dua belas bulan.
Stefan sungguh merasa terkesan. “Aku baru kali itu makan steak seharga tiga juta lebih. Sungguh acara reuni yang tidak akan pernah terlupakan.”
“Momen itu tidak akan pernah terlupakan. Kau terbaik, Ryan!” Stefan makin mendongkrak, nanti pas sudah tinggi, barulah Ryan akan melihat sendiri.
Dan akhirnya mereka pun sampai di CenCom, atau Central Computer. CenCom adalah store pilihan terbaik, bukan karena murah, tapi barangnya asli, tidak ada yang KW. Semua perangkat seperti laptop, smarthpone, tablet, dan televisi merek ternama ada di sini.
“Stefan, dulu kau pernah salah masuk toko pakaian, sekarang kau salah masuk toko elektronik. Kalu cuma buat malu aku, mending kita cari toko pinggiran saja,” keluh Ryan agak merengut.
Stefan meluaskan pandangannya. Ratusan elektronik dan gadget terpampang rapi. Tidak ada salahnya orang datang ke sini karena jika punya uang dua juta rupiah pun dia beli sebuah ponsel spek rendah.
Stefan mendekati seorang petugas. “Saya ingin ASUS ROG Mothership.”
__ADS_1
Ryan resah. Kali ini dia tahu laptop yang cocok buat para gamer itu. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Stefan, lalu berbisik, “Harganya seratus tiga puluh juta. Jangan buat kita malu di sini.”
Stefan kembali menghadap wanita itu. “Saya minta sepuluh.”
Ryan menariknya beberapa meter. “Stefan, kau jangan bercanda! Satu koma tiga milyar seharga rumah mewah. Sementara kau masih tinggal di kontrakan sepetak. Berhenti bergurau, atau kau akan aku tinggalkan.”
Stefan melirik Ryan, lalu menjawab, “Laptop itu untuk dua manager dan delapan supervisor kantor. Mereka kalau bekerja dengan laptop bagus, pasti akan bersemangat.”
Ryan mendengus jengkel, lalu berbicara pelan kepada petugas tersebut. “Maaf, Mbak. Teman saya pernah tiga tahun hilang ingatan seperti orang gila. Otaknya masih agak terganggu. Mohon maaf ya!”
Stefan memasukkan tangannya ke saku celana, lalu berkata dingin, “Teman saya memang suka bercanda. Mbak jangan heran. Sekarang, tunjukkan di mana laptopnya dipajang. Saya mau lihat sebentar saja.”
Wanita berpakaian hijau itu pun berjalan dan Stefan mengikutinya.
Ryan tidak bergerak. “Stefan, aku tunggu di dekat pintu. Jika kau digebuki oleh penjaga keamanan, jangan pernah bawa namaku!”
Stefan hanya mengacungkan jempol tanpa membalik badan. Cukup lima menit, proses pembayaran selesai.
“Besok pagi antar ke kantor Nano-ID atas nama Martin Santoso,” ucap Stefan setelah membubuhkan tanda tangan di atas kertas. “Terima kasih.”
Lalu, petugas kasir memberikan kembali kartu debit black milik Stefan.
Ryan ketar-ketir. Dia tidak mau menambah masalah sore ini. Wajahnya tampak risau. Tidak lama berselang Stefan pun muncul.
Ryan melihat tangan Stefan hanya membawa satu kantong plastik kecil. “Aku baru paham, kau bisa bercanda yang tidak bisa dilakukan banyak orang rupanya. Aku salut padamu. Ayo kita pulang!”
__ADS_1
Stefan memberikan kantong plastik itu untuk Ryan. Astro Wireless Headset + Base Station A50. Stefan berkata, “Itu bayaran yang aku dapatkan setelah melawak barusan. Kau pulanglah duluan, aku menunggu ojek online, dia sudah di jalan.”
Headset gaming mahal itu harusnya Ryan tahu!